My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/84



Riza segera membuka pintu mobil lalu mendudukkan Dilla perlahan di jok bagian depan sesaat setelah mereka tiba di parkiran. Racauan demi racauan terus meluncur dari mulut Dilla yang masih sepenuhnya berada dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol.


Tanpa menunggu lama, Riza pun segera menginjak gas hingga mobil pun melaju dengan kencang membelah jalanan ibukota. Dari balik kemudi, Riza melihat sesekali ke arah Dilla yang tampak masih terus saja meracau tidak jelas dalam keadaan tidak sadarnya.


Hingga akhirnya tibalah mereka di depan komplek perumahan. Saat mobil baru mau memasuki komplek, tiba-tiba ban mobil Riza bocor hingga dengan sangat terpaksa ia harus berhenti dan turun untuk mengganti ban mobilnya.


Riza mengambil ban serep di bagasi mobil lalu mengganti ban mobilnya yang bocor dengan sangat baik dan cekatan. Setelah memperbaiki ban, Riza segera membuka pintu mobil lalu duduk di balik kemudinya. Ia mendekat ke arah Dilla yang sedang tertidur untuk menyelimuti tubuh Dilla dengan jas yang dikenakannya.


Tiba-tiba Dilla membuka matanya perlahan.


"Kamu sudah sadar?. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Riza khawatir.


Dilla menatap bola mata Riza lekat dengan sorot mata sayu dan pipi yang merona pink di wajahnya akibat pengaruh alkohol yang sepertinya masih belum juga hilang. Riza memandang wajah Dilla sejenak lalu membelai rambut dan wajah gadis yang hanya berjarak sejengkal darinya itu dengan lembut.


"Tidurlah lagi. Sebentar lagi kita sampai," ujarnya lembut.


Dengan mata terpejam, tiba-tiba tangan Dilla menarik cepat tangan Riza lalu menciumi punggung tangan suaminya itu dengan lembut beberapa kali.


"Mas?!" lirih Dilla dalam gumaman.


"Ehm." Riza menanggapi dengan lembut.


"Jangan tinggalkan saya, ya!" ujarnya singkat dengan masih memegang erat tangan Riza.


Riza tersenyum. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak ada alasan bagiku untuk melakukan itu."


Dilla membuka matanya lalu menangkup wajah Riza sesaat setelah melepaskan pegangan tangannya.


"Mas, janji ya?!" Dilla menatap Riza lekat lalu menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


Riza mengangguk.


Sesaat kemudian, Dilla mendaratkan kecupan di kening, pipi dan hidung Riza yang sukses membuat Riza melotot kaget. Terakhir Dilla melayangkan sebuah ciuman hangat di bibir Riza yang sontak membuat Riza meremang saat membalas ciuman hangat dari Dilla. Ciuman hangat itupun seketika berubah menjadi ciuman panas.


Tak lama, Dilla menyudahi ciumannya. Riza tampak cemberut kesal sebab Dilla tiba-tiba mengakhiri ciuman mereka padahal ia masih sangat menikmati ciuman tersebut. Dilla menyandarkan tubuhnya di kursi sesaat setelah ciuman lembutnya berakhir. Dengan setengah sadar, ia pun mulai meracau kembali.


"Dasar perempuan edan!. Seenaknya saja menggoda suami orang," racau Dilla dengan mata yang masih terpejam. Racauan tidak jelas yang ditujukan pada Nana.


"Mas Riza lagi, mau-maunya aja dipegang-pegang sama dia!. Dasar laki-laki!" sinis Dilla dalam racaunya.


Riza menyalakan mesin mobil sambil menggeleng dan tersenyum tipis saat mendengar racauan Dilla.


Tak lama, mobil pun memasuki gerbang dan berhenti tepat di depan rumah.


Riza menepuk lembut bahu Dilla, "Bangunlah!. Kita sudah sampai."


Dilla membuka matanya perlahan dengan sedikit gumaman lirih.


Dengan langkah terburu, Riza berjalan memutari mobil lalu membuka pintu di sisi Dilla. Dengan cepat, tangannya melepas sabuk pengaman yang mengikat tubuh mungil di depannya itu sesaat setelah pintu mobil terbuka lalu memapahnya berjalan memasuki rumah dengan mengeratkan pegangannya di pinggang Dilla, menahan tubuh sempoyongan yang berjalan disampingnya itu agar tidak terjatuh.


Langkah Dilla terhenti tepat sebelum mereka menaiki anak tangga. Riza menoleh ke arah Dilla dengan tatapan heran.


"Gendong!" serunya manja.


"Hah?!" Riza tercengang.


Tanpa menunggu jawaban dari Riza, Dilla langsung melompat ke atas pundak Riza hingga membuat Riza terlonjak kaget saat merasakan beban berat menunggangi pundaknya. Dilla bergelayutan dan menyandarkan kepalanya di pundak hangat suaminya itu sesaat setelah tubuhnya menempel di sana.


Tak hanya sampai disitu, kecupan singkat pun langsung mendarat tepat di pipi kanan Riza. Riza pun semakin mengeratkan gendongan tangannya pada Dilla.


"Hmm. Wangi," ujarnya sesaat setelah mengendus leher belakang suaminya.


Riza tersenyum tipis saat Dilla semakin mengeratkan pelukannya pada Riza. Sambil berjalan Riza pun kembali mendengarkan racauan Dilla dari balik telinganya.


"Kak Raja, Dilla mau cerita sama kakak!"


"Raja?!. Bahkan saat mabuk pun dia masih mengingat nama itu!. Mengesalkan sekali!" gumam Riza lirih dengan wajah kesalnya.


"Kakak bilang apa?"


"Tidak ada!" ketus Riza kemudian.


"Kakak tahu, tadi Dilla ketemu sama perempuan gila...."


Riza hanya diam saja saat mendengarkan racauan demi racauan keluar dari mulut Dilla tentang Nana. Dilla terus saja berbicara seolah berbicara dengan Raja.


Tiba-tiba Riza menanggapi racauan tidak jelas Dilla.


"Kalau begitu, pasti Riza itu sangat tampan, ya?. Sampai-sampai perempuan itu mendekatinya seperti itu."


Dilla diam sejenak. "Dibandingkan mas Riza, kakak itu jauh lebih tampan," jawab Dilla kemudian dengan tegas dan lantang.


Matamu itu pasti sudah rabun. Jelas-jelas aku itu lebih tampan daripada dia, cibir Riza dalam hatinya.


Dilla melanjutkan kalimatnya, "Tapi, Dilla itu sayaaaaaaanng banget sama mas Riza."


Riza tersenyum manis seketika wajahnya berubah cerah.


Dilla terdiam, "Iya. Sepertinya," jawabnya singkat dengan mata yang masih terpejam. "Tapi, kakak janji ya, jangan bilang-bilang sama mas Riza. Ini rahasia kita berdua!" lirihnya lagi.


"Iya. Janji!" sahut Riza dengan senyum sumringah.


"Punggung kakak benar-benar hangat dan nyaman. Serasa digendong ayah." Dilla tersenyum dan semakin menyandarkan kepalanya di pundak Riza.


Dilla kembali meracau. "Apa punggung mas Riza juga kayak gini, ya?. Tapi, apa mungkin?. Wong Mas Riza aja galak. Yang ada punggungnya itu tajam terus berduri sama kayak mulutnya." Dilla terkekeh.


Dasar istri nakal. Awas kamu, ya!


Riza segera menurunkan Dilla di ranjang setelah tiba di kamarnya.


"Tunggulah disini sebentar. Aku akan kembali."


Dilla segera menangkap tangan Riza sebelum Riza melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Seketika Riza menolehkan kepalanya.


"Kepalaku pusing!" ujar Dilla sambil memegangi kepalanya.


"Tunggulah disini. Aku akan ambilkan air dan obat untukmu," Riza segera melangkah menuju dapur.


Beberapa saat kemudian, Riza datang dengan membawa segelas air dan kotak obat di tangannya. Matanya membelalak kaget saat mendapati Dilla sedang melorotkan gaunnya tepat dihadapan Riza dengan mata yang masih terpejam.


Dilla yang sedang mabuk sama sekali tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya. Cepat-cepat Riza menutupi tubuh setengah telanjang istrinya itu dengan selimut yang ditariknya sembarang dari atas ranjang.


"Kamu sedang apa?. Apa yang kamu lakukan?"


"Gerah. Panas," gumam Dilla sambil mengacak-acak rambutnya.


"Kalau panas, hidupkan saja AC-nya. Tidak perlu membuka pakaianmu seperti ini!" ujarnya sambil melilitkan selimut di tubuh Dilla.


Dengan mata yang setengah membuka, Dilla menatap wajah Riza.


"Mas ngapain disini?. Ini kan kamar saya!" ucapnya sambil menunjuk-nunjuk hidung Riza secara tidak sadar.


"Kamu benar-benar mabuk. Perhatikan baik-baik, ini kamarku!"


Dilla segera memindai kamar Riza dengan mata yang membuka lebar. Tiba-tiba Dilla melangkahkan kakinya, dengan cepat Riza menahan tangan Dilla.


"Kamu mau kemana?"


"Ke kamar. Mau mandi, ganti baju terus tidur."


Tanpa berkata apa-apa, Riza segera menarik tangan Dilla untuk mengikuti langkahnya menuju ranjang lalu mendudukkan Dilla di sana.


"Minumlah. Ini akan membuatmu menjadi lebih baik."


Dilla meraih obat dari tangan Riza lalu membuangnya kemudian tertawa mengejek ke arah pria yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam itu.


"Saya baik-baik saja pak dokter. Saya sehat, jadi ndak perlu minum obat!" Dilla kembali tertawa.


Riza hanya menggeleng. Alkohol benar-benar membuat Dilla kehilangan akal sehatnya. Tiba-tiba Dilla menarik dasi Riza dengan sekuat tenaga, hingga membuat tubuhnya terhuyung kedepan dan menindih tubuh Dilla. Riza menatap lekat wajah yang hanya berjarak sejengkal darinya itu.


Dilla tersenyum simpul kemudian melingkarkan lengannya di leher Riza. Ciuman hangat pun kembali mendarat di bibir Riza sesaat setelah tarikan tangan Dilla memaksa wajah Riza untuk semakin dekat padanya.


"Rasanya manis. Kayak permen. Hehehe," ujar Dilla singkat setelah mengulum lembut bibir Riza yang beraroma mint. Aroma segar yang sedari tadi mengusik penciuman Dilla. Ciuman lembut itu pun sontak membuat Riza kembali meremang. Samar-samar Riza dapat merasakan aroma wine menguap saat bibir mereka saling bertautan.


Saat Dilla menolehkan wajahnya, dengan cepat, tangan Riza menangkup wajah gadis didepannya lalu mendaratkan ciuman lembut di bibir gadis yang masih memejamkan matanya itu. Seketika ciuman lembut itu pun berubah menjadi ciuman panas.


Dengan nafas memburu, Riza langsung mendaratkan beberapa kecupan di leher dan bahu Dilla lalu menggigit kecil telinga Dilla hingga membuat istrinya itu terkekeh geli.


Secepat kilat Riza melepas selimut yang membalut tubuh Dilla. Dilla menahan tubuh Riza sesaat setelah selimut terbuka sepenuhnya.


"Dingin." Dilla pun segera meraih selimut lalu kembali membalut tubuhnya dengan kondisi masih setengah sadar.


"Oh, iya. Hapeku dimana, ya?" racau Dilla kembali.


Riza pun segera menarik selimut dari tubuh Dilla lalu membuangnya ke sembarang arah dan tidak mempedulikan racauan aneh Dilla.


Riza hanya menjawab singkat, "Tidak tahu," ujarnya dengan tangan yang masih bergerilya kesana kemari menggerayangi Dilla yang masih setengah sadar itu.


"Ngantuk. Mau tidur," racau Dilla kembali.


"Aku mohon, tolong layani aku malam ini," gumam Riza sambil menyesapi sekujur tubuh Dilla dengan suara serak dan nafas yang memburu karena menahan hasratnya yang kian memuncak.


"Saya benar-benar ngantuk. Mata saya rasanya berat." Dilla menggumam lirih.


"Tahanlah sebentar saja. Please!"


Dengan tenaga yang tersisa, kedua tangan Dilla mendorong Riza agar menjauh darinya. Namun, Riza masih saja tidak bergeming. Ia justru mencengkeram kedua jemari tangan Dilla dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya masih saja bergerilya kesana kemari menggerayangi tubuh bagian atas Dilla yang masih berbalut dalaman itu.


Tak lama, dengkuran kecil terdengar lirih dari bibir Dilla, aksi Riza pun terhenti sejenak. Awalnya Riza berniat untuk menuntaskan hasratnya yang tertahan itu, akan tetapi sesaat kemudian ia langsung mengurungkan niatnya saat melihat wajah Dilla yang tampak sedang tertidur dengan pulas. Wajah yang tampak sangat letih, membuat Riza tidak tega untuk mengusik tidur nyenyak si pemilik wajah itu.


Alhasil Riza pun hanya dapat mendesah pasrah saat lagi dan lagi ia harus bersabar sebab usahanya terpaksa harus terhenti lagi di tengah jalan.