My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/116



Belanda


Kediaman Thomas


Thomas masih tak bergeming dari tempat duduknya. Tatapan tajam Aldrich memakunya disana.


"Maafkan saya, Tuan. Saya rasa lebih baik Tuan--"


Aldrich mencengkeram dada kirinya. Ia mulai merasakan rasa nyeri menyerangnya ditempat itu.


Dengan nafas terengah menahan sakit, Aldrich berkata, "Dengar brengsek. Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi, sebelum aku membunuhmu disini."


Thomas menelan ludahnya paksa.


Peristiwa lima tahun silam kini berputar kembali.


Flashback


Setibanya Raja di rumah keluarga besar Wijaya, Raja disambut hangat oleh Adam. Hingga membuat Raja sedikit terkejut karena tidak menyangka orang sekaya Adam akan memperlakukan pemuda kampung sepertinya dengan sangat baik.


Perlakuan istimewa Adam, membuat Thomas yang saat itu juga bekerja sebagai salah satu pengawal pribadi Aldrich merasa sangat iri. Rasa iri itu perlahan berubah menjadi kebencian yang menggerogoti hati Thomas.


Meskipun Adam sangat baik padanya akan tetapi Raja justru merasa sangat tersiksa sebab selama hampir satu bulan Raja tinggal disana, Thomas terus mengganggu dan menindas pemuda itu, bahkan Thomas tak segan-segan memukul dan menghajar pemuda itu untuk meluapkan kekesalannya.


Setelah menganiaya Raja, Thomas kerap mengancam Raja untuk tidak mengadukan perbuatannya itu kepada Adam.


Kemampuan Thomas dalam teknik bela diri membuatnya menjadi pemuda yang arogan.


Seperti kali ini, Thomas kembali menganiaya pemuda itu hingga tak berdaya. Raja yang memang tidak pandai berkelahi hanya bisa pasrah menerima setiap pukulan bertubi-tubi yang datang padanya.


"A-a-apa salah saya Thomas?" tanya Raja yang sudah tak berdaya dengan kondisi wajah babak belur.


Thomas menjawab dalam bahasa Indonesia, "Aku benci orang Asia seperti kalian. Kalian sangat menjijikkan!" ujarnya sambil menarik rambut Raja hingga membuat Raja mendesis kesakitan.


Setelahnya, Thomas pergi meninggalkan Raja di gudang kediaman keluarga Wijaya dengan kondisi Raja yang sudah pingsan tak sadarkan diri.


Kejadian yang sama terus berulang hampir setiap harinya, hingga akhirnya suatu hari Adam mengetahui hal tersebut dan langsung memperingatkan Thomas untuk tidak mengganggu Raja lagi.


Tepat saat itu, telepon Adam berdering. Adam menurunkan pistolnya dengan raut wajah yang berubah panik.


Ternyata itu panggilan telepon dari rumah sakit. Aldrich mengalami kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang sehabis berkunjung dari rumah ibunya.


Kondisi Aldrich sangat mengkhawatirkan. Pemuda itu sedang berada di ambang maut. Dokter pun menyarankan agar Adam segera melakukan tindakan operasi pencangkokan jantung terhadap Aldrich secepatnya.


Hari itu juga, Adam membawa Aldrich, Raja dan Thomas ke Indonesia. Awalnya Thomas merasa aneh, kenapa operasi Aldrich tidak dilakukan di Belanda dan kenapa Raja juga turut ikut bersama mereka.


Namun, Thomas tidak mau terlalu ambil pusing dengan hal itu.


Setibanya di Indonesia, barulah Thomas mengetahui tujuan Adam yang sebenarnya. Adam sengaja menjaga, merawat dan merekrut Raja hanya untuk dijadikan tumbal demi menyelamatkan nyawa Aldrich.


Raja pun terpaksa menyetujui keinginan Adam untuk mendonorkan jantungnya tanpa perlawanan yang berarti, sebab saat itu, Adam mengancam akan menghabisi seluruh anggota keluarga Raja jika pemuda itu menolak keinginan Adam.


Jadwal operasi pun akhirnya ditentukan. Selama semalaman, Raja diasingkan di sebuah ruang perawatan untuk menunggu detik-detik kematiannya.


Thomas datang menemui pemuda itu disana. Tepat saat Raja sedang memandangi foto orang-orang yang ia sayangi termasuk foto Dilla.


"Kau baik-baik saja?" tanya Thomas sesaat setelah mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Raja.


Raja mengangguk lemah dengan air mata yang terus mengaliri pipinya.


"Aku mau minta maaf atas perbuatanku. Jika kau mau, aku bisa membantumu kabur dari rumah sakit ini," ucap Thomas merasa bersalah pada Raja.


"Tidak usah meminta maaf. Bukankah kita teman?"


Thomas membalas senyuman Raja.


Raja mendesah berat, "Lagipula aku tidak akan bisa kabur dari orang itu," ucapnya pasrah.


Raja kemudian memperlihatkan selembar foto yang ada ditangannya kepada Thomas.


"Lihatlah. Mereka adalah keluargaku. Aku punya seorang ayah dan adik perempuan yang wajahnya sama persis denganku. Lihat, dia cantik bukan?"


Thomas tersenyum samar saat melihat foto yang ditunjukkan Raja padanya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Lalu, dimana foto kekasihmu?" tanya Thomas kemudian.


Raja tersenyum simpul lalu berkata, "Aku ingin kamu berjanji satu hal Thomas."


"Apa?"


"Berjanjilah untuk menjaga pemilik jantung ini dengan baik. Setidaknya kematianku tidak sia-sia karena jantungku akan menyelamatkan nyawa seseorang-"


Raja menarik nafas dalam, "Jangan beritahu siapapun apa yang terjadi padaku. Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Dengan begitu aku akan tenang dan tidak akan menghantuimu."


Thomas memeluk Raja untuk menguatkan pemuda itu, "Aku janji!" ucapnya mantap.


"Terima kasih."


Raja tersenyum samar untuk menyamarkan kegundahan hatinya.


Thomas menatap Raja pilu.


Raja beranjak dari ranjang lalu berjalan ke arah jendela, "Aku baik-baik saja. Kamu bisa meninggalkanku sekarang. Aku ingin menikmati malam terakhirku."


Dengan berat hati, Thomas keluar dari kamar Raja. Sejak saat itu, Thomas pun berjanji pada dirinya untuk menjaga Aldrich sebaik mungkin.


Sementara itu, Raja masih berdiri menghadap jendela kamarnya. Menikmati indahnya rembulan yang ada di atas langit untuk yang terakhir kalinya.


Keesokan harinya, operasi berjalan dengan lancar, Aldrich berhasil selamat sementara Raja harus pergi meninggalkan dunia ini tanpa mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu.


Setelah operasi selesai, Adam menitipkan semua barang-barang Raja termasuk hasil rekam medis tindakan operasi Aldrich.


Tanpa sengaja, Thomas menemukan foto Raja bersama Dilla disana. Awalnya Thomas mengira kalau Dilla merupakan salah satu keluarga Raja.


Namun, saat membaca kalimat yang tertulis dibalik foto tersebut, Thomas menyadari sesuatu.


Flashback End


"Jadi Dilla adalah kekasih Raja?"


Thomas melanjutkan, "Tuan Besar tidak ada niat lain. Tuan Besar hanya ingin Tuan selamat."


Aldrich menggeleng tidak percaya, "Kau tidak usah membelanya. Daddy benar-benar sudah keterlaluan."


Sakit di dada Aldrich semakin tak tertahankan. Sesaat kemudian, ia mengerang, menahankan rasa nyeri yang sudah sedari tadi ia tahan. Keterkejutan membuat jantung Aldrich melemah. Aldrich kemudian terkulai dan tak sadarkan diri.


Sayup-sayup terdengar suara Thomas memanggil-manggil nama Aldrich.


------


Sementara itu, di kamar hotel, Riza sedang memusatkan perhatiannya pada gadis yang tengah bercerita didepannya itu.


Dilla terlihat sumringah ketika mengisahkan bagaimana awal mula mereka bertemu hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.


Kisah yang menurut Riza sangat berbeda jauh dari perkiraannya. Awalnya Riza mengira pernikahannya dengan Dilla terjadi atas dasar rasa cinta, tapi kenyataannya tidak demikian.


Namanya jodoh, mau bagaimana lagi.


"Kenapa berhenti?" tanya Riza heran sebab tiba-tiba Dilla menghentikan ceritanya.


"Udah lima menit."


Riza mengerti kalau Dilla meminta bayarannya. Dengan senang hati, Riza pun menyodorkan wajahnya ke arah Dilla, yang disambut dengan sebuah ciuman disana.


Setelah itu, Dilla kembali melanjutkan ceritanya dengan diiringi narasi yang mengisahkan bagaimana perjuangan Riza menaklukkan hati Dilla hingga akhirnya Dilla membuka hati dan cinta mereka pun bersemi dengan sempurna.


Dahi Riza mengerut tidak percaya, "Apa aku melakukan semua hal itu?"


Dilla mengangguk.


Riza menggeleng, "Nggak mungkin."


Dilla tersenyum, "Lima menit."


Kejadian yang sama terus berulang, setiap lima menit sekali Dilla mencium Riza. Dan ini adalah ciuman yang sudah entah keberapa kalinya. Setelah itu, Dilla kembali bercerita.


Tiba-tiba raut wajah Dilla berubah sendu, saat ia menceritakan tentang bagaimana ia bisa berpisah dengan Riza, seperti apa usaha orang tua Riza untuk memisahkan mereka dengan membawa Riza ke Belanda dan memutus semua kontaknya dengan Dilla hingga akhirnya Dilla pergi menyusul Riza ke Belanda.


Bahkan Dilla kembali mengingat akan kejadian tidak mengenakkan yang ia alami saat pertama kali menginjakkan kakinya disana, bagaimana Thomas datang dan menolongnya untuk mencari keberadaan Riza. Semua Dilla ceritakan sambil terisak.


Semua kisah itu membuat Dilla tak mampu membendung air matanya.


Riza pun segera memeluk dan menepuk pundak Dilla untuk meredakan kesedihan gadis itu yang dibalas dengan pelukan erat dari Dilla.


Sesaat berikutnya Dilla menyudahi pelukannya.


"Besok kita ke kantor Om Dirwan. Kita minta alamat mereka disana."


"Mas mau ngapain?"


"Kita harus menemui mereka. Bagaimanapun mereka adalah keluargaku."


Dilla kembali memeluk Riza, "Tapi, saya takut. Saya nggak mau pisah sama kamu lagi, Mas."


"Tenanglah. Itu tidak akan terjadi."


Dilla menarik nafas panjang, lengannya masih memeluk Riza.


"Sudah lima menit," ucap Riza kali ini.


Dilla menarik lengannya kemudian mencium Riza tepat di bibir pria itu.


"Maksudku. Sudah lima menit kamu memelukku jadi aku minta bayaran."


"Apaan sih, Mas?. Malu tau."


Dahi Riza mengernyit.


Malu?!. Apa maksudnya?. Aku kan belum mengatakan apapun, Riza membatin.


Tiba-tiba Dilla membuka ikatan handuk kimono miliknya. Tak ayal hal itu membuat Riza menutup matanya dengan telapak tangan.


"Ka-kamu mau ngapain?"


"Buka baju dong, Mas. Mau ngapain lagi."


"Hah?!. Dengar, aku bukan meminta bayaran yang seperti itu. Pakai kembali pakaianmu."


Dilla mengenakan kembali pakaiannya.


"Sudah."


Riza menarik nafas panjang sesaat setelah membuka matanya.


"Begini. Aku cuma minta sama kamu supaya kamu jangan dekat-dekat sama Thomas dan Aldrich."


"Kenapa, Mas?"


"Aku nggak suka ngelihat laki-laki lain deket-deket sama kamu."


"Oke. Tapi, ada syaratnya?" Dilla kembali mengajukan persyaratan pada Riza.


"Kenapa semua harus ada syaratnya, sih?"


"Harus dong, biar adil."


"Baik. Apa syaratnya?"


"Syaratnya, mas juga harus jauh-jauh dari Henzhie soalnya saya nggak suka."


Riza tampak berpikir lama. Meskipun ia tidak memiliki perasaan apapun pada Henzhie, tapi sepertinya terlalu berlebihan jika harus menjauhi gadis itu sebab bagaimanapun Henzhie merupakan salah satu orang yang berjasa dalam menyembuhkan penyakit Riza.


"Mikirnya lama banget. Mas beneran ada sesuatu ya sama Henzhie?. Awas aja kalo mas selingkuh."


Riza mengalihkan perhatian Dilla dengan pura-pura menguap, "Aku ngantuk. Kita tidur aja, ya. Selamat malam."


Riza merebahkan tubuhnya kemudian menarik selimut, sementara Dilla terlihat cemberut kesal di samping Riza. Memandang punggung suaminya itu dengan tatapan geram.