My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/49



Dua hari kemudian.


"Mau sampai kapan kucing itu di rumah ini?" tanya Riza dengan sinis seraya menatap tajam ke arah Dilla.


Melihat tatapan Riza, Dilla pun segera menundukkan kepalanya.


"Segera usir kucing itu keluar dari sini!. Kalau perlu buang ke tempat yang jauh sekalian!"


Riza tampak sangat kesal dengan keberadaan hewan berbulu itu di rumahnya. Bagaimana tidak, sudah dua hari ini Riza harus rela berjauhan dengan Dilla sebab kucing imut nan lucu itu selalu saja mengikuti Dilla kemanapun ia pergi.


"Masa dibuang, Mas. Kan kasihan."


"Kasihan?. Lantas, bagaimana dengan aku?. Kamu lebih mengasihani kucing itu daripada aku?" Riza menggeleng tidak percaya.


"Bukan begitu, Mas."


"Sudahlah!. Aku malas terus menerus membicarakan ini!" ketus Riza seraya menarik kasar tasnya dari kursi kemudian berlalu pergi meninggalkan Dilla di meja makan.


Dilla segera bangkit dan mengejar Riza yang terlihat berjalan cepat menuju ke arah garasi. Saat Riza hendak menaiki motornya, Dilla menarik lengan Riza.


"Apa lagi?" ujar Riza seraya menghempaskan tangan Dilla.


Dilla terhenyak.


"Tunggu dulu, Mas."


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Setelah aku pulang, kucing itu harus sudah tidak ada di rumah ini. Titik!"


Riza tampak sangat jengkel. Kilatan matanya mengisyaratkan kekesalan dan kemarahan, membuat Dilla menundukkan wajahnya dalam.


Selanjutnya, Riza pun segera melajukan motornya meninggalkan Dilla yang berdiri mematung. Akhirnya, Dilla pun harus rela berangkat ke kampus seorang diri pagi ini.


"Nasib. Nasib," lirihnya.


---------


Di tempat berbeda.


Dentingan melodi indah piano mengalun dan menggema merdu dari dalam sebuah rumah berdesain modern dengan cat putih yang mendominasi. Tampak seorang pemuda tampan dengan jemari lihainya sedang memainkan tuts-tuts piano seraya memejamkan mata mencoba menikmati alunan musik yang ia mainkan.


Seorang pria muda dengan stelan jas hitam rapi dan sepatu pantofel berwarna senada berjalan dengan gagahnya menghampiri pemuda yang tengah asyik memainkan piano di depannya itu.


"Selamat pagi Tuan Aldrich!" sapaan ramah si pria muda kepada tuannya.


Aldrich menghentikan gerakan tangannya lalu berbalik dan menatap si pria muda yang tak lain adalah pelayan pribadinya yang bernama Thomas. Thomas seorang pemuda berusia 27 tahun keturunan Belanda. Thomas lebih cocok dijadikan bodyguard ketimbang pelayan mengingat bentuk tubuhnya yang kekar dan tegap.


"Pagi!" balas Aldrich tersenyum lebar hingga menampilkan jajaran gigi putih rapi miliknya.


Aldrich Barayev Wijaya alias Aldrich adalah seorang pianis berbakat berusia 28 tahun dengan wajah blasteran Indonesia-Belanda. Ayahnya merupakan keturunan asli Indonesia sedangkan ibunya keturunan asli Belanda. Aldrich merupakan pewaris Wijaya Corp. Sebuah perusahaan besar yang memiliki beberapa anak cabang di Indonesia dengan kantor pusat berada di Belanda yang bergerak di bidang pengembangan software.


Sudah tiga bulan ini, Aldrich tinggal di Indonesia seorang diri meninggalkan sang ayah- Adam Wijaya di Belanda untuk menenangkan diri alias kabur sebab sang ayah yang tak henti-hentinya menyuruhnya untuk berhenti bermain piano dan mulai mengurus perusahaan. Aldrich lebih memilih kabur daripada harus meninggalkan hal yang paling disukainya.


Ibu Aldrich telah meninggal dunia satu tahun yang lalu. Aldrich adalah putra satu-satunya dari Adam Wijaya. Dan Thomas sengaja ditugaskan oleh ayah Aldrich untuk menjaga dan memastikan agar Aldrich baik-baik saja selama tinggal di Indonesia. Dengan terpaksa, Aldrich harus menerima keberadaan Thomas jikalau tidak, maka sang ayah akan menyeretnya pulang ke Belanda.


"Bagaimana?. Sudah ketemu?" tanyanya pada Thomas.


"Maaf Tuan. Saya belum berhasil menemukan Sneeuw."


"Ya sudah pergilah!. Jangan menggangguku," usirnya.


"Baik, Tuan."


Thomas pun berlalu pergi meninggalkan Aldrich.


"Dimana kamu Sneeuw?. Aku sangat merindukanmu," lirihnya seraya menghela nafas berat.


Sejenak kemudian, ia beranjak dari duduknya kemudian pergi melangkahkan kakinya keluar rumah. Namun, Thomas mencegah kepergian Aldrich.


"Maaf, Tuan. Anda dilarang pergi keluar rumah."


"Orang ini selalu saja muncul dimanapun aku berada. Menyebalkan!" batin Aldrich.


"Aku hanya ingin berolahraga di taman dan mencari udara segar. Bukankah hal itu baik untuk jantungku. Pergi sana!. Dasar cerewet."


"Whatever!"


[Terserah!]


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Aldrich harus sudi diekori oleh Thomas, pelayan pribadinya yang menyebalkan. Mereka tampak berlari-lari kecil menelusuri kawasan perumahan tempat dimana Aldrich tinggal menuju ke arah taman. Setiap pagi kawasan perumahan memang selalu sepi sebab kawasan tersebut lebih banyak dihuni oleh para karyawan dan pebisnis. Hanya saat akhir pekan saja kawasan tersebut ramai.


Aldrich baru pindah ke komplek perumahan tersebut satu minggu yang lalu. Ia memang lebih menyukai tinggal di perumahan ketimbang di apartemen, alasannya sederhana karena ia suka berkebun. Alasan itu pula yang mendorongnya memilih tinggal di Indonesia sebab Indonesia terkenal dengan tanahnya yang subur gemah ripah loh jinawi.


Aldrich mulai gemar berkebun sejak lima tahun yang lalu. Entah apa penyebabnya, ia pun tak tahu. Padahal sebelumnya ia bukanlah tipe orang yang suka dengan hal-hal sederhana semacam itu.


Saat tengah asyik berlari kecil, Aldrich berpapasan dengan Dilla yang sedang berjalan dari arah berlawanan seraya menggendong si makhluk berbulu nan imut ditangannya. Ternyata Aldrich tinggal di komplek perumahan yang sama dengan Dilla. Aldrich berhenti sejenak kemudian berjalan menghampiri Dilla diikuti oleh Thomas dari belakang.


"Sneeuw!!" teriaknya.


Dilla berbalik.


"Sneeuw!!" ujarnya lagi.


"Meong!!"


"Meong!!"


Tiba-tiba Aldrich menggerakkan tangannya mengarah ke dada Dilla. Dilla memperhatikan gerakan tangan gila Aldrich. Secepat kilat Dilla menghindar dan menjauhkan dirinya.


"Jangan kurang ajar ya!" sinis Dilla.


"Hey, what's wrong with you?. I just want to take my cat!" balas Aldrich.


[Ada apa denganmu?. Aku hanya ingin mengambil kucingku!]


Dilla memelintir otaknya dengan keras, mencoba menterjemahkan kata-kata dari Aldrich. Dilla yang cuma khatam istilah sorry, I love you, thank you itu pun hanya melongo pasrah saat Aldrich melontarkan kalimat asing barusan padanya.


Dilla mengerutkan keningnya menatap Aldrich dengan tampang dungunya. Aldrich membalas tatapan Dilla. Entah mengapa, Aldrich merasakan sesuatu yang aneh di dadanya saat menatap manik mata hitam milik Dilla. Jantungnya berdetak tak biasa. Perasaan yang sulit dijelaskan.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?. Sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi, dimana ya?"


Dilla kaget bercampur lega saat mengetahui bahwa bule gila yang ada didepannya itu ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan lancar sehingga ia tidak perlu memeras otaknya susah payah hanya untuk membalas kalimat dari si bule gila itu.


"Syukurlah!" ujarnya seraya menatap Aldrich.


"Ada apa ini?. Kenapa aku merasa tatapannya tidak asing bagiku?" Mata Dilla menatap lekat manik mata hazel milik Aldrich.


"Aku Aldrich dan itu adalah Sneeuw. Kucing persia kesayanganku." Aldrich tersenyum manis.


Dilla terperanjat dan seketika menjadi salah tingkah.


"Maaf ya Mister. Saya ndak tahu. Saya kira Mister tadi mau niat jahat sama saya." Dilla cengar-cengir bagai kuda.


"Tidak masalah. Aku juga minta maaf."


"Iya, sama-sama. Ini Mister kucingnya. Hampir mau saya buang tadi."


"What?. Oh, Thanks God. Untung kita bertemu lebih cepat, kalau tidak bagaimana dengan nasib Sneeuw ku ini," ujar Aldrich seraya membelai Sneeuw dalam pelukannya.


Dilla membalas dengan tersenyum canggung.


"Hai, nama kamu siapa?" tanya Aldrich seraya mengulurkan tangannya.


Dilla menjabat tangan Aldrich dan menyebutkan namanya, "Saya Dilla, Mister. Syafadilla Aini."


Serr!!!


Darah Aldrich berdesir dan jantungnya memompa cepat. Kilatan kasih sayang terlihat dimatanya. Getaran aneh seketika muncul saat nama Dilla terdengar jelas ditelinganya. Aldrich benar-benar tidak mengerti dengan dirinya dan mulai bertanya-tanya dalam hati. Raut wajahnya menampakkan kebingungan. Thomas menatap Aldrich cemas.


"Ayo, Tuan kita kembali ke rumah. Saya rasa Tuan perlu istirahat." Thomas mempersilahkan Aldrich berjalan duluan.


"Permisi Nona!" ujar Thomas pada Dilla.


Dilla mengangguk sopan pada Thomas.


Aldrich melangkah perlahan menuju rumahnya dengan tatapan kosong dan penuh tanda tanya.