My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/27



Kini Riza telah berada di ruangan barunya setelah resmi menjabat sebagai seorang Direktur baru.


Riza menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


Bertemu dan berkumpul dengan banyak orang pagi ini, benar-benar membuat energi dan moodnya terkuras habis.


Bagaimana tidak, selama tiga jam terakhir Riza harus disibukkan dengan kegiatan perkenalannya sebagai direktur baru. Setelah itu, ia juga harus dipusingkan dengan setumpuk berkas yang diberikan oleh Om Darma padanya.


"Benar-benar melelahkan!" batinnya.


Riza kemudian mengambil earphone miliknya dari balik saku celana lalu menancapkannya di kedua telinga. Selanjutnya, ia menekan tombol putar yang ada di layar ponsel.


Riza memejamkan mata. Sayup-sayup terdengar suara alunan musik instrumental dari balik earphone hitam yang ada ditelinganya.


Riza berusaha mengembalikan energi dan moodnya dengan menikmati kesendiriannya saat ini di dalam ruangan barunya.


tok...


tok...


Terdengar suara ketukan pintu.


"Permisi!"


Terlihat seorang wanita berparas ayu menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Riza tidak mendengar suara parau wanita tersebut. Terlihat ia masih memejamkan mata dan menikmati alunan musik dari balik earphonenya.


tap..


tap..


Suara derap langkah sepasang sepatu stiletto bermerek terdengar memasuki ruangan.


Wanita berbalut jas putih dengan tinggi semampai itu kini telah berdiri tepat di depan Riza. Hanya ada meja didepannya sebagai pemisah.


Manik mata cokelat miliknya memandang Riza yang masih terpejam dengan tatapan bergetar.


Terlihat nametag terpasang di jasnya bertuliskan - dr.Andyra Kusuma,Sp.PD-KGEH.


Setelah puas memandangi Riza, Andyra memberi beberapa ketukan di meja sebagai isyarat untuk membangunkan pria yang ada di depannya. Namun, ternyata Riza masih belum juga membuka mata.


Akhirnya, Andyra pun memberanikan diri mendaratkan tangannya menyentuh punggung tangan Riza yang tergeletak di atas meja. Sehingga membuat Riza seketika membuka matanya.


Dengan secepat kilat, Andyra menarik kembali tangannya kebelakang. Ia terlihat gugup.


"Hai, dokter Riza. Lama tidak bertemu!" Suara parau Andyra memanggil nama Riza.


Riza mematung. Ia merasa akrab dengan suara itu. Seketika ia mendongakkan wajahnya.


"Andyra?!" Mata Riza membulat.


Andyra tersenyum.


Memori masa lalu pun terpanggil kembali.


Flashback


Tujuh tahun lalu


Saat itu, Andyra adalah seorang mahasiswi tahun ketiga jurusan ilmu kedokteran di salah satu universitas terbaik di Surabaya.


Suatu hari, Andyra sedang berjalan di taman dekat fakultasnya. Tempat itu adalah tempat favorit para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang menghabiskan waktunya disana, hanya untuk sekedar duduk ataupun beristirahat sejenak dari padatnya jadwal dan tugas-tugas kuliah mereka. Tak terkecuali dirinya.


Andyra pun berhenti dan duduk di pinggir danau buatan yang ada di kampusnya. Pandangannya menatap sejenak ke arah seorang pria mengenakan hoodie hitam yang menutupi kepalanya. Pria itu tengah duduk sendirian memandang jauh ke arah danau buatan yang ada di depannya. Andyra hanya diam saja memandangi pria itu dari kejauhan.


Andyra merupakan seorang mahasiswi yang tergolong cerdas dan suka menulis puisi.


Saat itu, Andyra terlihat sedang menulis beberapa puisi di sebuah agenda miliknya. Karena ia terburu-buru masuk ke dalam kelas akhirnya agenda tersebut pun terjatuh.


Beberapa saat kemudian, ia baru menyadari kalau agendanya hilang. Ia pun berusaha mencarinya ke semua tempat. Namun, hasilnya nihil.


Andyra pun pasrah.


Tiba-tiba seorang pria berhoodie hitam menyodorkan agenda milik Andyra yang terjatuh kepadanya.


Andyra terlihat gembira.


"Terima kasih!" ucapnya.


Pria itu pun terlihat tersenyum dari balik hoodie yang menutup kepalanya. Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Andyra tanpa berkata apapun.


"Siapa pria itu?" Andyra tersenyum menatapnya dari kejauhan.


Setelah mencari informasi, akhirnya Andyra pun tahu bahwa pria berhoodie hitam itu bernama Riza.


Andyra pun berusaha untuk mengenal Riza lebih dekat. Untungnya Andyra dan Riza memiliki ketertarikan yang sama dalam bidang sastra.


Sehingga hal itu, membuat mereka menjadi lebih mudah untuk akrab satu sama lain.


Tanpa Riza sadari, ternyata Andyra memiliki perasaan padanya lebih dari sekedar sahabat.


Suatu hari, Andyra menyatakan perasaannya pada Riza.


Tak disangka, Riza pun membalas perasaannya. Akhirnya Riza dan Andyra pun berpacaran.


Selesai mereka wisuda, Riza meminta Andyra untuk menikah dengannya. Akan tetapi, tanpa alasan yang jelas Andyra justru menolak lamaran Riza.


Tanpa Andyra sadari, penolakannya yang tanpa alasan itu menorehkan luka mendalam di hati Riza. Membuat Riza selalu berpikir alasan Andyra menolaknya adalah karena Riza orang yang aneh.


Akhirnya, Riza dan Andyra pun berpisah. Andyra kembali ke kota asalnya di Bandung sementara Riza pergi ke Belanda mengikuti papinya yang dipindah tugaskan disana.


Semenjak saat itu, Riza dan Andyra tidak pernah bertemu.


Flashback End


Andyra dan Riza terlihat sama-sama tersenyum saat mengingat kenangan mereka.


"Hai, apa kabar pak dokter?" Andyra mengulurkan tangannya untuk memulai pembicaraan.


Riza pun membalas uluran tangan Andyra.


Andyra tampak sedikit tertegun saat melihat sebuah cincin putih melingkar di jari manis Riza.


"Bagaimana kabar kamu?" Suara lembut Riza menyadarkan Andyra.


"Oh. Aku baik!" jawab Andyra singkat.


Matanya melirik sekilas ke arah cincin yang dikenakan oleh Riza.


"Duduklah!" ucap Riza.


Andyra pun menarik kursi yang ada di belakangnya. Mereka pun mulai berbincang singkat.


Dalam perbincangan mereka, Riza pun akhirnya tahu bahwa Andyra merupakan salah satu kepala departemen disana.


Saat berbincang, Andyra menatap Riza lama. Ia memperhatikan setiap gestur tubuh dan gaya bicara lawannya itu dalam diam.


Riza memang memiliki pesonanya tersendiri. Baik suara, gestur maupun gaya bicara yang dimiliki Riza memang selalu mampu menarik perhatian setiap lawan bicaranya.


Riza yang menyadari sedang ditatap oleh Andyra, cepat-cepat memalingkan wajahnya.


Andyra kembali melirik cincin yang melingkar di jari Riza.


Karena rasa penasarannya, ia pun memberanikan diri bertanya, "Kamu sudah menikah?"


Riza mengangguk pelan dan tersenyum.


Sedangkan Andyra ia hanya bisa tersenyum terpaksa, berusaha menahan sakit di dadanya.


"Selamat ya!" ucapnya.


"Oh, iya aku kesini tadi mau ngajak kamu makan siang bareng di luar. Hitung-hitung ngerayain jabatan baru kamu!" ajak Andyra.


"Maaf. Hari ini aku bawa bekal dari rumah. Mungkin kita bisa pergi lain kali!" jawab Riza singkat.


Andyra terlihat sedikit kecewa. Namun, ia berusaha menutupinya.


"Istri kamu perhatian banget ya!"


Riza tersenyum membenarkan.


Andyra yang merasa sudah tidak mampu menahan sesak di dadanya, akhirnya memutuskan menyudahi obrolannya dengan Riza.


Setelah kepergian Andyra, Riza pun mengambil tas yang berisi bekal makan siang dari Dilla kemudian membukanya perlahan.


Terlihat Riza menikmati bekal makan siangnya sambil tersenyum cerah.


--------


Selesai kuliah, Dilla mengajak Kiki mengerjakan tugas presentasi Bahasa Inggris mereka di rumah Riza.


Hingga hari menjelang sore, terlihat mereka masih sibuk berkutat dengan laptop dan kertas-kertas yang berserakan tak karuan.


Kiki terkekeh nyaring mendengar logat medok Dilla saat mempresentasikan tugasnya dalam Bahasa Inggris. Membuat Dilla mengerucutkan mulutnya sebal.


t**ing...


tong...


Dilla langsung beranjak dari duduknya kemudian membukakan pintu. Terlihat Riza berdiri tegak di balik pintu.


Dilla pun meluapkan kekesalannya pada Riza.


"Mas lupa bagaimana caranya membuka pintu?"


"Ini kan rumah mas sendiri!. Langsung masuk saja kan bisa!"


"Toh pintunya tidak dikunci!"


Riza hanya menatap Dilla datar saat mendengarkan omelan panjang Dilla.


"Aku hanya penasaran seperti apa rasanya dibukakan pintu oleh istri sendiri," jawab Riza datar.


"Ternyata rasanya menyenangkan!", sambungnya.


Riza langsung berjalan santai masuk ke dalam rumah. Ia tersenyum manis.


Saat Riza menyadari keberadaan Kiki yang sedang melihat ke arahnya, secepat kilat Riza memasang wajah datarnya kembali.