
Taksi yang membawa Riza dan Dilla akhirnya tiba di depan rumah Thomas. Riza menoleh ke arah Dilla yang masih terlelap di bahunya.
Aku harus menanyakan hal ini. Setidaknya aku harus meminta penjelasan, batin Riza yang sedari tadi terus bergelut dengan pikirannya sendiri.
Flashback
Sehabis membeli obat di apotek, dari balik pintu kamar rawat mami, tanpa sengaja Riza mendengar tuduhan mami yang menyebutkan perihal Dilla yang telah berselingkuh dengan pria lain selama Riza dirawat di Belanda.
Awalnya Riza hanya diam mendengarkan. Namun, lama kelamaan ia sedikit kaget saat mendengar suara teriakan mami yang semakin menjadi-jadi ketika meluapkan amarahnya pada Dilla, sementara gadis didepannya itu hanya diam terisak tanpa membalas sedikitpun.
Melihat itu, tanpa menunggu lama Riza pun segera masuk kedalam ruangan dengan santai seolah ia tidak mendengar apapun.
Riza melirik ke arah Dilla yang tertunduk bingung. Gadis itu tampak tidak menyadari sama sekali kehadiran Riza yang kini sudah berdiri tepat didepannya.
Flashback End
Riza menatap wajah Dilla lama dengan tatapan yang sulit diartikan sesaat sebelum menyentuh pipi gadis itu lembut untuk membangunkannya.
Perlahan mata Dilla membuka dan mengerjap.
Sambil tersenyum, Riza berkata, "Ayo, bangun. Kita sudah sampai," ajaknya.
Dilla pun mengangguk mengiyakan.
Setelah membayar taksi, Riza segera keluar lalu berjalan bersisian bersama dengan Dilla ke arah pintu.
Mendengar suara bel yang berbunyi nyaring, dengan cepat Henzhie berlari menghampiri pintu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Henzhie menyambut kepulangan Riza dengan senyum sumringah. Bagaimana tidak, orang yang ditunggu-tunggunya sejak kemarin kini muncul didepan matanya.
Tanpa tahu malu, Henzhie menarik lengan Riza lalu merangkul lengan pria itu sambil tersenyum lebar.
Riza menoleh kearah Dilla, takut kalau Dilla marah padanya. Namun, diluar dugaan, Dilla justru terlihat biasa saja, sampai-sampai membuat Riza mengernyit heran.
Bagaimana tidak, Dilla tampak bersikap tidak seperti Dilla yang biasanya. Wajah gadis itu terlihat sangat murung. Sepanjang langkahnya, Dilla hanya diam sambil kembali mengingat pertemuannya dengan mami beberapa waktu lalu.
Melihat sikap aneh isterinya, Riza langsung melepaskan rangkulan Henzhie dari lengannya kemudian menghampiri Dilla yang sudah berjalan duluan didepan mereka.
Tepat saat itu, Aldrich muncul dari arah tangga. Pemuda itupun segera berjalan menghampiri Dilla dengan langkah terburu. Aldrich berhenti tepat di hadapan gadis itu hingga membuat gadis yang sedang melamun itu tersentak kaget dan menghentikan langkahnya seketika.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya.
Dilla diam sejenak sebelum menanggapi Aldrich. Sejurus kemudian ia pun mengangguk tanpa menatap Aldrich sebab ia juga perlu membicarakan sesuatu dengan pria itu.
Dilla mengikuti langkah Aldrich yang berjalan terlebih dahulu di depan. Langkah Dilla terhenti, saat tiba-tiba Riza memanggil nama istrinya itu.
Dilla menoleh ke arah Riza, "Ada apa, Mas?" sahutnya kemudian.
Riza berkata seraya menarik Dilla menjauh dari Aldrich, "Kalian mau kemana?. Boleh aku ikut?" pinta Riza pada Dilla sebab ia tidak mau Dilla berduaan dengan pria lain.
Aldrich bersuara, "Ikut saja. Tidak masalah."
Riza kembali berkata, "Aku ikut, ya?!" pintanya lagi dengan harapan Dilla akan mengiyakan.
Namun, Dilla justru berkata lain. Dengan lembut, Dilla menolak permintaan Riza dan menyuruh agar Riza lebih baik beristirahat saja sebab Riza masih sakit dan sedang dalam masa pengobatan sehingga tidak perlu ikut bersama dengannya dan Aldrich.
Entah kenapa perkataan Dilla, membuat Riza merasa sedikit tersinggung. Namun, Riza berusaha untuk tersenyum meskipun jauh dalam hatinya, ia merasa sedikit kecewa dengan perkataan Dilla yang seolah mengisyaratkan tentang bagaimana kondisi psikis Riza yang memang masih belum pulih sepenuhnya.
Padahal sebenarnya, Dilla menolak keberadaan Riza sebab ia tidak mau Riza nantinya bertambah stress jika ia sampai tahu mengenai apa yang terjadi antara Dilla dan mami perihal foto-foto Dilla bersama dengan Aldrich dimana hal itu akan dapat berdampak tidak baik bagi kesehatan mental Riza.
"Ayo, Mister!" ajak Dilla.
Aldrich pun kembali melanjutkan langkahnya diikuti dengan langkah Dilla dari belakang.
Riza pun hanya mampu berdiri tegak menatap kepergian Dilla dan Aldrich.
"Ayo, Riza. Ikutlah, aku ingin memberikan sesuatu untukmu," ajak Henzhie yang langsung tidak menyiakan kesempatan emas itu.
Henzhie menyeret lengan Riza menuju ke arah kamarnya.
Setibanya didalam kamar, Henzhie menyodorkan sebuah kotak ke arah Riza.
"Terimalah. Ini hadiah dariku," ucap Henzhie sambil tersenyum manis.
Riza meraih kotak tersebut dari Henzhie dengan malas lalu mengeluarkan isinya yang merupakan sebuah ponsel yang dibeli khusus oleh Henzhie untuk Riza.
Ya, Henzhie memang berniat menghadiahkan sebuah ponsel untuk Riza agar ia dapat lebih leluasa untuk menghubungi Riza nantinya kapanpun dan dimanapun Riza berada.
"Aku sudah menyimpan nomorku didalamnya. Kamu tinggal pakai saja." Lagi-lagi Henzhie tersenyum manis ke arah Riza.
"Terima kasih," balas Riza biasa saja.
"Hanya itu?!. Hanya ucapan terima kasih?!. Maksudku, tidakkah aku juga mendapatkan hadiah darimu?!" seru Henzhie.
"Maaf. Saat ini aku tidak menyiapkan hadiah apapun. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, aku janji, besok aku akan memberikanmu hadiah sebagai ucapan terima kasih dariku."
"Aku ingin hadiahku sekarang," rengek Henzhie dengan nada manja seraya memeluk tubuh Riza dengan erat hingga membuat Riza sontak terperanjat kaget.
"Hentikan, Henzhie!!. Apa-apaan ini?!" seru Riza sambil terus berusaha melepaskan tubuh Henzhie yang terus menempel padanya.
Henzhie memulai rayuan gilanya, "Aku mohon, Riza. Berikan aku satu kesempatan saja."
Dengan dahi mengernyit, Riza berseru, "Lepas!!" sahutnya tajam seraya menghempaskan tubuh Henzhie dengan kasar.
Akhirnya Riza pun berhasil membebaskan diri dari dekapan Henzhie. Tanpa berkata apapun lagi, Riza berjalan ke arah pintu dengan terlebih dahulu menaruh kotak hadiah dari Henzhie di atas meja.
Saat tangan Riza akan meraih gagang pintu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyengat lengannya. Riza menoleh dan sontak terkejut saat mendapati Henzhie telah memegang sebuah jarum suntik disana.
"Maafkan aku, Riza. Aku terpaksa melakukan ini."
Riza mengernyit takut sementara Henzhie menatap Riza dengan sebuah senyuman yang tampak menyiratkan sesuatu.
Henzhie kemudian menutup pintu lalu menguncinya dari dalam.
Henzhie menyeringai, "Ayo kita bersenang-senang."
Riza tampak mengerjap beberapa kali saat merasakan kepalanya mulai terasa pusing.
Henzhie kembali mendekati Riza masih dengan seringai aneh miliknya.
"Hari ini aku akan membuatmu melupakan isterimu," goda Henzhie seraya memeluk pria didepannya itu.
Sambil memegangi kepalanya, Riza berkata, "Lepaskan aku. Apa yang kamu lakukan, Henzhie?" lirih Riza sambil memegangi kepalanya yang makin terasa pusing.
Masih memeluk Riza, Henzhie menaikkan sudut bibirnya seolah menikmati rasa sakit yang dirasakan pria itu.
"Ayolah, Riza. Tidak perlu malu," ucapnya kemudian.
Sedetik berikutnya, Riza pun terduduk lemas saat tak kuasa lagi menahan rasa sakit di kepalanya. Sepertinya cairan yang disuntikkan Henzhie ke dalam tubuh Riza sudah mulai bekerja.
Mata pria itu mulai mengabur. Ia pun berhalusinasi, sayup-sayup ia mendengar suara Dilla. Namun, sedetik kemudian suara itu berubah menjadi suara Henzhie.
Tak hanya itu, kini nafas Riza pun mulai tersengal, keringat dingin terlihat bercucuran dari sekujur tubuhnya. Sekuat tenaga ia mencoba menahan matanya agar tidak menutup.
Entah cairan apa yang sedang bereaksi di tubuhnya saat ini, Riza merasa matanya sangat terasa berat.
Henzhie berlutut kemudian memutar tubuh Riza menghadap kearahnya, "Bersenang-senang lah denganku, Riza."
"A-a-apa---," ucap Riza dengan nafas terengah dan mata setengah terbuka.
Sementara itu Henzhie tampak tersenyum penuh arti sebelum mendekatkan suaranya ditelinga Riza.
"Tenang saja. Kita akan bersenang-senang tanpa diketahui oleh istrimu. Aku akan membuatmu bahagia malam ini!" bisik Henzhie di telinga pria itu.
Tubuh Riza kini sudah terkulai lemas tak berdaya di atas dinginnya lantai kamar Henzhie. Sesaat berikutnya, mata Riza pun terpejam.
Melihat Riza yang sudah hilang kesadaran, Henzhie pun tersenyum penuh kemenangan sebab rencananya kali ini sepertinya akan berhasil.
"Mas. Mas Riza. Mas dimana?" panggil Dilla yang sejak tadi mencari keberadaan Riza di sekeliling rumah.
Riza yang sudah tak sadarkan diri itu pun hanya pasrah ketika Henzhie mulai membuka kemeja yang Riza kenakan.
Tiba-tiba terdengar Henzhie berteriak, "Toloong!!!!. Jangan Riza. Jangan!!!"
Mendengar suara teriakan dan kegaduhan dari kamar Henzhie dengan cepat Dilla berlari ke arah suara.
Henzhie kembali berteriak kencang. Tak ayal hal itu, sontak menarik perhatian Thomas dan Aldrich yang sedang berbincang di ruang tamu. Mereka pun segera berlari menuju ke kamar Henzhie.
Kini mereka bertiga, sudah berdiri didepan pintu kamar Henzhie sambil berusaha membuka paksa pintu yang masih terkunci dari dalam itu.
"Henzhie!!!. Buka pintunya. Apa yang terjadi?!" teriak Thomas yang terlihat sangat panik.
"Toloong!!!. Jangan Riza. Thomas tolong aku!!!" teriak Henzhie dengan suara serak dan terisak.
Mendengar itu, Thomas, Dilla dan Aldrich semakin bertambah panik. Sekuat tenaga Thomas mendobrak pintu yang sedari tadi tidak kunjung terbuka itu.
Apa yang ada dalam pikiran Thomas sama halnya dengan apa yang ada dalam pikiran Aldrich dan Dilla. Mereka bertiga mengira kalau Riza sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap Henzhie.
Sesaat kemudian, akhirnya pintu berhasil terbuka. Thomas, Dilla dan Aldrich tampak kaget saat melihat pakaian Henzhie yang sudah sobek disana-sini.
Dengan menangis, Henzhie berlari dan memeluk Thomas.
Sementara Riza, terlihat sudah pingsan tak jauh dari tempat Henzhie berdiri.
Tak lama setelahnya, Dilla pun bergegas menghampiri Riza. Berulang kali Dilla membangunkan Riza, akan tetapi Riza tak juga merespon.
Henzhie berkata, "Aku terpaksa memukulnya karena dia berniat kurang ajar padaku."
Semua orang menoleh serentak ke arah Henzhie, tak terkecuali Dilla.