
"Mau apa Kia kemari, Mas?" tanya Dilla sesaat setelah Riza masuk ke dalam kamar.
"Tidak penting!" jawab Riza singkat. "Ibu kemana?" lanjutnya.
Riza berjalan menghampiri Dilla kemudian duduk bersandar pada ranjang bersebelahan dengan Dilla yang sedang berbaring.
"Ibu pergi ke pekarangan belakang."
"Oh!" balas Riza lirih. Manggut-manggut tak bersuara.
"Ada apa dengan Kia?. Kenapa tadi Kia berteriak, Mas?" tanya Dilla penasaran, sebab tadi ia sempat mendengar suara Kia yang setengah berteriak. Namun, sepertinya Dilla tidak terlalu mendengar dengan jelas apa yang diteriakkan oleh Kia.
Riza tampak malas menjawab, "Tidak perlu membahas gadis itu lagi!" ketusnya, terlihat masih kesal. "Bagaimana?. Sudah baikan?" Riza menoleh ke arah Dilla. Menanyakan keadaan Dilla.
Dilla mengangguk mengiyakan.
"Syukurlah." Riza tersenyum lega. "Oh ya, dimana tasmu?. Aku mau mengemas barang-barang untuk dibawa pulang."
"Ndak perlu, Mas. Semua sudah saya persiapkan. Mas tinggal terima bersih. Hebat, kan saya?" Dilla tersenyum bangga.
Riza mengacak rambut Dilla gemas, "Bahagianya punya istri perhatian. Jadi pengen peluk terus cium." Riza tersenyum menggoda. Berusaha menjahili Dilla yang terlihat cemberut dikarenakan rambutnya kini sudah semerawut tak karuan.
Dilla melotot tajam. Memperlihatkan tangannya yang terkepal pada Riza. Mengisyaratkan agar Riza jangan macam-macam padanya.
"Duh, seremnya istriku!" Riza terkekeh kecil.
"Mas jangan coba-coba, ya!"
"Buat istri kok coba-coba," canda Riza kemudian. Ia kembali terkekeh saat melihat ekspresi wajah Dilla yang cemberut menggemaskan.
"Karena kamu sudah baikan, bagaimana kalau sebelum pulang, kita jalan-jalan lagi?" usul Riza sedikit meminta. Entah kenapa sejak dua hari belakangan, Riza terus saja mengajak Dilla untuk berkeliling mengunjungi tempat-tempat indah dan menakjubkan yang ada di tanah kelahiran istrinya itu.
Padahal biasanya, Riza tidak pernah mau menghabiskan waktunya di luar rumah. Ia hanya keluar rumah untuk bekerja, selebihnya ia selalu menyendiri dan berdiam diri menghabiskan waktu berharganya. Bahkan jarang sekali Riza mengiyakan setiap kali Dilla mengajak Riza untuk keluar dari rumah. Namun, tidak untuk tiga hari ini. Sejak mereka berlibur di desa. Hampir setiap hari Riza mengajak Dilla berkeliling.
Awalnya Dilla bersemangat untuk menemani Riza berkeliling di desanya. Namun, lama kelamaan Dilla mulai berusaha menghindar dan menolak setiap kali Riza mengajaknya keluar rumah. Alasannya sederhana, sebab apabila mereka berduaan, kapanpun dan dimanapun Riza selalu saja menjahili dan menggoda Dilla.
Bukan benci atau tidak suka. Hanya saja tingkah Riza itu selalu saja berhasil menggoyahkan pertahanan Dilla yang sudah sekian lama berusaha menjaga hatinya agar tidak mudah jatuh cinta begitu saja. Menghalau dan menghempaskan jauh-jauh perasaan yang mulai menggelitik jiwanya.
"Males ah, Mas. Saya kan baru sembuh. Badan saya masih sakit-sakit." Dilla berpura-pura meringis kesakitan untuk mengelabuhi suaminya itu. Riza menautkan alisnya menatap Dilla dengan curiga.
"Jangan berpura-pura," ujarnya."Aku sudah hafal dengan trik berpura-pura sakitmu itu!" tambahnya.
Dilla kembali cemberut. Lagi-lagi usaha Dilla untuk mengelabuhi Riza tidak berhasil.
"Jadi, kemana kita hari ini?" tanya Riza. Senyam-senyum tak jelas. Raut wajah tak sabar, tampak jelas di wajahnya.
Dilla hanya berdecak pelan seraya menggeleng saat melihat raut wajah sumringah Riza yang sangat bersemangat.
"Ya sudah, bagaimana kalau hari ini kita pergi ke sungai?. Mas tahu kan cara memancing dan menangkap ikan?" tanya Dilla yang dijawab dengan gelengan kepala dari Riza.
Dilla tertawa, "Katanya hebat dan serba bisa. Mosok mancing dan nangkep ikan saja ndak bisa?" Dilla terkekeh geli. Kembali mengejek Riza.
"Bukannya tidak bisa. Hanya saja, aku tidak mau. Aku hanya mau memancing dan menangkap hatimu. Itu lebih berarti bagiku daripada memancing dan menangkap ikan!" timpal Riza dengan senyum andalannya.
Dilla kembali bertingkah, "Aduh, Mas. Punggung saya sepertinya sakit lagi. Duh!. Aduh!. Beneran nih kayaknya." Canda Dilla, kembali berpura-pura mengaduh kesakitan.
Dasar istri nakal, batinnya.
Merasakan istrinya kembali berulah, tanpa berkata Riza pun segera membungkuk membelakangi Dilla. "Oke. Kalau punggungmu masih sakit, sini aku gendong. Biar lekas sembuh." Riza memasang kuda-kuda hendak menggendong istrinya di punggung.
Dilla mengernyitkan keningnya. Sesaat kemudian, ia pun menjawab, "Ndak perlu. Saya masih sanggup jalan kok, Mas." Dilla mendorong pelan tubuh suaminya hingga terjerembab ke lantai.
Riza tertawa menggeleng karena sikap jual mahal istrinya itu. Tanpa berlama-lama, Riza pun segera keluar kamar menyusul Dilla. Selanjutnya, mereka pergi dengan berjalan kaki menuju ke arah sungai yang letaknya tak jauh dari rumah.
Dilla mengiyakan pertanyaan Bu Kades dengan tersenyum dan mengangguk sopan.
"Oh!" sahut Bu Kades lirih. Tak lama, Bu Kades pun menambahi, "Ganteng dan masih muda, ya?. Seneng deh, bisa ketemu. Soalnya kemarin itu, ibu kan nggak ikut sewaktu acara akad nikah kalian. Beruntung sekali kamu Dilla. Ha..ha..ha." Bu Kades memuji Riza terus menerus. Membuat pasangan suami istri itu tersenyum canggung.
"Suami kamu kerja dimana?. Kalian kapan datang?. Terus mau berapa lama tinggal di sini?"
bla..bla..bla..
Dilla menautkan alisnya saat mendengarkan runtutan pertanyaan yang tiada henti dari Bu Kades. Merasa bingung mau menjawab pertanyaan yang mana.
Sedangkan Riza, ia terlihat sangat risih sekali dengan pertanyaan demi pertanyaan abstrak yang dilontarkan oleh Bu Kades padanya. Tidak berniat menjawab pertanyaan kepo Bu Kades itu barang sedikitpun.
Runtutan pertanyaan itu sungguh membuatnya merasa jengah dan tidak nyaman, "Ayo, kita pergi sekarang!" bisiknya lirih mendekatkan tubuhnya ke arah Dilla. Mengisyaratkan agar Dilla segera mengakhiri perbincangannya dengan Bu Kades.
Mendengar bisikan Riza, Dilla pun segera undur diri. Dengan tersenyum canggung, ia berpamitan pada Bu Kades. Mereka segera mencium punggung tangan wanita paruh baya didepannya itu dengan cepat padahal Bu Kades belum menghentikan rasa ingin tahunya yang sungguh tidak berfaedah itu.
"Loh, sudah mau pergi?. Padahal ibu masih mau ngobrol-ngobrol," ujar Bu Kades sedikit kecewa. Tak memperhatikan raut wajah dua insan didepannya yang sudah terlihat sangat tidak nyaman.
"Iya, Bu. Takutnya kesorean. Mari, Bu. Assalamu'alaikum!" ucap Dilla segera membebaskan diri dari rasa ingin tahu berlebihan wanita paruh baya yang ada didepannya.
"Untung kamu cepat tanggap. Tadi itu aku sudah sangat tidak nyaman."
"Iya, dong. Kirain cuma saya saja yang merasa seperti itu. Ternyata mas juga!" Dilla tertawa. "Ngomong-ngomong, mas benar-benar tidak nyaman ya, kalau ketemu orang baru?"
"Hemm." Riza mengiyakan. "Bukan hanya orang baru. Entah kenapa, Aku sangat tidak suka jika orang lain terlalu bertanya ini dan itu tentang hal-hal pribadiku. Apalagi orang itu bukanlah siapa-siapa." Riza menjelaskan seraya berjalan bersisian dengan Dilla. Mengarahkan pandangannya, menatap jalanan berbatu kerikil yang ada dibawahnya.
Dilla mendengarkan cerita Riza dengan seksama. Mencoba mempelajari karakter Riza yang sebenarnya.
"Tapi, kalau mas seperti itu. Orang-orang akan berpikir kalau mas orang yang sombong, angkuh dan tidak bersahabat. Sebab, mas langsung menunjukkan ketidaknyamanan mas itu didepan orang tersebut. Padahal mereka hanya tidak tahu saja mas seperti apa," ungkap Dilla panjang lebar.
"Memangnya aku seperti apa?"
"Seperti kata mas Niko, mas itu galak seperti singa dan berduri seperti landak," jawab Dilla enteng disertai tertawa mengejek.
"Dasar Niko!" gumam Riza pelan.
"Tapi, saya rasa yang dikatakan mas Niko ada benarnya." Dilla kembali tertawa.
Riza melotot tajam ke arah Dilla.
"Saya hanya bercanda. Mas itu orang yang baik. Sangat baik." Sekilas melirik ke arah Riza dengan tatapan berbinar. Membuat pria yang berjalan disebelahnya itu menoleh.
"Berhenti menatapku seperti itu sebab aku tidak akan bertanggung jawab kalau sampai kamu jatuh cinta nantinya padaku." Riza merangkul bahu Dilla. "Apa aku hanya terlihat 'baik' saja dimatamu?. Tidak ada yang lain?. Seperti perhatian, penyayang atau melindungi kaum wanita, misalnya?" Mendekatkan wajahnya pada Dilla. Membuat gadis yang ada didepannya itu diam membisu. Terpaku. Lebih tepatnya terkesima. Terlihat dari kedua pipinya yang mulai memerah.
Tak lama, Dilla pun terkesiap. Dengan cepat tangannya mencubit perut Riza hingga Riza meringis kesakitan meminta ampun kemudian melepaskan rangkulan tangannya dari Dilla.
"Ya Allah, galaknya istriku!" Keluh Riza memegangi perutnya.
"Rasain!. Kan, saya sudah peringatkan jangan macam-macam sama saya. Kalau mas masih seperti ini juga, kita pulang saja!"
"Tapi, kalau seperti ini bolehkan?" Riza menautkan jemarinya pada Dilla. Menggenggamnya dengan erat kemudian melangkah tanpa menunggu kata-kata dari mulut Dilla.
Terlihat Riza melonggarkan genggaman tangannya. Dengan cepat, Dilla mengeratkan genggaman tangannya kembali. Membuat Riza seketika menoleh. Menatap wajah gadis yang ada disampingnya sejenak lalu kembali memandang lurus ke depan.
Dilla berbisik lirih melihat kearah jemarinya yang bertautan erat dengan jemari pria yang ada disebelahnya.
Dan lagi-lagi, aku mulai goyah. Perlahan pria singa berkulit landak ini pun mulai mengambil alih duniaku. Membuatku semakin takut. Takut kalau sewaktu-waktu dia akan pergi meninggalkanku. Kalau benar hal itu terjadi, apa yang harus aku lakukan?. Sampai kapan aku mampu menepikan pria ini?. Sejujurnya aku sangat takut kehilangan dia. Sangat.
Dilla pun semakin larut dalam kebimbangan.