
[Pukul 03.00 WIB]
Dilla tampak gelisah dalam tidurnya. Ia berguling kesana-kemari mencoba mencari posisi nyaman.
Dilla menarik selimut hingga sebatas dada lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Riza.
Cologne beraroma mint yang dipakai Riza seketika mengusik indera penciuman Dilla. Ia menarik nafasnya dalam, menikmati aroma semerbak yang berasal dari tubuh Riza itu.
Dilla pun semakin menajamkan penciumannya. Perlahan ia menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit mendekat ke arah Riza dengan mata yang masih terpejam.
Semakin dekat dan dekat. Hingga membentur dada bidang Riza kemudian bergelayut manja di sana.
Tidak sampai disitu, kini jemari lentik Dilla tampak aktif menjamah tubuh Riza. Wajah, leher, bahu, dada hingga perut.
Sedari kecil Dilla memang punya kebiasaan tidur yang aneh. Dilla selalu memeluk, bergelayutan dan menjamah tubuh orang yang ada disebelahnya. Memperlakukan orang tersebut laksana guling.
Riza yang terlelap pun sama sekali tidak merasakan setiap pergerakan tangan Dilla yang sedari tadi terus menggerayangi tubuhnya.
Bola mata Dilla tampak bergerak-gerak di balik kelopak matanya yang masih menutup. Tiba-tiba Dilla merasakan sebuah tangan memeluk erat pinggangnya.
"Kiki...euhhh." Dilla meracau.
Riza semakin erat mendekap tubuh Dilla. Aroma mint menyeruak kuat menerpa hidung Dilla.
Dekapan erat Riza, membuat Dilla membuka matanya perlahan.
Mata Dilla seketika membulat saat melihat wajah Riza yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
"Mas Riza..?" bisiknya pelan.
"Mmmm....," racau Riza dalam tidurnya.
Karena jarak mereka yang sangat dekat Dilla bahkan dapat merasakan hembusan nafas hangat Riza menggelitik wajahnya.
Cepat-cepat Dilla mendorong tubuh Riza menjauh. Namun, tangan kekar Riza kembali menarik tubuh Dilla dan mendekapnya dengan erat.
Karena kesal, Dilla mencubit tangan Riza sekuat tenaga.
"Sa-sa-sakiit...!" Riza terbangun dan melepaskan dekapannya.
Dilla melepaskan cubitannya.
Dengan posisi duduk di ranjang, Dilla berkata, "Mas jangan cari-cari kesempatan ya!."
Riza mengelus pelan tangannya, "Maksud kamu apa?"
"Pasti mas sengaja memindahkan saya ke sini, biar bisa peluk-peluk saya seenaknya. Iya, kan?"
Dilla menatap Riza kesal.
"Memangnya salah?. Kamu itu istriku. Aku bahkan bisa meminta lebih dari itu," jawab Riza datar.
Dilla menatap tajam ke arah Riza yang masih terbaring di sebelahnya.
"Apa?. Meminta lebih**?" bisik Dilla dalam hati.
"Hentikan tatapanmu itu"
Riza berpura-pura memejamkan matanya.
"Tenanglah. Aku tidak akan melakukan apapun padamu," sambung Riza santai.
Tanpa berpikir panjang, Dilla langsung menyibak selimutnya kemudian berjalan menuju sofa panjang yang ada di sudut ruangan sambil menggerutu.
Riza memperhatikan Dilla dari kejauhan.
Dilla merebahkan tubuhnya di sofa sambil terus bergumam lirih.
"Meminta lebih?"
"Kenapa aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya?"
"Untung saja aku cepat-cepat membuka mataku. Kalau tidak..."
Dilla melihat ke arah Riza lalu mengenakan selimut yang tergeletak di sofa.
"Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang."
Dilla sadar bahwa pernikahannya dengan Riza hanya sebatas perjanjian simbiosis mutualisme dan hutang budi saja bukan berdasarkan cinta. Cepat atau lambat mereka pasti akan berpisah.
Oleh karena itu, jauh-jauh hari Dilla sudah bertekad untuk menjaga jarak dari Riza sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Dilla tidak ingin selamanya harus terjebak dalam hubungan yang tanpa ada rasa cinta didalamnya ini. Begitulah pemikiran Dilla.
Bagi Dilla si gadis miskin, dicintai dan mencintai itu adalah sebuah keajaiban. Keajaiban yang hanya ada dalam kisah Cinderella dimana selalu hadirnya ibu peri yang setia membantu Cinderella mendapatkan pangeran impiannya.
Hanya gadis miskin seperti Cinderella lah yang memiliki ibu peri di hidupnya, bukan gadis miskin seperti Dilla. Didalam hidup Dilla, ibu peri itu tidak pernah ada. Cinderella memang sangat beruntung.
Kisah sang puteri dan pangeran berkuda putih pun demikian. Hanyalah omong kosong belaka. Pangeran menginginkan sang putri karena derajat mereka yang sama-sama keturunan bangsawan. Sama-sama cantik dan rupawan.
Dilla sadar bahwa ia seolah bermain-main dengan ikatan suci pernikahan. Namun, apa mau dikata Tuhan telah menorehkan takdir itu di garis tangannya.
Dilla hanya harus sabar menunggu sampai novel Riza rilis dan mereka akan berpisah saat itu juga. Dilla berusaha menjaga hatinya agar tidak kecewa untuk kedua kalinya.
Dilla memejamkan matanya perlahan kemudian melanjutkan tidurnya kembali.
[Pukul 04.30 WIB]
Riza membuka mata. Ia terbangun dari tidurnya. Saat menoleh ke arah sofa, Dilla tidak ada di sana. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Tak berselang lama, terlihat Dilla keluar dengan handuk melilit tubuhnya. Riza terpaku memandang tak berkedip ke arah tubuh putih bersih nan mulus milik Dilla yang melintas di depannya. Riza menelan ludahnya perlahan. Pikiran aneh mulai merasuki dirinya.
Riza langsung menghampiri Dilla yang baru saja keluar dari ruang ganti. Ia mendekati Dilla perlahan.
Saat semakin dekat, kedua tangan Riza mendorong bahu Dilla perlahan ke dinding. Kini tubuh Dilla telah terkungkung oleh tangan kekar Riza.
Dilla menautkan kedua alisnya menatap Riza bingung. Tanpa aba-aba, Riza mengecup bibir Dilla singkat lalu tersenyum. Mereka sama-sama terdiam. Pipi keduanya merona merah. Dilla terlihat menundukkan wajahnya tersipu malu.
"Aku sangat merindukanmu istriku." Jemari tangan Riza membelai lembut pipi Dilla.
Manik mata Riza menatap Dilla penuh hasrat. Beberapa detik kemudian, Riza memulai aksinya. Ia mengulum bibir Dilla dengan lembut kemudian memejamkan matanya menikmati lembutnya bibir ranum milik istrinya. Seketika mata Dilla membulat.
Riza menarik tubuh Dilla mendekat padanya. Dilla yang tengah terbawa suasana, tanpa sadar melingkarkan tangannya di leher Riza. Nafas Riza memburu sementara jantung Dilla berpacu dengan cepat.
Kecupan demi kecupan lembut dari Riza di dahi, pipi, bibir, dagu serta leher Dilla, membuat Dilla mabuk kepayang. Perlahan Dilla memejamkan matanya menikmati ciuman bertubi-tubi dari Riza. Riza pun terlihat semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas.., mas!" suara Dilla terdengar di telinga Riza.
Nafas Riza terengah-engah.
"Mas..!!" Dilla menggoyangkan bahu Riza kencang.
Riza membuka matanya dan mendapati Dilla tengah berdiri menatapnya dengan heran.
"Mas kenapa?, mimpi buruk?" tanya Dilla padanya.
Riza lekas bangkit dari tidurnya.
Dilla menautkan kedua alisnya.
"Shalat dulu mas. Sudah adzan." Suara Dilla membuyarkan lamunan Riza.
Wajah Riza tampak merona merah.
"Mas...., Mas baik-baik saja?" Dilla mendekatkan wajahnya pada Riza.
Wajah Riza semakin memerah.
Seketika Riza berlari menuju kamar mandi.
Dilla memperhatikan tingkah Riza dari belakang. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Riza terus menerus berbisik.
"Kenapa aku bisa bermimpi seperti tadi?"
"Argghhh... Perasaan ini benar-benar membuatku gila!" rutuknya.
Riza mengacak-acak rambutnya kasar.
Selanjutnya, ia pun mengguyur kepalanya dengan air dingin untuk mengeluarkan pikiran-pikiran aneh yang bersarang di otaknya.
Ritual mandi Riza pun akhirnya selesai. Riza keluar dari kamar mandi. Matanya mencari-cari sosok Dilla.
Setelah selesai menunaikan shalat, Riza menuruni anak tangga dan menghampiri Dilla yang terlihat sedang bersantai di sofa menonton acara televisi.
Berhubung hari ini hari Minggu, Riza tidak bekerja. Begitu pun dengan Dilla yang sudah pasti libur kuliah.
Riza duduk bersebelahan dengan Dilla. Perlahan ia menggeser duduknya mendekati Dilla. Ekor mata Dilla memperhatikan pergerakan tangan Riza yang terlihat hendak membelai rambut Dilla dari belakang. Dengan cepat Dilla menggeser tubuhnya menjauh. Dilla berusaha menghindari kontak fisik dengan Riza.
Riza yang tidak kehabisan akal kembali menggeser duduknya perlahan mendekat ke arah Dilla. Seketika Dilla berdiri.
"Hari ini saya mau ke rumah Kiki, mas," ucapnya singkat.
Riza berdiri dari duduknya kemudian menatap Dilla datar.
"Buat apa kamu ke sana?"
Dilla memutar matanya mencoba mencari alasan.
"Ehmmmm.... Saya mau mengambil tas saya."
"Oh."
"Ya sudah, saya berangkat sekarang."
Riza menarik cepat lengan Dilla. Dilla pun menoleh ke arah Riza.
"Tunggu. Aku akan mengantarmu kesana."
"Duh, aku jawab apa ya?" Dilla terlihat gelisah.
"Ndak perlu. Saya bisa naik taksi online saja," jawabnya cepat.
Riza membelai dan menyelipkan beberapa helai rambut Dilla ke belakang telinga, "Jadilah istri yang patuh dan jangan membantah. Oke!"
Perlakuan Riza yang tidak biasa itu, membuat Dilla seketika mematung.
"Tunggu disini!" ucapnya.
Riza tersenyum menatap Dilla lalu mengedipkan sebelah matanya.
Kedipan mata menggoda yang membuat Dilla mengerjap-ngerjapkan matanya heran.
Riza mencubit hidung Dilla gemas. Setelah itu, berlalu meninggalkan Dilla yang tampak membisu di tempatnya berdiri.
Terdengar Riza bersiul nyaring saat menaiki anak tangga.