
Aldrich dan Thomas sedang melakukan persiapan untuk rencana tidak masuk akal mereka tempo hari. Rencana untuk masuk ke rumah Riza tanpa diketahui oleh siempunya rumah.
Aldrich tampak mengenakan hoodie abu dan kumis palsu, sementara Thomas mengenakan jas dan masker kain berwarna hitam yang menutupi mulut dan hidung.
Aldrich melihat penampilan mereka berdua di pantulan cermin.
Aldrich mulai mengoceh, "Kali ini kita harus berhasil masuk ke rumah Dirwan, jangan sampai rencana kita gagal lagi!" tuturnya ke arah Thomas.
Thomas mengiyakan dengan mantap.
Setelahnya Thomas pun langsung mengambil kunci mobil yang ada di nakas, lalu masuk ke dalam mobil dengan diikuti oleh Aldrich dari belakang.
Tiga puluh menit berlalu, dua pemuda tampan itu pun sampai di rumah Riza. Mereka kemudian turun lalu merapikan pakaian mereka sesaat sebelum turun dari mobil.
"Ingat yang aku katakan tadi," ujar Aldrich memastikan agar Thomas mengikuti rencananya.
"Baik Tuan," sahut Thomas kemudian.
Seperti yang dilakukan Henzhie sebelumnya, Aldrich juga menghampiri penjaga yang ada didepan gerbang. Aldrich menyampaikan kedatangannya siang itu untuk menemui ayah Riza untuk membicarakan masalah bisnis, yang tentunya itu semua hanya tipuan Aldrich. Namun sayang, penjaga mengatakan kalau ayah Riza sudah pergi ke kantor sedari tadi.
"Kalau begitu bisa aku bertemu dengan Nyonya Dilla, istri Tuan Riza?" sambung Aldrich
"Sebentar, saya tanyakan dulu dengan petugas yang ada didalam."
Petugas berjalan ke dalam rumah, sedetik kemudian ia berbalik ke tempatnya semula, lalu bertanya kepada Aldrich, "Bisa saya tau siapa nama anda?"
Dengan cepat Aldrich memutar otak, "Albert. Namaku Albert Raison," ujarnya cepat sambil menjabat tangan petugas didepannya.
"Baiklah. Anda silahkan tunggu disini."
"Oke," jawab Aldrich, tersenyum penuh makna.
Aldrich mulai celingukan, pandangannya menyapu seluruh sudut bangunan besar di depannya. Setelah memastikan penjaga sudah masuk kedalam rumah, Aldrich pun segera memberi kode pada Thomas yang sudah siap didepan tembok belakang rumah Riza.
Tanpa aba-aba, Thomas pun langsung melompat dengan gesit. Kemudian langsung menerobos masuk ke dalam rumah Dirwan tanpa diketahui oleh penjaga. Sementara Aldrich masih menunggu di luar dengan tampang pura-puranya.
Didalam rumah, Thomas terlihat bingung sebab ia tidak tahu dimana letak kamar tidur Dilla dan Riza. Alhasil Thomas masuk ke dalam tiap kamar yang ada disana dan menggeledah isinya.
Saat masuk ke dalam kamar mami, Thomas tertegun saat melihat pigura foto milik Bayu yang ada diatas nakas.
Thomas meraih pigura tersebut dengan tatapan nanar.
"Bagaimana kabarmu teman," ucapnya tersenyum.
Flashback
Beberapa tahun silam
Thomas sedang menemani Adam untuk bertemu dengan Dirwan di salah satu restoran mewah di Belanda. Saat di toilet, tanpa sengaja Thomas mendengar obrolan Adam dan Bayu.
"Kamu itu masih kecil, berani sekali kamu menceramahi papi. Urus saja sekolah kamu, tidak perlu ikut campur sama urusan papi!" sarkas Dirwan ke arah Bayu.
Dirwan berbicara kepada Bayu dengan bahasa Indonesia, agar tidak ada yang mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Lebih baik papi menyerahkan diri ke polisi. Setidaknya hukuman papi bisa lebih ringan. Apa yang papi lakuin ini ilegal. Bayu ngingetin papi, karena Bayu peduli sama papi."
"Kalau kamu memang peduli sama papi, kamu cukup jadi anak pendiam dan penurut seperti kakak kamu, Riza. Lihat Riza, dia selalu nurut sama kata-kata papi, dia selalu bikin papi bangga. Tidak seperti kamu. Yang hobinya cuma keluyuran sana sini. Papi nyesal punya anak seperti kamu"
"Oke, kalau papi nyesal punya anak kayak aku, tapi satu kenyataan yang harus papi tau, RIZA ITU BUKAN KAKAK AKU, DAN NGGAK AKAN PERNAH JADI KAKAK AKU!!!. DIA ITU CUMA ANAK ANGKAT YANG KEHILANGAN AYAHNYA GARA-GARA PAPI!!!"
plaakkk!!!
Sebuah tamparan keras melayang ke arah Bayu. Keduanya sama-sama terdiam, sementara Thomas hanya diam mendengarkan dari balik Toilet karena saat itu ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama, Dirwan pergi meninggalkan Bayu dengan wajah merah padam penuh emosi.
Terlihat Thomas menyodorkan sapu tangan miliknya ke arah Bayu. Namun, Bayu menepisnya.
"Tidak perlu mengasihani ku. Aku bukan anak kecil."
Bayu pun pergi meninggalkan Thomas tanpa menoleh. Sementara Thomas tampak menatap Bayu dengan iba.
Flashback end
Setelah mengenang kejadian itu, Thomas pun meletakkan kembali pigura ditangannya ke tempat semula.
Sementara di luar, tampak Aldrich memantau keadaan sekitar dengan gusar.
"Kenapa Thomas lama sekali?" bisiknya.
Tak lama, petugas yang tadi terlihat keluar dari rumah Riza. Dengan cepat Aldrich bersembunyi. Petugas celingukan mencari Aldrich kesana kemari.
Namun, tiba-tiba klakson mobil mengalihkan perhatian petugas tersebut. Saat kaca mobil terbuka, Aldrich sangat terkejut karena melihat Dirwan ada didalam mobil menuju ke rumah.
Aldrich memutar otaknya kembali. Dengan cepat, ia mengambil ponsel lalu menghubungi Thomas.
Thomas kaget saat mendengar ponselnya berdering sangat nyaring. Cepat-cepat ia menjawab panggilan Aldrich.
"Ada apa Tuan?" jawabnya berbisik.
"Kau dimana?. Kenapa lama sekali?"
"Saya sedang mencari kamar Nona Dilla. Rumah ini besar sekali, butuh waktu untuk mencarinya."
"Dirwan sudah ada didepan rumahnya. Sekarang juga kau keluar."
Thomas yang sedang berada di lantai dua, tampak kaget saat melihat Dirwan berjalan menuju kamar yang sedang Thomas masuki.
Dengan cepat, Thomas bersembunyi di dalam lemari besar yang ada disana.
Tak lama setelah papi masuk, mami pun muncul.
Mami menyampaikan pada papi, kalau mami sudah mengajak Dilla untuk menemaninya ke Indonesia.
"Apa Riza setuju?" tanya papi.
"Riza pasti setuju. Papi nggak perlu khawatir."
"Kenapa sih mami harus mengajak Dilla?. Mami jangan macem-macem ya."
"iiih, papi ini curiga mulu sama mami. Mami itu mengajak Dilla karena papi nggak bisa. Salah papi sendiri."
"Bukannya papi nggak mau, tapi jangan dalam waktu dekat ini dong Mi, papi kan masih banyak urusan."
"Makanya mami ngajak Dilla. Nggak ada yang salah kan?. Lagian kan udah lama juga mami nggak nyekar ke makam Bayu, mumpung ada waktu apa salahnya kan?"
Thomas menajamkan pendengarannya, mendengar perkataan Anita barusan membuat Thomas menghela nafas panjang. Thomas baru mengetahui kalau Bayu kini telah meninggal dunia.
Ponsel Thomas berdering kembali, untung saja Dirwan dan Anita sudah keluar dari kamar.
"Papi harus segera kembali. Jangan lupa beritahu Riza untuk menemui papi di kantor," ucap papi sebelum memasuki mobil.
Sementara di luar rumah, Aldrich terus memantau keadaan.
"Iya, Tuan," sahut Thomas saat berjalan ke arah kamar lain.
"Dirwan sudah pergi. Lanjutkan misi kembali, temukan ponsel ku secepat mungkin," titah Aldrich sambil memandang mobil Dirwan yang sudah melesat meninggalkan rumah.
"Baik Tuan," jawab Thomas kemudian.