
Desa
"Ciiihhh... Baik hati, perhatian, penyayang, melindungi kaum wanita. Apa-apaan dia itu. Seenteng itu memuji pria lain di depanku!"
Riza menggerutu kesal. Tak henti-hentinya ia mencibir perihal Raja. Perkataan istrinya yang tak berhenti menceritakan tentang kelebihan-kelebihan Raja, terus saja terngiang di telinganya semalaman.
Apalagi saat mengingat kembali komentar Dilla sesaat setelah Riza bertanya padanya mengenai apakah ia menyukai Raja. Ucapan ambigu sekaligus ekspresi Dilla yang tersenyum sumringah saat menjawab pertanyaannya itu, melekat erat di otaknya. Tak kunjung enyah hingga mentari pagi menyapa. Membuatnya sangat kesal sekaligus jengkel.
Ditengah asyik-asyiknya menggerutu, mata Riza mendadak membuka lebar saat melihat seekor kecoa melintas di depan matanya. Sayap hewan menjijikkan itu mengembang. Secepat angin, hewan itu terbang lalu menempel di bahunya. Ia melotot tajam ke arah hewan tersebut. Baru kali ini tatapan tajamnya tidak diindahkan.
"Aagghhh...!!!!" Riza berteriak kencang dari dalam kamar mandi. Teriakannya sukses menggemparkan seisi rumah sederhana yang juga dihuni oleh tiga orang wanita yang saat ini tengah duduk di ruang tamu. Mereka saling melempar pandang satu sama lain saat mendengar teriakan pria tersebut. Ketiga wanita itu pun secara bersamaan menoleh ke arah datangnya suara.
"Nak Riza kenapa itu?"
"Ndak tahu, Bu. Ibu tunggu saja di sini. Biar Dilla yang lihat ke dalam."
Dilla segera berlari kencang ke arah kamar mandi disusul oleh Syifa dari belakang.
Sementara itu, Riza masih berusaha mengenyahkan hewan menjijikkan itu dari tubuhnya. Ia segera mengambil gayung yang berada di sudut bak mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air, berharap hewan menjijikkan itu pergi. Namun, hewan tersebut justru semakin menggerayangi tubuh Riza. Bergerak-gerak kecil mengelilingi punggung runcingnya. Membuat Riza semakin meronta-ronta.
"Mas..Mas!. Mas, kenapa?. Ada apa, Mas?" Dilla mengetuk pintu kamar mandi dengan gusar.
"Kecoa!!. Agghhh!!!. Hush. Hush."
"Hah?!. Kecoa?"
Syifa dan Dilla saling berpandangan.
"Buka mas pintunya!" Dilla semakin gusar menggedor pintu. Takut terjadi sesuatu pada Riza.
Sesaat kemudian, pintu tiba-tiba terbuka. Riza yang kalut, tanpa sadar menabrak tubuh Dilla dengan kuat. Membuat tubuh mungil itu oleng ke belakang. Sama halnya dengan Riza yang tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya. Alhasil mereka pun terjerembab dengan posisi tubuh Riza berada di atas menimpa Dilla.
Syifa terperanjat kaget saat melihat pemandangan yang ada didepannya.
"Hmm. Ka-kayaknya Syifa harus berangkat ke sekolah sekarang. Soalnya takut telat," ujarnya salah tingkah.
Bukannya menolong, Syifa justru berlari kencang meninggalkan kedua insan tersebut.
Dilla mengaduh kesakitan. Sementara Riza, ia tak bergeming sedikitpun dari posisinya. Masih menindih tubuh mungil Dilla dengan tubuh kekarnya sambil memejamkan mata. Terlalu takut.
Sedetik kemudian, dengan mata tertutup Dilla menjewer telinga Riza. Membuat Riza seketika membuka matanya dan mengaduh kesakitan. Saat matanya terbuka sempurna, betapa kagetnya ia saat mendapati wajah Dilla yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
Seketika ia bangkit dan menegakkan posisinya. Mengulurkan tangannya membantu Dilla berdiri. Syukurnya Riza sempat melilitkan handuk di pinggangnya sesaat sebelum ia membuka pintu kamar mandi. Ternyata otaknya masih bekerja dengan baik meskipun dalam mode panik. Kalau tidak, sudah pasti hal itu menjadi anugerah bagi Dilla. Kapan lagi ia bisa menikmati tubuh kekar polos suaminya itu tanpa dipungut biaya.
Dilla mengeluh kesal, "Mas ini bagaimana, sih?. Sama kucing takut. Sama kecoa takut. Laki-laki kok penakut sekali!"
"Aduh, berhentilah mengoceh. Tanganku sakit."
"Kalau tangan mas sakit. Apa kabar dengan punggung saya?. Badan mas itu berat tau ndak." Dilla cemberut sambil meringis kesakitan.
"Aku minta maaf. Tadi aku tidak sengaja menabrakkan tubuhku ke arahmu. Habis tiba-tiba kecoa itu berlarian di punggungku. Membuatku spontan berlari keluar dengan menutup mata. Kalau punggungmu terasa sakit sekali aku akan memijatnya. Tenang saja," ujar Riza mencoba mengatur nafasnya.
Dilla melunak, "Janji ya, Mas?"
Riza mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, mas ganti pakaian saja dulu. Saya tunggu di kamar." Dilla beranjak pergi meninggalkan Riza dengan langkah terseok-seok seraya memegangi punggungnya yang terasa nyeri.
Sementara itu, Riza segera melangkah menuju kamar mandi dengan perlahan-lahan. Mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan lembab tersebut dengan pandangan memindai. Memastikan bahwa hewan menjijikkan bersayap itu sudah enyah dari sana. Setelah itu, ia pun segera berganti pakaian.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu saat berpapasan dengan Dilla.
"Ini semua gara-gara kecoa dan mas Riza, Bu."
"Maksud kamu?" tanya ibu kemudian.
"Nanti saja Dilla ceritakan sama ibu. Dilla mau rebahan dulu. Punggung Dilla sakit sekali, Bu." Dilla segera melangkah pergi meninggalkan ibunya.
"Punggung kamu kenapa, Nak?"
Ibu menatap langkah Dilla yang berjalan tertatih-tatih itu dengan tatapan bingung.
Sesampainya di kamar, Dilla langsung merebahkan tubuhnya perlahan di atas tempat tidur. Tak berapa lama, muncullah Riza dengan membawa sebotol minyak urut yang dimintanya dari ibu. Matanya langsung tertuju ke arah Dilla yang masih memegangi punggungnya sesaat setelah ia masuk ke dalam kamar. Dilla terdengar mengaduh kesakitan.
"Apa sesakit itu?" tanya Riza khawatir saat menghampiri Dilla di tempat tidur.
Dilla mengangguk sambil meringis kesakitan.
Riza membantu Dilla duduk. Meletakkan sebuah bantal di bawah pinggulnya dan mulai memijat punggung Dilla pelan.
Awalnya Riza terlihat biasa saja. Namun, lama kelamaan pandangannya pun mulai teralihkan pada leher bagian belakang Dilla. Leher putih jenjang yang sungguh membuat niatnya teralihkan saat itu juga. Ia pun menelan ludahnya berulangkali dengan kasar.
"Mas, pijatnya yang benar, dong. Punggung saya masih sakit, nih." Dilla mengeluh. Seketika Riza tersadar dari pikiran gilanya.
"Hah?!. Ah, iya. Iya!. Tenanglah. Berhenti mengoceh." Riza tampak mulai gelagapan, ketika Dilla mengarahkan tangan Riza untuk memijat setiap sudut bagian tubuh belakangnya.
Riza pun mulai meluruskan kembali niatnya untuk memijat Dilla dan menghempaskan jauh-jauh pikiran nakalnya. Namun, sepertinya sia-sia. Sebab, kini ia tampak melirik kecil ke arah tengkuk leher Dilla kembali. Dengan tangan yang masih memijat, Riza mendekatkan wajahnya mengarah pada leher bagian belakang Dilla. Memajukan wajahnya perlahan semakin dekat seraya memejamkan mata.
Suara ketukan pintu menghentikan tingkah nakal Riza. Mereka menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Riza tampak sedikit kesal. Ia kemudian berjalan membukakan pintu dengan langkah malas.
"Ada apa, Bu?" tanya Dilla sesaat setelah Riza membukakan pintu
"Bagaimana keadaan kamu, nak?"
"Masih sedikit sakit, Bu."
"Ya sudah, sini biar ibu yang urutkan." Ibu berjalan menghampiri Dilla. "Nak Riza ke depan saja. Ada tamu sedang menunggu kamu di depan," ujar Ibu sambil mulai memijat punggung Dilla.
"Siapa bu?" tanya Riza heran. Pasalnya ia tidak mengenal siapapun di desa. Bagaimana mungkin ada yang mencarinya, pikirnya bingung.
"Nak Kia!" jawab ibu singkat.
Dilla dan Riza sama-sama terkejut.
Mau apa Kia mencari mas Riza?, batin Dilla resah.
Untuk apa lagi gadis itu mencariku?. Aku terlalu malas mendengar mulut tajamnya itu.
"Ada apa ya, Bu?" Riza menautkan kedua alisnya.
"Ibu juga ndak tau. Langsung temui saja, Nak. Kia sudah menunggu di teras." Ibu menjawab biasa saja. Sebab ibu memang tidak tahu menahu masalah Dilla dengan Kia.
Sesaat kemudian, Riza pun segera melangkah keluar kamar untuk menemui Kia di depan. Ekor mata Dilla melirik tajam ke arah Riza. Entah mengapa Dilla merasa sangat was-was, seolah takut Kia mencuri suaminya itu darinya.
"Loh, kenapa minyak urutnya belum diolesi?" tanya ibu heran saat membuka pakaian Dilla dan mendapati punggung Dilla yang tidak diolesi minyak urut.
Jawabannya hanya satu, sebab Dilla tidak mungkin mengizinkan Riza menyentuh kulit punggungnya itu langsung dengan telapak tangannya. Sudah pasti Dilla tidak akan membiarkan Riza seenaknya saja menyentuh kulit punggungnya tanpa adanya penghalang atau pelapis. Alhasil, sedari tadi Riza pun hanya memijat Dilla dari balik kaus polos yang membalut tubuhnya.
"Oh, iya bu. Lupa." Dilla berkilah. Mengelabuhi ibunya.
Dengan segera ibu pun memijat punggung Dilla dengan lembut untuk menghilangkan rasa sakit yang ada.
Beralih kepada Riza dan Kia.
"Ada apa?" jawab Riza malas saat menghampiri Kita di teras.
Kia menyodorkan rantang makanan kepada Riza.
"Ini buat dokter. Dari ayah. Kata ayah sebagai ucapan terima kasih karena dokter sudah membantu kakak saya melahirkan tempo hari."
"Tidak perlu. Aku ikhlas menolong kakakmu," jawab Riza dengan wajah datar.
"Dokter pasti marah atas ucapan saya semalam, kan?. Dokter boleh saja marah. Tapi biar dokter tau ya, semua yang saya katakan tentang istri dokter itu semuanya benar. Tidak ada yang bohong. Saya tidak mengada-ada. Percaya sama saya, istri dokter itu bukan gadis baik-baik. Dia itu rubah licik" Kia mencoba meyakinkan Riza.
Riza tampak kesal dan meradang. Tanpa menunggu lama, ia pun bergegas masuk ke dalam rumah. Tak mengindahkan perkataan Kia.
"Tunggu, dokter." Kia menarik lengan kekar Riza.
Seketika Riza menoleh dan melirik tajam ke arah Kia, "Lancang sekali tanganmu!" Riza melepaskan tangan Kia dari lengannya. "Aku peringatkan, jangan pernah muncul didepanku dan istriku lagi!. Hentikan omong kosongmu dan pergi dari sini!" usir Riza menunjuk tepat hidung Kia. Namun, Kia justru tidak bergeming sedikitpun.
Kia menarik sudut bibirnya. Mencoba mengintimidasi Riza.
"Tidak perlu mengusir saya, dokter. Saya kesini dengan niat baik. Sepertinya rasa cinta dokter sangat besar pada istri dokter. Tapi, apa istri dokter juga merasakan hal yang sama?"
Riza mengerutkan dahinya. Amarahnya sudah naik hingga ke ubun-ubun. Kalau saja sosok yang ada didepannya saat ini seorang pria, pastilah sudah sejak tadi ia melayangkan bogem mentahnya dikarenakan mulut tajam dan berbisa gadis itu yang sungguh sangat keterlaluan.
Riza benar-benar tak habis pikir dengan perilaku gadis yang ada didepannya. Baru kali ini ia menemui sosok ular sendok berwujud manusia. Yang tanpa segan-segan selalu mengeluarkan racunnya dimanapun ia berada.
Riza segera berbalik. Tidak mau mendengarkan omongan gadis ular itu lebih lama lagi.
"Suatu hari dokter akan menyesal karena telah menikahi istri dokter yang seekor rubah itu!" teriaknya dari luar. Namun, tak diacuhkan oleh Riza sama sekali. Kia mengepalkan tangannya penuh amarah.
Dasar gadis tidak tahu diri. Aku sangat membencimu. Aku pastikan, kamu akan merasakan rasa sakit dan kehilangan seperti apa yang aku rasakan selama ini.
Kia pun segera berlalu pergi meninggalkan rumah Dilla dengan sorot mata penuh kebencian dan dendam yang terpancar jelas dalam rona matanya.