My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/114



Udara dingin Rotterdam menyapa wajah Riza dan Dilla pagi ini. Mereka tampak sudah siap menembus dinginnya salju bertemankan sarung tangan, topi dan jaket tebal yang sudah membungkus tubuh keduanya.


Tak lupa Dilla melilitkan sebuah syal tebal di leher Riza untuk menjaga suhu tubuh pria itu agar lebih hangat. Riza tersenyum saat menatap Dilla melilitkan syal berwarna putih itu di lehernya.


"Selesai. Ayo, sayang kita berangkat," ajak Dilla setelah menyelesaikan kegiatannya.


"Berhenti memanggilku SAYANG, aku malu," sahut Riza pelan.


Dilla membalas sahutan Riza dengan senyuman manis diwajahnya yang sukses membuat jantung Riza melompat-lompat saat menatap senyuman di wajah Dilla.


Hari ini Dilla akan menemani Riza menjalani konseling di salah satu rumah sakit rujukan Henzhie. Setelah sempat bersitegang cukup lama dengan gadis bule itu akhirnya Dilla pun dapat membawa Riza untuk keluar dari rumah tanpa bayang-bayang Henzhie.


Sejak kejadian dua hari yang lalu, hubungan Dilla dan Henzhie mulai tidak akur. Dua wanita itu selalu bertengkar di setiap kesempatan, tak ayal kejadian itu membuat Riza, Thomas dan Aldrich menjadi sedikit kewalahan untuk menengahi pertengkaran keduanya.


Sejak saat itu pula Dilla menjadi mulai posesif terhadap Riza. Kemanapun Riza dan dimanapun ia berada, Dilla selalu membuntuti pria itu bak seorang penguntit.


Riza yang menyadari hal tersebut hanya bisa pasrah setiap kali ia mendapati Dilla mengikutinya kemanapun ia pergi bahkan ketika berada di dalam rumah sekalipun, Dilla terus memantau gerak-gerik Riza.


Sejenak Dilla melupakan niatnya untuk bertanya pasal Raja kepada Thomas sebab terlalu sibuk mengurus kegiatan un-faedahnya itu.


Mau bagaimana lagi, Dilla tidak mau kehilangan Riza untuk kedua kalinya.


Setengah jam perjalanan dengan menaiki taksi, akhirnya tibalah mereka di depan pintu masuk Rumah Sakit yang terletak di tengah kota Rotterdam.


Untungnya pagi ini, salju tidak turun dengan deras sehingga mereka dapat tiba di rumah sakit dengan lebih cepat.


Sepasang suami-istri itu pun segera turun dari taksi kemudian bergegas menuju ruangan dokter yang kali ini akan melakukan terapi konseling untuk Riza.


Saat Dilla membuka pintu, Riza menahan tubuh Dilla. Dilla memutar tubuhnya, menatap Riza dengan tatapan heran.


Terlihat Riza mulai ketakutan. Dengan lembut, Dilla menggenggam jemari Riza lalu berkata, "Sayang kenapa?" tanyanya.


"Berhenti memanggilku SAYANG," Riza melirik ke dalam ruangan dengan pintu yang setengah membuka kedalam. "Aku takut. Kita pulang, ya."


"Mas nggak perlu takut, kan ada saya. Saya akan tungguin mas sampai selesai di dalam."


Riza mulai tenang. Selanjutnya, mereka melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Selamat pagi, dokter," sapa Dilla pelan.


Dokter berperawakan bule itu pun menjawab sapaan Dilla dengan berbahasa Inggris. Dilla mencoba berbicara pada dokter itu dengan Bahasa Inggris ala kadarnya.


Sesekali Dilla berbisik pada Riza saat ia tidak memahami apa yang dikatakan oleh dokter padanya. Namun, Riza hanya diam saja sebab ia terlalu fokus pada ketakutannya saat ini.


Riza pun memulai konseling pertamanya hari ini dengan ditemani oleh Dilla yang selalu berada didekatnya.


Tak jauh dari tempat Riza, Dilla tak kuasa menahan air matanya ketika melihat suami tercintanya itu berteriak histeris saat dokter berusaha untuk mendekati Riza.


Riza semakin bertambah takut saat dokter bertanya tentang masa kecilnya.


Bayangan masa kecil Riza yang suram seketika bermunculan didepannya. Bagaimana ibunya memukuli dan menyiksa Riza serta bagaimana sang ayah yang selalu memukuli ibu Riza, semua bayangan itu terus bermunculan tumpang tindih silih berganti didalam kepalanya.


Dilla melihat dari balik dinding kaca transparan yang langsung tembus pandang ke dalam ruangan perawatan Riza dengan wajah yang sudah basah karena air mata.


Melihat Riza, seolah Dilla turut merasakan seperti apa penderitaan suaminya itu dimasa kecil sampai-sampai suaminya itu mengalami depresi berat seperti saat ini.


Dua jam berlalu, akhirnya sesi konseling Riza berakhir. Dilla segera berlari menghampiri Riza yang terlihat sudah banjir oleh cucuran keringat dan air mata.


Dilla memeluk suaminya itu penuh kehangatan sesaat setelah ia tiba di dalam ruangan dokter berharap agar ketakutan Riza mereda. Riza menangis dalam pelukan Dilla.


Dokter pun menjelaskan kepada Dilla perihal hasil konseling Riza hari ini. Dokter renta itu menjelaskan dalam Bahasa Inggris yang terus mengalir deras dari mulutnya bagai air sungai tanpa jeda sedikitpun.


Alhasil penjelasan dokter membuat Dilla terlihat bingung. Dengan bahasa Inggris seadanya, Dilla pun meminta kepada dokter untuk menggunakan bahasa Indonesia saja.


Namun, dokter justru menyampaikan bahwa ia tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali sebab ia bukanlah orang Belanda asli.


Dilla terlihat terkejut dan marah. Henzhie telah mengerjainya kali ini. Gadis bule saingan Dilla itu sepertinya telah membohongi Dilla kali ini. Henzhie sengaja mengatakan kalau dokter rujukannya kali ini mampu berbahasa Indonesia. Nyatanya dokter itu tidak mampu berbahasa Indonesia sama sekali.


Dilla mendekap Riza sepenuhnya untuk menenangkan kondisi Riza pasca pengobatannya pagi ini.


Setelah dokter selesai menuliskan hasil konseling Riza, Dilla pun segera pamit undur diri untuk membawa Riza pulang ke rumah.


Dari arah berlawanan, terlihat papi berjalan ke arah mereka. Mereka berpapasan di koridor rumah sakit. Namun, sepertinya papi tidak menyadari keberadaan Dilla dan Riza di tempat itu.


Sudah seminggu papi berada di rumah sakit, merawat dan menjaga Mami yang mulai sakit-sakitan sejak kepergian Riza dari rumah mereka.


Kepergian Riza yang hingga kini belum ada kabar membuat Mami menjadi syok berat. Mami menjadi kurang tidur dan selalu makan tidak teratur. Ia terus memikirkan pasal puteranya, hingga akhirnya kondisinya melemah dan harus dilarikan ke rumah sakit.


Tidak hanya Mami, Papi pun turut merasakan apa yang tengah dirasakan Mami, semua yang dilakukan papi tidak ada yang berjalan sesuai rencananya. Papi tampak sangat stress hingga hampir tidak bisa mengurus pekerjaannya dengan baik. Ia terus mengkhawatirkan Riza dan Mami.


Dilla mengajak Riza duduk di halte bus dengan terus menggenggam jemari Riza tanpa melepaskannya sejak tadi. Perlahan ketakutan Riza hilang, entah kenapa kini ia mulai terbiasa berada di dekat Dilla.


Riza terus memandangi wajah gadis itu yang mulai pucat. Dilla mendekat dan mendekap lengan Riza, mencoba bertahan dari udara dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang. Sepertinya jaket yang dikenakan Dilla kurang menghangatkan tubuhnya sampai membuatnya mulai menggigil karena kedinginan.


Karena tidak tega, Riza mengajak Dilla untuk singgah di sebuah kafe yang ada di ujung jalan.


"Nggak usah deh, Mas. Nanti kalau taksinya dateng gimana?" ucap Dilla setengah menggigil.


"Tidak usah khawatir. Kan masih ada taksi yang lain. Aku kasihan ngelihat kamu kedinginan begitu," jawab Riza lembut.


"Kita nunggu aja, ya. Bentar lagi taksinya pasti sampe. Biar mas bisa cepat istirahat di rumah."


Salju yang turun lumayan deras hingga menutupi seluruh jalan sepertinya menjadi salah satu penghalang bagi taksi untuk tiba lebih cepat di sana.


"Aku sudah baikan. Aku baik-baik aja kok. Aku takut kamu sakit. Soalnya aku buruk dalam hal merawat orang sakit. Mau, ya?"


Dilla tersenyum jahil, "Panggil dulu SAYANG."


Riza mendengus, "Kalo gitu nggak usah jadi. Kita pulang aja."


Dilla tertawa, "Dih, suami aku ngambek. Jangan ngambek dong, sayang. Nanti gantengnya hilang, loh."


"Kamu apaan sih. Garing tau!"


"Biarin." Dilla tersenyum bahagia.


Entah kenapa, akhir-akhir ini Dilla suka sekali menjahili Riza. Hampir setiap kesempatan ia melancarkan aksinya untuk menjahili suaminya itu.


Pria yang dulunya dingin, sarkas dan kaku itu, entah bagaimana ceritanya telah berubah menjadi pria yang sangat menggemaskan dan manis sekali seperti permen.


Sampai-sampai membuat Dilla tak hentinya mencubit pipi Riza sanking gemasnya saat melihat ekspresi lucu Riza ketika berbicara padanya.


Setelah puas mencubit pipi suaminya, Dilla segera menarik Riza menuju ke arah kafe yang disebutkan Riza tadi.


Mereka berjalan sambil terus berpegangan tangan.


Riza berkata, "Tangan kamu dingin."


"Iya, Mas. Nggak tau kenapa, rasanya dingin banget. Padahal udah pake sarung tangan."


Seketika Riza berhenti kemudian menarik tudung jaket Dilla untuk menutupi kepala istrinya itu dengan sempurna.


Setelahnya, Riza menarik tangan Dilla lalu meniup telapak tangan istrinya itu penuh kelembutan. Dilla tertegun.


Setelah merasa tangan Dilla sudah cukup hangat, Riza kemudian memasukkan tangan gadis itu kedalam saku jaket yang dikenakan oleh Riza.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku malu," ucap Riza dengan wajah sudah menunduk, tak berani menatap wajah cantik istrinya.


Dilla tersenyum manis dan terus berjalan bersisian menuju kafe bersama dengan Riza sambil mengeratkan genggaman tangannya di saku suaminya itu.


Keduanya memindai dengan seksama kota Rotterdam yang dipenuhi oleh butiran putih salju disana-sini yang menjadikan kota itu terlihat sangat indah. Seindah perasaan mereka berdua saat ini.