
Riza dan Dilla pun kini sudah duduk dibelakang supir yang akan mengantarkan mereka. Mobil hitam pekat milik ayah Riza itu pun melaju kencang melewati perkotaan dengan gedung-gedung besar yang terlihat jelas dari sisi kiri dan kanan mobil.
"Kita mau kemana sih, Mas?" tanya Dilla ingin tahu.
"Ke suatu tempat."
"Iya, tau, tapi kemana?"
"Sebentar lagi kamu juga akan tau."
Mobil pun terus melaju melintasi perumahan indah dengan kincir angin raksasa khas Belanda. Ketakjuban terlihat jelas dimata Dilla saat ia melihat deretan rumah dengan latar belakang gunung cantik yang berdiri kokoh disana.
"Kita berhenti dimana, Tuan?" tanya supir pada Riza.
"Didepan sana saja," sahut Riza sambil mengarahkan telunjuknya ke sebuah rumah.
"Baik," jawab supir kemudian.
Mobil pun berhenti didepan sebuah rumah sederhana bergaya Eropa. Meskipun terlihat kecil, tapi rumah tersebut tampak nyaman untuk ditinggali.
"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Dilla sesaat setelah menjejakkan kakinya ke tanah.
"Ini rumah kita. Untuk sementara kita akan tinggal disini sampai kehamilan kamu sudah kuat dan kita bisa kembali ke Indonesia."
"Mas punya uang darimana, beli rumah sebagus ini?" tanya Dilla sambil melihat kesekeliling rumah tersebut.
"Gimana?. Kamu suka?."
Dilla tersenyum mengiyakan.
Riza melanjutkan, "Aku pinjam uang dari papi untuk menyewa rumah ini. Nantinya aku juga berencana mencari pekerjaan untuk melunasi hutangku."
"Mas yakin mau kerja?" tanya Dilla ragu.
Riza mengangguk mantap.
"Saya bukannya nggak setuju mas kerja, tapi kamu kan belum sehat betul, Mas. Saya cuma takut nantinya kamu sakit lagi."
"Kamu tenang saja, aku tidak selemah itu. Kali ini aku pastikan kalau aku baik-baik aja."
"Bener ya?, janji?"
"Iya istriku sayang."
Mereka pun sama-sama tersenyum dan berpelukan mesra sebelum melangkahkan kaki menyusuri rumah lebih jauh lagi.
--------------------------------
Di tempat lain, Dirwan datang menemui Adam di suatu tempat.
"Mau apa kau menemuiku?" sarkas Dirwan.
"Katakan dimana Aldrich?. Apa yang sudah kau perbuat pada puteraku?"
"Apa maksudmu?" tanya Dirwan sedikit bingung.
"Kau jangan pura-pura bodoh Dirwan, aku tau kaulah yang membebaskan Joe dari penjara dan menyuruhnya untuk mencoba menghabisi puteraku. Kau pikir aku bodoh. Hah?!. Cepat katakan dimana puteraku sebelum kesabaranku habis," ancam Adam.
"Adam...Adam. Baru kehilangan jejak puteramu saja kau sudah menggila seperti ini, apalagi kalau sampai kau kehilangan dia untuk selamanya."
"Diaaam kau DirwaAAAAnn!!!" ujar Adam tersulut emosi.
Buuuk!!!
Adam melayangkan tinjunya tepat ke wajah Dirwan. Melihat itu pengawal Dirwan yang berdiri tepat di samping Dirwan pun refleks mengambil ancang-ancang untuk membalas Adam, tapi dengan cepat Dirwan mengisyaratkan agar mereka tetap diam di tempat.
"Kau bisa tau semua yang aku lakukan tapi kau tidak tau keberadaan puteramu sendiri. Kau sungguh lucu sekali, Adam," tambah Dirwan kemudian.
Tangan Adam sudah mengepal bersiap untuk melayangkan tinju selanjutnya.
"Kalau kau masih ingin puteramu selamat, menjauhlah dariku dan keluargaku!" ujar Dirwan menatap tajam Adam tanpa berkedip.
Dirwan pun segera pergi setelah mengucapkan kalimat ancamannya pada Adam yang sukses membuat Adam diam tak berkutik saat itu juga. Padahal didalam hati Dirwan, ia sangat gusar sebab ia sendiri juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Aldrich sebab hingga saat ini Joe masih tidak dapat dihubungi.
Apa pemuda itu benar-benar sudah tiada?, batinnya.
--------------------------------
Kesempatan langka yang tidak datang dua kali itu pun tidak Kia sia-siakan begitu saja. Kia pun dengan segera mencari informasi perihal syarat-syarat apa saja yang harus ia penuhi untuk dapat terbang ke Belanda demi mencari keberadaan Aldrich disana.
Setelah mencari informasi yang cukup, Kia pun menyadari kalau ia tidak bisa berbahasa Belanda, yang mana syarat kedua yang harus dipenuhi agar ia dapat ikut serta ialah bisa berbahasa Belanda dengan baik.
Namun, Kia tidak menyerah begitu saja. Ia pun berniat untuk mengasah kemampuan berbahasanya selama dua minggu kedepan sebelum ia menjalani tes. Kia memang gadis yang pantang menyerah.
Sementara itu di Belanda, Aldrich berbicara dengan Thomas tentang rencana mereka selanjutnya. Aldrich mengusulkan agar mereka kembali ke rumah Dirwan untuk mengambil ponselnya dengan bantuan dari Henzhie.
"Maaf, Tuan saya tidak setuju," tolak Thomas.
"Kenapa?, bukankah itu ide yang bagus?"
"Itu memang ide yang bagus, tapi saya tidak mau melihat adik saya menangis lagi seperti kemarin karena bertemu Riza."
"Astaga.... Baiklah, lalu apa kau punya ide lain?"
Thomas menggeleng.
Aldrich pun menghembuskan nafas frustasi lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang sambil terus memikirkan ide yang lain.
Aldrich bergumam, "Aku tidak punya ide, kau tidak punya ide. Apa yang harus---" Aldrich tiba-tiba menghentikan racauannya.
"Aku ada ide bagus, Thom."
"Apa itu, Tuan?" perasaan Thomas mulai tidak enak.
"Kita mencuri."
"Apa?, mencuri?" teriak Thomas yang tampak kaget.
"Iya, ayahku pernah memberiku nasehat "Kalau cara yang baik tidak membuahkan hasil, maka jangan pernah lupakan cara yang buruk". Mungkin kita akan berhasil mendapatkan ponselku dengan mencurinya. Bagaimana menurutmu?"
Nasehat macam apa itu?, keluh Thomas dalam hati.
"Tapi, Tuan kalau kita tertangkap polisi dan ponsel itu disita, masalah ini akan jadi lebih kacau."
"Kau tidak perlu khawatir. Kita akan mencuri, tanpa harus jadi pencuri," tutup Aldrich dengan wajah penuh siasat.
Sementara Thomas hanya bisa menggeleng dan menarik nafas panjang melihat sikap bos nya itu.
--------------------------------
Niko sedang dalam perjalanan mengantarkan Andira pulang ke apartemennya. Niko bercerita pada Andira tentang Riza selama ia ada di Belanda. Niko menceritakan kalau hubungan Riza dan Dilla sepertinya sedang tidak baik. Niko juga menambahkan kalau selama ia disana, Riza dan Dilla sering bertengkar padahal selama ini Niko tidak pernah melihat mereka seperti itu.sebelumnya.
Andira masih diam mendengarkan.
"Aku masih nggak paham sama sikap Riza."
"Mungkin memang Dilla yang salah," sahut Andira tiba-tiba.
"Maksud kamu?"
"Aku kenal Riza dengan baik. Riza itu bukan tipe orang yang akan mudah marah hanya dengan masalah yang sepele. Mungkin masalah nya dengan Dilla kali ini sangat besar sampai membuat Riza jadi marah seperti itu."
"Bagaimanapun, aku harap mereka segera baikan, apalagi sebentar lagi mereka mau punya anak."
"Aku doakan yang terbaik buat mereka," sahut Andira dengan mata berkaca-kaca.
"Andira, ada sesuatu yang mau aku tanyakan ke kamu," ucap Niko gugup.
"Apa?"
"Apa jawaban kamu atas lamaran aku tempo hari?"
Andira sedikit terperanjat. Namun, dengan cepat ia menjawab, "Maaf Nik, aku nggak bisa. Aku masih belum mau mikirin soal percintaan, aku masih mau fokus sama pekerjaanku dulu."
"Aku tau itu cuma alasan kamu aja. Kamu belum move on dari Riza?!"
Andira menoleh ke arah Niko, ia tertangkap kali ini. Dari ekspresi Andira, Niko sudah tahu jawabannya.
Niko melanjutkan, "Riza itu udah punya istri dan sebentar lagi bakal punya anak. Apa kenyataan itu belum cukup buat kamu?"
Andira menjawab,"Aku capek. Sampai ketemu di kantor besok," ucap Andira sesaat sebelum turun dari mobil Niko.