My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/53



Riza membaringkan tubuh Dilla perlahan di sofa. Setelah itu, ia bergegas menuju dapur untuk mengambil semangkuk air lalu memercikkan air tersebut beberapa kali kewajah istrinya dengan tatapan sedih bercampur khawatir. Selanjutnya, Riza memeriksa denyut nadi Dilla seraya memanggil nama Dilla berulangkali berharap agar Dilla dapat segera sadar. Profesi Riza yang merupakan seorang dokter membuatnya tidak kesulitan untuk memberikan pertolongan pertama pada Dilla disaat Dilla pingsan seperti ini.


Dua menit berlalu, Riza pun tampak bertambah cemas sebab Dilla tidak kunjung merespon panggilannya.


Tiba-tiba ponsel Riza bergetar, Riza menarik ponsel dari balik saku celananya. Panggilan dari sekretariat rumah sakit tertera di layar.


"Halo!"


"......"


"Apa?!" Riza mengerutkan dahinya.


"......"


"Baiklah. Saya mengerti. Terima kasih informasinya. Tolong tunda semua rapat dan pertemuan untuk saya pagi ini."


Panggilan pun berakhir.


Riza mengalihkan pandangannya kembali ke arah wajah istrinya. Berulang kali Riza mengusap lembut rambut hitam Dilla dan mengecup hangat punggung tangan istrinya itu. Riza mengabaikan ide dan inspirasi yang terlihat muncul silih berganti di kepalanya dikarenakan jemarinya yang kini sedang menggenggam erat jemari Dilla.


----------


Di dalam mobil, Fahmi menggenggam erat kemudinya seraya berteriak frustasi. Rahangnya mengeras dan sorot matanya menyiratkan kelicikan.


"Lihat saja Riza. Aku akan membalas semua perbuatanmu ini padaku. Aku tidak akan tinggal diam. Aarrgggghhh... Dasar brengsek!!"


Fahmi tiba-tiba mengingat kembali ekspresi wajah Dilla sesaat sebelum ia melayangkan tinjunya. Ekspresi kasih sayang yang ditujukan bukan untuknya melainkan untuk pria lain. Dan Fahmi menyadari hal itu sepenuhnya. Mengingat hal itu membuatnya seketika merasa tidak rela jika hati dan cinta Dilla-nya menjadi milik pria lain.


"Arrggggghhhhhh.....!!!!. Tega sekali kamu melakukan ini padaku, Dilla. Dillaaaaa...!!!!" Fahmi kembali berteriak seraya memukul-mukul kemudinya berulangkali dengan perasaan frustasi bercampur kesal.


--------


Semarang


Sekelompok orang bertubuh kekar terlihat mendatangi rumah sederhana milik ibu Dilla. Kumpulan orang-orang berbadan kekar itu menggedor-gedor pintu rumah secara kasar hingga membuat si empunya rumah terlonjak kaget dari pembaringannya di kamar.


Ibu Dilla berjalan perlahan membukakan pintu.


"Siapa kalian?" tanya ibu Dilla setelah pintu terbuka sempurna.


"Ibu Asih, kamu sudah menunggak pembayaran bunga pinjaman kepada bos kami selama dua bulan. Kapan ibu mau membayarnya?"


"Sa-sa-saya akan bayar. Tapi ndak sekarang. Saya belum punya uang. Beberapa hari belakangan, kebun saya rusak karena hama. Saya minta waktu lagi. Saya janji akan membayar."


Seolah tak mendengar perkataan ibu Dilla, tiba-tiba mereka menerobos masuk kedalam rumah tersebut.


"Mau apa kalian?" tanya ibu Dilla ketakutan seraya mencegah seorang pria bertubuh kekar memasuki rumahnya.


"Minggir!" bentak pria tersebut.


Bulir air mata seketika jatuh membasahi pipi keriput ibu Dilla. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis saat melihat orang tersebut pergi membawa barang-barang berharga dari rumahnya. Tubuh lemahnya tidak mampu melawan tubuh kekar sekelompok pria tersebut.


Seorang teman Syifa yang menyaksikan kejadian tersebut langsung berlari kearah sekolah Syifa untuk menemui Syifa. Syifa yang sedang mengikuti pelajaran di kelas merasa heran saat ibu gurunya memanggil Syifa ke kantor Kepala Sekolah.


Syifa kaget bukan kepalang saat mendengarkan perkataan temannya itu. Syifa pun meminta izin pulang kepada Kepala Sekolah dan Wali Kelasnya. Syifa berlari bersama temannya menuju ke arah rumah.


Sesampainya dirumah, Syifa segera memeluk ibunya lalu bertanya kepada ibunya apa yang terjadi sebenarnya. Ibu pun menceritakan semuanya pada Syifa. Syifa baru tahu kalau ibunya ternyata menerima pinjaman dari seorang rentenir dengan menggadaikan surat tanah milik almarhum ayahnya untuk biaya kuliah kakaknya selama di Jakarta.


"Ibu sabar ya. Syifa akan carikan jalan keluar untuk masalah ini. Ibu ndak perlu cemas."


Meskipun Syifa baru berusia 16 tahun. Namun, Syifa memiliki sikap dan pemikiran yang lebih dewasa dibandingkan usianya itu. Syifa pun mulai berpikir jalan keluar apa yang harus diambilnya kali ini.


----------


Jakarta


Riza masih setia menunggu Dilla yang masih tak sadarkan diri di sofa. Riza duduk dengan posisi kepala Dilla yang kini telah berada dipangkuannya. Riza kembali mengusap lembut rambut Dilla seraya menatap lekat wajah ayu istrinya itu. Riza menatap kesal pipi lebam istrinya. Tangannya kembali mengepal saat mengingat bagaimana Fahmi memukul istrinya tepat didepan matanya tadi.


"Aku akan buat perhitungan. Beraninya dia memukul istriku hingga istriku menjadi seperti ini. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan," lirih Riza penuh kemarahan seraya memandang wajah Dilla.


Tak berapa lama, Dilla pun terlihat membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat Riza tepat berada didepan wajahnya, sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir.


"Syukurlah. Akhirnya kamu sadar," ujar Riza seraya tersenyum lega.


Dilla segera menarik kepalanya dari pangkuan Riza. Seketika Riza membantu Dilla perlahan untuk duduk.


"Kepala saya pusing, Mas." Dilla mengerutkan keningnya menahan pusing dikepalanya.


Riza bergegas mengambilkan segelas air untuk Dilla. Dilla meneguk air tersebut perlahan.


"Aww." Dilla mengaduh kesakitan saat menyentuh pipinya yang sedikit lebam.


"Mas baik-baik saja, kan?" tanya Dilla kemudian seraya mengusap pipinya yang lebam.


Bagaimana bisa kamu masih mengkhawatirkan aku padahal keadaan kamu seperti ini, Riza membatin seraya menatap kearah Dilla dengan tampang sedih.


"Maafkan aku. Wajah kamu jadi seperti itu gara-gara aku." Riza menunjuk pipi kiri Dilla yang lebam seraya menundukkan wajahnya dalam.


Dilla terkekeh pelan saat melihat tingkah menggemaskan Riza. Sesaat kemudian, Dilla mencubit pipi Riza geram.


"Ini buat mas. Biar sakitnya sama." Dilla tertawa seraya mengeratkan cubitannya di pipi Riza.


Riza mengaduh kesakitan diikuti dengan Dilla yang kembali mengaduh kesakitan sebab pipinya sedikit tertarik keatas karena tertawa.


"Sudah mas, ndak perlu minta maaf. Mas, kan suami saya. Sudah sepantasnya saya melindungi mas."


Riza membulatkan matanya sesaat setelah Dilla mengucapkan kata "suami" dari mulutnya.


"Kamu bilang apa?" Riza menatap Dilla lekat.


Dasar bodoh. Bicara apa aku barusan?, Dilla membatin.


Dilla yang menyadari apa yang baru saja diucapkannya, segera mengarahkan pandangannya ke sembarang arah berusaha melepaskan diri dari tatapan dan senyum mempesona Riza.


"Ehmm. Saya mau istirahat, Mas. Saya ke kamar duluan, ya," ujar Dilla mencoba mengalihkan pembicaraan.


Baru selangkah berjalan, tubuh Dilla sempoyongan dan oleng. Riza kembali menangkap tubuh Dilla dengan cepat. Mereka kembali saling berpandangan dengan detak jantung yang berpacu cepat dan wajah yang mulai merona. Buru-buru Dilla mengalihkan pandangannya. Riza pun segera membenarkan posisi mereka. Entah kenapa, Dilla merasa sangat canggung saat Riza menangkap tubuhnya barusan. Selanjutnya, Dilla kembali duduk di sofa seraya memegangi kepalanya.


Tanpa aba-aba, tiba-tiba Riza menggendong Dilla ala bride style hingga membuat Dilla mematung seketika. Wajah mereka berada dekat sekali. Dilla dapat melihat dengan jelas lekuk wajah tampan dan rahang kokoh Riza yang tampak ditumbuhi sedikit rambut halus. Membuatnya terlihat sangat maskulin. Aroma parfum menenangkan yang dikenakan oleh Riza juga tak luput dari penciuman tajamnya. Membuat Dilla tak berkedip memandang wajah suaminya itu dalam diam. Dilla bahkan mengabaikan suara alarm di kepalanya saat ia semakin larut dalam suasana bersama Riza saat ini.


Sementara Riza tampak diam tak bergeming saat Dilla memindai setiap lekuk wajah tampannya itu. Tanpa Dilla ketahui bahwa sebenarnya Riza sedang berusaha sekuat tenaga menutupi kegugupannya karena keberadaan Dilla dalam pelukannya saat ini sukses membuat pikirannya kembali menggila. Mereka pun saling menikmati momen kedekatan mereka dalam diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.