My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/31



Desa [pukul 20.30 WIB]


"Assalamualaikum!" suara nyaring Dilla terdengar mengucapkan salam dari depan pintu.


"Wa'alaikumsalam!" terdengar sahutan Syifa dari dalam rumah.


"Kakak!" jeritnya.


Saat melihat Dilla, Syifa pun langsung berhambur ke dalam pelukan kakak semata wayangnya itu.


"Akhirnya kakak pulang!" ujarnya masih memeluk Dilla erat.


Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang sepuluh jam. Akhirnya Dilla pun tiba di desanya.


"Mas Riza nya mana kak?" tanya Syifa saat menyudahi pelukannya.


"Mas Riza tidak ikut karena harus bekerja. Ibu mana?" tanya Dilla.


"Ibu di dalam kamar kak!" Syifa menjelaskan.


"Ya sudah. Ayo kita masuk!" ajak Dilla.


Sesampainya di kamar, Dilla langsung memeluk ibunya yang tampak terbaring lemah di tempat tidur.


"Ibu kenapa?" tanya Dilla cemas.


"Ibu tidak apa-apa nak. Ibu cuma kangen sama kamu," jawab ibu singkat.


Dilla pun semakin mengeratkan pelukannya. Kini ia bisa bernafas lega setelah melihat keadaan ibunya.


"Ibu sudah dibawa ke puskesmas dik?", Dilla menoleh ke arah Syifa.


"Sudah kak. Dokter sudah menyarankan ibu supaya dirawat di Puskesmas, tapi ibu menolak," jawab Syifa.


"Ibu tidak apa-apa. Dokter saja yang terlalu berlebihan bilang ibu kena gejala tipes. Padahal ibu cuma kangen saja sama kamu nak!" tangan ibu memeluk punggung tangan Dilla.


"Ya sudah, besok pagi kita ke Puskesmas lagi. Dilla takut sakit ibu bertambah parah nantinya!" ujar Dilla.


Ibu pun mengangguk mengiyakan.


Ibu menanyakan dimana keberadaan Riza sebab sedari tadi ia tidak melihat sosok menantunya itu. Dilla kemudian menjelaskan kepada ibunya bahwa Riza tidak bisa datang karena harus bekerja.


"Kamu sudah kabari nak Riza kalau kamu sudah sampai di sini?" tanya ibu lagi.


"Belum, Bu!" jawab Dilla santai.


"Kenapa begitu?. Lekas kabari suami kamu, biar dia ndak khawatir!" perintah ibu.


Dilla pun meraih ponselnya yang kini sudah berada di balik saku celananya. Ia menekan tombol power yang berada di sisi ponsel. Namun, ponsel tidak kunjung menyala. Ia pun akhirnya menyadari kalau ponselnya telah kehabisan baterai.


"Baterainya habis, Bu!" ucap Dilla pada ibunya.


"Ya sudah kalau begitu. Pokok'e nanti kamu harus telepon suami kamu. Jangan lupa!" perintah ibu kembali.


"Njeh, Bu!" jawab Dilla.


-----


Di tempat yang berbeda, Riza terlihat membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan ponsel ditangannya. Sedari tadi ia menunggu telepon dan pesan balasan dari Dilla. Namun, tak ada satupun yang muncul. Ia hanya bisa mendesah pelan saat melihat ke arah sofa tempat dimana Dilla biasanya tertidur kini terlihat kosong.


Riza memang sudah terbiasa hidup sendiri. Namun, sejak ia dan Dilla tinggal bersama selama hampir satu bulan ini, entah mengapa ia mulai merasa tidak nyaman saat sendirian di rumahnya.


Riza mengecek ponselnya kembali sebelum memejamkan mata. Masih tidak ada kabar apapun dari Dilla. Perlahan-lahan ia pun tertidur dan mulai bermimpi.


*****


Dilla, Riza dan Fahmi terlihat berada di Padang rumput yang luas. Dilla menatap Riza serius.


"Mas, mulai sekarang saya tidak akan kembali lagi ke rumah. Saya memutuskan untuk tinggal di desa dan berhenti kuliah. Saya bosan tinggal bersama mas di kota. Saya tidak tahan hidup bersama orang yang aneh. Selamat tinggal mas!"


Dilla melambaikan tangannya ke arah Riza.


"Tidak. Jangan tinggalkan aku Dilla, aku mohon. Aku mohon!"


"Dasar pecundang!" Fahmi menatap Riza sambil menyeringai.


Dilla terlihat menggandeng tangan Fahmi. Mereka membalikkan badan menjauh pergi meninggalkan Riza seorang diri.


Riza memanggil nama Dilla berkali-kali tetapi Dilla tidak juga menoleh ke belakang. Riza terus menerus berteriak memanggil nama Dilla.


"Dilla...!"


"Dilla...!"


"Dilla...!"


*****


"Dillaaaaaa...!"


Riza pun terbangun dari mimpinya. Tampak keringat mengucur deras di keningnya. Nafasnya tersengal serta jantungnya berdebar kencang sekali.


Setelah menyadari bahwa ia bermimpi, ia mencoba mengatur nafasnya perlahan dan menyeka keringat yang ada di dahinya. Ia meraih gelas yang ada di atas nakas kemudian meminum air yang ada di dalamnya perlahan. Terlihat jam di ponselnya masih menunjukkan pukul tiga pagi.


Setelah tenang, Riza membaringkan tubuhnya kembali kemudian memejamkan matanya perlahan. Tak berapa lama, ia pun tertidur.


--------


Desa


Cahaya mentari pagi menembus jendela dapur rumah Dilla. Terdengar suara gemericik air dan kicauan burung sebagai pelengkap suasana pagi Dilla hari ini.


Suasana yang sangat dirindukannya.


Dilla terlihat sedang memasak sarapan untuk keluarganya pagi ini. Di sela-sela memasaknya, ia tiba-tiba mengingat Riza.


"Mas Riza sedang apa ya?" gumamnya.


"Apa mas Riza sudah membaca pesanku?" gumamnya kembali.


-------


Rumah Riza


Riza menyantap nasi goreng buatannya di meja makan. Matanya tiba-tiba membayangkan Dilla tengah duduk di kursi dan menyantap nasi goreng buatannya sambil tersenyum manis kearahnya.


Riza pun menyambut senyuman itu dengan senyum menggemaskan diwajahnya. Jika ada orang melihat tingkahnya itu, pasti orang itu akan menganggap Riza sudah tidak waras.


Riza langsung menyudahi sarapannya. Ia menarik cepat tas ransel dan hoodienya dari kursi kemudian beranjak pergi menuju rumah sakit dengan melajukan mobilnya kencang.


------


Desa


Kini baterai ponsel Dilla telah terisi dengan penuh. Dilla mencoba menyalakan ponselnya. Saat melihat layar, Dilla terkejut sebab ponselnya tidak menunjukkan adanya tanda-tanda signal di sana.


Ia pun mendesah pelan, menyadari betapa sulitnya jaringan seluler di desanya. Ia kemudian memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas kecilnya lalu beranjak menuju kamar ibunya.


Dilla dan ibu bergegas pergi ke Puskesmas. Sesampainya di sana, ibu pun langsung di periksa oleh dokter.


Saat Dilla tengah asyik memperhatikan dokter yang sedang memeriksa ibunya, tiba-tiba bayangan Riza muncul. Riza mengenakan jas dokter yang sama dan tersenyum ke arahnya. Riza terlihat sangat tampan dan berwibawa saat mengenakan pakaian itu.


Dilla memandangnya takjub kemudian terkekeh pelan. Beberapa detik kemudian bayangan itu pun menghilang.


"Apa-apaan aku ini. Mas Riza itu kan penulis, bukannya dokter!" gumamnya lirih.


Dilla memukul-mukul kepalanya seraya tertawa menggeleng. Ia menertawakan dirinya yang suka berkhayal yang bukan-bukan.


Setelah itu, dokter pun menghampiri Dilla.


Akhirnya Dilla dapat bernafas lega setelah mendengarkan penjelasan dari dokter bahwa ibunya sudah sedikit membaik dan hanya butuh istirahat saja selama beberapa hari. Ibu hanya perlu meminum obatnya secara teratur.


"Apa ibu saya perlu dirawat di sini?" tanya Dilla.


"Saya rasa tidak perlu. Hanya saja pastikan beliau makan dengan teratur dan banyak istirahat. Itu saja sudah cukup."


"Terima kasih dokter."


"Sama-sama."


Dilla pun memapah ibunya keluar dari ruangan dokter. Sebelum pulang, Dilla menebus obat yang telah diresepkan oleh dokter di Apotek. Selanjutnya, mereka pun langsung bergegas pulang ke rumah.


-----


Ruang kerja Riza


Riza membolak-balik tumpukan berkas yang ada di atas meja. Manajemen rumah sakit yang sangat berantakan sungguh membuat kepalanya berdenyut pusing.


Riza melonggarkan ikatan dasinya lalu menarik lengan kemejanya hingga siku. Menampilkan lengan putih kekarnya yang biasanya tertutup kini terpampang dengan jelas. Lengan kekar Riza terlihat bergerak-gerak mengikuti gerakan tangannya, membuatnya terlihat sexy dan berkarisma.


Sudah waktunya makan siang, akan tetapi Riza masih serius membaca berkas-berkas yang ada di depannya.


Perut Riza memang sudah keroncongan sejak tadi. Namun, ia berusaha menahan rasa laparnya karena ia tahu saat jam makan siang akan ada banyak sekali orang di kantin. Tidak mau berada dalam keramaian, itulah satu-satunya alasan Riza.


Riza menarik ponsel dari balik saku celananya. Ia kembali mengecek ponselnya. Dilla masih belum juga menelepon ataupun mengirim pesan padanya.


tok..


tok..


Riza menoleh ke arah pintu. Terlihat Andyra menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Riza pun mempersilahkan Andyra masuk.


"Ayo kita makan siang bersama!" Andyra menyodorkan satu kotak makan siang yang dibawanya pada Riza.


"Kamu tahu darimana kalau aku tidak membawa bekalku hari ini?" tanya Riza heran.


"Aku kan memang serba tahu." Andyra tertawa singkat.


Riza meraih kotak makan siang dari tangan Andyra, "Mulai sekarang, sepertinya aku harus mulai waspada."


"Kenapa?" Andyra menautkan alisnya heran.


Riza melihat ke kiri dan ke kanan kemudian berbisik pelan, "Ada mata-mata di rumah sakit ini!"


Andyra terkekeh mendengarkan perkataan Riza yang sebenarnya mengisyaratkan dirinya itu. Riza pun terlihat tertawa menampilkan barisan gigi putihnya.


Mereka melahap makan siang bersama di ruangan Riza.


Ponsel Riza berdering. Riza meraih ponsel dari balik saku celananya. Terlihat nomor tidak di kenal di layar.


Riza menerima panggilan tersebut dengan sedikit ragu.


"Halo!", terdengar suara lembut Dilla di ujung telepon.


Riza terlonjak kaget. Seketika ia bangkit dari duduknya dan tersenyum.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, bisiknya.


"Halo.., halo!" Suara Dilla kembali.


Riza berdehem pelan.


"Iya. Ada apa?" jawab Riza singkat.


"Mas sudah membaca pesan saya kan?" tanya Dilla.


"Sudah. Bagaimana keadaan ibu?"


"Alhamdulillah, ibu sudah baikan mas. Ibu titip salam buat mas."


"Wa'alaikumsalam."


Dilla terdiam sejenak.


"Mas sudah makan siang?"


"Kamu tidak lihat sekarang sudah jam berapa?!" jawab Riza.


Hening.


"Kamu hanya ingin menanyakan hal itu?"


"Tidak mas. Ada hal lain yang mau saya sampaikan, tapi mas harus janji jangan marah ya?"


"Cepatlah berbicara, aku sedang sibuk!"


"Emm, be-begini mas. Se-sepertinya saya tidak bisa kembali ke Jakarta-", jawab Dilla terbata.


"Apa?!", Riza membulatkan matanya.