
Sepulangnya dari rumah keluarga Dilla, mami dan papi pun disibukkan dengan segala persiapan untuk pernikahan Riza dan Dilla.
Mulai dari baju pengantin serta undangan, semua dipersiapkan dengan secepat mungkin.
Kedua orang tua Riza memang tidak mengundang banyak orang, mereka hanya mengundang orang-orang terdekat saja.
-----
Sedangkan Dilla, meskipun hari pernikahan tinggal menghitung hari.
Ia masih terus berjibaku dengan tugas-tugas kuliahnya.
Tugas-tugas kuliah Dilla itu membuatnya sangat kelelahan dan akhirnya Dilla pun jatuh sakit.
Dilla terkena gejala tipes, hingga harus membuatnya dirawat di rumah sakit.
Untung ada Laras yang dengan sabar menjaganya beberapa hari ini di rumah sakit.
Sudah tiga hari Dilla tidak masuk kuliah.
Teman Dilla, Kiki, datang menjenguk Dilla untuk mengetahui keadaannya.
"Gimana keadaan kamu Dilla?"
"Aku masih sedikit pusing dan badanku rasanya lemas sekali", terlihat bibir Dilla masih memucat.
"Oh. Ini aku ada bawain buah-buahan untuk kamu, biar kamu cepat sembuh," Kiki meletakkan buah-buahan tersebut di atas nakas.
"Kamu sama siapa ke sini?"
"Aku datang sama teman aku tadi. Dia lagi nunggu di luar."
"Suruh masuk saja, kasihankan teman kamu menunggu di luar," ucap Laras.
"Hmmm. Ya sudah, sebentar ya mbak. Aku lihat temen aku dulu di luar."
Kiki beranjak dari tempatnya menemui temannya yang sedang ada di luar.
Terlihat dari belakang, seorang pria berbadan tinggi tegap tengah berdiri dan berbicara di telefon.
Kiki menghampiri pria tersebut.
Kiki terlihat sedikit berjinjit, menepuk pundak pria itu pelan.
"Woi!" Kiki menepuk pundak pria yang tak lain adalah temannya itu.
Pria itu berbalik, "Sssstttt..." , ia meletakkan jari telunjuknya di depan mulut mengisyaratkan agar Kiki diam.
Kiki kesal, kemudian ia pun berbalik kembali ke kamar Dilla.
"Mana teman kamu, Ki?" tanya Dilla.
"Dia masih nelfon orang, biarin ajja deh."
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu dibuka dari luar.
Semua mata pun tertuju kearah pintu yang terbuka itu.
"Mas Riza..?" gumam Dilla pelan.
Kiki yang juga ikut melihat ke arah pintu, langsung membelalakkan matanya kaget melihat sosok penulis favoritnya, Riza, ada di depan matanya.
Tanpa aba-aba, Kiki langsung memeluk Riza.
Riza terlihat kaget sekaligus risih dipeluk seperti itu oleh orang asing.
Sedangkan Dilla hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya itu.
"Ya ampun Kiki, kamu sampai begitu bahagianya melihat mas Riza, seperti habis menang lotre saja." Dilla terkekeh pelan menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenal sama mas Riza?" Kiki melepas pelukannya, membuat Riza akhirnya bisa bernafas lega.
Dilla tersenyum sembari mengangguk mengiyakan.
"Kok bisa?" tanya Kiki
"Dia itukan calon su-." Dilla menghentikan ucapannya, saat mendengar pintu kembali dibuka dari luar.
Dilla menolehkan wajahnya ke arah pintu.
Sosok seorang pria terlihat dari balik pintu.
Dilla yang melihat ke arah pintu, tanpa sengaja menatap pria tersebut.
Lalu tatapan Dilla dan pria itu pun bertemu.
Deg!!!
"Mas Fahmi!" Dilla membatin.
"Dilla?" Pria bernama Fahmi itu pun bergumam lirih.
Ada perasaan bergemuruh di dalam hati mereka masing-masing.
Mereka terlihat mematung.
Riza memperhatikan gerak gerik Dilla dan Fahmi, ia tampak mencium gelagat aneh dari keduanya.
"Halo Dilla, apa kabar?" Fahmi tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Dilla.
"Ha-ha-ha-halo mas Fahmi, aku baik." Dilla terbata kemudian menjabat tangan Fahmi.
Tingkah keduanya pun tak luput dari pandangan Riza, namun Riza berpura-pura terlihat tidak peduli.
"Mas Fahmi apa kabar?" sambung Dilla yang masih dengan keterkejutannya.
"Aku baik-baik aja!" jawab Fahmi dengan senyuman yang sukses membuat jantung Dilla marathon saat itu.
Seketika Dilla melupakan pusing di kepalanya dan badannya yang terasa lemas itu pun seketika terasa bugar kembali.
"Jadi kalian saling kenal?" tanya Kiki.
Dilla dan Fahmi melihat ke arah Kiki, mereka sama-sama mengangguk pelan.
"Dunia ini memang sempit banget ya!" sambung Kiki.
Flashback
Satu tahun lalu
Saat itu Fahmi adalah seorang mahasiswa semester enam Fakultas Kedokteran yang sedang melakukan KKN di desa Dilla.
Fahmi terlihat berjalan keluar dari rumah tempatnya menginap.
Fahmi menjulurkan ponselnya keatas berusaha mencari signal.
Fahmi yang terlalu sibuk mencari signal ponsel, tanpa sengaja menabrak Dilla yang berjalan didepannya.
Mereka berdua pun terjatuh ke tanah.
"Aduh mas, kalau jalan hati-hati toh mas. Badan saya kan jadi sakit semua."
"Maaf mbak, saya minta maaf. Kalau ada yang luka, mbak bisa ikut saya, nanti saya obati!"
"Ndak perlu, ngomong-ngomong mas iki opo Dokter?"
"Bukan mbak, saya ini mahasiswa kedokteran yang lagi KKN disini. Saya tadi lagi nyari signal hape."
"Ooo, begitu toh." Dilla mengangguk mengerti.
"Disini mas, jaringan hape memang sedikit susah. Kalau mas mau, mas pinjam telefon rumah pak Kades saja. Warga disini juga biasanya gitu mas, pinjam telefon pak Kades untuk menelefon ke luar desa," sambung Dilla menjelaskan.
"Oh. Begitu ya. Terima kasih ya mbak informasinya."
"Sama-sama mas, saya permisi dulu." Dilla beranjak pergi meninggalkan Fahmi.
Fahmi menyusul kepergian Dilla,
"Mbak, tunggu sebentar!"
Dilla berhenti.
"Kalau boleh tau, mbak namanya siapa?"
"Oh. Saya Syafadilla Aini, panggil saya Dilla saja mas"
"Hai, Dilla. Aku Fahmi, Aidil Fahmi." Fahmi mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Dilla meraih tangan Fahmi yang terulur.
Mereka saling menatap.
Dilla membatin, "Subhanallah, tampannya pemuda ini."
Fahmi membatin, "Cantik."
Kemudian mereka sama-sama menarik tangan mereka masing-masing, mereka pun tersenyum canggung.
Sejak saat itu, Dilla dan Fahmi menjadi akrab.
Suatu hari Fahmi menyatakan cinta pada Dilla, Dilla pun membalas cinta Fahmi saat itu.
Setelah lebih kurang dua bulan mereka menjalin kasih, tiba-tiba Fahmi harus kembali ke kota karena masa KKN Fahmi telah berakhir.
Dilla merasa sedih, hatinya hancur sebab ia tidak akan bisa bertemu kembali dengan kekasihnya itu.
Akan tetapi Fahmi berusaha meyakinkan Dilla bahwa ia akan sering datang mengunjungi Dilla di Desa.
Tak lupa Fahmi juga meninggalkan nomor ponselnya pada Dilla agar Dilla dapat menghubunginya.
Akhirnya Dilla melepaskan kepergian Fahmi dengan berat hati.
Sebulan setelah kepergian Fahmi, Dilla tetap menunggu dan menanti kedatangan Fahmi.
Namun, Fahmi tak kunjung datang.
Dilla bermaksud menghubungi Fahmi, namun sayang nomor ponsel yang diberikan Fahmi pada secarik kertas hilang entah kemana.
Tak disangka, takdir mempertemukan mereka kembali.
Flashback End
"Jadi, si Fahmi ini teman SMA aku, Dilla. Nah, kalau si Dilla ini teman kuliah aku, Mi. Gitu!" jelas Kiki.
Riza sedari tadi hanya diam memperhatikan tingkah aneh Dilla dari tempat duduknya.
Tak lama, Riza pun pergi meninggalkan mereka semua tanpa berkata apapun.
"Loh, mas Riza mau kemana?" teriak Kiki saat melihat Riza beranjak dari duduknya.
Seketika Dilla pun menyadari keberadaan Riza yang sempat ia lupakan beberapa waktu tadi.
"Apa mas Riza marah?. Ah, kayaknya ndak mungkin!" batin Dilla.
Mbak Laras berdehem pelan.
Lamunan Dilla pun seketika buyar.
"Oh, iya. Mbak Laras, kenalin ini mas Fahmi.
Mas Fahmi, ini mbak Laras."
"Halo, mbak!"
"Halo!" sahut Laras singkat.
Dilla kembali menatap wajah Fahmi, begitu pun sebaliknya.
Didalam hati masing-masing, mereka tidak pernah menyangka bahwa mereka dapat bertemu kembali.
"Mi, pulang yuk!!" ajak Kiki.
Fahmi menatap Dilla kembali, seolah tidak mau pergi meninggalkannya lagi kali ini.
"Udah, Ayo!!" Kiki menarik paksa lengan Fahmi.
"Bye, Dilla. Cepat sembuh ya!" Kiki melambaikan tangan ke arah Dilla.
Dilla menatap kepergian mereka hingga menghilang di balik pintu.