My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/80



Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang setengah jam, akhirnya Riza dan Dilla tiba di depan salah satu mall terbesar yang ada di ibukota. Mereka pun segera beranjak masuk ke dalam sesaat setelah Riza memarkirkan mobilnya.


"Kita mau ngapain disini, Mas?"


"Ikut saja. Tidak perlu banyak bertanya. Nanti juga kamu tahu."


Riza terus saja berjalan didepan, meninggalkan Dilla di belakang. Dari arah berlawanan tanpa sengaja Dilla bertabrakan dengan salah satu pengunjung mall. Riza yang berjalan terlebih dahulu didepan segera berbalik, lalu menarik lengan Dilla.


"Dasar lelet," ujarnya segera menarik tangan Dilla lalu menggenggamnya. "Apa kakimu tidak bisa lebih cepat lagi jalannya?" ketusnya kemudian.


Dilla melirik Riza tajam. Karena sebal, ia pun mencubit geram pipi Riza hingga Riza mengaduh kesakitan.


"Rasain!" ujarnya.


Dilla tertawa melihat ekspresi wajah suaminya yang sedang meringis kesakitan, tapi terlihat sangat menggemaskan. Mereka pun lanjut melangkah dengan saling berpegangan tangan.


Akhirnya tibalah mereka di depan sebuah gedung bioskop. Dilla hanya diam saja melihat ke arah Riza yang sedang mengantre didepan stan makanan dan minuman. Dengan membawa satu cup popcorn berukuran besar dan dua cup minuman ringan ditangan, Riza pun segera mengajak Dilla masuk ke dalam studio teater.


Saat masuk kedalam, betapa terkejutnya Dilla saat menyadari dimana keberadaannya saat ini. Dilla yang baru seumur-umur menonton film layar lebar merasa senang bukan kepalang. Berulang kali Dilla menggumam takjub saat melihat layar besar yang ada didepannya.


"Mas, kok nggak bilang sih mau ke sini?"


"Kan rahasia, biar jadi kejutan," Riza tersenyum seraya memberikan cup minuman ringan yang ada ditangannya pada Dilla. "Bagaimana?. Kamu suka?"


Dilla manggut-manggut sanking bahagianya. Senyuman terukir indah di wajahnya.


Syifa benar-benar peka. Kalau bukan karena catatan yang diberikannya tempo hari mana aku tahu apa yang diinginkan dan disukainya. Syukurnya ada catatan itu, aku jadi tahu semuanya tentang istriku. Thank you, Syifa, batin Riza seraya tersenyum.


Tak berapa lama, lampu studio teater dipadamkan pertanda film akan dimulai.


"Mas, kok gelap?" Dilla yang memang takut akan gelap mulai terlihat sedikit panik.


"Kalau takut, mendekatlah padaku. Kalau nonton di sini, harus saling deketan dan rangkulan," ujar Riza sedikit menggeser duduknya mendekat dan berbisik pada Dilla.


Dilla menoleh pada Riza dengan menautkan kedua alisnya. "Kenapa gitu, Mas?"


"Katanya bioskop di sini itu dulunya bekas kuburan. Lihat itu, kursi disebelah kamu."


Dilla menoleh dengan ragu ke arah kursi kosong disebelahnya. Menyadari raut ketakutan di wajah Dilla, dengan menggebu-gebu Riza pun semakin menakut-nakuti Dilla.


"Siapa saja yang duduk disebelah kursi yang kosong, harus peluk orang disebelahnya kalau nggak hantu disini itu akan menculik kamu. Apa kamu mau diculik sama hantu?" ujar Riza santai.


Dilla menggeleng cepat dengan mengerutkan dahinya, mulai terprovokasi dengan karangan bebas Riza yang memang sengaja menakuti gadis disebelahnya itu. Bulu kuduk Dilla seketika meremang setelah mendengarkan cerita menyeramkan Riza. Karena merasa takut dan ngeri, Dilla pun segera mendekat kearah Riza lalu merangkul erat lengan kekar suami jahilnya itu. Sebuah senyuman terukir manis di wajah Riza karena sukses menjahili istrinya kali ini.


Film pun dimulai. Ternyata Riza memang sengaja memilih film horror untuk menjadi tontonan mereka malam itu. Film menyeramkan yang sukses membuat Dilla menjerit dan memejamkan matanya ketakutan sepanjang durasi film berlangsung, berbeda halnya dengan Riza yang tak henti-hentinya tertawa cekikikan menikmati ketakutan Dilla yang terus memeluknya erat sangking takutnya.


Riza pun membalas pelukan Dilla, tak menyia-nyiakan kesempatan yang datang dalam kesempitan itu.


Tak berapa lama, film pun berakhir. Dilla masih memeluk Riza dengan memejamkan matanya ketakutan. Riza tersenyum.


"Buka matamu. Filmnya sudah selesai."


Seketika Dilla membuka matanya perlahan kemudian segera melepaskan pelukannya. Ia menarik nafas lega saat menyadari bahwa film ternyata telah berakhir.


Mereka pun segera beranjak keluar dari gedung bioskop kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah restoran yang menyajikan beragam masakan khas Nusantara. Seorang pelayan segera menghampiri mereka sesaat setelah mereka duduk.


"Mas, saya ke toilet dulu, ya!" ucap Dilla pada Riza yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Riza.


Riza melihat menu yang disodorkan oleh pelayan lalu menyebutkan pesanannya. "Pesan bandeng prestonya dua porsi sama es buahnya dua. Tambahannya tahu petis dan sate kerang masing-masing satu porsi," ujar Riza.


Pelayan pun segera menuliskan pesanan Riza. Tak lama, Dilla tampak berjalan menghampiri Riza di meja setelah menyelesaikan hajatnya di toilet.


Sambil menunggu makanan mereka datang, Dilla pun mulai bercerita, meluapkan kegembiraannya pada Riza sebab akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan sederhananya untuk menonton film di bioskop. Dilla pun mengungkapkan keterkejutannya yang tidak menyangka bahwa Riza akan mengajaknya ke bioskop walaupun film yang ditontonnya tadi sangat menyeramkan hingga membuatnya ketakutan sepanjang film berlangsung. Dilla pun terus menceritakan suasana hatinya yang sedang meluap-luap gembira itu pada Riza.


Riza mendengarkan cerita Dilla dengan seksama sembari memandang wajah sumringah istrinya yang tak henti-hentinya tersenyum itu dalam diam dengan senyuman yang juga terukir tak kalah indah di wajahnya.


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang. Pelayan segera menghidangkan makanan pesanan mereka di atas meja. Aroma lezat langsung menusuk hidung Dilla. Matanya membulat dengan air liur yang hampir menetes saat melihat berbagai makanan lezat favoritnya terhidang di atas meja.


Dilla segera menyantap makanan favoritnya dengan lahap. Riza hanya menggeleng saat memperhatikan tingkah lucu istrinya yang tanpa malu-malu melahap makanan didepannya dengan terburu-buru.


"Makanlah perlahan. Tidak ada yang mau mencuri makananmu," ujar Riza saat menyeka mulut Dilla yang belepotan.


Dilla tersenyum. "Habisnya enak, sih. Mas tahu, semua ini makanan kesukaan saya, loh. Kebetulan sekali mas pesan makanan yang saya suka."


Riza menanggapi dengan tersenyum simpul. "Baguslah kalau kamu suka. Makanlah yang banyak."


Dilla manggut-manggut dengan senyum cengengesan khasnya yang ditanggapi dengan gelengan kepala dari Riza.


Tak terasa malam pun semakin larut, Riza terlihat mengemudikan mobilnya dengan kencang membelah kesunyian malam. Disampingnya, tampak Dilla yang sudah terlelap dengan menyandarkan tubuhnya di jok sebelah Riza. Sesekali Riza melirik dan mengusap lembut wajah serta rambut istrinya yang sedang tertidur pulas itu seraya tersenyum manis.


Saat mobil telah tiba di garasi, Riza segera membuka pintu rumah lalu menggendong Dilla masuk dan menaiki anak tangga menuju ke dalam kamarnya.


Riza pun membaringkan Dilla di atas ranjang king size miliknya. Membuka sepatu dan tas yang dikenakan oleh Dilla dengan perlahan sebab takut kalau Dilla akan terbangun.


Setelah itu, Riza menarik selimut menutupi tubuh istrinya. Riza pun segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian. Setelah semua ritualnya selesai, ia pun segera naik ke atas ranjang lalu memutar tubuh Dilla menghadap ke arahnya. Riza mendekap tubuh Dilla dengan erat setelah mendaratkan sebuah ciuman pengantar tidur terlebih dahulu di bibir ranum istrinya lalu memejamkan matanya perlahan.


Dilla menggeliatkan tubuhnya sesaat, lalu membalas dekapan Riza dengan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Samar-samar aroma cologne yang berasal dari tubuh Riza menusuk penciuman Dilla. Dilla membuka matanya sejenak lalu memejamkannya kembali. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya.


Mereka pun tidur berpelukan mesra sepanjang malam. Menyongsong mimpi indah mereka malam itu.


------


Di tempat berbeda, Papi terlihat sangat gelisah. Sudah kesekian kalinya, papi mendesah seraya mondar-mandir di ruang kerjanya seperti ada hal yang sangat mengganggu pikirannya saat itu.


"Apa yang harus aku lakukan?. Bagaimana kalau dia membocorkan semua rahasia ini pada Riza?"


Ternyata papi telah mendengar kabar dari orang suruhannya yang ditugaskan olehnya agar mengawasi setiap gerak-gerik Riza, termasuk saat Riza pergi ke kantor polisi untuk menemui pelaku pembunuhan Sofian di sana.


Wajah papi semakin gusar saat mengetahui bahwa pria tersebut akan membeberkan semua rahasia yang dimiliki papi selama ini. Sebuah rahasia besar yang berhubungan dengan keluarga besarnya dan keluarga besar Wijaya yang tak lain merupakan keluarga besar Aldrich.


Sebuah panggilan telepon tak dikenal memecah lamunan papi.


"Halo."


"Halo, Dirwan. Bagaimana?. Kau bersedia menerima tawaranku untuk bekerjasama?"


"Hentikan semua permainan gilamu ini Adam. Aku sudah muak dengan semua permainanmu."


"Dirwan. Dirwan. Aku hanya ingin membantu untuk menawarkan kerjasama yang sangat menguntungkan untuk kita berdua."


"Diam!. Hentikan omong kosongmu!"


"Jangan berteriak, itu sama sekali tidak baik untuk kesehatanmu. Kalau kau mau menuruti perintahku, aku akan membebaskan Joe dari penjara dan semua kartumu akan aman. Kalau tidak, aku akan membuat putra semata wayangmu itu menderita saat tahu seperti apa ayahnya sebenarnya."


"Jauhi putraku, dia tidak ada hubungan apapun dengan semua ini!. Aku peringatkan, jangan pernah macam-macam dengan putraku!


Adam tertawa. "Kau kira aku takut?. Dasar bodoh. Satu lagi kebodohanmu Dirwan, aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau menikahkan putra kesayanganmu itu dengan putri Sastrawan Dirjo?. Heh, takdir mereka sungguh buruk."


Mata papi membulat.


"Darimana kau tahu kalau dia putrinya Sastrawan?"


"Kau kira aku sama bodohnya sepertimu?!. Aku tahu, mereka itu hanya korban dari semua tipu muslihatmu. Aku penasaran, seperti apa akhir kisah tragis seorang pangeran tampan yang menikahi putri cantik dari orang yang telah membunuh kedua orangtuanya. Pangeran yang malang dan putri seorang pembunuh." Adam tertawa.


"Tutup mulutmu!. Aku peringatkan, jangan pernah berani-berani menyentuh anak dan menantuku atau aku tidak akan segan-segan menghabisi putramu dengan cara yang sangat menyakitkan."


Adam berdecak lalu tertawa kembali. "Coba saja kalau kau mampu untuk itu. Aku sungguh kasihan pada putra pungutmu itu, dia sangat mencintai istrinya tanpa tahu bahwa takdir kejam sedang mempermainkannya saat ini."


"Diam!. Kau Adaaaam!"


"Pikirkanlah hal ini baik-baik!"


Adam memutus panggilan teleponnya. Papi menggebrak meja dengan sekuat tenaga meluapkan emosinya yang terlukis jelas diwajahnya sesaat setelah panggilan Adam terputus.