My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/44



Dilla masih menatap Riza dengan tatapan aneh menyeringai miliknya.


Sesaat kemudian, tangannya menarik cepat dasi yang menggantung di leher Riza. Riza pun tersentak saat merasakan tarikan tangan Dilla yang begitu tiba-tiba.


Wajah mereka pun beradu, Dilla menaikkan sebelah alisnya dengan senyum mempesona.


Riza mengunci tatapan Dilla. Seketika ia merasakan sesuatu serasa menggelitik dadanya. Jantungnya berpacu dengan cepat.


Dilla pun mulai berulah kembali. Kali ini Dilla mencubit pipi Riza dengan ekspresi geramnya. Rasa menggelitik di dada Riza seketika berubah menjadi rasa sakit. Riza yang mengaduh kesakitan tanpa sadar perlahan menurunkan tangannya. Saat ponsel semakin mendekat, secepat kilat tangan Dilla menyambar ponsel dari tangan Riza. Dilla tertawa penuh kemenangan.


Dilla berhasil mengambil ponselnya. Ponsel hidup dan matinya yang berisikan informasi tentang materi mata kuliah serta jurnal miliknya. Kalau sampai ponsel tersebut di sita, bisa berantakan kuliahnya. Riza memang tidak akan pernah bisa mengendalikan Dilla.


"Aku ini suamimu. Cobalah bersikap lebih lembut padaku. Kenapa kamu begitu sulit sekali diajak bicara?"


"Itu bukannya berbicara, tapi menggertak. Dan saya paling tidak suka itu!!." tegas Dilla.


"Baik. Aku akan memperjelas ucapanku. Ayo kita berbicara dari hati ke hati secara terbuka," usul Riza.


Mereka pun kemudian duduk saling berhadapan. Hanya meja kerja sebagai penghalang jarak diantara mereka.


Dilla menatap Riza dengan seksama menunggu kalimat apa yang akan terlontar dari mulut Riza.


Riza memulai pembicaraan, "Begini. Maksudku adalah..."


tok...


tok...


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Riza pun mengurungkan niatnya berbicara.


"Masuk!" ucapnya singkat.


Seorang pria yang merupakan petugas keamanan masuk ke dalam ruangan.


"Ada apa?"


"Maaf pak. Ada dua orang petugas kepolisian yang datang ingin menemui bapak. Mereka sedang menunggu di lobi."


"Polisi?" Dilla bertanya heran dalam hati.


"Baiklah. Suruh mereka masuk ke dalam ruang meeting. Nanti saya menyusul," jawab Riza.


"Baik pak."


Riza beranjak dari duduknya lalu merapikan pakaiannya yang tampak sedikit berantakan.


"Aku keluar sebentar. Tunggu di sini!" perintah Riza.


Riza melangkah keluar ruangan. Dilla mengantarkan kepergian Riza dengan tatapan penuh tanda tanya.


Polisi pun memasuki ruang meeting yang mana ternyata Riza telah sampai di sana terlebih dahulu. Dengan sopan Riza mempersilakan mereka duduk. Riza tampak berbincang serius dengan dua orang petugas di depannya. Entah apa yang dibicarakan mereka. Namun, terlihat Riza mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah lawan bicaranya. Riza merespon perbincangan serius itu dengan sesekali menganggukkan kepalanya singkat.


Tiga puluh menit kemudian, perbincangan Riza pun selesai. Setelah mengantarkan polisi keluar ruangan, Riza pun kembali berjalan menuju ruangannya. Menghampiri Dilla dan kembali duduk di kursinya.


"Kenapa polisi ke sini mas?" tanya Dilla sesaat kemudian.


Riza pun menceritakan perihal bom yang menggemparkan rumah sakit kemarin. Dilla bergidik ngeri sekaligus kaget saat mendengarkan cerita Riza.


"Saya memang sempat melihat mas di televisi. Maaf ya mas, saya tidak tahu kalau bom itu ada di rumah sakit tempat mas bekerja. Syukurlah mas baik-baik saja. Saya tidak bisa membayangkan kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada mas," ujar Dilla.


"Kamu mencemaskanku?" selidik Riza.


Dengan santainya Dilla mengangguk mengiyakan.


Riza menegakkan posisi duduknya.


"A-a-apa kamu sayang padaku?" tanya Riza penasaran.


Jantung Riza Dag.. Dig.. Dug.. laksana alunan suara gendang dangdut koplo. Sanking ia penasarannya dengan jawaban apa yang akan terucap dari mulut Dilla.


Riza tersenyum mendengar pengakuan Dilla.


"Saya sayang mas, seperti saya sayang sama Kiki dan mas Niko. Mas itu sudah seperti saudara saya sendiri," sambung Dilla kemudian.


Riza terkejut mendengar pengakuan aneh Dilla.


"Sebentar. Aku ini suamimu bukan saudaramu."


"Itukan cuma status mas. Kenyataannya kan berbeda." Dilla berdiri dan berjalan perlahan menuju ke arah jendela kaca.


"Hentikan ucapan konyol itu. Tidak ada yang berbeda bagiku. Kita menikah secara sah dan aku menyayangimu selayaknya istri. Apa itu masih kurang bagimu untuk mengakui aku sebagai suami?," sanggah Riza.


Dilla tertawa nyaring.


"Maksud mas?"


Riza menatap Dilla kesal, "Kamu selalu saja menganggap omonganku lelucon."


Sesaat kemudian, Riza berdiri dan menghampiri Dilla. Memeluk tubuh Dilla dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Dilla. Sentuhan Riza membuat tubuh Dilla menegang dan tak berkutik. Seketika wajahnya merona. Aroma parfum Riza menyeruak menembus penciuman Dilla.


"Stop met me te verwarren. Ik kan mijn gevoelens niet meer vasthouden. Ik wil je vanaf nu gewoon helemaal hebben. **** die stomme afspraak," ucap Riza lembut.


[Berhenti membuatku bingung. Aku sudah tidak sanggup menahan perasaanku lagi. Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya. Persetan dengan perjanjian bodoh itu.]


Riza mengungkapkan isi hatinya dalam bahasa Belanda yang terdengar berbelit tak karuan. Membuat otak Dilla tak kalah berbelitnya saat mencerna kalimat asing itu.


"Mas Riza iki ngomong opo toh?" batinnya.


Dilla hanya diam mematung saat merasakan hembusan nafas hangat Riza menerpa tengkuknya.


"Weiger me alstublieft deze keer niet. Je weet nooit hoe moeilijk ik mijn gevoelens onderdruk wanneer ik van me wegga," sambungnya lagi.


[Aku mohon jangan menolakku lagi kali ini. Kamu tidak pernah tahu bagaimana sulitnya aku menekan perasaanku setiap kali kamu menjauhiku]


Riza kembali menggunakan bahasa kaum kompeni itu karena ia masih belum siap jika harus berterus terang langsung pada Dilla. Riza hanya ingin meraih ketenangan setelah mengungkapkan perasaannya. Biarlah nyalinya terkumpul seiring berjalannya waktu. Hingga nantinya ia akan dapat dengan lantang mengungkapkan cintanya pada Dilla.


Sesaat kemudian, Riza membalikkan tubuh Dilla ke arahnya.


Riza tertunduk malu setelah mengungkapkan isi hatinya. Wajahnya seketika memerah bak kepiting rebus. Dilla menatap Riza heran.


Sesaat kemudian Riza menegakkan kepalanya. Menatap manik mata hitam milik Dilla lekat.


Dilla membalas tatapan Riza. Mencoba menelisik ke dalam tatapan yang teduh nan menenangkan itu dengan penuh konsentrasi. Tidak ditemukan adanya kebohongan maupun dusta di dalamnya. Meskipun Riza sedikit aneh akan tetapi Riza merupakan orang yang baik dan penyayang. Membuat Dilla tidak ragu sedikitpun.


"Njeh mas. Njeh...," sambut Dilla cepat.


Riza menyunggingkan senyuman manis di bibirnya saat menyadari keluguan Dilla yang asal sembarang menjawab kalimatnya.


Dilla dan Riza memang pasangan aneh yang memang sengaja disandingkan Tuhan untuk saling mengisi dan melengkapi.


"Belofte?" Riza mengacungkan jari kelingking ke arah Dilla.


[Janji?]


Tanpa pikir panjang, Dilla langsung menyambar kelingking Riza dan menautkan jari kelingkingnya disana. Tiba-tiba Riza menarik Dilla ke arahnya. Merapatkan tubuhnya ke arah Dilla. Melingkarkan tangannya di pinggang Dilla kemudian memajukan wajahnya mengarah ke bibir Dilla. Mata Dilla membulat. Suasana romantis menyelimuti mereka.


Dilla mencium aroma mint mendekat ke arahnya. Seketika alarm di kepalanya berbunyi nyaring. Cepat-cepat Dilla memalingkan wajahnya menghindar. Suasana romantis yang telah terbangun pun seketika hancur berantakan.


Dilla berdehem keras seolah menyuruh Riza menjauh.


Riza berbalik seraya tertunduk lesu. Berjalan menuju kursi dan menyandarkan tubuhnya di sana.


"Aku tidak akan menyerah," batinnya seraya memandang wajah idaman hatinya itu dari kejauhan.


Jangan panggil dirinya Riza, jika ia menyerah begitu saja sebelum berperang. Perjuangan cinta itu pun kini dimulai.