My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/58



"Syafadilla Aini, istriku. Dengarlah baik-baik apa yang akan aku katakan padamu," Riza menatap Dilla dengan tatapan serius.


Di sisi lain, Dilla berusaha sekuat tenaga untuk menstabilkan degup jantungnya yang berirama tak menentu.


"Dilla-" Riza menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, "Aku--" Riza menelan ludahnya berat.


Dilla menatap Riza tak sabar.


Kenapa sulit sekali aku mengatakan ini?, kesal Riza dalam hati.


Riza kembali menarik nafasnya dalam, "Aku ingin kamu tetap berada di sisiku-" Riza menatap manik mata Dilla lekat, "Aku jatuh cinta padamu."


Dilla terhenyak. Kata-kata Riza membekukan Dilla di tempat.


Riza melanjutkan, "Aku ingin kita melupakan perjanjian bodoh itu dan memulai hubungan kita dari awal. Aku sungguh mencintaimu, Dilla."


Dilla terdiam seraya berbisik dalam hatinya bingung. Sedangkan Riza terlihat masih betah menatap Dilla, menunggu kalimat apa yang akan terucap dari bibir manis istrinya itu.


Beberapa detik berlalu, Dilla pun akhirnya bersuara, "Maafkan saya, Mas-" Dilla menundukkan wajahnya dalam, memandang ke arah pasir putih yang menutupi kakinya, "Saya tidak siap memulai hubungan apapun. Biarlah hubungan kita berjalan seperti ini saja, Mas."


Raut wajah Riza berubah sendu, "Kenapa?" tanyanya kemudian dengan mata bergetar.


Dilla terdiam cukup lama dengan kepala yang masih tertunduk, "Lebih baik mas segera menyelesaikan novel mas saja agar kita bisa lebih cepat berpisah. Dengan begitu, mas bisa melupakan saya dan mendapatkan wanita lain yang lebih baik lagi untuk mendampingi mas nantinya."


Riza menggeleng sejenak lalu menarik Dilla ke dalam pelukannya, "Aku tidak butuh wanita lain. Aku hanya mau kamu-" Riza mengeratkan pelukannya, "Tolong pikirkanlah hal ini baik-baik. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu siap sepenuhnya," ujarnya menghiba semakin mempererat pelukannya.


"Tidak ada yang perlu dipikirkan, Mas," tegas Dilla meskipun perasaannya menolak mengatakan itu.


Riza menyudahi pelukannya, "Ada apa sebenarnya?. Kenapa kamu sulit sekali menerimaku?" ucap Riza penuh tanda tanya.


Dilla masih menatap ke bawah tanpa suara. Tak berani membalas tatapan mata Riza.


"Baiklah. Aku tidak akan memintamu lagi untuk memikirkan hal ini-" Riza menegakkan wajah Dilla untuk menatap matanya, "Sebaliknya, aku harap kamu jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu. Aku bersedia mengganti rugi karena telah melanggar isi perjanjian kita tempo hari, tapi aku mohon jangan melarangku untuk mencintaimu ataupun melupakan perasaan ini." Riza menatap Dilla lembut saat mengucapkan kalimatnya yang penuh dengan penekanan tersebut.


Dilla terdiam. Perasaannya carut marut tak menentu. Hatinya ingin berkata yang sejujurnya tentang apa yang dirasakannya tetapi akal sehat menghalanginya untuk itu. Rasa takut yang menghinggapi hatinya membuatnya harus rela melihat pria yang kini sedang berdiri di depannya merasakan kepahitan atas sikap ketidaktegasannya yang tidak pernah mampu menggiring hatinya untuk menyambut perasaan tulus dari pria yang secara sah telah menjadi suaminya tersebut.


"Mama... hiks.hiks."


Dilla yang masih terpaku dengan lamunan panjangnya dikejutkan oleh suara parau dari bocah lelaki yang tampak menangis terisak sembari memeluk kakinya erat tak jauh dari tempatnya berdiri. Suara tangisan bocah tersebut, membuat Riza dan Dilla menoleh ke arahnya.


"Mama...," ujar bocah tersebut kembali terisak.


Mereka berjalan perlahan ke arah bocah tersebut. Dilla berlutut dan menatap bocah yang tengah terisak itu dengan tatapan bingung sama halnya dengan Riza.


"Adik kecil. Kamu kenapa?" tanya Dilla pelan.


"Hiks..hiks," tiba-tiba bocah itu memeluk Dilla dengan erat.


Dilla mengusap punggung kecil bocah lelaki asing itu perlahan penuh kelembutan. Sesaat kemudian, bocah kecil itupun menghentikan tangisannya.


Dilla menyudahi pelukannya.


"Ssstt..ssstt. Sudah, ya!. Jangan menangis lagi. Sebentar-" Dilla merogoh tasnya dalam, "Ini. Kakak ada permen buat kamu. Jangan nangis lagi, ya!" Dilla tersenyum manis seraya memberikan sebungkus permen lollipop kepada bocah kecil yang ada di depannya.


Riza tersenyum simpul memandang ke arah Dilla.


Sesaat kemudian, Riza kembali menoleh ke arah bocah kecil itu lagi, "Kamu kenapa sendirian?. Mama dan papa kamu mana?" tanya Riza lembut.


Bocah itu menggeleng.


"Nama kamu siapa?" tanya Riza seraya mengusap lembut kepala bocah tersebut.


"Ya sudah. Daffa ikut kakak, ya!. Kita cari mama dan papa," ujar Riza lembut seraya membuka bungkus permen lollipop yang digenggam erat oleh bocah kecil yang ada didepannya itu.


Daffa kecil meraih permen lollipop dari tangan Riza.


Setelah itu, Riza menggendong tubuh kecil Daffa dengan satu tangannya sementara tangan yang satunya tampak menggenggam jemari Dilla erat kemudian melangkahkan kakinya perlahan. Dilla kembali menyamakan langkahnya dengan Riza seraya menatap wajah Riza dengan tatapan yang sulit diartikan.


Riza melirik Dilla sekilas, "Jangan menatapku seperti itu. Kalau pada akhirnya kamu tidak mau jatuh cinta padaku," ujar Riza singkat tanpa menoleh ke arah Dilla.


Dilla terperanjat dan seketika melempar pandangannya ke sembarang arah. Riza tampak tersenyum simpul sambil terus melangkahkan kakinya.


Aku tidak akan melepaskan genggaman tanganku dan pergi darimu. Ini adalah janjiku. Aku akan berusaha mengetuk pintu hatimu, hingga tanpa sadar kamu akan jatuh cinta padaku nantinya. Tunggulah sebentar lagi, batin Riza seraya mengeratkan genggaman tangannya.


Mereka kemudian berjalan perlahan dengan pikiran mereka masing-masing.


Dari arah berlawanan, terlihat seorang pria dan wanita berjalan ke arah mereka.


"Daffa!!!" teriak wanita tersebut.


"Mama!!" Daffa menyambut teriakan wanita yang ternyata ibunya tersebut dengan suara kecilnya.


Riza menurunkan Daffa kecil dari gendongannya. Wanita itupun berlari memeluk anaknya dengan penuh haru. Sepasang suami istri itupun mengucapkan terima kasih kepada Riza dan Dilla. Selanjutnya, mereka mengajak Riza dan Dilla untuk makan siang bersama.


Riza sempat menolak karena ia merasa risih jika harus berkumpul bersama dengan orang baru disekitarnya. Namun, Dilla mencoba membujuk Riza. Akhirnya, Riza pun menuruti ajakan orang tua Daffa tersebut.


Tibalah mereka di sebuah restoran yang terletak di pinggir pantai.


"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya papa Daffa kepada mereka.


"Sekitar satu bulanan, Mas," jawab Dilla sopan.


"Wah, masih pengantin baru dong, ya." Orang tua Daffa tampak tersenyum sumringah.


Sementara Riza dan Dilla hanya menanggapi cuitan pasangan tersebut dengan senyum seadanya.


Tak berapa lama, makanan pesanan mereka pun tiba. Beberapa makanan menggugah selera pun tampak menyambut mereka di atas meja. Mereka pun menyantap makan siang mereka dalam hening. Sesekali Dilla menyambut celotehan orang tua Daffa dengan senyum ramah. Sementara Riza hanya diam seribu bahasa sebab ia memang merasa tidak nyaman jika berlama-lama dengan orang asing. Ia butuh mengisi ulang energinya siang itu.


Akhirnya makan siang mereka pun selesai. Orang tua Daffa berpamitan pada Riza dan Dilla sebab hari sudah mulai menjelang sore. Dilla tampak memeluk Daffa dengan erat sebelum berpisah sama halnya dengan Riza yang terlihat sudah menyayangi Daffa meskipun baru pertama kali bertemu.


"Sampai jumpa, Daffa!"


Dilla melambaikan tangannya yang di balas dengan lambaian tangan Daffa ke arah mereka.


"Daffa lucu banget ya, Mas. Gemes!" ujar Dilla tersenyum bahagia.


Riza membenarkan seraya tersenyum, "Tapi, aku rasa anak-anak kita akan jauh lebih lucu nantinya."


Dilla menoleh ke arah Riza.


"Mas jangan mulai lagi, ya!. Bukannya saya sudah mmpphh." Riza membekap mulut Dilla seraya berbisik di telinganya.


"Ayo, kita pulang," bisiknya merdu.


Dilla menatap Riza dengan wajah kesal.


"Berhenti menatapku seperti itu, kalau kamu tidak mau jatuh cinta padaku nantinya."


Belum sempat Dilla membalas, Riza sudah menarik lengan Dilla menuju pintu keluar. Sepanjang perjalanan pulang, Riza tak henti-hentinya tersenyum. Dalam benaknya Riza tidak percaya, akhirnya ia dapat mengungkapkan perasaannya, meskipun Dilla menolak pernyataan cintanya tadi. Namun, Riza tidak peduli akan hal itu. Riza bertekad untuk membuat Dilla yang keras kepala itu jatuh cinta padanya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, biarlah takdir yang menentukan.