My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/41



cetarrrrrrrrr....


Suara petir kembali menggelar. Dilla memejamkan matanya dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Riza. Suara deru nafas Dilla dapat dirasakan jelas oleh Riza. Riza pun membalas pelukan erat Dilla. Kehangatan tubuh Dilla membalutnya.


"Aku berhutang budi pada hujan malam ini." bisik Riza di dalam hati.


Mereka berada dalam posisi berpelukan erat sepanjang derasnya hujan yang turun. Riza hanya diam dan pasrah saat Dilla menindih dada bidangnya. Riza membelai rambut Dilla dengan lembut. Seketika kehangatan menyelubungi Dilla. Membuat hatinya tenang dan tenteram. Tak lama, Dilla pun tertidur dalam dekapan Riza.


Sementara itu, kehangatan tubuh Dilla yang mendekap Riza seketika membuat pikiran aneh merasuki Riza. Udara dingin semakin menambah gairah tak tertahan yang tiba-tiba bergejolak dari dalam dirinya.


Tak dapat dipungkiri, Riza merupakan seorang pria normal yang dapat tergoda oleh hangatnya sentuhan seorang wanita. Apalagi wanita itu adalah wanita idaman hatinya. Wanita yang saat ini memeluknya dengan erat.


Tanpa sadar, tangan Riza mulai menggerayangi tubuh bagian belakang Dilla. Menggerakkan tangannya memasuki piyama Dilla dan mulai menjamah kulit bagian dalam Dilla sembari memejamkan mata. Pikirannya benar-benar tidak bisa terkendali kali ini.


Riza menurunkan tangannya menelusuri bagian bawah pinggul Dilla dan menyentuhnya di sana. Sentuhan tangannya di kulit mulus Dilla seketika membuat darahnya berdesir. Dilla yang tertidur pulas sama sekali tidak merasakan setiap pergerakan tangan Riza yang menjamah tubuhnya.


Sesaat kemudian lampu pun menyala.


Perlahan Riza menghentikan gerakan tangannya lalu melepaskan pelukan erat Dilla. Riza membalikkan tubuh Dilla perlahan membuat piyama yang dikenakan Dilla sedikit tersibak sehingga menampilkan perut putih mulus Dilla terpampang jelas di depannya. Pemandangan indah itu membuat hasrat Riza semakin memuncak.


Riza sempat memalingkan wajahnya dan menggumam lirih ketika hendak membuka kancing baju Dilla.


"Apa aku boleh melakukan ini?."


"Memang benar aku suaminya, tapi..."


Riza mencoba menahan diri, akan tetapi nafsu benar-benar telah menguasai Riza sehingga mengalahkan akal sehatnya.


Riza yang kalap, langsung membuka satu-persatu kancing piyama Dilla kemudian menyibaknya perlahan. Seketika matanya membulat saat melihat tubuh bagian atas Dilla yang hanya terbalut dalaman.


Tanpa pikir panjang, Riza langsung menggenggam kedua lengan Dilla kuat kemudian melayangkan kecupan di leher jenjang Dilla dengan hati-hati karena ia tidak mau Dilla terbangun karena ulahnya itu. Nafas Riza terdengar memburu menahan hasrat.


Riza hanya mengikuti instingnya sebagai seorang pria normal saat menerjang tubuh Dilla karena ini merupakan pengalaman pertama baginya menggerayangi tubuh seorang wanita.


Setelah puas mengecup leher jenjang Dilla. Riza mendaratkan ciuman lembut di bibir Dilla. Getaran yang dirasakannya pun semakin menjadi-jadi. Kelembutan bibir Dilla sungguh membuatnya mabuk kepayang. Ciuman lembut itupun seketika berubah menjadi ciuman panas. Riza mengulum bibir Dilla penuh gairah sambil memejamkan mata.


Dilla sedikit menggerakkan tubuhnya ke samping. Seketika Riza terperanjat. Takut kalau Dilla terbangun. Setelah yakin Dilla masih tertidur, Riza pun kembali melancarkan aksinya. Derasnya hujan membuat gairah Riza semakin bergejolak.


Riza membalikkan tubuh Dilla kembali ke posisi semula dan mulai menerkam tubuh bagian atas Dilla yang masih tertutup dalaman. Bibir Riza tak henti-hentinya mengecup daerah sekitar dada dan perut Dilla dengan beringasnya. Untunglah Dilla bukan seorang yang sensitif terhadap sentuhan sehingga membuat Riza dapat dengan leluasa mengecup dada dan perut mulus Dilla sepuasnya tanpa perlu takut Dilla terbangun.


Saat Riza hendak melepas dalaman bagian atas Dilla, tangannya tiba-tiba terhenti. Ia pun mulai kembali menggumam lirih.


"Tidak. Aku tidak boleh berbuat sejauh itu. Kalau sampai dia tahu apa yang kulakukan. Dia akan membenciku selamanya," ucapnya.


Riza tiba-tiba teringat akan kemarahan Dilla sewaktu di taman kemarin. Hal itu membuat Riza tersadar.


"Aku harus mengendalikan diriku. Saat aku mencium bibirnya saja dia sudah semarah itu padaku, bagaimana jika aku melakukan hal yang lebih gila dari itu?" gumamnya kembali.


Hujan yang perlahan mereda seketika ikut meredakan gairah yang memuncak dari dalam diri Riza. Desakan yang tadinya begitu kuat menguasainya, perlahan mulai menghilang.


Riza menegakkan posisi duduknya kemudian mengancingkan kembali satu persatu kancing piyama Dilla seperti semula. Riza membenarkan posisi Dilla dan menaruh bantal di kepala istrinya itu. Tak lupa ia menyelimuti Dilla sebatas dada.


cup...


Terakhir Riza mendaratkan ciuman hangat di kening Dilla.


"Terima kasih untuk malam ini. Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri. Aku akan bersabar menunggumu memberikan hatimu padaku dan ketika saat itu tiba, aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya," bisik Riza dalam hati sembari memandang wajah Dilla.


Riza tersenyum penuh cinta saat mengucapkan kalimat yang menggetarkan hati itu.


"Selamat malam istri kesayanganku," ucapnya mesra.


Riza beranjak dari kamar Dilla kemudian menutup pintu perlahan.


Saat Riza tiba di kamarnya. Riza langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat untuk menghilangkan gairahnya yang masih tersisa. Siraman air hangat seketika membuat pikirannya tenang.


Selesai membersihkan diri, Riza langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Perbuatan gilanya tadi sungguh membuat jantung Riza berdetak tak karuan. Ia tidak pernah menyangka dirinya bisa berbuat nekat seperti itu. Dilla benar-benar mengalihkan dunianya.


Riza menoleh sekilas ke samping dan mulai memikirkan apa yang harus Riza lakukan agar Dilla dapat memberikan hatinya dan menerimanya sebagai suami. Sehingga separuh ranjang besarnya itu tidak akan terlihat kosong lagi. Setelah itu, Riza memejamkan mata dan terlelap.


"Hooaaammm..."


Dilla menggeliatkan tubuhnya di ranjang. Saat menyadari adzan Subuh berkumandang. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat ke sekelilingnya.


Seperti biasa, Dilla beranjak dari ranjang dan bersiap-siap memulai bangun tidurnya dengan melaksanakan shalat Subuh terlebih dahulu.


Saat tiba di dalam kamar mandi, Dilla mengingat ketakutannya tadi malam dan mengingat saat dirinya memeluk Riza akibat suara petir yang menggelar.


Dilla pun merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya menangis sambil memeluk Riza.


"Apa yang akan mas Riza pikirkan tentangku?. Pasti dia menganggap aku ini mencari-cari kesempatan didekatnya." Dilla terus menerus menggerutu kesal.


Selanjutnya, Dilla pun membuka pakaiannya. Sesaat setelah pakaiannya terbuka, Dilla terkejut melihat banyaknya bekas kemerahan di sekitar leher, dada dan perutnya.


"Apa ini?" gumamnya.


Dilla yang polos menganggap bahwa itu adalah ruam-ruam akibat udara dingin, yang tanpa Dilla ketahui bahwa sebenarnya itu merupakan bekas dari keganasan Riza tadi malam.


Dilla pun tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Ia langsung bergegas melanjutkan kegiatan mandinya. Setelah selesai membersihkan diri, Dilla mematut dirinya di cermin. Betapa terkejutnya Dilla saat mendapati bibirnya terluka. Luka gigitan akibat ulah Riza yang mengulum bibir Dilla dengan beringasnya.


"Udara dingin di kota memang sangat tidak baik bagi tubuhku. Baru hujan semalaman saja aku sudah seperti ini," gumamnya sambil memperhatikan bibirnya yang terluka.


Selesai melaksanakan Shalat, Dilla menoleh sekilas ke arah kamar Riza.


"Mas Riza sudah bangun belum ya?" bisiknya.


Sesaat kemudian, ia pun langsung bergegas turun untuk membuat sarapan. Seketika ia menyadari bahwa bahan makanan telah habis. Sebenarnya Dilla ingin mengajak Riza membeli bahan makanan di swalayan. Namun, ia mengurungkan niatnya tersebut saat mengingat perbuatan Riza terhadapnya sewaktu di taman. Dilla terlihat masih kesal karena hal tersebut.


Dilla berdiri mematung di dekat lemari es.


Riza tampak menuruni anak tangga lengkap dengan hoodie dan tas ranselnya. Saat Dilla melihat Riza menghampirinya, cepat-cepat Dilla membalikkan tubuhnya. Dari kejauhan Riza menatap punggung Dilla sedih. Riza pun mendekat.


"Dilla!" ucap Riza.


"Dilla!" sambungnya lagi.


"Syafadilla Aini!!. Apa telingamu itu sudah tidak bisa mendengar?" pekiknya.


Seketika Dilla berbalik menghadap ke arah Riza. Saat Dilla berbalik, Riza terperanjat kaget melihat banyaknya bekas kemerahan hasil terkamannya tadi malam di leher Dilla.


"Berhenti memanggil saya seperti itu!!." ucap Dilla ketus.


"Ternyata dia masih marah," batin Riza.


Riza menggerakkan tangannya untuk menyentuh leher Dilla yang memerah. Dengan cepat Dilla memundurkan langkahnya menjauh.


"Jangan mendekat!" ketus Dilla.


Riza langsung menghentikan gerakan tangannya dan menghela nafas.


"Ambil kartu ini!" Riza menyodorkan sebuah kartu kepada Dilla.


Dilla mengerutkan keningnya heran.


Riza menarik lengan Dilla dan memberikan kartu tersebut ke tangannya. Sekejap Riza merasakan inspirasi muncul saat jemari mereka bersentuhan singkat.


"Sesuai janjiku. Pakai kartu ini untuk membayar kuliahmu. Setiap bulan aku akan mentransfer uang ke dalamnya. Aku juga akan mengirimkan uang lebih untuk biaya keperluan sehari-hari rumah ini. PIN-nya 082000. Ingat itu." Riza berlalu pergi meninggalkan Dilla setelah mengucapkan kata-katanya.


Dilla menatap kartu yang ada di tangannya.


Riza berhenti sejenak kemudian berkata,


"Belilah kebutuhan dapur rumah ini. Aku tidak mau kemarahan mu itu membuatku kelaparan.Lakukan tugasmu sebagai nyonya di rumah ini dengan baik," ucapnya tanpa menoleh.


Riza berlalu pergi meninggalkan rumah dan melajukan motornya dengan kencang.