
Belanda
Hari masih pagi, saat pesawat yang ditumpangi Dilla mendarat mulus di Bandara Schipol, Amsterdam.
Bibirnya berucap syukur sesaat setelah pesawat tiba di negeri kincir angin itu dengan selamat.
Selama perjalanan dari Jakarta, Dilla terus menerus memikirkan pasal Riza. Berharap pesawat yang ia naiki cepat mendarat agar ia dapat segera bertemu dengan suami tercintanya yang sudah teramat ia rindukan.
Udara terasa hangat ketika ia menyusuri koridor bandara dengan tas ransel yang mengerat di pundaknya. Matanya menatap lurus ke depan dengan sejuta rasa berkecamuk dalam hatinya.
Bahagia, sedih, takut dan gelisah bercampur menjadi satu. Perpaduan rasa yang mengaduk-aduk hatinya saat ini.
Ketika keluar bandara, udara dingin mulai membelai wajah Dilla.
Pagi itu, udara Belanda terasa benar-benar dingin hingga merasuk ke sendi. Dilla menengadah saat butiran salju yang turun dari langit membuat langkah kaki gadis itu terhenti sejenak.
"Indahnya," gumam Dilla takjub.
Butiran indah itu menghangatkan sejenak hati gusarnya. Seulas senyum mengembang di sana saat bola matanya memperhatikan butir demi butir salju yang semakin turun dengan derasnya.
Dilla terpaku saat tiba-tiba bayangan Riza kembali muncul didepan matanya. Riza berdiri tepat disebelah Dilla dengan seulas senyuman khas yang mengarah padanya. Senyuman yang sudah lama ia rindukan. Perlahan jemari lentiknya pun bersiap menggapai bayangan yang ada didepannya itu.
"Excuse me." [Permisi]
Suara seorang wanita menghentikan gerakan tangan Dilla. Bayangan Riza lenyap saat itu juga.
Dilla menoleh ke belakang. Seorang wanita cantik berambut blonde dengan manik mata berwarna biru terang tengah berdiri tepat di belakangnya.
"Can you help me, please?" [Bisakah kamu membantuku?]"
Dahi Dilla mengernyit saat berusaha mengartikan kalimat asing dari wanita bule yang ada didepannya.
Kemampuan berbahasa Inggris Dilla yang pas-pasan membuatnya kesulitan untuk berkomunikasi dengan wanita itu. Alhasil Dilla pun membalas tiap perkataan wanita bule itu seadanya.
Tak lama setelahnya, Dilla pun segera beranjak menuju ke arah taksi. Dilla menyodorkan sebuah kertas berisikan alamat kepada sang supir taksi.
Taksi pun segera meluncur ke alamat yang diberikan oleh Dilla. Dilla duduk di jok belakang sambil terus menggigiti kuku jarinya. Ia tampak sangat gelisah dan tidak sabar.
Sementara itu, di Jakarta, Niko berusaha menghubungi ponsel Dilla terus menerus. Namun, panggilan darinya tak kunjung tersambung. Ponsel Dilla masih tidak aktif.
Niko sangat mengkhawatirkan Dilla. Pasalnya Dilla berangkat ke Belanda seorang diri dan tanpa adanya persiapan yang matang. Bahkan Dilla tidak tahu dimana pastinya alamat Riza di Belanda. Tak ayal hal itu membuat Niko semakin gelisah. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada istri sepupunya itu.
Kembali ke Belanda, taksi yang dinaiki Dilla akhirnya tiba di depan gedung Kedutaan Besar Indonesia. Ya, Dilla bermaksud meminta alamat papi di sana. Berhubung papi bekerja sebagai duta besar kemungkinan ia akan bisa lebih mudah mendapatkan alamat papi dari gedung tersebut.
Dilla merogoh tasnya, mencari dompet untuk membayar biaya taksi. Wajah Dilla berubah panik saat tidak menemukan dompet yang ia cari di dalam tasnya. Ia membongkar tas miliknya sambil terus menggumam, mencoba mengingat dimana keberadaan dompetnya itu.
Tanpa Dilla sadari, dompet miliknya dicuri saat ia sedang berbincang dengan wanita asing yang ada di bandara. Dengan bahasa Inggris seadanya, Dilla berusaha meminta maaf pada sang supir taksi yang kelihatan mulai marah.
Tiba-tiba, supir taksi itu menginjak pedal gasnya dan membawa Dilla dengan taksinya. Dilla mulai ketakutan, ia terus menerus berbicara pada supir taksi.
"Stop!. Stop!" ucapnya saat supir taksi membawanya ke sebuah jalanan sempit dan sepi.
Supir taksi hanya menyeringai dari tempat duduknya sambil terus mengemudi kencang tanpa mempedulikan bagaimana wajah Dilla yang mulai pucat.
"Help. Help,"
Dilla terus berteriak-teriak meminta tolong sambil berusaha membuka pintu mobil yang sengaja dikunci oleh sang supir.
"Calm down, honey," tambah supir taksi itu sambil terus mengemudi.
[Tenanglah, sayang.]
Dilla mulai berkeringat saat menyadari akan adanya niat jahat dari sang supir taksi. Taksi pun terus bergerak melintasi jalanan dan lorong. Dilla melotot kaget saat tak lama taksi berhenti tepat di daerah yang sangat sepi.
Dilla celingukan gusar dari balik kaca mobil. Ia tersentak ketika supir taksi melepaskan sabuk pengamannya kemudian menoleh kearah Dilla yang sudah sangat ketakutan di belakang.
Supir itu menyeringai sesaat lalu menghampiri Dilla. Gadis itu pun langsung menggeser duduknya ke sudut, berusaha untuk melindungi dirinya.
Ya, Allah. Tolong hamba. Lindungilah hamba dari orang yang ingin berbuat jahat pada hamba ya Allah.
Dilla mendorong tubuh lelaki itu lalu menamparnya saat lelaki itu berusaha untuk mendekat dan menyentuh wajahnya. Bukannya takut lelaki itu justru menyeringai dan mengintimidasi Dilla dengan kalimat asing yang sama sekali tidak dimengerti oleh gadis itu.
Sesaat berikutnya, laki-laki setengah baya itu kembali mendekat, menariknya kemudian mengungkung tubuh lemah gadis itu dibawahnya. Gadis itu meronta, menangis dan berteriak sambil terus berusaha sekuat tenaga menjauhkan tubuh tegap diatasnya agar menjauh darinya saat laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya ke arah Dilla.
Tatapan pria itu mulai nanar bersiap untuk melancarkan niat jahatnya pada gadis yang ada dibawahnya. Namun, gadis itu terus meronta tak menyerah sedikitpun meskipun laki-laki kurang ajar itu kerap menampar dan memukuli wajahnya dengan membabi-buta. Darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibir gadis itu.
Wajah gadis itu pun kini sudah lebam bercampur sembab karena air mata. Dengan tenaga tersisa, ia kembali memohon pada laki-laki itu untuk melepaskannya. Namun, laki-laki itu justru semakin gencar merapatkan tubuhnya dan memaksa wajahnya mendekat pada gadis itu .
Pakaian gadis itu pun sudah tak karuan akibat ulah tangan laki-laki brengsek itu. Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Dilla kali ini hingga membuat pertahanan gadis itu akhirnya runtuh. Tubuhnya benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan pukulan yang datang bertubi-tubi padanya.
Pandangan Dilla mulai mengabur, perlahan matanya menutup.
Mas Riza. Tolong Dilla, Mas. Dilla takut, batinnya sesaat sebelum ia pingsan tak sadarkan diri di bawah kungkungan pria diatasnya.
------
"Dillaaaaaaa!!"
Suara teriakan Riza menggema dari dalam kamarnya.
"Dillaaaaaaa!!"
"Dillaaaaaaa!!"
Teriaknya menyebut nama istrinya itu histeris.
Mami yang sedang sibuk di dapur pun seketika berlari ke arah suara. Mami langsung menghampiri Riza yang tampak meracau tidak jelas di atas ranjang dengan terus berteriak histeris dan menyebut nama Dilla berulang-ulang.
"Sayang. Tenang sayang. Ini mami," ujar mami seraya memeluk puteranya.
Riza memegangi dadanya yang terasa teramat sakit. Sebilah pisau serasa mengoyak jantungnya saat ini. Perasaan gelisah dan takut yang tak biasa itu perlahan menjalar hingga membuat jantungnya berdetak kencang tak menentu, menandakan seseorang yang ia cintai sedang dalam keadaan bahaya.
Riza menangis sesenggukan dengan suara serak yang terdengar berat dan sedih. Riza masih menyebut nama Dilla lirih dengan pandangan kosong meskipun air mata terus menerus jatuh dari sudut matanya.
-----
Di dalam taksi, supir taksi tersenyum puas saat melihat gadis yang ada didepannya kini sudah terkulai pingsan tak berdaya. Laki-laki itu pun bersiap melancarkan aksinya untuk melecehkan gadis tak berdaya itu dengan tatapan mata penuh hasrat menggebu sambil terus menjelajahi setiap inci tubuh gadis yang ada didepannya.
Sebuah ketukan, menghentikan gerakan tangan pria itu saat hendak melucuti pakaian dalam yang Dilla kenakan. Laki-laki itu mengumpat kesal kemudian melihat ke arah jendela setelah sebelumnya menutupi seluruh tubuh Dilla terlebih dahulu dengan sehelai kain yang ia ambil dari dalam dasbor mobil.
Kaca jendela terbuka setengah, tampak Thomas berdiri di sana.
"Hei, singkirkan taksi ini. Menghalangi saja!" ucap Thomas ketus tanpa basa-basi.
"Hei, tenanglah Tuan!" jawab laki-laki itu dengan sedikit seringai di wajahnya.
Thomas melirik sekilas ke arah jok belakang taksi saat melihat supir taksi yang hanya bertelanjang dada itu. Thomas menatap supir taksi curiga.
"Kau lihat apa?. Minggir!" sinis si supir.
Menyadari adanya hal yang tidak beres. Dengan gerakan cepat, Thomas menarik rambut gondrong supir bule itu kemudian membenturkannya dengan kuat ke sisi pintu hingga laki-laki itu tak sadarkan diri hanya dengan sekali gerakan dari Thomas.
Kemudian Thomas menekan tombol pembuka kunci pintu dengan cepat. Setelah pintu terbuka, dengan sigap Thomas menghampiri pintu belakang mobil tempat dimana Dilla terbaring pingsan.
Thomas melotot kaget, saat mendapati tubuh lemah gadis yang dikenalnya ada di sana dengan kondisi wajah lebam.
"Nona Dilla?!" lirihnya.
Thomas bertambah kaget saat menyibak kain yang menutupi tubuh Dilla dan mendapati Dilla hanya mengenakan pakaian dalam saja. Thomas menoleh ke arah supir taksi dengan tatapan geram.
"Dasar laki-laki brengsek!" ujarnya.
Thomas mengambil kunci taksi kemudian membuangnya asal ke sembarang arah.
Sesaat kemudian, Thomas langsung membopong Dilla masuk ke dalam mobil lalu menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.
Tak lupa Thomas memungut semua pakaian dan barang-barang Dilla dari dalam taksi kemudian ia pun segera membawa Dilla meluncur dengan mobilnya.