
"Diam disini!!. Aku mau telepon polisi!" perintah Riza seraya mencengkeram lengan mungil istrinya yang kerap berusaha menyusul Adam dan Thomas berjalan menuju basement rumah sakit.
"Ya Ampun, Mas. Kita itu udah nggak punya waktu buat telepon polisi. Mas nggak lihat, orang-orang itu mau bawa Mas Thomas. Udah, ah. Buruan!"
Dilla pun menarik lengan Riza untuk segera ikut bersamanya ke arah basement.
...----------------...
Setibanya di basement.
"Ya udah, sekarang Mas susulin Mas Thomas sana. Sebelum orang-orang itu bawa Mas Thomas pergi dari sini."
"Habis itu aku mau ngapain?"
"Yah, apa kek. Berantem atau apa gitu. Yang penting Mas Thomas jangan sampe di bawa pergi, Mas!"
Riza terperangah dengan perkataan istrinya. Bisa-bisanya dengan entengnya Dilla menyuruh Riza yang sama sekali tidak suka kekerasan itu untuk berkelahi dengan orang lain.
"Kamu mau aku berantem sama mereka?" ucapnya terbata untuk meyakinkan telinganya bahwa ia tidak salah dengar dengan apa yang diucapkan istrinya.
Dilla mengangguk.
Memang benar, Riza itu salah satu orang yang menyebalkan dan lumayan cerewet. Namun, hal itu hanya berlaku untuk orang yang ia kenal. Lain halnya jika ia berurusan dengan orang lain, ia lebih cenderung menjadi pengamat yang baik dan sebisa mungkin tidak mengusik urusan orang lain.
Karena Riza yang tak kunjung menjawab, Dilla pun berkata, "Jangan kelamaan dong Mas mikirnya. Entar mereka keburu pergi!"
Benar saja, mobil yang dinaiki oleh Thomas, Adam dan anak buahnya kini sudah mulai melaju perlahan.
Ketika mobil melintas tepat didepan Riza, tanpa berpikir lagi, Riza segera melepaskan cengkeramannya dari lengan Dilla kemudian berdiri tepat didepan mobil mewah Adam tersebut.
Dengan mengumpulkan keberanian, Riza berdiri dan menghadang mobil sedan hitam yang tengah melaju didepannya itu. Hingga membuat sang supir menghentikan mobil seketika dan hanya menyisakan jarak satu inchi antara keduanya.
Melihat itu, Dilla pun segera berlari mendekat ke arah Riza, "Kamu nggak pa-pa kan Mas?" ucapnya khawatir.
Riza tidak menjawab. Ia masih mengatur nafasnya karena apa yang baru saja ia lakukan. Jika saja si supir tidak menginjak cepat pedal remnya, bisa jadi Riza akan tertabrak saat itu juga.
Sesaat kemudian, Adam langsung turun dari mobilnya dengan raut wajah penuh amarah. Bahkan ia membanting pintu mobil mewahnya dengan sangat keras.
Sekali lagi Dilla memperhatikan raut wajah sangar didepannya itu dengan seksama. Dan ia mulai bertanya dalam hati kembali.
Ingatan Dilla benar-benar merasa pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, tapi ia tidak ingat pernah bertemu dengan Adam dimana.
Selagi mengingat, Adam tiba-tiba membentak mereka hingga membuat Dilla tersentak kaget.
"Dasar brengsek. Aku tidak punya urusan dengan kalian!!!. Pergi dari sini!!" ucapnya dalam bahasa Belanda.
"Justru itu, ada urusan apa kalian dengan Thomas?. Kenapa kalian membawanya pergi dengan cara seperti itu?. Apa kalian mau masuk penjara!!!"
Adam tertawa, "Apa?!. Penjara!" ucapnya penuh penekanan. "Tidak ada satu pun polisi yang bisa memenjarakan ku, Tuan Riza Rifky."
"Darimana kamu tahu namaku?"
"Tidak ada yang sulit untuk aku ketahui. Bahkan aku tahu seperti apa masa depan mu, dan bagaimana kisah masa lalu mu. Ha.ha.ha."
"Jangan bicara omong kosong!. Segera kalian lepaskan Thomas, kalau tidak aku akan membuat kalian semua tertawa di dalam penjara!" ancam Riza.
"Kau, jangan ikut campur dalam urusan ku. Sikap mu ini mirip sekali seperti ayahmu, selalu ikut campur dengan urusan orang lain. Sangat menyebalkan. Sampai-sampai aku ingin membunuhmu saat ini juga."
Riza menatap tajam mata Adam. Sementara Dilla yang sedari tadi sudah ketakutan tampak menggenggam erat lengan kekar suaminya.
"Aku peringatkan pada kalian, menjauh selamanya dari puteraku. Kalau tidak, kalian akan merasakan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya!!" sarkas Adam pada sepasang suami istri didepannya itu.
Adam pun langsung masuk kembali kedalam mobil setelah menyelesaikan ancamannya, meninggalkan Riza dan Dilla yang tampak masih mencerna perkataan Adam barusan.
...----------------...
Beberapa saat kemudian
Di koridor rumah sakit, Henzhie tak hentinya menangis saat menyadari bahwa Riza dan Dilla gagal menghentikan Adam dan anak buahnya.
Dilla berusaha menenangkan Henzhie, sementara Riza masih terus memikirkan perkataan Adam sesaat lalu.
Entah mengapa, perkataan sarkas Adam terus terngiang di kepalanya. Saat menatap mata Adam, Riza merasakan kalau ancaman Adam tadi bukanlah isapan jempol belaka. Riza pun mulai diliputi perasaan tidak tenang.
"Apa maksud orang itu dengan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya?" gumam Riza lirih.
Perlahan Dilla menggenggam jemari Riza yang sedari tadi terus diam disebelahnya. Riza pun langsung terperanjat.
"Mas, saya minta tolong kamu anterin Henzhie pulang yah. Biar saya jagain Mister disini."
"Nggak!!" ujarnya dengan sedikit bentakan hingga membuat Dilla tersentak kaget.
Menyadari raut keterkejutan di wajah istrinya, Riza menurunkan nada suaranya, "Bukan begitu. Maksudku, ayo kita pulang bersama. Kamu ikut sama aku. Aku nggak mau ninggalin kamu sendirian disini."
"Tapi, Mas. Nanti kalau Mister sadar dan nyariin kita gimana?"
"Pokoknya aku mau kita pulang sekarang. Titik!"
Dilla pun mulai kesal. Jika sudah begini, akan sulit baginya untuk membantah perkataan Riza.
Menyadari perubahan wajah Dilla, Riza berbisik dengan suara lembut, "Aku tuh nggak nyaman deket-deket sama Henzhie. Aku nggak mau, kejadian tempo hari terulang lagi. Kamu paham kan maksudku?"
Dengan wajah cemberut kesal, Dilla menjawab, "Ya sudah, kita pulang sama-sama. Tapi Mas janji, besok pagi kita harus balik ke rumah sakit lagi nengokin Mister."
Dengan berat hati, Riza pun mengiyakan.
"Adam itu orang yang kejam. Aku benar-benar takut kehilangan Thomas. Dia satu-satunya keluargaku," sambung Henzhie dengan air mata yang terus jatuh dari matanya.
Mendengar hal itu, Riza dan Dilla pun hanya bisa diam. Mereka berharap Thomas akan baik-baik saja dan setelah ini akan ada kabar baik dari polisi tentang keberadaan Thomas.
...----------------...
Disebuah ruangan tertutup, Thomas tampak terkulai lemas tak berdaya dengan wajah lebam dan kedua tangan serta kakinya sudah terikat kuat disana.
Namun, orang-orang didepannya justru tertawa dan menikmati kesakitan Thomas itu.
Adam berkata, "Aku sudah memberimu banyak kesempatan, tapi kau terus saja membantah semua perintahku. Seharusnya kau berterima kasih, kalau bukan karena aku memungutmu dari jalanan, mungkin saat ini kau hanyalah seonggok sampah tak berguna."
Bugh
Adam melanjutkan perkataannya setelah terlebih dahulu sebuah tinju menghantam perut pemuda didepannya, "Kalau sampai besok pagi Aldrich tidak juga sadar. Bulan purnama malam ini akan menjadi purnama terakhir yang bisa kau dan adikmu nikmati!"
Mata Thomas membulat.
"Ma-ma-maafkan saya Tuan. Tuan bisa menghabisi saya, tapi tolong lepaskan Henzhie. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini."
Plak
Kali ini Adam menampar Thomas dengan sebuah tamparan keras di pipi pemuda itu, "Kau tahu, saat ini aku tidak suka ada benalu di sini. Aku sudah cukup berbaik hati merawat benalu itu sekian lama, jadi sudah saatnya aku memotong benalu itu untuk menyelamatkan tanaman yang kalian tumpangi."
Thomas terisak, "Saya mohon Tuan. Berikan kesempatan pada adik saya untuk hidup. Tidak bisakah Tuan memotong satu benalu saja?. Saya rela. Saya mohon Tuan."
Adam menyeringai, "Lanjutkan tugas kalian!" ucapnya pada anak buahnya.
"Bawa dia keluar. Biarkan dia menikmati purnama terakhirnya malam ini."
...----------------...
Kediaman Thomas.
Kamar Dilla dan Riza.
"Kenapa ayahnya Mister bisa kejam seperti itu ya Mas sama Mas Thomas dan Henzhie?. Padahal kan Mas Thomas udah lama kerja sama ayahnya Mister."
Riza tidak menanggapi.
Dilla menambahkan, "Saya juga baru tahu, kalau semua biaya kuliah Henzhie selama ini dari ayahnya Mister. Pantas aja Mas Thomas itu khawatir banget sama Mister. Pasti dia merasa hutang budi sama keluarga Mister."
Riza berkata, "Adam Wijaya. Aku merasa seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya?. Wijaya..Wijaya..," gumam Riza lirih.
"Saya juga, Mas. Saya kayak pernah lihat ayahnya Mister. Mukanya itu familiar banget sama saya, tapi saya lupa pernah lihat dimana."
"Aku sudah putuskan. Mulai besok kita pindah dari rumah ini."
"Kita mau pindah kemana, Mas?"
"Untuk sementara, kita tinggal di rumah Om Dirwan."
"Nggak. Saya nggak mau."
"Kenapa?"
"Mas bener-bener lupa atau pura-pura lupa."
"Maksud kamu?"
"Mas lupa, Mami kan galak Mas. Mami kan nggak suka sama saya. Cuma ngelihat saya bentar aja Mami udah senewen, apalagi ngelihat saya setiap hari di rumahnya. Saya takut, Mas."
Riza tertawa.
Dilla cemberut, "Loh, kok malah ketawa sih. Nggak serius banget."
Riza merentangkan kedua tangannya. Sambil tersenyum, Riza mengisyaratkan agar Dilla masuk ke dalam pelukannya. Alhasil, wajah Dilla pun berubah seketika. Dengan tersipu malu, Dilla menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Kalau kamu terus menghindari masalah, terus kapan masalah itu akan selesai. Kalau kamu terus menghindari Tante Anita, terus kapan kamu bisa akur dan baikan sama dia."
Dilla diam mendengarkan dengan mata terpejam.
Riza mengusap lembut rambut hitam Dilla lalu mendaratkan ciuman di atas puncak kepala istrinya. Ia berkata, "Gimana?. Kamu masih takut?"
Dilla menggeleng seraya mengeratkan pelukannya.
"Ya sudah, sekarang kita tidur. Besok kita pindah ke rumah Om Dirwan."
"Tapi saya belum ngantuk Mas. Gimana dong?"
"Tumben amat kamu belum ngantuk. Biasanya juga jam segini udah tidur."
"Iya, Mas. Nggak tau nih kenapa."
"Kalau gitu kita jogging malam aja. Gimana?"
Nggak biasanya Mas Riza inisiatif ngajakin aku duluan, biasanya juga selalu aku yang mulai. Tumben banget. Hi..hi..hi... Aku harus gimana ya?. Pura-pura jual mahal atau iya-in aja?. Tapi kalau aku tolak, kasihan dong suami aku.
"Gimana?. Kamu mau nggak?"
Dilla mengangguk cepat.
"Oke. Tunggu bentar ya," ucap Riza seraya bergegas menuju ruang ganti.
Dengan senyuman penuh arti, Dilla melepaskan satu persatu kancing piyamanya lalu menelentangkan tubuhnya di atas ranjang menunggu kedatangan suaminya.
Tak lama berselang, Riza pun datang.
"Kamu kenapa masih tiduran disitu?"
Seketika Dilla bangkit. Ia terbelalak melihat penampilan Riza yang sudah berbalut pakaian training olahraga lengkap didepannya itu.
"Kok kamu malah bengong. Ayo ganti baju. Katanya mau jogging."
Ya Allah Gusti, malunya aku. Aku kirain tadi Mas Riza ngajakin jogging yang itu. Tau gini mending aku tolak tadi, batin Dilla dengan wajah cemberut seraya berjalan malas menuju ruang ganti dengan kancing kemejanya yang belum terpasang.
Khayalannya untuk bermesraan dengan Riza malam ini pupus sudah.