My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/76



"Kamu selalu saja membuatku malu."


"Bukannya mas yang selalu saja membuat saya malu."


"Apa yang aku katakan padamu tadi memang benar. Turuti saja perintahku. Jangan membantah!" cetus Riza, "Ya, Ampun. Dimana kuncinya?" racaunya kemudian sambil merogoh dalam saku kemeja dan celananya. Mencari-cari kunci pintu rumahnya yang berada entah dimana.


"Kenapa, Mas?"


"Kunci pintu. Aku lupa menaruhnya dimana."


"Huh, dasar orang tua. Ya, sudah pakai kunci saya saja."


"Enak saja kamu mengataiku orang tua!" Riza melotot tajam ke arah Dilla.


Dilla tidak menghiraukan kekesalan Riza. Ia tampak merogoh tas kecilnya kemudian segera membuka pintu dengan menggunakan kunci duplikat miliknya.


Ponsel Riza berdering nyaring sesaat setelah ia memasuki rumah bersama dengan Dilla. Raut kekesalan masih terlihat jelas di wajah mereka. Riza menautkan alisnya, saat melihat nama Andyra muncul di layar persegi miliknya itu.


Perasaannya mulai cemas. Merasa akan adanya kabar buruk dari Andyra.


"Halo. Ada apa Andyra?" jawab Riza seraya menaiki anak tangga.


"Halo, Riza. Apa kamu sudah di Jakarta?.


"Iya. Aku baru saja tiba. Kenapa?"


"Bisa kita bertemu sebentar?. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."


"Ada masalah apa?"


"Aku tidak bisa mengatakannya di sini. Lebih baik kita bertemu. Aku akan datang ke rumahmu."


"Baiklah. Aku tunggu."


Dengan masih menyisakan wajah heran, Riza pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


Dilla melirik sekilas ke arah Riza. Samar-samar ia mendengar pembicaraan Riza dan Andyra barusan. Sebenarnya ia ingin bertanya. Namun, ia terlihat enggan sebab tidak mau terlalu ikut campur mengenai urusan pekerjaan suaminya. Alhasil, ia hanya diam membisu.


Mereka segera melangkah menuju kamar mereka masing-masing.


"Katanya Andyra mau datang ke sini. Kalau dia datang, suruh saja dia menungguku. Aku mau mandi dulu."


Dilla mengangguk mengiyakan.


Riza pun segera masuk ke dalam kamarnya kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selang beberapa waktu, Andyra pun tiba di rumah Riza. Setelah membunyikan bel beberapa kali. Pintu pun terbuka. Andyra di sambut oleh Dilla di muka pintu dan langsung mempersilakan Andyra untuk masuk.


Sesuai pesan Riza, Dilla pun menyuruh Andyra untuk menunggu di ruang tamu. Sembari menunggu, Dilla pun mengajak Andyra untuk berbincang sejenak menanyakan tentang sesuatu yang mengganjal pikirannya sejak tadi.


"Mbak sudah lama bersahabat sama mas Riza?"


"Iya." Andyra menjawab singkat. "Memangnya kenapa?"


Dilla terlihat ragu, "Mbak kenal sama yang namanya Anita?"


Andyra tampak sedikit terperanjat. Sepertinya Andyra memang mengenal nama itu. Namun, ia masih enggan menjawab sebab ia masih penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Dilla selanjutnya.


"Anita itu siapa sih, Mbak?. Saya dengar dia itu wanita pertamanya mas Riza. Bener, mbak?"


Andyra terkekeh, "Astaga. Riza. Riza!" Berdecak pelan seraya menggeleng tidak percaya.


"Kenapa mbak ketawa?" sambung Dilla heran.


"Tidak ada. Terus Riza bilang apa lagi?"


"Mas Riza bilangnya cinta, rindu, pengen peluk terus pengen cium. Gitu, Mbak?"


Andyra menyeruput minumannya, "Terus, kenapa?. Kamu cemburu?"


Dilla terkesiap, "Ndak. Saya ndak cemburu. Kenapa saya harus cemburu toh, Mbak?" elaknya.


"Riza itukan suami kamu. Masa kamu nggak cemburu, sih. Terus kalau memang kamu nggak cemburu, lantas kenapa kamu nanyain hal ini sama mbak?"


"Ehm." Dilla menaikkan bola matanya seolah berpikir. "Penasaran. Iya, saya hanya penasaran!. Soalnya saya ndak pernah denger nama itu sebelumnya. Berhubung mbak udah lama bersahabat sama mas Riza, ya saya tanyakan saja sama mbak sekalian," jawabnya berpura-pura.


Andyra kembali tertawa.


"Kalian sedang membicarakan apa?. Sepertinya seru sekali." Kedatangan Riza menghentikan obrolan singkat mereka. Riza yang tiba-tiba muncul dari belakang, membuat Dilla seketika berdiri dari duduknya. Ia tampak salah tingkah.


Riza melirik Dilla sejenak kemudian berbisik singkat di telinga istrinya itu, "Berhenti bersikap aneh dan kendalikan dirimu!. Jangan membuatku malu untuk kesekian kalinya!" ketus Riza di telinga Dilla.


Dilla tertunduk dalam di tempat ia berdiri. Riza pun segera duduk di sofa berhadapan dengan Andyra.


"Ada apa, Andyra?. Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Andyra melirik sekilas ke arah Dilla. Mengisyaratkan pada Riza agar Dilla tidak mendengar percakapan mereka. Riza pun segera menyuruh Dilla untuk masuk ke dalam kamar dan membereskan barang-barang bawaan mereka. Tanpa banyak bertanya, Dilla pun segera beranjak menuruti perintah Riza.


"Bicaralah!" Riza segera mempersilahkan Andyra berbicara sesaat setelah kepergian Dilla.


"Begini!" Andyra terlihat ragu dan takut.


Riza memusatkan perhatiannya pada Andyra. Menyiapkan pendengarannya. Menunggu kalimat apa yang akan terlontar dari Andyra.


"Aku minta maaf sebelumnya, Riza-" Andyra menghentikan kalimatnya sejenak. Ia menarik nafas dalam dengan kepala yang tertunduk ketakutan. "Galeri foto yang aku simpan di laptopku entah bagaimana bisa tersebar di media hingga sampai ke tangan dewan direksi. Bahkan foto itu sudah menjadi bahan gosip di seluruh rumah sakit. Aku benar-benar tidak tahu, bagaimana hal itu bisa terjadi."


Dahi Riza mengernyit bingung, "Galeri foto?. Galeri foto, apa?"


Dengan kepala tertunduk, Andyra menjawab, "Galeri foto yang berisi kebersamaan kita sewaktu dulu." Suara Andyra melemah. Hampir tidak terdengar.


Seketika Riza mematung. Matanya membulat. Merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengalirkan oksigen ke otaknya. Berusaha mencerna perkataan Andyra.


Riza menatap gadis yang terlihat gemetaran ketakutan didepannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Pipi gadis itu mulai basah. Gadis itu menyeka air mata di pipinya dengan cepat sembari menundukkan wajahnya.


"Sudah. Tenanglah." Riza merendahkan suaranya. Mencoba menenangkan gadis yang sedang terisak itu dengan tatapan iba.


"Berhentilah menangis. Aku akan mencarikan jalan keluar untuk masalah ini." Riza mencoba menenangkan.


"Aku hanya tidak mau melihat kamu menjadi terbebani gara-gara kecerobohanku." Andyra terisak. Bahunya berguncang. "Awalnya laptopku dicuri dua hari yang lalu. Sehari kemudian, aku mendapati foto-foto itu sudah ada di atas meja kerjaku. Sejak saat itu, aku mulai mendengar para karyawan selalu berbisik setiap kali melihat kearahku."


Riza menarik beberapa lembar tisu dari atas meja lalu memberikannya pada Andyra. Andyra pun segera menyeka air matanya yang terus saja jatuh tiada henti.


"Aku tidak menyalahkanmu sama sekali atas kejadian ini. Hanya saja aku merasa heran-" Riza menatap tajam ke arah Andyra. Memantapkan dirinya untuk bertanya meskipun ia tahu pertanyaannya mungkin akan membuat gadis didepannya itu tidak nyaman. "Kenapa sampai sekarang kamu masih menyimpan foto-foto itu?" sambungnya.


Andyra terpaku. Seketika tangisnya terhenti saat mendengar pertanyaan Riza padanya. Pertanyaan yang sangat sulit ia jawab.


Andyra menatap bola mata Riza lekat, "A-a-aku rasa kamu sudah tahu jawabannya," jawabnya terbata.


Riza diam. Ternyata dugaannya benar. Riza pun segera menolak Andyra dengan tegas. Sebelum semuanya menjadi bertambah kacau.


"Maafkan aku, Andyra. Aku mohon berhentilah. Aku tidak ingin melukai hatimu lebih dalam lagi." Riza menekankan kalimatnya. "Aku hanya ingin persahabatan ini murni adanya, tidak lebih dari itu. Pikirkanlah baik-baik apa yang aku katakan. Tanyakan pada hatimu, bisakah aku hanya menjadi sebatas sahabat untukmu?"


Andyra tertegun, menajamkan telinganya mendengarkan kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Riza.


"Aku minta maaf,Riza." Andyra tertunduk kembali. "Aku sudah berusaha untuk belajar melupakan perasaanku padamu, tapi entah kenapa aku terus saja gagal. Ya, aku memang masih mencintaimu. Aku-"


"Stop, Andyra!. Hentikan!" Riza menegaskan kalimatnya kemudian menegakkan posisi duduknya. "Aku akui, aku juga menyayangimu--"


"Mas Riza?!"


Suara lirih Dilla menghentikan percakapan mereka. Riza dan Andyra tersentak kaget. Seketika mereka menolehkan wajah mereka mengarah ke sumber suara.


Mata Riza membulat, "Dilla?!" ujarnya kaget. Sama halnya dengan Andyra yang tak kalah kagetnya saat mendapati sosok Dilla tengah berdiri dihadapan mereka. Memandang ke arah mereka dengan tatapan nyalang, tak berkedip sedikitpun.


Gelas yang dipegang Dilla sejak tadi pun seketika terhempas dan melesat cepat dari tangannya hingga membentur permukaan keramik membentuk serpihan yang hancur berkeping dan berhamburan ke lantai.


Kakinya berpijak pada salah satu anak tangga. Mematung dan membisu di atas puing-puing pecahan beling yang jatuh berserakan.


Merasa ada yang salah pada Dilla. Riza pun segera menghampiri. Namun, sebelum langkahnya sampai di dekat istrinya itu, secepat kilat Dilla justru berbalik dan bergegas menaiki anak tangga kembali.


Riza berlari kencang menaiki anak tangga berusaha menyusul dan mencegah langkah istrinya. Namun, ia kalah cepat. Dilla sudah menutup pintu kamarnya terlebih dahulu sebelum Riza sampai di sana.


"Dilla. Dilla. Aku mohon, buka pintunya. Aku bisa jelaskan. Semua yang kamu dengar tadi itu hanya salah paham!" ujar Riza panjang lebar. Berharap agar Dilla mau mendengarkan penjelasannya.


Riza berteriak-teriak memanggil Dilla dari balik pintu. Dengan gusar, ia menggedor-gedor kamar istrinya itu, akan tetapi Dilla tidak kunjung membukakan pintu untuknya.


Dilla terlihat menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Menangis dengan terisak. Air matanya tumpah ruah membanjiri pipinya. Ia menangis sejadi-jadinya seraya memegangi dadanya yang terasa sesak menahan rasa sakit.


Aku bodoh. Aku memang bodoh. Dengan mudahnya aku tertipu dengan kata-kata manis itu. Ternyata dia hanya mempermainkanku. Hiks. Hiks. Tega kamu, Mas. Tega.


Bahunya berguncang. Rasa sakit itu sungguh menghujam tepat di jantungnya dan menjalar hingga ke tulang. Perih bercampur pedih. Seketika hatinya remuk redam.


"Aku mohon, Dilla. Buka pintunya!" Riza terus menerus memohon, berusaha membujuk Dilla agar mau mendengarkan penjelasannya. Namun, tampaknya hati gadis itu terlanjur hancur sehingga pikirannya sudah tak mau lagi mencerna dan telinganya tak mau lagi mendengar penjelasan apapun.


Riza menyandarkan tubuhnya di balik pintu, lemah tak berdaya. Ia hanya mampu mengacak rambutnya dengan frustasi. Menahan kekesalan yang membuncah di hatinya.