
Akhirnya malam pun telah berganti dengan pagi yang cerah. Bias cahaya mentari kini sudah menerobos masuk ke dalam celah kamar sepasang suami istri yang sudah sibuk dengan kegiatan mereka pagi itu.
Sesuai kesepakatan mereka kemarin, hari ini mereka akan pindah ke rumah orang tua Riza.
Dengan wajah malas, Dilla pun mengemas semua pakaian miliknya dan Riza ke dalam tas. Disela-sela kesibukannya itu, berulang kali ia menghela nafas panjang sebab hatinya amat terasa berat saat membayangkan bahwa ia akan menetap di rumah ibu mertuanya yang galak.
Dari kejauhan Riza memperhatikan tingkah istrinya itu dalam diam. Ia mengerti seperti apa perasaan Dilla saat ini.
Mau bagaimana lagi, Riza hanya punya cara ini untuk menjauhkan dirinya dan Dilla dari Aldrich. Entah kenapa, sejak pertemuannya dengan ayah Aldrich tempo hari, perasaannya terus tidak menentu seperti ada firasat aneh yang terus mendorongnya agar menjauhi Adam dan Aldrich.
Hingga detik ini pun, ia masih dapat merasakan dengan jelas kengerian dari tatapan Adam yang mampu membentuk kilatan ketakutan muncul di mata Riza. Dengan sekuat mungkin, Riza pun mencoba mengacuhkan rasa takutnya saat itu.
Entah bagaimana ia menjelaskan itu semua sebab biasanya Riza bukanlah orang yang pengecut dan penakut, tapi semua itu berbeda saat Adam muncul di hadapannya.
Suara ketukan pintu, menghentikan sejenak kegusaran Riza. Riza menoleh ke arah pintu diikuti oleh Dilla.
Tak lama, Riza segera berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu kamarnya. Terlihat Henzhie sudah berdiri tegak didepan sana dengan pakaian rapi. Sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat pagi itu.
Melihat siapa yang datang, Dilla pun langsung menyusul Riza ke muka pintu dan berdiri tepat disamping suami kesayangannya.
Henzhie menatap Riza sejenak lalu memulai kalimatnya, "Aku akan pergi mencari Thomas. Mungkin ini kali terakhir aku bisa melihatmu. Entah kapan kita bisa bertemu lagi. Aku minta maaf untuk semua kesalahanku. Aku harap kau mau memaafkanku."
"Aku sudah memaafkan mu," ucap Riza singkat. "Untuk masalah Thomas, aku sudah meminta bantuan polisi untuk mencarinya," lanjutnya.
Henzhie tersenyum lega, "Terima kasih. Ternyata kau masih sama seperti Riza yang aku kenal dulu. Pria dingin berhati lembut yang sudah membuatku jatuh cinta sejak lama."
Riza menatap Henzhie lama. Dalam hatinya, ia merasa bingung dengan ucapan Henzhie. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?, tapi kapan?. Ucap Riza dalam hati, sebab ia baru pertama kali melihat Henzhie di rumah Thomas sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di Belanda.
Henzhie tersenyum samar lalu melirik Dilla sepintas yang langsung dibalas dengan lirikan tajam Dilla padanya.
"Aku tahu, aku tidak akan pernah punya harapan. Dia gadis yang beruntung," ujarnya sambil menatap Dilla.
Riza menggeleng seraya menggenggam jemari istrinya yang berdiri tepat disampingnya. Dalam kebingungan, Dilla hanya diam mendengarkan obrolan Riza dan Henzhie dengan muka masam, sebab ia tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dua orang itu bicarakan karena saat ini Riza dan Henzhie tengah berbicara dalam bahasa Belanda.
"Akulah yang beruntung," sambung Riza melanjutkan.
Henzhie menatap Riza lama, dengan cepat Riza membuang pandangannya menghindari tatapan Henzhie.
"Serahkan saja semuanya pada Polisi. Mencari Thomas seorang diri, sangat berbahaya untuk keselamatanmu."
"Kenapa?. Apa sekarang kau sedang mengkhawatirkan aku?" tanya Henzhie dengan tertawa.
Riza pun tersenyum mendengar gurauan Henzhie padanya.
"Berhenti tersenyum seperti itu pada semua gadis. Kalau tidak, mereka akan sulit melupakanmu," ucap Henzhie dengan suara bergetar.
Riza terdiam.
Henzhie berkata lagi, "Oke. Aku pergi. Aku takut istrimu akan mencekikku, kalau aku terlalu lama disini. Kau tahu, istrimu itu sangat pencemburu. Ha..ha..ha."
Sesaat berikutnya, tiba-tiba Henzhie memeluk Riza. Namun, dengan cepat, Riza melepaskan pelukan Henzhie. Melihat itu, Dilla tampak sangat marah.
Kalau saja Riza tidak menahan lengan Dilla, bisa jadi Henzhie akan terkena amukan Dilla saat itu juga.
"Berbahagialah Riza," ucap Henzhie lirih dengan tetes air mata yang jatuh membasahi pipi merahnya.
Henzhie diam sejenak.
Hening.
"Sampai jumpa," lanjutnya kemudian berbalik dan berlalu pergi menuruni anak tangga menuju ke dalam mobil milik Thomas yang sudah terparkir didepan rumah.
Kenangan indahnya bersama Riza kembali mengulang di ingatan wanita cantik itu. Terbayang olehnya saat pertama kali ia berpapasan dengan wajah datar Riza di laboratorium kampus tempat ia dan Riza menimba ilmu beberapa tahun silam.
Sejak saat itu, Henzhie pun mulai diselubungi rasa penasaran. Tanpa Riza sadari, Henzhie terus membuntuti Riza kemanapun ia pergi dan tak lupa, Henzhie pun selalu mengabadikan apapun aktifitas yang Riza lakukan ke dalam kamera miliknya.
Sampai suatu ketika, Henzhie sangat terkesima saat melihat sebuah senyuman di wajah Riza ketika pria itu sedang asyik menulis di bukunya.
Sejak itu Henzhie pun terus berusaha mendekati Riza dengan berbagai cara. Dengan wajah cantik dan tubuh indah miliknya, pastinya tidak akan sulit bagi Henzhie untuk menaklukkan hati Riza. Namun, kenyataannya berbeda. Riza sungguh sangat dingin melebihi es. Hampir tidak ada celah bagi Henzhie untuk mendekat ke arah pria itu.
Hingga akhirnya, Riza menyelesaikan kuliahnya di Belanda kemudian kembali ke Indonesia. Sejak saat itu, Henzhie pun hanya bisa memandangi wajah Riza dari foto-foto yang ia ambil. Foto yang selalu terpajang dan menghiasi setiap sudut rumah Thomas.
Tak ayal kelakuan Henzhie itu membuat Thomas kesal dibuatnya. Henzhie seperti orang yang kehilangan akal sehat.
Itulah mengapa sewaktu Dilla akan menginap di rumah Thomas tempo hari, Thomas menyuruh adiknya itu menyimpan semua foto-foto yang ada di rumah mereka.
Henzhie menyeka air matanya kembali sesaat sebelum menginjak dalam pedal gas mobilnya. Mobil pun kemudian melaju kencang menembus bias sinar mentari.
Kembali ke Riza dan Dilla.
Sesaat setelah Henzhie pergi dengan mobilnya, Riza pun segera menghubungi polisi dan meminta bantuan Polisi untuk melacak plat mobil yang dikemudikan Henzhie. Tidak sulit baginya untuk meminta bantuan. Ia hanya perlu menyebutkan nama "Dirwan" dan polisi sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Sebuah keberuntungan memang, menjadi anak seorang duta besar.
"Mana pakaianku?" tanya Riza setelah menutup saluran telepon.
Dilla pun memulai sikap kekanakannya. Dengan wajah cemberut, ia melemparkan pakaian yang akan dikenakan Riza dengan kasar ke atas ranjang seraya menggerutu.
Riza menautkan kedua alisnya bingung.
Sesaat kemudian, Dilla pun keluar dari kamar dengan membanting pintu hingga membuat Riza tersentak kaget.
Dilla menuruni anak tangga dengan terus menggerutu. Setibanya di ruang tamu, Dilla mendudukkan tubuhnya di sofa dengan wajah masam. Dilla pun kembali mengingat pelukan Henzhie pada suaminya.
Sesaat berikutnya suara dentingan nyaring sebuah ponsel mengagetkan Dilla, ia pun segera meraih sumber suara. Saat ia membuka tas yang ia kenakan, ia baru menyadari kalau ponsel Aldrich masih tertinggal didalam tas miliknya. Dilla pun merutuki sifat pelupanya lagi kali ini.
Tak lama, Riza pun sudah siap dengan menenteng dua buah tas besar di tangannya. Ia menuruni anak tangga dengan tergopoh-gopoh sebab beban berat yang ia bawa saat itu.
Riza berkata, "Kamu nggak mau bantuin aku?"
"Nggak!!" ketus Dilla.
Riza kemudian mendekati Dilla, "Oke," jawab Riza cuek.
Melihat sikap Riza yang tak acuh, membuat Dilla justru semakin kesal, "Aku tuh kesel sama Mas!" sembur Dilla.
"Oke," jawab Riza cuek seraya berlalu didepan Dilla.
Dilla memonyongkan bibirnya cemberut, "Mas sama Henzhie ngomongin apa sih sampe peluk-pelukan segala kayak tadi," tagihnya sambil berjalan di belakang Riza.
"Oh, jadi gara-gara itu. Oke," jawab Riza lagi.
"Maksudnya opo toh?" cecar Dilla sembari terus mengikuti Riza menuju pintu gerbang.
Riza melanjutkan, "Oke, jadi gini. Satu, suamimu ini cuma ngobrol biasa sama Henzhie. Dua, nggak ada yang spesial. Tiga, kalau dia peluk aku, itu kan dia yang meluk, bukan aku."
"Tapi Mas seneng kan?"
"Nggak," sahut Riza santai. Ia melanjutkan, "Soalnya aku lebih seneng dipeluk sama istri aku," lanjut Riza seraya tersenyum manis.
Riza kemudian menaruh tas yang ia bawa sesaat sebelum merentangkan kedua tangannya ke arah Dilla.
Melihat senyuman Riza, membuat wajah Dilla berubah seketika. Dilla pun tersenyum manis kemudian berkata, "Oke," ucapnya sesaat sebelum menerobos masuk kedalam pelukan suaminya.