My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/75



Riza dan Dilla memutuskan mengantarkan Kia ke rumahnya terlebih dahulu. Sesampainya di sana, Kia disambut oleh seorang ibu paruh baya yang merupakan pembantu rumah tangga di rumahnya. Riza dan Dilla pun turut masuk ke dalam rumah untuk mengantarkan Kia.


Dilla sempat tertegun dan mematung saat melewati sebuah figura besar berisikan potret keluarga besar Kia. Sesaat kemudian, Dilla mengalihkan pandangannya menatap lekat ke arah sebuah figura foto yang tergantung rapi di dinding bersisian dengan foto keluarga besar Kia. Potret seorang pemuda berambut ikal dengan senyuman semanis madu terpajang jelas di sana. Potret pemuda yang tak lain merupakan saudara kembar Kia, -Raja-


Dilla menatap lama wajah pemuda itu dengan tatapan pilu, ia kembali mengingat kenangannya. Berharap si pemilik wajah itu ada dihadapannya saat ini.


Dalam diam, Riza memperhatikan tingkah dan mimik wajah Dilla yang seketika berubah murung sesaat setelah Dilla memandang ke arah potret tersebut.


Beberapa saat berlalu, Kia keluar dari kamarnya. Ia telah mengganti pakaiannya yang basah kuyup dengan setelan pakaian santai tapi tetap terkesan modis dan elegan seperti biasa.


Dengan langkah terseok-seok, ia menghampiri Dilla. "Terima kasih ya, Dilla. Sudah mau mengantarkan aku pulang," ujar Kia berbasa-basi.


Suara Kia membuat Dilla tersadar dari lamunannya. Seketika Dilla menoleh ke arah Kia. Riza tampak mendengus sebal melihat tingkah Kia yang masih saja terus berpura-pura didepan Dilla.


"Iya, sama-sama." Dilla tersenyum manis ke arah Kia.


"Terima kasih juga ya, dokter. Sudah mau menggendong saya tadi."


Riza tidak menjawab. Ia hanya diam membisu dengan menampilkan wajah dinginnya. Merasa malas menanggapi kepalsuan Kia.


"Darimana kamu tau kalau mas Riza seorang dokter?"


Kia pun menceritakan pasal Riza yang telah menolong kakaknya bersalin tempo hari. Dilla pun hanya ber-oh ria ketika menanggapi cerita Kia.


"Dokter tidak ganti baju dulu?. Baju dokter kan basah kuyup?. Nanti dokter sakit lagi?. Kalau dokter mau, dokter bisa pakai baju saudara saya. Iya kan, Dilla?"


"Hah?!. Iya. Mas tidak mau ganti baju dulu?" tanya Dilla lagi.


"Tidak perlu. Ayo, kita pulang!" Tanpa permisi terlebih dahulu, Riza pun segera beranjak pergi sebab ia sudah tidak tahan lagi melihat sandiwara Kia yang terus saja berkata manis didepan Dilla. Padahal dibelakang, ia menjelek-jelekkan Dilla tiada henti. Hingga membuat dada dan telinga Riza panas.


"Ehm. Aku pulang dulu, ya!. Cepat sembuh, Kia!" ujar Dilla singkat sebelum beranjak.


Dilla pun segera berjalan menyusul Riza yang telah berjalan terlebih dahulu di depan.


"Mas, tunggu!" teriaknya.


Kia mengantar kepergian Dilla dengan sebuah senyum jahat tersungging di bibirnya.


Memuakkan!, batinnya getir.


Dengan nafas tersengal, akhirnya Dilla berhasil mengejar langkah Riza.


"Mas, tunggu!. Kenapa jalannya cepat sekali sih, Mas?"


"Kamu saja yang jalannya lama. Lain kali tidak perlu meladeni gadis itu lagi. Dan satu lagi, aku minta kamu jangan dekat-dekat dengan gadis itu!" ujar Riza penuh penekanan.


Dilla menautkan alisnya, "Kenapa, Mas?"


"Dia itu licik. Mulutnya berbisa seperti ular. Aku hanya tidak mau, nantinya kamu termakan oleh bisanya itu."


"Mas, jangan bicara sembarangan, ya!. Kia itu sudah berubah, Mas. Buktinya dia tidak mengejek saya lagi tadi." Dilla menambahkan, "Justru saya lihat, mas dan Kia sepertinya akrab sekali sewaktu mas menggendong Kia tadi. Sampai-sampai Kia tertawa sangat kencang sepanjang jalan."


Riza memutar bola matanya malas. "Itulah alasannya kenapa aku menyuruhmu untuk menjauhi gadis itu. Sudahlah. Berhenti membicarakan gadis itu!. Cepat jalan. Aku sudah sangat kedinginan."


Akhirnya sampailah mereka di rumah. Tanpa berkata apapun, Riza segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Ada hubungan apa sebenarnya antara istriku dengan Raja?. Apa aku tanya langsung saja, ya?" gumam Riza saat kembali mengingat wajah Dilla saat memandang foto Raja sewaktu di rumah Kia tadi. Meskipun Riza tidak mengenal wajah Raja sebelumnya, tapi saat melihat seperti apa wajah pria itu di foto tersebut membuatnya yakin seratus persen bahwa pria itu pasti Raja sebab wajahnya sangat mirip dengan Kia.


Hatinya menjadi tidak tenang dan gusar, saat mengingat bagaimana cara Dilla memandang potret Raja. Riza terus bertanya-tanya dalam hati, hingga akhirnya tibalah saat mereka berpamitan pada ibu dan Syifa untuk pulang ke Jakarta.


"Kalian baik-baik ya, Nak di Jakarta. Jangan sering-sering berantem. Kamu juga Dilla, jangan terlalu bawel dan cerewet sama suami kamu. Ingat, itu!"


"Memangnya Dilla ini cerewet apa?. Dilla kan selalu nurut Bu, apa kata mas Riza. Ibu ini bagaimana, sih?" ujar Dilla seraya memeluk ibunya dengan erat.


"Mas Riza yang kuat ya, Kak Dilla memang gitu orangnya. Resiko nikahi bocah di bawah umur ya kayak gitu, Mas." Syifa cekikikan. "Ini ada hadiah dari Syifa, khusus buat mas Riza karena mas udah mau bantu ngelunasi hutang-hutang ibu tempo hari. Terima kasih banyak ya, Mas." Syifa memberikan sebuah amplop kecil pada Riza kemudian mencium punggung tangan kakak iparnya itu dengan haru.


"Kamu jaga ibu baik-baik ya, kalau ada apa-apa segera hubungi mas. Jangan lupa!"


"Siap, bos."


Syifa dan Riza sama-sama tersenyum. Riza pun segera menyimpan amplop pemberian Syifa ke dalam saku celananya.


"Ibu titip Dilla ya, Nak Riza. Ibu minta kamu bisa sabar ya menghadapi sikap keras kepala dan kekanak-kanakan putri ibu yang selalu bikin kamu kesal dan marah. Terima kasih sudah mau mampir ke sini."


"Iya, Bu." Riza mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan lembut.


Melihat kesedihan di mata istrinya, Riza pun menggenggam erat jemari Dilla.


"Jangan berlebihan. Kita hanya pulang ke Jakarta bukan mau ke luar angkasa. Tidak perlu menangis tersedu-sedu seperti itu."


"Saya kan sedih, Mas. Hiks. Hiks. Bagaimana, sih?"


Riza tertawa, "Berhentilah menangis. Aku heran, wajahmu itu sangat cantik saat tersenyum tapi kenapa bisa jadi sangat jelek sekali saat menangis?. Tidak seperti, Anita." ujarnya tiba-tiba bahkan terkesan santai.


Dilla segera menghentikan tangisnya lalu menoleh ke arah Riza dengan wajah penuh tanda tanya, "Anita?. Anita siapa, Mas?"


Riza tersenyum, "Kamu tidak tahu siapa Anita?. Astaga. Dengar ya, Anita itu wanita pertama dalam hidupku. Aku sangat mencintai wanita itu. Dia itu wanita yang penyayang, baik hati, lemah lembut dan cantik. Ah, aku jadi kangen sama Anita. Kalau saja dia ada di sini, ingin sekali rasanya aku peluk terus cium. Bagaimana kabarnya Anita sekarang, ya?"


Dengan menggebu-gebu, Riza pun terus bercerita mengenai sosok Anita. Tanpa memperhatikan seperti apa raut wajah Dilla saat ini.


Riza menoleh sekilas ke arah Dilla, memperhatikan ekspresi wajah Dilla yang terlihat cemberut.


"Kenapa?. Kamu cemburu?"


Dilla terperanjat, "Heh!. Cemburu?. Maaf ya, ngapain juga saya cemburu. Saya ndak cemburu, tuh!" ujar Dilla berpura-pura. Padahal dalam hatinya ia merasa sangat penasaran dan mulai menerka-nerka siapa itu Anita sebenarnya.


"Aku tidak sabar menelepon Anita saat tiba di Jakarta nantinya. Aku sudah sangat rindu mendengar suaranya." Riza kembali tersenyum simpul. Melirik ke arah Dilla sekilas, kemudian kembali tersenyum kecil saat melihat ekspresi keterkejutan Dilla yang sangat menggemaskan saat mendengar kalimat Riza barusan.


"Bolehkan aku meneleponnya nanti?" tanya Riza pada Dilla.


"Terserah!. Mas mau teleponan, mau pelukan, mau ciuman atau apapun itu. Saya ndak peduli. Saya mau tidur saja, ngantuk!" sinis Dilla dengan sedikit kesal.


Dilla membalikkan badannya, membelakangi Riza. Menatap kaca jendela mobil dengan wajah cemberut bercampur kesal.


Bisa-bisanya, mas Riza mengingat perempuan lain saat sedang bersamaku. Seperti apa sih memangnya si Anita itu?


Pikiran Dilla mulai menerawang jauh. Hatinya mulai gelisah tak menentu. Sementara itu, dari balik punggung Dilla terlihat Riza tertawa cekikikan.


Maafkan aku, karena sudah membuatmu marah tapi setidaknya itu lebih baik, daripada melihatmu menangis seperti tadi.


Tak lama mereka pun tiba di bandara. Setelah melayang di udara selama lebih kurang satu jam, akhirnya tibalah mereka di Jakarta. Riza segera memesan taksi online untuk mengantarkan mereka pulang ke rumah.


Di dalam taksi, Riza mengecek ponselnya yang selama tiga hari tidak aktif dikarenakan sulitnya mendapat jaringan seluler di desa. Riza tampak mendengus kesal, saat melihat sebuah notifikasi chat dari Niko yang berisikan undangan perayaan ulang tahun perusahaan Irfan.


Riza berdecak kesal dan menggumam lirih. "Mereka masih terus saja melakukan kegiatan tidak masuk akal itu setiap tahunnya. Seperti tidak ada kegiatan lain saja. Bagaimana, ya?. Apa aku ajak saja istriku kali ini?" Riza melirik sekilas ke arah Dilla yang juga tampak sibuk dengan ponselnya.


Dilla tampak asyik mengutak-atik ponselnya sesaat setelah ponsel itu diaktifkan. Memusatkan perhatian penuh pada benda pipih ditangannya itu. Sesaat kemudian, ia membelalakkan matanya kaget saat melihat banyaknya notifikasi chat dari Aldrich yang masuk ke ponselnya. Selama tiga hari ini, Aldrich terus saja mengirimkan pesan tiada henti untuk menanyakan kabar dan keberadaan Dilla.


"Ya, Allah. Banyak sekali pesannya," ujar Dilla kaget.


"Pesan dari siapa?" tanya Riza penasaran.


"Mister!" sahut Dilla singkat seraya membaca pesan demi pesan dari Aldrich yang jumlahnya hampir mencapai puluhan itu.


"Mister siapa?"


"Itu loh, Mas. Mister, orang bule yang tinggal di komplek yang sama dengan kita."


Dahi Riza mengernyit, "Kamu bertukar nomor dengan orang itu?" timpalnya dengan sedikit kaget.


"Iya. Habis kata Mister untuk menjalin hubungan silaturahmi. Ya sudah, saya kasih saja nomor saya."


"Heh!. Menjalin hubungan silaturahmi, apanya?. Bilang saja kalau dia mau menggoda istriku," gerutu Riza mulai kesal.


Riza melanjutkan, "Kamu itu istriku. Jadi, jaga sikapmu. Jangan pernah berhubungan dengan pria lain tanpa seizin dariku. Mengerti?!"


"Apaan sih, Mas?. Harusnya saya yang bilang gitu sama mas!"


"Maksudmu apa?"


Dilla melirik tajam ke arah Riza, "Mas itu selalu saja membuat saya kesal!. Huh!" Dilla memalingkan wajahnya.


"Bukannya kamu yang selalu saja membuatku kesal?" Riza melotot tajam ke arah Dilla.


"Maaf pak, Bu. Kita sudah sampai!" ujar supir taksi yang tanpa sadar memasuki pertempuran.


"Berisik!!!" bentak Riza dan Dilla secara serempak dengan nada tinggi bercampur emosi yang meledak-ledak membuat sang supir taksi tak berdosa itu tersentak kaget.


Sang supir kembali terkaget-kaget saat mendengar sepasang suami istri itu menutup pintu mobil dengan cukup keras membuat sang supir menggerutu kesal dari balik kemudinya.