
Belanda
Satu Minggu kemudian
Dilla berdiri tegak memandang ke arah Riza dan Henzhie dengan tatapan sedih bercampur kesal.
Sejak Riza bertemu dengan Henzhie, entah bagaimana Riza menjadi sangat akrab dengan gadis bermata biru itu.
Riza selalu menghabiskan waktunya bersama dengan Henzhie, tertawa dan bercanda bersama di setiap kesempatan. Riza tampak sangat nyaman dan bahagia saat bersama Henzhie.
Berbeda halnya, setiap kali Riza berdekatan dengan Dilla, pria itu terlihat selalu menghindar dan menjauh. Setiap Dilla mencoba mengakrabkan diri dengan Riza, entah kenapa Riza langsung berubah ketakutan seolah Dilla akan melakukan hal buruk padanya.
Dilla akui, Henzhie memang gadis yang sangat menarik. Gadis yang berusia dua tahun lebih muda dari Riza itu memang memiliki penampilan nyaris sempurna dengan mata biru yang sebening kristal dan kulit putih khas orang-orang Eropa.
Ditambah lagi bentuk tubuh indah semampai dan senyum menawan yang selalu menghiasi wajah gadis itu setiap kali ia tersenyum, sungguh membuat Dilla tak kuasa menahan rasa cemburu dalam hatinya.
Baru kali ini Dilla memindai penampilan fisik Henzhie dengan begitu detailnya. Tak dinyana, Dilla memang merasa tersaingi dengan keberadaan Henzhie yang kerap berada di dekat Riza itu.
Tak bisa dipungkiri Henzhie memang mampu mencuri perhatian siapa saja yang ada disekitarnya. Siapapun itu tak terkecuali Riza.
"Nona Dilla."
Suara berat Thomas membuat gadis itu terkesiap. Dilla mematung sejenak sebelum memutar tubuhnya perlahan ke arah suara.
"Iya, Mas. Ada apa, ya?" sahutnya pelan.
Thomas mendekat kemudian melirik sekilas ke arah Riza dan Henzhie yang terlihat sedang bersenda gurau di kejauhan.
"Bisa kita bicara sebentar Nona?" Thomas bertanya ragu.
Dilla mengangguk.
Thomas lalu memutar tubuhnya dan melangkah diikuti dengan Dilla yang sebelumnya sempat melirik sepintas ke arah Riza sebelum mengikuti langkah pria didepannya.
Kini mereka sudah duduk berhadapan di sofa maroon yang berada di ruang tamu.
Thomas menunduk sungkan sesaat sebelum memulai kalimatnya, "Maafkan sikap adik saya, Nona. Saya mengerti, nona pasti merasa terganggu dengan kedekatan mereka beberapa hari ini."
Dilla tersenyum getir.
Iya, pastilah saya terganggu, Mas. Wong Henzhie dekat begitu sama suami saya, bisik Dilla dalam hatinya kesal.
Thomas melanjutkan, "Saya akan menegur Henzhie. Nona tidak perlu khawatir."
Dilla diam dengan pandangan yang terus mengarah ke lantai dua tempat dimana Riza dan Henzhie berada. Dalam hati, ingin sekali Dilla meluapkan kekesalannya kepada Thomas yang sepertinya tidak pernah mengajarkan pada saudarinya itu bagaimana caranya bersikap didepan seorang pria beristri.
Namun, mengingat Thomas yang sudah berbaik hati menolong Dilla untuk bertemu dengan Riza, membuatnya mengurungkan emosinya kali ini.
"Iya, Mas. Nggak pa-pa. Saya ngerti, kok." Dilla kembali tersenyum paksa. "Mas tenang saja. Nggak usah khawatir."
Thomas tersenyum lega.
"Mas cuma mau bilang itu?" tanya Dilla sambil memandang ke arah Thomas.
Thomas membalas tatapan Dilla lama seolah ia ingin mengatakan sesuatu, "Hemm. Begini Nona. Sebenarnya--," ucapnya terjeda.
Hening.
Dilla menatap Thomas, menunggu kalimat Thomas selanjutnya.
"Saya minta untuk sementara ini nona jangan bertemu dulu dengan Tuan Muda."
Dilla mengernyit bingung, "Kenapa?"
"Saya tahu, Nona sudah bertemu Tuan Aldrich di kamarnya. Saya harap setelah ini, Nona tidak menemui Tuan Muda lagi terlebih selama Tuan Muda tinggal di rumah ini."
"Apa itu semua Mister yang minta?" tanya Dilla.
Thomas mengangguk. Ia terpaksa berbohong kembali kali ini.
Dilla menundukkan kepalanya, "Apa saya ini sangat mengganggu sampai membuat Mister harus berkata seperti itu?"
Thomas menggeleng cepat, "Bukan Nona. Bukan begitu. Maksud Tuan Muda-,"
Dilla memotong, "Apa salah saya, Mas?. Kenapa semua orang selalu menjauhi saya?"
Thomas masih bungkam.
"Setidaknya saya harus tahu alasannya." Tambah Dilla menekankan kalimatnya dengan suara yang mulai bergetar, menandakan hatinya benar-benar sedang terluka saat ini.
Astaga, aku harus jawab apa?. Tidak mungkin aku menceritakan yang sebenarnya pada gadis ini, bisik Thomas dalam hati saat melihat Dilla yang mulai terisak.
Sesaat kemudian Thomas mendekat kemudian menyodorkan pada Dilla sapu tangan yang barusan ia ambil dari dalam saku celana hitamnya. Namun, Dilla masih saja menangis.
Melihat Dilla yang terus menangis, dengan cepat Thomas pun berinisiatif untuk menyeka air mata Dilla dengan sapu tangan miliknya. Hingga membuat Dilla sempat tertegun.
Terlihat dari kejauhan, Henzhie memperhatikan interaksi kedua orang itu dengan seksama. Tak terkecuali Riza yang tampak berdiri tepat di samping Henzhie, turut menatap ke arah istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sebuah perasaan aneh menggelitik dada Riza. Entah mengapa, ia merasa seolah seseorang akan mencuri miliknya saat melihat kedekatan Thomas dan Dilla.
"Aku tidak menyangka ternyata mereka berdua sudah sedekat itu," ucap Henzhie sedikit menoleh ke arah Riza.
Riza diam, ia pun berusaha keras untuk tak mengacuhkan perasaan aneh yang tengah ia rasakan, akan tetapi ia tampak kesulitan untuk tidak menunjukkan kegelisahannya kali ini.
Perlahan ia pun mulai melangkah ke arah Thomas dan Dilla tepat saat Thomas menepuk bahu Dilla untuk meredakan kesedihan gadis didepannya.
"Riza!!!. Riza!!!. Kamu mau kemana?" panggil Henzhie sambil turut mengikuti langkah Riza menuruni anak tangga.
Riza tak bergeming. Manik mata hitamnya terus saja menatap Dilla dan Thomas. Sesuatu yang kuat seolah menarik tubuhnya untuk terus mendekat ke arah Dilla.
Hingga akhirnya langkahnya berhenti tepat dibelakang Thomas.
Dengan kasar, Riza menyingkirkan tangan Thomas dari bahu istrinya hingga membuat Thomas kaget seketika. Setelah itu Riza menatap Thomas dengan tajam. Tatapan yang menyiratkan agar Thomas segera menjauhi istrinya saat itu juga.
Menyadari keberadaan Riza, Dilla pun segera bangkit dari duduknya kemudian mendekat ke arah Riza sebelum sempat menyeka air matanya terlebih dahulu.
"Ada apa Mas?. Mas perlu sesuatu?"
Riza masih menatap Thomas dengan tajam.
Dilla pun segera meraih lengan suaminya kemudian menggenggam erat punggung tangan Riza.
"Mas kenapa?. Ada yang sakit?" tanya Dilla lembut sambil menatap wajah suaminya.
Riza menggeleng.
"Are you okay, Riza?" tanya Henzhie.
Dilla menatap Henzhie dengan tatapan tidak suka.
Menyadari ketidaknyamanan di wajah Dilla, dengan cepat Thomas menarik lengan Henzhie yang terlihat berusaha untuk mendekat ke arah Riza.
"Ikut denganku," tegas Thomas sambil menarik lengan Henzhie menjauh dari Dilla dan Riza.
Sesaat berikutnya, Riza terlihat menatap wajah Dilla lama. Tatapan yang seketika menggetarkan hati gadis yang ada didepannya.
"Kenapa Mas?" tanya Dilla lagi.
"A-a-aku," jawab Riza terbata sambil tetap menatap Dilla lekat.
Dilla mengernyit, "Ya sudah, Mas duduk dulu."
Dilla pun segera mendudukkan Riza di sofa. Riza tampak terus memandangi wajah gadis didepannya. Hingga membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
"Ehm, Ehm. Mas tunggu disini dulu, ya. Saya mau ambil teh hangat untuk Mas."
Baru selangkah Dilla beranjak, Riza menahan lengan Dilla kemudian menariknya cepat hingga membuat Dilla kembali duduk di sofa bersebelahan dengannya.
Dilla menunduk dengan pipi yang sudah merona. Ia tampak tersipu malu ketika menatap wajah Riza dengan begitu dekat.
Tiba-tiba Riza menyandarkan kepala Dilla di bahunya. Kehangatan menjalari hatinya seketika.
Dilla merangkul Riza ragu dengan nafas yang tertahan. Takut kalau Riza akan menolaknya lagi. Namun, anehnya Riza tidak menolaknya kali ini. Hal yang sungguh membuat hati gadis itu sangat bahagia. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar hembusan nafas dan detak jantung suaminya dari dekat seperti ini.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Riza dan Dilla, terlihat Aldrich tak kuasa menahan air matanya.
"Melihat mereka, kenapa rasanya sakit seperti ini?," ujarnya sambil meremas dada sebelah kirinya.
Aldrich pun segera berbalik. Membiarkan Dilla dan Riza menikmati kebersamaan mereka berdua.