
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Aldrich pada Thomas sesaat setelah mereka keluar dari bunker.
Thomas tampak berpikir, sementara Aldrich sibuk memperhatikan rumah Thomas yang sudah berantakan karena sempat diamuk oleh Adam dan anak buahnya.
Terlebih Aldrich terkejut bukan main saat ia melihat mobil Thomas sudah dirusak oleh Ayahnya. Padahal itu merupakan satu-satunya transportasi mereka untuk melarikan diri dari sana.
"Tega sekali ayahku melakukan ini," lirih Aldrich yang diikuti langkah kaki Thomas dari belakang.
Thomas yang melihat itu tampak sedih sebab benda didepannya merupakan salah satu mobil peninggalan ayahnya sebelum wafat. Thomas hanya bisa memungut puing-puing mobilnya dengan perasaan sedih bercampur marah.
Sementara Aldrich, ia hanya berani melihat raut wajah Thomas dari kejauhan. Disaat seperti ini Aldrich memilih diam dan tidak berkata apapun, sebab ia takut jikalau Thomas akan mengamuk padanya dan melampiaskan kekesalannya atau parahnya lagi Thomas bisa saja melenyapkan Aldrich saat itu juga.
Yang bisa Aldrich lakukan hanya berdiri di sudut ruangan tanpa suara apapun. Aldrich tampak sangat bersalah pada Thomas.
Tak lama Thomas pun berlalu dari sana tanpa menghiraukan Aldrich yang terus saja meminta maaf padanya.
Thomas meraih gagang telepon didekat nakas, ia mencoba menghubungi seseorang. Namun, ternyata telepon tidak tersambung sebab telah dirusak oleh Adam.
Melihat itu Thomas pun kesal dan membanting telepon didepannya ke lantai hingga membuat Aldrich bergidik ketakutan di sudut ruangan.
...****************...
Ditempat lain, Nana pulang ke rumahnya dan langsung menemui ayahnya di ruang kerja sang ayah.
Tanpa mengetuk pintu, Nana langsung berkata, "Nana mau bicara sama ayah. Penting."
Ayah Nana menoleh dan menatap Nana tajam, "Kamu tidak lihat ayah sedang ada tamu. Nanti saja kamu bicaranya."
Nana melihat sekilas ke arah tamu ayahnya yang tak lain dan tak bukan adalah Dirwan.
Nana memanggil kembali ingatannya. Gadis itu merasa pernah melihat pria paruh baya itu di suatu tempat, tapi ia tidak ingat pernah melihatnya dimana.
Sama halnya dengan Dirwan, ayah Riza itu pun merasa pernah melihat puteri koleganya itu. Namun, sama halnya dengan Nana, Dirwan juga tidak ingat pernah melihat gadis itu dimana.
Ayah Nana kemudian melanjutkan obrolan mereka kembali sesaat setelah Nana pergi dari sana.
Dikamar, Nana memandang foto Bayu dengan pilu. Ingatan puluhan tahun silam itu pun kembali muncul.
Flashback
"Eh, anak Jenderal tuh. Kita kerjain yuk," ucap seorang gadis remaja pada temannya.
Sekelompok remaja itu pun langsung mendekati Nana yang tengah berjalan di koridor lalu mengepungnya dan membawanya ke belakang sekolah.
Nana yang seorang diri, tak kuasa melawan sekelompok remaja yang membully dirinya disana. Alhasil Nana pun hanya bisa menangis dan memohon untuk dilepaskan.
"Sini duit Lo!!"
Remaja berambut sebahu itu pun menarik paksa uang yang ada di saku kemeja Nana. Mereka menarik kasar rambut gadis itu seraya berkata, "Duit Lo cuma segini?, hah?!"
"Ampun kak. Hiks..hiks," tangis Nana.
"Miskin," sahut remaja satunya.
Sekelompok remaja itu pun menertawakan Nana.
Hingga salah seorang remaja yang ada disana mencetuskan untuk menyuruh Nana membuka pakaiannya. Dengan iming-iming jika Nana mau melakukannya, mereka tidak akan menganiaya dan membully Nana lagi.
Dan beberapa remaja lainnya sudah siap dengan handphone ditangan mereka untuk merekam Nana, dimana nantinya hasil rekaman itu akan digunakan untuk memeras Nana agar Nana mau memberikan mereka uang.
Awalnya Nana menolak, tapi sekelompok remaja itu justru semakin menganiaya dirinya tanpa ampun. Hingga akhirnya Nana pun akhirnya menyerah dan mengiyakan. Namun, tepat saat ia akan membuka kancing kemejanya satu persatu, sebuah tangan kekar menghentikan Nana.
Flashback end