My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/70



Desa


Tak terasa teriknya matahari berganti dengan gelapnya kesunyian malam. Iringan suara jangkrik yang saling bersahutan, menemani langkah kaki sepasang suami istri yang sedang berjalan bersisian menyusuri jalanan berbatu kerikil di bawahnya. Hembusan udara dingin menyapa kulit mereka. Sayup-sayup terdengar suara benturan kerikil yang saling bergesekan antar satu sama lain.


Pasangan itu memeluk tubuh mereka masing-masing. Berusaha menghalau rasa dingin yang tiba-tiba menyergap hingga ke ubun-ubun. Niat mereka untuk melihat suasana desa saat malam itu pun harus gagal dikarenakan langit malam sepertinya akan menumpahkan butiran-butiran bening dengan derasnya.


Petir mulai menggelegar. Diikuti kilatan cahaya yang muncul sepersekian detik setelahnya. Membuat gadis berbalut jaket merah muda itu menghentikan langkahnya. Tangannya mengepal dan matanya terpejam ketakutan setiap kali fenomena alam itu mencapai inderanya.


Saat menyadari raut ketakutan di sana, tanpa diperintah Riza segera menautkan jemari hangatnya. Menerobos masuk ke dalam sela-sela jemari istrinya itu dengan perlahan. Meremas kuat jemari lentik yang dirasanya sudah mulai membeku.


Dilla membuka matanya. Memunculkan keterkejutan di sana. Gerakan tiba-tiba Riza selalu saja mampu membuat jantungnya melompat. Samar-samar wajah suaminya itu tampak dalam temaram.


Riza menengadahkan tangannya dan merasakan butiran-butiran bening mulai jatuh menyentuh kulit tangannya. Ia pun semakin mengeratkan genggamannya. Menarik Dilla berlari menerobos hujan yang mulai turun semakin deras membasahi tubuh mereka.


Lari mereka terhenti tepat di depan sebuah gubuk kecil. Dengan bibir yang mulai membiru, Dilla memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, berusaha menghadang rasa dingin yang menerpa.


Riza mendudukkan Dilla perlahan seraya memperhatikan wajah istrinya yang tampak pucat pasi. Dengan segera, ia menyampirkan jaket yang di pakainya ke bahu kecil istrinya. Lagi-lagi, petir dan kilat menyambar. Membuat Dilla segera berhambur ke dalam pelukan Riza seraya berteriak kencang.


Riza menepuk-nepuk pelan punggung Dilla untuk menenangkannya, “Jangan takut. Tenanglah,” ucapnya lirih.


Setengah jam berlalu, kedua insan itu masih larut dalam kebisuan. Duduk bersandar sambil sesekali melemparkan tatapan canggung satu sama lain. Menanti hujan deras itu segera mereda. Beberapa saat berlalu, Riza akhirnya membuka suara dengan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


“Desa ini sangat indah. Sejuk, tenang dan damai. Tidak seperti di kota.” Riza melengkungkan senyuman di bibirnya.


Dilla tersenyum bangga, “Iya, dong.”


“Ngomong-ngomong, apa kamu dekat dengan gadis yang bernama Kia?”


Dilla diam dan berpikir sejenak. Mengarahkan pandangannya sekilas ke arah langit, "Hmm." Kemudian menoleh, "Memangnya kenapa, Mas?"


"Jawab saja pertanyaanku."


Dilla tertawa lebar, "Sepertinya mas penasaran sekali. Penasaran, ya?" ejeknya seraya mengacungkan jari telunjuk ke arah Riza lalu kembali tertawa.


Riza melotot tajam, "Tidak ada yang lucu. Aku menyuruhmu untuk menjawab pertanyaanku, bukannya tertawa!. Kamu selalu saja menjadikan omonganku bahan lelucon!" Riza memalingkan wajahnya kesal lalu menggeser tubuhnya membelakangi Dilla.


Dilla memutar tubuh Riza menghadap kearahnya, "Jangan ngambek gitu, dong. Ntar hujannya makin deras, loh!" ujarnya dengan tersenyum jahil ke arah Riza.


Riza menatap Dilla tajam, "Berhenti bercanda!"


"Iya. Saya jawab. Gitu aja marah," ujarnya dengan tertawa cekikikan. "Saya ndak terlalu dekat dengan Kia. Saya hanya tahu dia itu anak perempuan Pak Witro dan adik kembarnya kak Raja. Itu saja," ujar Dilla menjelaskan.


Riza terperanjat kaget.


Apa?. Jadi, yang namanya Raja itu adalah saudara kembar Kia. Lalu ada hubungan apa antara istriku dengan Raja?


"Mas ketemu sama Kia?"


"Hemm. Aku bertemu dengan dia sewaktu aku pergi-" Riza menghentikan ucapannya. Hampir saja ia keceplosan.


"Pergi?" tanya Dilla.


Riza gelagapan, "Emm.. anu, emm pergi mencari udara segar. Iya!" ujarnya tertawa canggung ke arah Dilla.


"Oh!" sahut Dilla.


"Aku sangat kesal sekali mendengar dia menceritakan hal-hal buruk tentang kamu," sambung Riza lagi.


"Oh," sahut Dilla terlihat biasa saja.


"Apa kalian ada masalah sebelumnya?. Dari yang aku tangkap, sepertinya dia sangat tidak menyukaimu. Kenapa?" tanya Riza lagi.


Dilla menggeleng dan menaikkan kedua bahunya, "Sejak saya kenal Kia, Kia memang selalu seperti itu. Selalu menghina dan merendahkan saya setiap kali kami bertemu. Yah, saya maklum saja, Mas. Mungkin karena saya ini orang miskin. Makanya dia seperti itu." cerita Dilla berpura-pura tenang.


"Maksudnya?"


"Kia itu kan anak orang kaya dan berkuasa. Sangat berbeda sekali dengan saya yang cuma anak seorang petani miskin. Menghina dan mengolok-olok saya sudah seperti makanan sehari-hari untuk Kia. Itu hal yang biasa bagi saya, Mas." Dilla tersenyum simpul. Kesedihan terpancar jelas di wajahnya.


Riza memperhatikan mimik wajah Dilla dari dekat. Hatinya terasa perih seolah turut merasakan apa yang dirasakan oleh Dilla.


"Lalu, bagaimana dengan yang namanya Raja?. Apa dia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Kia padamu?"


Dilla menggeleng. Seketika raut wajahnya semakin bertambah sedih, "Dia berbeda. Sangat berbeda."


Riza memusatkan perhatiannya pada setiap ucapan Dilla. Rasa cemburu pun mulai menggelitiknya, saat mendengar bibir tipis Dilla bercerita tentang pria lain.


"Kak Raja itu orang yang baik, penyayang dan perhatian. Walaupun mereka kembar, tapi kak Raja sangat berbeda dari Kia," ujar Dilla dengan suara yang sedikit bergetar.


Dilla menghela nafas dalam, "Dia itu sangat istimewa. Selain wajahnya yang tampan dan sikapnya yang rendah hati. Kak Raja itu selalu melindungi kaum wanita. Tidak heran kalau hampir semua gadis di desa ini tergila-gila sama dia."


Dada Riza mulai terasa sesak. Dilla tak henti-hentinya menyebutkan satu-persatu kelebihan Raja didepannya. Seolah-olah Riza tak ada di sana. Tak ayal, hal itu membuat raut wajah Riza berubah masam.


Dilla berpikir sejenak, "Hemm. Mungkin." Dilla tersenyum simpul lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah langit, "Sepertinya hujan sudah reda, Mas. Ayo, kita pulang."


Dilla segera berjalan meninggalkan Riza. Menyisakan tanda tanya dan kecemburuan di benak suaminya itu.


-------


Jakarta


Nana memarkirkan mobilnya di depan rumah kediamannya. Ia melirik jam tangan kecil yang melingkar indah ditangannya sambil menggerutu kesal sebab lagi-lagi ia terlambat pulang ke rumah sehingga ia harus mempercepat langkahnya memasuki rumah dengan berjalan mengendap-endap.


Karena terlalu fokus dengan ketakutannya, Nana pun tidak menyadari saat sebuah tatapan tajam mengarah kepadanya sesaat setelah ia membuka pintu. Nana berlalu tanpa menoleh hingga sebuah suara berat yang terkesan garang menghentikan langkahnya.


Membuatnya menoleh ke arah datangnya suara.


“Hormat gerak!” Nana menegakkan tubuhnya dengan posisi sigap menghadap ke arah pria paruh baya di depannya.


Pras berjalan menghampiri Nana. Derap langkah kaki sang Jenderal yang mendekat


ke arahnya, membuat Nana menelan ludahnya kasar. Perlahan Nana menurunkan


tangannya dengan raut ketakutan yang tercetak jelas di wajahnya. Kepalanya


tertunduk dalam dengan mata yang membuka lebar. Pandangan matanya menatap gelisah ke arah lantai keramik rumah dinas ayahnya yang sudah di tempatinya sejak dua tahun yang lalu.


“Sudah pukul berapa sekarang?”


“Hmm.” Nana gelagapan.


“Jawab!” bentak ayahnya.


“Pukul sepuluh malam, Yah.” Nana menjawab singkat tanpa menegakkan kepalanya.


Merasa takut dengan amukan pria yang ada di depannya.


“Darimana kamu?. Kenapa jam segini baru pulang?” tanya ayahnya seraya melotot


tajam.


Nana terperanjat, Mati, gue!.Gue harus jawab apa, nih?


Nana menggigiti bibir bawahnya yang terpoles lipstik berwarna maroon itu dengan gusar. Menarik nafasnya singkat. Memikirkan jawaban apa yang harus dilontarkannya.


Untunglah ibu Nana datang di saat yang tepat. Ratna yang baru saja keluar dari kamar dengan mengenakan daster hitam favoritnya itu pun terlihat berjalan santai menghampiri anak dan suaminya yang masih berdiri tegak di dekat tangga.


Ratna merangkul lengan suaminya, “Sudahlah, Yah. Ini kan sudah malam. Toh, Nana juga kan sudah pulang. Biarkan dia istirahat dulu!” seru ibu Nana mencoba membujuk suaminya.


“Inilah akibat dari kamu yang selalu saja memanjakan dia!. Dia jadi anak yang liar dan tidak tahu aturan!” Pras melotot tajam ke arah Nana dengan tatapan murka.


Nana semakin menunduk dalam.


“Apa kamu pikir, ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan setiap malam sehabis


pulang bekerja dari kantor?. Kamu jangan coba-coba membohongi ayah!” bentak Pras. “Awas kalau sekali lagi kamu pulang larut malam seperti ini!. Ayah tidak akan segan-segan mengusir kamu dari sini!”


Nana terhenyak.


“Ayah!” seru Ratna.


Pras pun kemudian berlalu pergi sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya tanpa menoleh sedikitpun pada anak maupun istrinya. Sikap otoriternya sudah sangat mendarah daging baginya.


Ratna mendekat ke arah anaknya lalu menggeleng pelan, “Nana. Nana. Kamu itu


sudah dewasa, tapi selalu saja membuat ayahmu marah. Bisa tidak sih, sekali saja


kamu membuat ayah kamu itu senang.”


Begitulah Ratna, selalu membela anaknya di depan suaminya tapi justru memarahi Nana setelah Pras berlalu pergi. Tak ayal, hal itu membuat Pras selalu menganggap bahwa Ratna membela Nana padahal sebenarnya Ratna selalu menasehati Nana. Tidak hanya itu, Ratna bahkan tak segan-segan memarahi Nana jika Nana berbuat kesalahan.


“Aduh, bu. Ibu kayak nggak tahu sifat ayah aja. Ayah itu kan paling suka ngatur-ngatur anaknya. Harus inilah, harus itulah. Nggak boleh kayak ginilah, nggak boleh kayak gitulah. Sedih akunya tahu nggak sih, Bu. Terus-terusan diatur sama ayah. Aku kan udah dewasa. Apa aku nggak boleh nentuin jalan hidup aku sendiri?” gerutu Nana kesal.


“Sekarang juga kamu masuk ke dalam kamar dan jangan buat kegaduhan lagi. Mengerti?” suruh Ratna tegas.


“Iya!” sahut Nana cemberut.


Nana pun segera menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya. Menghempaskan dirinya ke atas ranjang. Dengan mata yang mulai memerah menahan tangis.


Kapan sih ayah bisa berubah!