My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/74



"Ah!. Akhirnya sampai juga!" ucap Riza lega. Sedikit mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Setelah melewati jembatan gantung mengerikan dan jalanan menurun bebatuan yang disertai lumpur akhirnya tibalah mereka di depan sebuah sungai jernih berarus tenang dengan batu-batuan berukuran sedang tertata rapi disekitar sungai.


Pepohonan rindang ditambah suara kicauan burung yang saling bersahutan makin melengkapi keindahan ciptaan Tuhan itu.


"Wah, baru kali ini aku melihat sungai seperti ini. Seperti keajaiban dunia saja!" seru Riza takjub dengan keajaiban alam didepannya itu.


Dilla pun menjelaskan seraya menarik Riza ke arah bebatuan yang ada di tepi sungai kemudian duduk di sana. "Indahkan, mas?. Ini itu sungai istimewa. Yang bikin istimewa itu, sungai ini punya dua suhu air yang berbeda. Yang satu dingin dan yang satunya lagi hangat. Tapi, bisa berdampingan. Mengalir deras dengan suhunya masing-masing hingga akhirnya arusnya bertemu kemudian menyatu sampai ke ujung. Hebatkan, Mas?" Dilla tersenyum sumringah.


"Iya." Riza tersenyum kecil. "Mungkin ini yang namanya sungai jodoh," canda Riza.


Dilla tertawa, "Sungai jodoh?"


"Iya, sungai jodoh. Aku akan mematenkan nama itu untuk sungai ini," jelas Riza penuh rasa bangga.


"Mas ini ada-ada saja."


Mereka pun kemudian sama-sama tertawa.


"Aku senang melihatmu tertawa seperti itu." Riza menoleh sekilas ke arah Dilla.


"Kenapa?"


"Rasanya semua bebanku sirna." Riza menghela nafas dalam. "Kamu tahu, dulunya aku berpikir kalau aku hanya hidup untuk diriku sendiri tapi sejak ada kamu, aku mulai menyadari kalau ternyata aku juga hidup untuk orang lain."


Dilla menoleh sekilas ke arah Riza kemudian memalingkan wajahnya kembali. Menatap lurus ke arah sungai.


Riza melanjutkan, "Selain aku, apa ada orang lain yang pernah kamu ajak kesini?" tanya Riza.


Dilla tampak berpikir sejenak, "Tidak. Tidak ada orang lain. Mas orang pertama yang saya ajak kesini," jawab Dilla singkat.


"Benarkah?" tanya Riza dengan mata berbinar.


"Hemm." Dilla menganggukkan kepalanya singkat dengan tersenyum simpul.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya." Riza tersenyum bahagia.


Sesaat kemudian, Riza menggeser posisi duduknya menghadap ke arah Dilla kemudian memutar tubuh gadis yang ada didepannya itu menghadap ke arahnya.


Riza menatap manik mata Dilla lekat kemudian menarik tubuh si pemilik mata indah itu mendekat padanya. Dengan jantung yang berdebar kencang, tangan kirinya merangkul pinggang kecil gadis itu dengan erat sedangkan tangan satunya menyentuh pipi gadis itu penuh kehangatan. Seketika wajah gadis itu memerah.


Perlahan Riza menutup mata lalu memajukan wajahnya dengan sedikit ragu, takut Dilla menolaknya lagi kali ini. Mata Dilla membuka lebar. Seketika ia diam mematung. Jantungnya berdebar kencang saat melihat wajah Riza yang semakin mendekat padanya.


Bagaimana ini?. Sepertinya mas Riza akan menciumku, batinnya gelisah.


Aku harus bagaimana?. Ayolah, Dilla. Apa salahnya kalau dia menciummu?. Toh, dia itukan suamimu. Beri dia kesempatan. Baiklah. Aku akan biarkan dia menciumku kali ini. Ya, kali ini saja.


Dilla memejamkan matanya dengan gelisah. Jantungnya berdebar semakin kencang saat merasakan hembusan nafas beraroma mint yang perlahan semakin mendekat padanya.


Saat bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba terdengar suara sesuatu terjatuh ke dalam air. Dilla segera membuka matanya, lalu menahan tubuh Riza.


"Suara apa itu, Mas?" tanya Dilla kemudian. "Seperti suara orang tercebur?" Dilla menoleh ke arah suara.


Dengan muka masam, Riza pun segera menegakkan posisi duduknya seperti semula. Ia mendesah berat karena keinginannya untuk mencium Dilla gagal kali ini.


Dengan cepat Dilla berdiri kemudian menarik Riza untuk bangkit. Dengan langkah malas, Riza pun mengikuti langkah Dilla.


Saat mereka mendekati sumber suara, betapa terkejutnya mereka saat mendapati Kia sudah berada di dalam air dan berteriak histeris meminta tolong. Entah bagaimana ceritanya, Kia bisa tercebur ke dalam sana.


Astaga. Gadis itu lagi!, batin Riza menatap Kia dengan wajah kesal.


Dilla mulai panik. "Mas, itu Kia. Tolongin, Mas!" suruh Dilla pada Riza. Dilla terlihat sangat panik. Namun, Riza terlihat biasa saja. Ia hanya diam di tempatnya berdiri. Memandang ke arah gadis yang sedang berteriak-teriak histeris itu dengan wajah datar. Tak berniat sedikitpun untuk menolongnya.


"Aku tidak mau!" jawab Riza lantang. "Lagipula, bukankah air di sungai ini dangkal?. Tenanglah, dia tidak mungkin mati tenggelam di sana," tambahnya dengan nada santai.


"Ya, sudah. Kalau mas tidak mau, biar saya saja yang menolong Kia." Dilla segera melangkah dan mendekat ke arah Kia. Dengan cepat, Riza mencekal lengan Dilla.


"Biar aku saja. Diam disini dan jangan bergerak!" ujarnya tegas pada Dilla kemudian ia pun segera bergerak mendekat ke arah sungai.


Riza segera mengulurkan tangannya ke arah Kia. Perlahan Kia meraih uluran tangan Riza. Sesaat kemudian, dengan sengaja Kia justru menarik tangan Riza, hingga Riza pun tercebur ke dalam sungai.


Tiba-tiba, Kia memeluk erat tubuh Riza yang sudah basah kuyup itu dengan berpura-pura ketakutan. Riza berusaha melepaskan pelukan Kia dengan sekuat tenaga. Namun, Kia justru semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Riza meradang. Alhasil, Riza pun melepaskan pelukan Kia dengan kasar hingga membuat Kia jatuh terjerembab ke dalam air.


Riza pun berlalu pergi meninggalkan Kia. Tak mempedulikan gadis itu sedikitpun. Kia terdengar kembali meminta tolong.


Saat Riza sampai di daratan, Dilla mencekal lengan kekar Riza. Menatapnya dengan tajam. "Mas, apa yang mas lakukan?. Kenapa mas malah ninggalin Kia di sana?"


Riza menatap Dilla dengan wajah kesal. Lalu menarik cepat lengan istrinya itu menjauh dari sana. "Biarkan saja gadis itu. Ayo, kita pulang!"


"Mas ini apa-apaan, sih?. Kasihan Kia, Mas. Saya ndak mau pulang. Kalau mas tidak mau menolong Kia, biar saya saja."


"Kamu lebih memikirkan gadis itu daripada aku?. Lihat, aku jadi basah kuyup seperti ini gara-gara ulahnya!" teriak Riza dengan kesal.


Dasar gadis keras kepala, batin Riza kesal.


Dilla pun segera mendekat kembali ke arah sungai untuk menolong Kia. Ia mengulurkan tangannya pada Kia. Selanjutnya, Kia meraih uluran tangan Dilla dengan raut wajah terpaksa. Dengan sekuat tenaga, Dilla menarik Kia hingga akhirnya Kia pun berhasil tiba di daratan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Dilla khawatir.


Kia menjawab dengan anggukan kepala. "Terima kasih," ujarnya lirih. Berpura-pura tersenyum ke arah Dilla.


"Iya. Sama-sama." Dilla tersenyum tulus.


Riza segera menghampiri Dilla lalu kembali menarik lengan Dilla dengan cepat, "Ayo, pulang!" ujarnya segera menjauhkan Dilla dari Kia. Namun, Dilla tidak bergeming sedikitpun. Tidak mengindahkan ajakan Riza.


"Mas ini sebenarnya kenapa, sih?. Kenapa jadi marah-marah seperti ini?" Dilla menatap Riza tajam.


"Aku bilang pulang. Ya, pulang!. Jangan membantah!" Riza terlihat sangat marah dan kesal.


Kia menatap dua insan yang tengah beradu mulut itu dengan senyum penuh kemenangan.


"Iya. Kita pasti pulang. Tapi, masa kita ninggalin Kia disini. Kasihan Kia, Mas," ujar Dilla memberi penjelasan. Mencoba mencairkan amarah Riza yang menurutnya sangat tidak jelas itu.


Tanpa disuruh, Kia menengahi, "Aku baik-baik saja. Kalian pulang saja duluan. Tenang saja, aku bisa pulang sendiri," sahutnya dengan memasang wajah berpura-pura memelas seolah minta dikasihani.


Dilla tidak mencurigai sedikitpun gerak-gerik Kia yang sedang berpura-pura didepannya itu. Berbeda halnya dengan Riza, yang dapat melihat dengan jelas sikap Kia yang sedang berpura-pura didepan mereka.


"Kamu dengar sendiri, kan. Dia baik-baik saja. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkannya. Ayo, kita pulang!" Riza kembali menarik lengan Dilla.


Dilla melepaskan pegangan tangan Riza lalu menghampiri Kia. Membuat Riza semakin kesal sebab Kia telah berhasil mengelabuhi istrinya.


"Tidak, Kia. Ayo, kita pulang sama-sama." Dilla segera memapah Kia untuk bangkit. Tiba-tiba Kia mengaduh kesakitan.


"Kenapa?" tanya Dilla khawatir.


"Kakiku sakit. Sepertinya terkilir saat aku mencoba naik bebatuan itu tadi," ujar Kia sambil berpura-pura meringis kesakitan.


Dilla terlihat semakin khawatir. "Ya ampun Kia. Kenapa bisa seperti ini?. Apa sakit sekali?"


Kia menganggukkan kepalanya.


Kia melirik sekilas ke arah Dilla dengan menyunggingkan senyum kelicikan.


Dasar rubah. Terus saja kamu berpura-pura baik. Aku tahu kalau semua kebaikanmu padaku itu palsu.


Dilla berpikir sejenak, "Ya sudah. Sini biar aku gendong." Dilla menawarkan diri untuk menggendong Kia di punggungnya.


Mendengar hal itu, Riza membelalakkan matanya kaget. Dengan cepat, Riza pun menarik tubuh Dilla.


"Kamu tidak waras?!. Punggungmu itu baru saja cedera. Kenapa justru mau menggendong dia?" sarkas Riza.


"Tidak apa-apa, Mas. Punggung saya sudah baikan, kok. Saya baik-baik saja. Ayo, Kia!" Dilla memasang kuda-kuda untuk menggendong Kia.


"Dia itu hanya berpura-pura!"


"Mas ini ngomong apa, sih?. Kalau tidak mau membantu ya sudah, lebih baik mas diam saja!" ujar Dilla dengan nada sedikit meninggi. Dilla benar-benar sudah termakan siasat Kia.


"Kenapa kamu jadi marah padaku?"


"Sudahlah, Mas."


Riza terlihat sangat kesal. Tidak habis pikir bagaimana bisa istrinya itu mau membantu orang lain padahal ia sendiri sedang cedera. Apalagi yang dibantunya merupakan gadis ular seperti Kia. Dilla pun kembali mengajukan diri untuk menggendong Kia.


Dengan cepat Riza mencegah Dilla, "Minggir!. Biar aku saja yang menggendongnya," tawar Riza dengan wajah sangat kesal.


"Naik!" suruhnya pada Kia dengan nada sangat kasar seraya menyiapkan kuda-kuda untuk menggendong Kia di punggungnya.


Tanpa ragu, Kia pun segera naik ke punggung Riza. Tanpa rasa malu sedikitpun, Kia bergelayutan manja sesaat setelah naik ke punggung Riza. Samar-samar Kia dapat mencium aroma parfum Riza saat mendekatkan wajahnya mengendus leher pria didepannya itu. Membuat Riza sangat risih.


"Jauhkan wajahmu dan berhentilah berpura-pura. Aku tahu ini hanya akal-akalan mu saja agar aku dan istriku bertengkar," sinis Riza lirih.


Kia tak bergeming. Ia justru menyunggingkan senyum liciknya, "Asal dokter tahu. Saya tidak berpura-pura. Istri dokter saja yang sok baik sama saya. Dia itulah yang berpura-pura," sahut Kia lirih dari belakang. Mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Riza. Membuat Riza semakin risih.


"Segera hentikan sikap kurang ajarmu itu atau aku akan menurunkanmu sekarang juga!" ancam Riza.


"Oke. Oke," sahut Kia seraya tertawa keras dengan maksud agar didengar oleh Dilla di belakang.


Sesaat kemudian, Kia pun menghentikan tingkahnya lalu menyandarkan kepalanya di punggung Riza.


Aku tidak menyangka, punggung pria ini terasa sangat hangat dan menenangkan. Aku suka. Aku yakin, gadis tidak tahu diri itu pasti sangat kesal saat melihatku begitu dekat dengan suaminya. Rasakan!.


Sementara itu, dari kejauhan Dilla terus saja memperhatikan interaksi mereka berdua dari belakang dengan sorot mata tajam. Rencana Kia untuk membuat Dilla kesal tampak berjalan dengan sukses sebab saat ini wajah gadis itu terlihat sangat cemberut dengan sorot mata tajam dan bibir yang mengerucut saat melihat dua orang didepannya terlihat sangat akrab. Perasaan aneh mulai menggelitik dadanya.


"Dasar laki-laki!. Awalnya aja marah terus nolak tapi ujung-ujungnya terlihat sangat menikmati. Bahkan dia lupa kalau istrinya ada di sini. Menyebalkan!" gumam Dilla kesal.