My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/36



"Riza awaaasssss!!!!!" teriak Andyra.


Pooommmmmm.....


Suara klakson panjang terdengar dari truk yang ada di depan mereka. Sontak Riza pun membanting setirnya ke kiri.


"Aaaaaaaa....!!!" Andyra menjerit sekuat tenaga.


Ciiiiittttttttt......


Suara ban mobil yang tengah beradu dengan aspal terdengar berdecit sangat kuat. Riza berusaha menginjak dalam pedal rem untuk menghentikan laju mobil.


Mobil pun berputar di tengah jalan. Sekuat tenaga Riza menarik tuas rem yang ada di sisi kirinya. Sedikit demi sedikit putaran mobil pun terlihat mulai melambat.


Mobil akhirnya dapat berhenti tepat sebelum menghantam trotoar.


Beruntung Andyra dan Riza mengenakan sabuk pengaman mereka dengan benar. Jika tidak, sudah pasti mereka akan terlempar tidak karuan di dalam mobil disebabkan putaran mobil yang cukup kencang.


Kepala dan dada Riza membentur kemudi dengan kuat. Sontak ia menarik tubuhnya menjauh. Tangan dan dadanya terasa nyeri. Kepalanya sedikit pusing dan nafasnya terengah-engah. Perlahan ia melepaskan sabuk pengamannya.


Sementara Andyra, ia terlihat diam membisu. Matanya terbuka lebar dan nafasnya tersengal. Dadanya bergerak naik turun tak beraturan. Ia ketakutan luar biasa.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Riza saat melihat ke arah Andyra.


Riza membuka sabuk pengaman Andyra lalu menyentuh bahu Andyra pelan mencoba menyadarkannya.


Andyra tidak menjawab. Ia masih terpaku. Riza memeriksa nadi Andyra. Nadi Andyra berdetak tak beraturan. Andyra mengalami syok berat.


Melihat kondisi Andyra yang seperti itu, seketika Riza menarik Andyra ke dalam pelukannya. Riza mencoba menenangkan Andyra.


"Tenanglah Andyra. Kamu tenanglah. Ada aku disini." Riza menepuk-nepuk punggung Andyra.


Terdengar Andyra menangis dalam pelukan Riza. Riza terus menerus menepuk punggung Andyra. Masih mencoba menenangkannya.


Setelah Andyra cukup tenang Riza menyudahi pelukannya.


"Kamu baik-baik saja?" Riza menatap tajam manik mata Andyra.


"Apa perlu kita ke rumah sakit?" lanjutnya.


"A-a-aku ba-baik-baik saja!" jawabnya terbata.


Riza akhirnya dapat bernafas lega.


tok...


tok...


Seorang polisi terlihat mengetuk kaca mobil mereka. Riza segera turun dan menghampiri polisi tersebut. Polisi menanyakan bagaimana keadaan Riza. Setelah itu, polisi pun mengajak Riza untuk ikut ke kantor polisi sebab mobil yang dikendarai olehnya telah menyebabkan kemacetan di beberapa ruas jalan.


Terpaksa mereka harus ikut bersama polisi ke kantor polisi terdekat untuk memberikan keterangan.


--------


Dilla tiba di rumah Riza ketika hari sudah hampir gelap. Kemacetan Jakarta hari ini sungguh parah. Sehingga memakan waktu cukup lama untuknya tiba di rumah Riza.


Dilla memasuki rumah dengan menggunakan kunci duplikat miliknya. Rumah tampak sunyi.


"Mungkin mas Riza belum pulang!" pikirnya.


Dilla kemudian melepaskan sling bag mini yang sedari tadi dikenakannya. Karena perutnya terasa lapar. Ia pergi menuju lemari dapur untuk melihat apakah ada makanan yang bisa dimakan. Tenyata lemari makanan kosong.


Ia kemudian membuka kulkas. Ternyata bahan makanan yang ada di kulkas juga sudah habis. Hanya tersisa beberapa butir telur saja.


Ia pun menggoreng beberapa butir telur sebagai pengganjal perut.


Saat membersihkan dapur, Dilla sedikit kaget melihat banyaknya sampah plastik bekas mie instan teronggok didalam keranjang sampah.


"Kasihan sekali mas Riza!" batinnya.


Selama kepergian Dilla, entah mengapa Riza sangat malas untuk memasak makanannya sendiri. Alhasil, ia hanya memakan mie instan setiap harinya.


Selanjutnya, Dilla pun memutuskan memasak makan malam seadanya untuk Riza dengan bermodalkan beberapa butir telur yang masih tersisa.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun, Riza belum juga pulang.


Dilla berniat ingin menghubungi Riza. Ia kemudian mencari-cari ponsel di dalam tasnya. Namun, tidak ketemu.


"Ponselku dimana ya?"


Dilla menautkan alisnya mencoba mengingat dimana ia menaruh ponselnya. Dilla menaruh jari telunjuknya di kening. Ia tampak berpikir.


Setelah sekian lama berpikir, ternyata Dilla tidak juga kunjung mengingat dimana ponselnya.


Alhasil, Dilla hanya duduk manis di sofa. Menunggu sambil menonton acara televisi di ruang tamu.


Dilla pun melakukan sederet kegiatan unfaedah untuk mengusir kebosanannya.


Menggonta-ganti siaran televisi. Menggeliatkan tubuhnya di sofa kesana kemari.


Melihat ke arah pintu berkali-kali. Mondar-mandir kesana dan kesini.


Benar kata orang, menunggu saja sudah begitu membosankan apalagi menanti.


Tak lama pintu terdengar terbuka dari luar. Dilla langsung berlari menuju pintu.


"Mas Niko?" Dilla terlihat kaget.


"Nah loh. Ternyata loe bener-bener disini!" sambut Niko.


Dilla celingukan melihat ke belakang Niko.


"Mas Riza mana mas?" tanya Dilla khawatir.


"Loe kemana aja?. Si Riza hampir gila nyariin loe!" ujar Niko.


"Mas Riza mana mas?" tanya Dilla kembali.


"Riza lagi di kantor polisi!" jawab Niko sambil berjalan menuju sofa.


"Hah??!" Dilla kaget bukan kepalang.


"Mas Riza kenapa, Mas?" Dilla mulai cemas.


"Dia kagak kenapa-napa. Cuma lagi diperiksa aja. Soalnya tadi dia hampir kecelakaan di jalan." Niko menyandarkan tubuhnya di sofa.


Dilla membulatkan matanya kaget.


"Pertanda itu benar!" batin Dilla.


"Ayo mas, kita ke kantor polisi sekarang." Dilla menarik paksa lengan Niko.


Dilla menoleh kebelakang.


"Riza bilang loe cukup diem di rumah ini aja. Jangan kemana-mana. Tunggu sampai si Riza dateng. Gue cuma di suruh Riza jagain loe di sini."


"Ayo mas, kita ke kantor polisi!" paksa Dilla.


"Udah. Loe diem aja sama gue di sini. Nurut sama gue kenapa sih, bandel amat loe!"


"Riza pasti baik-baik aja. Percaya deh sama gue!" lanjut Niko.


Dilla akhirnya menurut dan menunggu kepulangan Riza di rumah bersama dengan Niko.


------


"Hasil tes memang menunjukkan bahwa bapak sedang tidak berada dibawah pengaruh alkohol. Namun, SIM bapak tetap akan kami tilang sebagai sanksi karena bapak telah mengemudi melebihi batas kecepatan maksimal."


"Bapak dapat menebus SIM tersebut dua minggu kemudian."


Riza membuang nafasnya kasar.


"Apa saya sudah boleh pulang sekarang, pak?" tanya Riza.


"Oh, sudah pak. Silahkan."


"Terima kasih bapak Riza Rifky atas kerjasama anda." Tangan polisi terulur.


"Sama-sama pak. Terima kasih!" ucap Riza menyambut uluran tangan polisi yang ada dihadapannya.


Riza menghampiri Andyra yang menunggu di ruang tunggu kantor polisi.


"Ayo!"


Andyra mengikuti langkah Riza dari belakang.


"Apa kata polisi di dalam?" tanya Andyra penasaran.


Riza menyerahkan kunci mobil pada pemiliknya.


"Kamu tunggu sebentar, biar aku pesan taksi dulu."


"Buat apa naik taksi?"


"Aku tidak mungkin menyuruhmu mengendarai mobil dengan keadaan seperti ini."


Andyra menautkan kedua alisnya, "Maksudnya?"


"SIM ku ditahan pihak kepolisian."


"Ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar melihat wajah istriku!" sambung Riza tersenyum sambil memainkan ponselnya hendak memesan taksi.


"Batalkan pesananmu sekarang. Kita naik mobilku saja."


Riza terdiam.


"Jam segini sulit memesan taksi. Bukankah kamu sudah sangat merindukan istrimu?"


"Aku akan mengantarmu dengan selamat sampai ke rumah. Jangan khawatir. Aku tidak akan kebut-kebutan dan menyebabkan SIM ku ditilang polisi!" cibir Andyra.


Andyra dan Riza sama-sama tertawa.


Andyra membuka pintu mobil bersamaan dengan Riza. Mobil pun melaju menembus malam ibukota.


-------


Jam tangan Niko menunjukkan pukul sepuluh malam. Niko melihat sekilas ke arah Dilla yang tengah tertidur pulas di sofa.


Berkali-kali Niko melihat ke arah pintu. Menunggu kepulangan Riza.


Mobil Andyra akhirnya tiba di depan rumah Riza. Riza mengucapkan terima kasih pada Andyra karena telah mengantarkannya pulang.


Riza menawarkan Andyra untuk menginap di rumahnya karena hari sudah larut malam dan mengingat kondisi Andyra yang masih syok karena insiden tadi sore. Namun, Andyra menolak halus ajakan Riza. Riza pun mengangguk mengerti.


Niko mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Ia langsung berjalan menuju pintu.


Pintu pun terbuka.


"Ya ampun bro. Akhirnya loe pulang juga. Loe kagak di apa-apain polisi kan?" Niko memeluk sepupunya itu erat.


Riza menggeleng pelan.


"Dilla mana?" tanyanya.


Niko menunjuk ke arah sofa panjang yang ada di ruang tamu.


Riza langsung berjalan perlahan menuju sofa. Jantungnya berpacu seirama dengan langkah kakinya.


Terlihat Dilla meringkuk mendekap tubuhnya. Perlahan Riza mendekat. Ia berlutut menatap wajah Dilla dengan jarak yang sangat dekat.


Riza menyingkirkan beberapa helai rambut yang terjuntai menutupi wajah Dilla. Ia memandang paras ayu Dilla yang sedang tertidur pulas itu dalam diamnya.


Saat ia hendak membelai lembut wajah Dilla, Niko terdengar berdehem keras. Seketika Riza menghentikan gerakan tangannya.


"Bro, gue pulang ya!" teriak Niko.


Riza berdiri menghampiri Niko.


"Terima kasih sudah menjaga istriku!" ucap Riza.


Niko merinding mendengarkan kata-kata "istri" keluar dari mulut Riza. Ia sedikit terkekeh pelan.


"Oke bro. Sama-sama. Bye!" Niko berlalu pergi meninggalkan Riza.


Riza mengunci pintu kemudian menggendong Dilla menaiki tangga ala bride style menuju ke arah kamar.


Riza membaringkan tubuh mungil Dilla di atas ranjang. Menempatkan sebuah bantal di kepala Dilla dan menyelimutinya.


Kemudian ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama ia pun keluar dan langsung berbaring di samping Dilla. Ia membalikkan tubuh Dilla menghadap dirinya.


Bola matanya bergerak- gerak memperhatikan setiap detail wajah Dilla. Memastikan bahwa yang ada di depan matanya saat ini adalah benar istrinya.


Riza mendekap tubuh mungil Dilla. Tanpa sadar Dilla pun membalas dekapannya dengan menggelayuti dada bidang Riza. Wajah Dilla tenggelam di sana. Meskipun dada Riza terasa sedikit nyeri akibat benturan keras yang dialaminya tadi sore tetapi ia tidak peduli.


Riza justru semakin mempererat dekapannya dan melupakan rasa sakitnya. Ia menikmati aroma tubuh istrinya lekat.


"Selamat malam istriku!" gumamnya.


Riza mencium puncak kepala istrinya kemudian memejamkan matanya perlahan. Ia pun terlelap.


Hal-hal buruk yang menimpa Riza seharian ini pun telah tergantikan dengan keberadaan Dilla di dalam pelukannya.