
Keesokan paginya, Nana mengerjapkan matanya berulang kali untuk memulihkan kesadarannya sepenuhnya. Nana sangat kaget, saat mendapati dimana dirinya berada saat ini.
Matanya langsung membuka sempurna akibat rasa kagetnya. Jantungnya nyaris melompat, saat matanya melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan waktu pagi hari.
"Gue dimana?. Ngapain gue disini?" tanyanya bingung.
Nana segera mengintip selimut yang membalut tubuhnya, memastikan apakah ia masih berpakaian lengkap atau tidak. Setelah memastikan semua pakaian masih melekat di tubuhnya seketika ia bernafas lega.
Sesaat kemudian, Nana memicingkan matanya saat mendapati sebuah memo yang teronggok di atas nakas. Tangan Nana segera menarik memo yang menyelip dibawah sebuah majalah itu.
Tulisan tangan seseorang terukir di sana.
Gue balik duluan. Loe istirahat aja disini sepuas loe. Kalau loe udah baikan, loe boleh pergi dari sini kapan aja loe mau. Gue kasih izin buat loe nggak masuk kerja hari ini. By: Niko.
Beberapa jam yang lalu...
Setelah kehebohan yang dibuat Nana pasca Niko membawa Nana ke rumah sakit tadi malam. Niko pun segera membawa Nana yang masih terisak lirih itu masuk ke sebuah kamar hotel. Dengan maksud agar Nana dapat beristirahat dengan tenang di sana.
Awalnya ia berniat memulangkan Nana ke rumahnya, tapi mengingat bagaimana garangnya ayah Nana apalagi ditambah dengan kondisi wajah Nana yang memar seperti itu, membuat Niko langsung mengurungkan niatnya. Lebih baik ia menghindar dari pada nyawanya melayang begitu saja. Niko masih belum mau mati muda.
Akhirnya berakhirlah Nana, seperti sekarang ini.
***
Nana terlihat tersenyum tipis sesaat setelah membaca secarik memo dari Niko. Ia tidak menyangka pria yang sering disebutnya gila itu, ternyata memiliki hati yang baik.
Karena masih mengantuk, Nana pun memutuskan kembali tidur meskipun kini perutnya sudah keroncongan.
Nana tampak bangkit kembali saat mendengar suara dering ponselnya. Ia pun segera meraih ponsel, matanya mendelik saat melihat nama ayahnya muncul di layar.
Ya, ampun gue lupa. Ayah pasti mau ngamuk gara-gara gue nggak pulang semaleman. Aduh, gimana, nih?.
Nana menggigiti kuku jarinya dengan raut bingung bercampur kalut. Takut menjawab panggilan sang ayah.
Dering ponsel berhenti sejenak, lalu menyala kembali. Nana semakin bertambah gusar. Ia mencoba mengatur nafasnya teratur sebelum menjawab panggilan ayahnya.
"Iya, Ayah."
"Nana, kamu dimana?. Kamu tahu sekarang sudah jam berapa?"
"Eh, a-a-anu yah. Sebentar lagi Nana pulang,kok," jawabnya tergagap.
"Memangnya ada pekerjaan apa?. Sampai-sampai kamu harus lembur di kantor seperti ini. Hah?!"
Hah?!, Lembur?, pekik Nana bingung dalam hatinya.
"Jawab?!"
Nana terperanjat, "I-i-itu, Yah. E-e-em...."
"Itu-itu apa?. Kenapa kamu bicara gagap seperti itu?. Kamu jangan coba-coba berbohong ya sama ayah."
"Enggak kok, Yah. Mana berani Nana bohongin ayah."
"Ya, sudah. Kalau begitu, nanti sewaktu pulang, kamu ajak bos kamu si Niko itu ke rumah. Ayah mau bicara sama dia."
****** gue, Ayah mau bicara apaan sama tuh cowok stres. Gawat!
"Ayah mau ngomongin apa sama bos Niko?"
"Laksanakan saja perintah ayah. Tidak perlu banyak bertanya."
Nana pun mulai memutar otaknya untuk mencari alasan. "Bukan begitu, Yah. Bos Niko kan lagi sibuk. Jadi, kemungkinan nggak bisa ikut Nana ke rumah...."
"Kalau begitu, biar ayah yang ngomong sendiri sama dia. Mana dia?. Apa dia pikir ayah ini tidak sibuk, apa?"
Nana terdiam. Cepat-cepat ia kembali mencari alasan.
"Ehm, itu, Yah. Maksud Nana, bos Niko lagi keluar, Yah. Nemuin klien. Gini aja, ayah tenang aja. Biar Nana yang ngomong sama bos Niko ya, Yah. Dah, Ayah." Nana langsung mengakhiri panggilannya sesegera mungkin. Takut kalau ayahnya akan bertanya lebih banyak lagi.
--------
Sementara itu, di tempat berbeda. Dilla sedang bersama dengan suami tercintanya di dalam mobil. Sesekali Riza melirik ke arah Dilla yang terlihat cemberut kesal.
"Kamu masih marah?" tanya Riza dari depan kemudinya.
"Iya," jawab Dilla singkat dengan bibir manyunnya bahkan ia tidak menatap suaminya saat berbicara.
"Aku minta maaf ya, istriku sayang. Tadi malam aku benar-benar tidak sengaja. Aku sangat mengantuk jadinya aku ketiduran tanpa menunggu kamu. Maaf, ya sayangku." Riza menjulurkan tangannya membelai rambut samping istrinya.
"Ndak usah pegang-pegang," Dilla menepis tangan Riza dari kepalanya.
Riza pun menggelitik pinggang Dilla berusaha untuk membuatnya tertawa. Namun, semua hal itu belum juga bisa merubah raut wajah kesal Dilla padanya. Raut wajah kesal yang membuat Riza semakin merasa bersalah.
Sesaat kemudian, mobil berhenti tepat di depan kampus. Dilla segera turun sesaat setelah mencium punggung tangan Riza. Dilla berlalu tanpa berkata sepatah katapun pada suaminya. Riza hanya menghembuskan nafas berat saat melihat punggung kecil istrinya itu menjauh memasuki gerbang kampus.
Setibanya di dalam kelas, Dilla segera menghampiri Kiki dengan senyum sumringah. Aktingnya untuk mengerjai Riza yang sedang berulang tahun hari ini ternyata berjalan dengan sukses dan lancar.
Kekesalan Dilla hanyalah pura-pura semata karena sebenarnya ia bermaksud untuk memberikan kejutan ulang tahun pada Riza, lagi pula mana mungkin ia marah hanya gara-gara Riza yang tidak memenuhi janjinya untuk kembali mengulang malam romantis mereka. Meskipun sebenarnya Dilla memang sempat kesal akan hal itu.
Sesaat setelah duduk di bangkunya, Dilla pun segera menarik ponsel dari dalam tasnya lalu menelepon Niko. Panggilan pun tersambung.
"Halo, Mas Niko."
"Iya. Halo, Dilla. Kenapa?"
"Beneran?. Wah, kebetulan banget, tuh. Riza pasti seneng. Soalnya, seumur-umur dia itu nggak pernah ngerayain ulang tahunnya."
"Aneh. Masa sih, Mas?."
"Iya, beneran."
"Kenapa gitu?"
"Gue sih nggak tau pastinya kenapa. Cuma yang gue tau, orang tuanya selalu ngelarang dia buat ngerayain ulang tahunnya. Gue juga bingung kenapa."
"Saya jadi ragu, Mas. Apa sebaiknya kita batalin aja ya rencana pesta ulang tahunnya?"
"Eh, jangan. Lo kan istrinya, pasti Riza bakalan seneng banget kalau ulang tahunnya lo rayain."
"Mas yakin?"
"Gue yakin. Udah gini aja. Lo nggak perlu mikirin itu. Lebih baik, sekarang lo siapin aja semuanya. Nanti sore gue pasti dateng ke rumah. Oke?"
"Baik, Mas. Sampai ketemu nanti sore ya, Mas Niko."
"Oke."
Panggilan pun berakhir. Dilla terlihat menjadi ragu dan bimbang karena kata-kata Niko barusan. Kata-kata yang sangat mengganggu pikirannya. Dilla pun terus bergulat dengan pikirannya antara melanjutkan rencananya atau tidak.
"Kenapa, Dilla?" tanya Kiki saat melihat raut aneh di wajah Dilla.
Dilla pun menceritakan pasal kebimbangannya untuk merayakan pesta ulang tahun Riza. Kiki menyarankan agar Dilla tetap menjalankan rencananya sebab hal itu pasti akan membuat Riza bahagia.
"Siapa sih yang nggak seneng dikasih kejutan. Apa lagi kejutannya dipersiapkan sama istri sendiri, pasti Mas Riza seneng banget," tambah Kiki.
Dilla hanya tersenyum tipis. Perasaannya mulai tidak enak, tapi saat ia memikirkan bagaimana raut bahagia di wajah Riza nantinya, membuat Dilla akhirnya mau melanjutkan rencananya.
Selanjutnya, Dilla pun mengajak Kiki untuk datang merayakan ulang tahun Riza. Tentu saja Kiki senang bukan kepalang sebab ia akan bersama-sama merayakan ulang tahun penulis favoritnya bahkan Kiki sudah menyiapkan kado untuk Riza. Kiki yang notabene fans berat Riza pastinya sudah tahu kapan ulang tahun idolanya tersebut.
Dilla pun akhirnya tersenyum lebar saat mendengar celotehan Kiki yang tampak meluapkan rasa gembiranya pasal Riza seketika Dilla melupakan kata-kata aneh yang dilontarkan Niko tadi. Setelah itu, mereka pun kembali melanjutkan kegiatan perkuliahannya pagi ini.
-------
Beralih ke rumah sakit. Riza tampak sedang menghadiri rapat dengan para kepala departemen dan kepala bagian rumah sakit untuk membahas mengenai rencana perayaan ulang tahun Rumah Sakit yang sebentar lagi akan tiba. Selain perayaan ulang tahun, acara ini juga akan menjadi momen untuk mempererat silaturahmi antar sesama karyawan.
Riza mendengarkan semua saran dan pendapat yang tercetus dari para bawahannya itu dengan seksama. Hingga akhirnya, diputuskanlah bahwa mereka akan berlibur dan menginap selama dua hari dua malam di sebuah hotel yang ada di kota Surabaya.
Riza juga menyuruh kepada para kepala bagiannya, untuk memberikan bonus kepada karyawan dan staf yang tidak bisa ikut serta karena sebagian dari mereka memang harus berjaga di rumah sakit. Para kepala bagian pun menyanggupi perintah Riza.
Riza segera melangkah ke luar ruangan sesaat setelah menyelesaikan rapat dan langsung disusul oleh Andyra yang dengan cepat mengejar langkah Riza dari belakang. Riza berhenti dan menoleh saat mendengar Andyra memanggil namanya.
"Ada apa?" sahut Riza datar.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memberikan sesuatu."
"Apa?"
Andyra menyodorkan sebuah kotak kecil pada Riza. "Happy birthday, Riza." Andyra tersenyum manis.
Riza meraih kado ulang tahun dari Andyra. "Terima kasih."
Riza langsung melengos pergi yang disusul kembali oleh Andyra. "Ayo, kita rayakan sama-sama ulang tahun kamu."
"Tidak perlu. Kamu lupa, aku itu tidak pernah merayakan ulang tahunku."
Riza kembali teringat kata-kata papi dan mami yang selalu marah tiap kali ia merengek meminta untuk merayakan ulang tahunnya.
"Tidak ada hal spesial yang harus dirayakan!" ujar Riza dingin kemudian kembali melangkah pergi meninggalkan Andyra yang masih diam mematung di belakang.
Sesampainya di dalam ruangan, Riza langsung menyandarkan tubuhnya di kursi lalu melirik sekilas ke arah kotak kecil yang ada ditangannya.
"Bahkan aku tidak ingat, kalau hari ini aku berulang tahun," lirihnya dengan mata bergetar menahan air mata saat mengingat momen ulang tahunnya yang tidak pernah spesial dimata kedua orangtuanya.
Sesaat kemudian, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Riza. Terdengar suara bahagia mami yang langsung mengucapkan selamat ulang tahun pada puteranya itu, Riza pun menyambut ucapan hangat dari mami dengan tersenyum getir. Selain ucapan, Mami juga sudah mengirimkan kado ulang tahun khusus untuk Riza dari Belanda.
Seharusnya Riza bahagia mendapat ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang terdekatnya, tapi anehnya Riza justru merasa sangat sedih.
Sesaat kemudian, Riza pun segera menepis kesedihan itu dengan kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, ia kembali menghela nafas, saat mengingat kekesalan Dilla tadi pagi.
"Kenapa coba istriku harus marah di hari ini?. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang berulang tahun?" gerutunya.
------
Siang harinya, Dilla dan Kiki terlihat sibuk menyiapkan pernak pernik untuk perayaan ulang tahun Riza. Dilla tampak sangat bahagia, ia tidak sabar menunggu kepulangan Riza nanti sore.
Sore harinya, Niko pun datang bersama dengan Nana. Wajah Dilla langsung menjadi kesal, saat melihat Nana muncul didepannya berbeda dengan Kiki yang tampak sangat bahagia karena melihat seorang model iklan terkenal muncul didepan matanya.
Tak lama, Riza pun akhirnya pulang. Mereka langsung menyambut kedatangan Riza dengan sebuah pesta kejutan yang berhasil membuat Riza kaget bukan main. Riza terlihat sangat bahagia dan tidak menyangka kalau ulang tahunnya akan dirayakan seperti ini.
Riza pun langsung memeluk dan mencium istrinya yang tampak tak kalah bahagia dari dirinya. Sesaat kemudian, Dilla membawakan sebuah kue tart kehadapan Riza lengkap dengan lilin diatasnya.
Seketika senyum bahagia di wajah Riza menghilang saat ia melihat kue tart yang ada dihadapannya. Wajahnya menegang dengan raut ketakutan yang tercetak jelas di sana.
Samar-samar sekelebat potongan-potongan kejadian aneh muncul dipikirannya, terus memutar bagaikan sebuah kepingan CD. Lama-kelamaan potongan kejadian itu berubah menjadi sebuah kejadian mengerikan yang seketika membuat wajahnya memucat pasi.
Riza merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Otot wajahnya menegang hebat akibat rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya itu. Rintihan kesakitan dari Riza seketika membuat semua orang didepannya menjadi panik. Kepanikan pun semakin menjadi-jadi saat mendapati tubuh Riza yang perlahan tumbang dan tak sadarkan diri.