My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/78



Keesokan paginya, terlihat Dilla dan Riza menikmati sarapan mereka dalam kebisuan dengan sesekali saling melempar tatapan kesal satu sama lain.


Flashback


Beberapa jam yang lalu


Setelah mendengarkan penjelasan Riza, Dilla pun segera menyudahi pelukan eratnya. Dengan menundukkan wajahnya, Dilla memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Riza. Ia sangat menyesali kebodohannya yang sudah salah paham dan bahkan menuduh Riza yang bukan-bukan.


Riza tersenyum lega memandang wajah istrinya yang masih tertunduk itu dengan tatapan hangat. Dengan ikhlas dan sukarela Riza pun menerima permintaan maaf istrinya.


Akhirnya Riza dapat bernafas lega setidaknya penjelasannya tadi dapat meredakan kemarahan Dilla.


Sesaat kemudian, Riza pun mengajak Dilla untuk keluar dari ruang kerjanya. Saat Riza berdiri dan hendak beranjak, Dilla menahan lengan Riza. Membuat Riza menoleh seketika.


"Ada apa?" tanyanya heran. Riza menatap istrinya yang masih menunduk tersebut. Ia pun duduk kembali.


Dilla diam dan berbisik di dalam hati, Apa aku tanya sekarang saja, ya?. Biar aku tidak penasaran lagi.


Riza menggenggam punggung tangan Dilla. Membuat Dilla tersentak dari pikirannya.


"Tanyalah, apa yang mau kamu tanyakan padaku. Aku akan menjawab semuanya." Riza tersenyum kecil.


Kedua mata Dilla membola takjub. Bak dukun, lagi-lagi Riza tahu apa yang sedang istrinya itu pikirkan.


Dilla menelan ludahnya kasar, ingin segera mencetuskan kalimat pertanyaan yang sedari tadi membuatnya penasaran tapi ia terlihat takut dan ragu sebab tidak mau menambah dosanya lagi pada Riza dengan memulai pertengkaran diantara mereka. Ia sungguh takut Riza akan marah padanya jika ia menanyakan hal ini.


Riza masih betah memandangi wajah bimbang istrinya itu dengan rasa penasaran yang menggunung. Sesaat kemudian, ia melepaskan genggamannya dari Dilla. Dilla terkesiap, secepat kilat ia kembali menahan tangan Riza. Dilla pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Si-siapa Anita?" tanyanya dengan terbata.


"Hemm?!" Riza menaikkan kedua alisnya. "Oh, iya. Aku lupa, aku belum menelepon Anita tadi. Tunggu disini, aku akan mengambil handphoneku dulu. Sebentar."


Riza segera beranjak menuju kamarnya, meninggalkan Dilla yang masih duduk mematung dengan perasaan cemburunya yang belum lengser dari benaknya.


"Salah besar aku menanyakan hal itu tadi." Dilla memilin piyama yang dikenakannya dengan geram.


Sesaat kemudian, Riza datang dengan membawa ponsel ditangannya. Ia segera duduk disebelah Dilla. Dilla melirik tajam ke arah Riza yang masih dengan santainya mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tak lama kemudian, Riza mendekatkan gawai miliknya di telinga, menunggu panggilannya tersambung.


"Halo," ujar Riza dengan sumringah sesaat setelah panggilannya tersambung di ujung sana. "Apa kabar, Miss Anita-ku sayang?" sambung Riza kemudian.


Apa?!. Sayang?!, Dilla melirik tajam ke arah Riza.


"Kesayanganku sedang apa disana?" sambung Riza kembali.


"..."


"Sama."


Telinga dan Dada Dilla langsung memanas saat mendengar obrolan Riza bersama wanita lain yang terdengar sangat akrab sekali. Tanpa menunggu lama, Dilla pun segera bangkit berdiri. Namun, dengan cepat Riza menahan lengan Dilla.


Riza menyodorkan ponselnya ke arah Dilla, "Ini. Bicaralah."


"Untuk apa saya bicara sama dia?. Saya ndak ada urusan sama orang itu!" ketusnya.


Seketika Riza mengubah panggilannya menjadi panggilan loud speaker.


"Halo, Dilla sayang." Suara nyaring seorang wanita terdengar dari ponsel yang digenggam Riza.


Dilla membulatkan matanya.


Mami?!, batinnya.


Dilla menutup wajahnya sejenak untuk menahan rasa malu saat menyadari kebodohannya, kemudian dengan cepat ia menarik ponsel dari tangan Riza. Terlihat Riza tertawa cekikikan di sebelah Dilla.


"Iya, Mami," sahut Dilla pelan. "Mami dan Papi apa kabar?" tanyanya dengan raut wajah malu.


"Mami baik-baik saja. Kamu apa kabar sayang?"


"Dilla baik juga, Mi. Alhamdulillah," jawabnya dengan tersenyum canggung.


"Mami kangen banget sama kalian di sana. Ngomong-ngomong, kapan nih kalian mau ngasih cucu sama mami soalnya Mami udah nggak sabar pengen nimang cucu," tanya mami tanpa basa-basi.


Dilla membisu.


"Riza memang sudah ingin sekali memberi mami cucu. Tapi, mau bagaimana. Sepertinya Dilla belum siap, Mi," sambar Riza sambil terkekeh mengejek istrinya.


Mendengar itu, mami pun ikut tertawa. "Itu sih, cuma alesan kamu aja. Kamunya aja kali yang kurang gesit di ranjang makanya Dilla begitu. Iya kan, Dilla?"


"I-i-iya, Mi." Dilla hanya mengiyakan pertanyaan mami singkat. Seketika wajahnya merona merah sebab merasa malu dengan perkataan mami barusan.


"Riza sih bisa saja membuat menantu mami ini hamil. Tapi, menantu mami ini selalu saja menolak ajakan Riza."


Wajah Dilla semakin memerah saat mendengar kalimat Riza barusan.


Ya Allah, Mas Riza ini apa-apaan, sih. Kenapa jadi ngomong begituan sama mami, batin Dilla dengan wajah yang sudah merah padam.


"Makanya sekali-kali kamu ajak dong, menantu mami liburan ke tempat-tempat romantis. Biar menantu mami seneng, terus enak ngelakuinnya sama kamu," tambah mami tak henti-hentinya.


Biar enak ngelakuinnya?. Ini ngomongin apa lagi, sih?, Dilla kembali membatin sambil memegangi pipinya yang terasa memanas. Ujung piyama yang dikenakannya pun sudah kusut sanking gugupnya saat mendengar pembicaraan Riza dan mami.


Riza menanggapi ocehan mami dengan tertawa. "Riza sudah memikirkan itu. Mami tenang saja. Riza akan pastikan Dilla segera hamil terus mami akan mendapatkan cucu secepatnya."


Mata Dilla membulat kaget.


Hah?!. Hamil?, batin Dilla lagi. Dilla mulai terlihat gelisah.


"Ya, sudah. Kalian baik-baik, ya di sana. Nanti kalau menantu mami masih takut juga, telepon aja mami. Biar mami ajarin cara ngelakuinnya biar nggak takut. Ha..ha..ha."


"Bye, sayang."


Riza segera mengakhiri pembicaraannya dengan mami. Setelah itu, Riza menoleh ke arah Dilla dan memperhatikan wajah Dilla yang memerah.


"Kamu kenapa?. Malu?"


Dilla menggeleng cepat.


"Masih cemburu sama Anita?"


"Siapa yang cemburu?" elak Dilla. "Saya itu ndak cemburu. Saya cuma penasaran saja."


Riza tersenyum, "Aku senang melihat kamu cemburu seperti tadi, tapi lebih baik berhentilah mencemburui aku terlalu berlebihan. Lebih baik, kita memikirkan masa depan kita daripada memikirkan hal-hal yang tidak penting."


"Maksud, Mas?"


"Seperti kata Mami barusan. Kita kasih mami cucu."


Dilla terkesiap, ia pun segera bangkit dari duduknya. "Saya mau balik ke kamar. Mau tidur. Ngantuk." Dilla membalikkan tubuhnya.


Riza segera menarik tubuh Dilla dan memeluknya dari belakang kemudian berbisik lirih, "Kebetulan aku juga mengantuk. Ayo, kita tidur sama-sama."


Tanpa aba-aba, Riza menyibak rambut Dilla perlahan kemudian mengendus leher jenjang istrinya itu dan mengecupnya lembut, membuat Dilla langsung bergidik geli dengan ulah Riza.


"He-he-hentikan, Mas." Dilla terlihat gugup saat merasakan sesuatu bergejolak dalam dirinya.


Sesaat kemudian, Riza memutar tubuh Dilla menghadap ke arahnya lalu mendaratkan beberapa kali kecupan singkat di leher istrinya.


Tanpa sadar, Dilla membalas pelukan Riza seraya memejamkan matanya. Semakin mendekatkan wajah suaminya itu untuk menjejaki leher jenjangnya. Riza sempat terkejut saat merasakan pelukan Dilla yang semakin erat.


Perlahan Riza pun memberanikan diri mendaratkan ciuman di bibir Dilla lalu mencecapi bibir istrinya itu dengan lembut. Mata Riza sempat membuka saat merasakan Dilla membalas ciumannya tak kalah lembut.


Hasrat Riza sudah memuncak. Dengan cepat, Riza mendorong Dilla ke tembok. Semakin merapatkan tubuhnya pada Dilla. Dengan ciuman yang mulai memanas, tangan Riza terlihat mulai menjelajahi setiap bagian tubuh istrinya yang masih berbalut piyama hitam itu dengan lembut. Mereka terlihat benar-benar mabuk kepayang.


Sesaat kemudian, dengan cepat Riza membuka satu persatu kancing piyama Dilla, lalu menyingkapnya perlahan. Wajah Riza langsung menelusup masuk menjelajahi tubuh istrinya sesaat setelah menyingkapkan piyama di bahu kecil istrinya itu.


Bak Singa kelaparan, Riza menerkam tubuh Dilla. Mengigit bahu Dilla dengan geram hingga membuat Dilla mengaduh kesakitan. Seketika Dilla tersadar. Dengan cepat, ia membuka matanya lalu menahan gerakan Riza yang mulai menggerayanginya dengan buasnya.


"Berhenti, Mas. Jangan lakukan ini," ujarnya singkat sambil mendorong tubuh Riza menjauh dari dirinya.


"Kenapa?" jawab Riza yang tampak kembali mendekatkan tubuhnya pada Dilla kemudian melancarkan aksinya kembali.


"Sa-sa-saya capek, Mas. Mau tidur."


"Jangan menolakku lagi kali ini. Aku mohon. Aku benar-benar sudah tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi," gumam Riza.


Wajah Dilla merona seketika.


Riza segera menggendong Dilla ala bride style kemudian membawanya menuju kamar. Menidurkan Dilla perlahan di atas ranjang lalu memulai aksinya kembali.


Dilla segera memejamkan matanya ketakutan sesaat setelah melihat binar mata Riza yang menatapnya penuh hasrat membara.


"Tolong layani aku malam ini!" bisiknya lirih di telinga Dilla.


Riza membelai wajah Dilla yang sudah merah merona itu dengan lembut. Bias kemerahan yang semakin menambah hasratnya. Bagaimana tidak. Ini merupakan satu-satunya kesempatan emas bagi Riza untuk dapat memiliki Dilla seutuhnya yang tidak mungkin dilewatkan oleh Riza begitu saja. Terlebih lagi Dilla tidak menolaknya dan justru menyalakan lampu hijau untuk Riza. Kesempatan langka yang tidak akan datang dua kali.


Dilla semakin memejamkan matanya ketakutan, saat Riza mencengkeram kuat kedua jemari tangannya dan mengungkungnya di atas ranjang.


Tiba-tiba, Riza mengerjapkan matanya beberapa kali, merasakan sesuatu memasuki matanya. Ia pun segera melepaskan cengkeraman tangannya lalu menegakkan posisinya dengan duduk bersila di atas ranjang.


Dilla pun segera membuka mata.


"Kenapa, Mas?"


"Aku tidak tahu. Mataku rasanya perih."


Dilla segera bangkit lalu meniup mata Riza perlahan. "Bagaimana, Mas?. Sudah baikan?"


Riza menggeleng.


Dilla berpikir sejenak. Sesaat kemudian, Dilla segera menarik tangan Riza menuju kamar mandi lalu menyalakan kran air di wastafel. Saat air di wastafel hampir penuh, tanpa aba-aba Dilla pun segera membenamkan wajah Riza kedalam air. Sontak Riza pun segera meronta-ronta meminta tolong sesaat setelah wajahnya tenggelam di sana. Sesaat kemudian, Dilla menarik wajah Riza dari dalam air.


"Apa yang kamu lakukan?. Kamu mau membunuhku?" bentak Riza kesal dengan nafas yang tersengal.


"Bagaimana, Mas?. Sudah baikan?" tanya Dilla dengan tampang tak berdosa.


"Kalau kamu memang keberatan melayaniku, tidak perlu memperlakukan aku seperti tadi. Kalau aku mati, bagaimana?" ketus Riza saat mengambil handuk lalu mengeringkan wajahnya dengan kasar.


Maksudnya apa, sih?. Dasar singa. Udah ditolongin bukannya terima kasih malah marah-marah!, batin Dilla kesal.


Dilla pun segera berlalu pergi meninggalkan Riza.


"Kamu mau kemana?" tanya Riza kemudian.


"Mau ke kamar. Ngantuk. Mau tidur."


"Lalu, aku bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?. Ya sudah, Mas tidur saja sana sama guling!" sahut Dilla tak kalah kesal.


Dilla menutup pintu kamar Riza sekuat tenaga. Membuat Riza tersentak kaget. Sesaat kemudian, Riza mengacak rambutnya kasar. Lagi-lagi usahanya gagal dan hancur berantakan. Dengan wajah terpaksa, ia pun harus rela tidur dengan bertemankan guling malam itu.


Flashback End