
Di dalam mobil, Riza masih menundukkan kepala sembari mengusap tengkuk lehernya.
Sedangkan Dilla, akibat begadang semalaman merapalkan jurus rayuan untuk ibunya, sukses membuat dirinya merasakan kantuk yang tak tertahankan.
Riza pun terkejut saat tiba-tiba Dilla menyandarkan kepalanya di bahu Riza.
Riza melirik ke arah Dilla yang ternyata tengah tertidur pulas di bahu lebarnya.
Setelah mobil berhenti, Dilla beranjak turun dari mobil.
Dilla melotot kaget saat menyadari bahwa saat ini ia ada di bandara.
"Kenapa mas Riza tidak bilang sih kalau perginya naik pesawat." Dilla membatin kesal.
Dilla mengerutkan kening, merasa sedikit takut sebab ini pengalaman pertamanya menaiki pesawat.
Saat mereka semua sedang menunggu di ruang tunggu keberangkatan, Laras melihat Dilla sedikit gelisah.
"Kamu kenapa Dilla?" Laras yang duduk di sebelah Dilla melihat Dilla aneh.
Dilla berbisik di telinga Laras, "Aku takut mbak, ini pertama kalinya aku naik pesawat."
Laras tersenyum mengerti mendengar bisikan Dilla.
Tak lama pengumuman waktu keberangkatan tiba, Dilla mencengkeram tangan Laras kuat.
Laras membalas cengkeraman tangan Dilla dengan mengusap-usap punggung tangan Dilla.
Terlihat mereka semua beranjak masuk ke dalam pesawat dan mencari kursi mereka masing-masing.
Kali ini Dilla kembali melotot untuk kedua kalinya karena ternyata ia duduk bersebelahan dengan Riza.
Namun Riza terlihat biasa saja saat menyadari hal itu.
Tak lama mesin pesawat dihidupkan, terlihat dua orang kru kabin pesawat berdiri melakukan demo tata cara penggunaan alat keselamatan penerbangan.
Dilla memperhatikan mereka dengan seksama, sebagai antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan, pikirnya.
Demo selesai, saatnya pesawat lepas landas.
Dilla berdoa didalam hati.
Saat pesawat sedikit menukik ke atas, Dilla merasakan tubuhnya sedikit melayang, ia memejamkan mata dan tangannya refleks menggenggam kuat jemari tangan Riza.
Riza tampak sedikit terkejut saat merasakan sebuah tangan menggenggam kuat jemari tangannya.
Riza kembali melihat benda-benda aneh mengelilingi kepalanya dan seketika visual-visual berisi ide pun bermunculan di depan matanya.
Riza kemudian menoleh ke arah Dilla yang terlihat memejamkan matanya ketakutan.
Tidak lama berselang, pesawat pun telah melayang sempurna di udara.
"Sekarang kamu bisa melepaskan tanganku," ucapnya singkat tanpa menatap Dilla yang masih memejamkan mata.
Dilla membuka matanya perlahan.
"Syukurlah."
Dilla kemudian sadar dan buru-buru menarik genggaman tangannya dari tangan Riza.
"Maaf, mas."
"Eheemm." Riza berdehem singkat.
Lima belas menit berselang, Dilla pun kembali merasakan kantuk tak tertahankan di pelupuk matanya.
Dilla kemudian menyandarkan kepalanya ke kursi, terlihat kepala Dilla terus saja bergerak ke kanan dan ke kiri, ia merasa tidak nyaman dalam tidurnya.
Riza merasa terganggu melihat Dilla yang terus bergerak-gerak.
Riza pun segera menggeser kepala Dilla agar bersandar di bahunya.
Tanpa sadar Dilla justru memeluk erat lengan kekar Riza hingga membuat Riza sedikit mengernyitkan dahinya.
"Kelihatannya dia mengantuk sekali, apa dia tidak tidur semalaman?"
Setelah lebih kurang satu jam, akhirnya mereka tiba di Semarang.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan menuju desa dengan menaiki jasa travel yang telah di pesan oleh Riza jauh-jauh hari.
Sampailah mereka di desa tempat kelahiran Dilla.
Dilla tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa pulang ke kampung halamannya menemui ibu dan adiknya.
Tibalah mereka di depan rumah Dilla yang terlihat sederhana.
"Assalamualaikum. Bu... ibuuu..., Syifaa...Syifaaa..."
Dilla berteriak memanggil-manggil ibu dan adiknya dari luar.
Ibu Dilla mendengar suara orang berteriak dan mengenali suara itu, "Seperti suara Dilla!" batinnya.
"Iya, sebentar!" sahutnya
Ibu Dilla keluar dan benar saja, ia mendapati anaknya tengah berdiri di depannya.
"Dilla?. Kamu kah itu, nak?"
Dilla langsung berhambur ke dalam pelukan ibunya.
Tangis membasahi pipi keduanya.
Semua orang yang berada di belakang Dilla pun menatap mereka haru.
Dilla menyudahi pelukannya, ia kemudian mengenalkan semua orang yang ikut datang bersamanya hari ini kepada ibunya.
Ibu mempersilakan mereka masuk.
Dilla juga memperkenalkan adiknya Syifa kepada keluarga Riza.
Sambil menunggu suguhan makanan dan minuman mereka datang, papi Riza berjalan kecil mengelilingi rumah Dilla.
Papi berhenti tepat di depan figura foto berwarna hitam yang menampakkan wajah seorang pria seumuran dengannya menggantung di dinding rumah Dilla.
"Nak Dilla, ini foto ayahmu?" tanya papi.
"Benar, itu ayah saya," jawab Dilla.
"Jadi kamu anaknya Sastrawan Dirjo?"
Dilla sedikit bingung, "*Darimana papinya mas Riza tahu nama ayah*?" batinnya
"Ya Tuhan, ternyata dunia ini sempit sekali." Papi tertawa.
Dilla semakin bingung dengan perkataan papi.
Riza, ibu Dilla dan mami pun tak kalah bingungnya sama dengan Dilla.
"Begini nak, ayahmu itu dulu adalah sahabat papi sewaktu SMA. Sejak papi pindah sekolah, kami tidak pernah berhubungan lagi. Dia sahabat yang baik, papi merasa sedih karena tidak tahu kalau dia sudah tiada. Papi sangat bersyukur bahwa kamu adalah anak sahabat papi, papi sangat bahagia." Cerita papi.
"Sepertinya Dilla dan Riza memang berjodoh ya," cetus mami.
Ibu Dilla tersenyum menanggapi cuitan mami tersebut.
Sementara Dilla dan Riza saling berpandangan dalam diam.
Kedua orang tua Riza pun menyampaikan maksud kedatangan mereka menemui ibu Dilla.
"Sebenarnya mbak, kedatangan kami kesini bermaksud melamar Dilla untuk putra kami Riza. Kami berharap mbak mau menerima lamaran kami ini," ucap papi lugas.
Riza menatap papinya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Setelah mendengar perkataan papi, tanpa berpikir lama ibu Dilla langsung menyetujui pinangan Riza.
Dilla melongo tidak menyangka ibunya akan secepat itu menyetujui pinangan Riza untuknya.
"Ya ampun, tahu begini untuk apa aku capek-capek begadang melatih mulutku menghafal kata-kata bodoh itu." Dilla mendengus kesal.
"Kalau begitu kapan rencana akad nikahnya?" tanya ibu Dilla.
"Bagaimana kalau dua minggu lagi, karena saya harus secepatnya kembali ke Belanda. Melanjutkan tugas-tugas saya yang saya tinggalkan disana," jawab papi.
Papi bekerja sebagai duta besar Indonesia untuk Belanda.
Meskipun seorang duta besar, papi adalah sosok yang sederhana dan rendah hati meskipun ia sedikit keras kepala dan egois seperti kata mami.
"Masalah persiapan pernikahan, biar saya dan istri saya yang uruskan. Mbak tinggal terima bersih saja," sambung papi.
"Baiklah kalau begitu, saya ikut saja!" sahut ibu Dilla.
Kemudian mami memeluk ibu Dilla.
Semua orang yang ada di situ, serentak mengucapkan syukur dan tersenyum.
Ibu Dilla kemudian mempersilakan tamu-tamunya itu mencicipi makanan dan minuman seadanya yang telah terhidang di meja.
Niko berbisik pelan di telinga Riza, "Akhirnya Bro, sebentar lagi loe bakal melepas status jomblo karatan loe." Niko terkekeh pelan.
Riza hanya diam menanggapi lelucon receh temannya itu.
Tengah hari, sebelum beranjak pulang ke Jakarta, mereka pun makan siang terlebih dahulu di rumah Dilla.
Setelah itu mereka berpamitan kepada ibu Dilla.
Dilla memeluk ibunya lama, seolah tak mau melepas pelukan hangat dari ibunya.
"Kamu baik-baik ya nak di Jakarta."
"Insya Allah bu."
Dilla menahan tangis di matanya ketika mencium punggung tangan ibunya.
Dilla menuliskan nomor ponselnya di secarik kertas kemudian memberikannya pada adiknya, Syifa.
"Jaga ibu baik-baik ya, kalau ada apa-apa telefon mbak ke nomor itu." Pesan Dilla pada adiknya.
"Iya, mbak. Mbak hati-hati ya di jalan."
Kemudian Dilla memeluk adiknya.
"Assalamualaikum." Dilla berpamitan lalu ia melangkahkan kakinya menuju mobil travel yang telah menunggu sejak tadi di luar.
Dari balik mobil, Dilla melambaikan tangannya ke arah ibu dan adiknya.
Diam-diam Riza melirik ke arah Dilla.
Dilla sangat menikmati perjalanannya hari ini.
Dilla merasa bahagia dapat berkumpul bersama ibu dan adiknya walaupun hanya sebentar.