My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/101



Kiki menatap Dilla tidak percaya sesaat setelah Dilla mengatakan pada sahabatnya itu bahwa ia akan menyusul Riza ke Belanda.


Berulangkali Kiki menghela nafasnya dengan tatapan mata yang tak berpaling sedikitpun dari sahabatnya.


"Kamu yakin?"


Dilla mengangguk.


"Terus kuliah kamu gimana?"


"Aku udah mutusin untuk berhenti kuliah."


"Apa?!"


Tanpa sadar Kiki meninggikan suaranya hingga membuat beberapa mahasiswa yang lewat disekitar mereka menoleh ke arah Kiki. Kiki mengerjap beberapa kali untuk memulihkan rasa terkejutnya.


Sementara Dilla hanya mampu terduduk lemas disamping Kiki dan menyandarkan tubuhnya di bangku taman dekat fakultas mereka. Helaan nafasnya terdengar berat. Kegundahan mendalam tengah dirasakan olehnya saat ini.


"Aku terpaksa, Ki. Aku nggak punya pilihan lain."


"Tapi Dilla, bukannya kamu pernah bilang sama aku kalau kuliah disini itu impian kamu dari dulu. Kamu kan tau kalau kamu berhenti dari sini, kamu nggak akan pernah bisa lanjutin kuliah kamu lagi di kampus ini."


"Aku tau," jawabnya lirih.


Dilla mendesah lagi, matanya mulai berkaca-kaca saat ia kembali mengingat bagaimana perjuangan yang ia lalui untuk dapat diterima di kampus impiannya itu.


Belajar giat dan tekun selama di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus hingga akhirnya semua jerih payahnya itu dapat mengantarkannya melanjutkan pendidikan di sebuah Universitas yang sudah ia impikan sejak ia masih duduk di bangku SMP.


Akan tetapi, semua perjuangannya itu kini sia-sia belaka. Belajar di kampus impiannya hanya akan menjadi sebuah kenangan untuknya kini.


"Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus ubah keputusan nggak masuk akal kamu itu."


"Percuma juga aku lanjutin kuliahku. Kamu tau, sejak mas Riza pergi, hidupku benar-benar hampa dan nggak ada artinya." Dilla menyeka bulir bening yang jatuh dari sudut matanya. "Aku ini cuma seorang istri. Istri yang merindukan suaminya. Aku nggak tau harus gimana lagi."


Dilla mulai terisak. Isakan yang sedari tadi ia bendung pun kini meluap sudah. Dilla menangis sesenggukan sambil memegangi dadanya yang teramat sakit. Sakit yang serasa meremukkan jantungnya.


"Ini teramat sulit untuk aku, Ki. Aku nggak tau harus gimana. Aku kangen sama suami aku." Tangis Dilla pecah. Bahunya berguncang hebat saat ia menumpahkan semua isi hatinya.


Kiki pun segera merengkuh tubuh lemah sahabatnya itu seraya menepuk pelan pundak Dilla untuk menguatkannya. Tepukan lembut seorang sahabat yang sangat mengerti dan memahami bagaimana perasaan sahabatnya saat ini.


"Aku cuma mau suamiku. Aku harus gimana?" rintihnya dalam pelukan Kiki.


-----


Belanda


Thomas sedang berjalan di koridor rumah sakit. Matanya membulat saat mendapati sosok Dirwan sedang berjalan bersama dengan Anita ke sebuah ruangan.


Ternyata rumah sakit tempat Riza menjalani perawatan merupakan rumah sakit yang sama tempat dimana Aldrich sedang di rawat setelah menjalani operasi untuk memulihkan kondisi jantung Aldrich yang melemah beberapa bulan belakangan.


Thomas pun berbalik kemudian membuntuti sepasang suami istri paruh baya itu dari belakang hingga ia melupakan niatnya untuk memantau kondisi Aldrich di ruang perawatan.


Thomas kaget bukan kepalang saat mendapati sosok seorang pria yang ia kenal sedang duduk di kursi roda dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Thomas memperhatikan sosok itu dengan seksama.


Bias wajah pria itu redup, tak bercahaya seperti biasanya. Matanya tampak cekung dengan lingkaran hitam disertai kantung mata yang nampak jelas di kedua matanya. Lekuk wajahnya sangat tirus hingga menampakkan tulang rahang yang terlihat jelas membingkai kedua pipinya.


Bobot tubuh pria itu pun jauh menurun dibandingkan sebelumnya seperti ia tidak makan selama berhari-hari. Pandangan mata pria itu pun tak luput dari pantauan Thomas. Pandangan mata kosong seolah tak ada kehidupan didalamnya.


"Itu kan suaminya nona Dilla." gumam Thomas sambil terus memperhatikan Riza dan sepasang paruh baya itu dari luar ruangan dengan lapisan kaca transparan yang membatasi pandangan Thomas.


Sesaat kemudian, Thomas mengalihkan pandangannya ke arah papan nama yang memaku di depan pintu.


"Dokter psikiater?" gumamnya lagi dengan dahi yang berkerut bingung.


Thomas terus bertanya dalam hati hingga sepuluh menit berikutnya, Anita bersiap mendorong kursi roda Riza keluar dari dalam ruangan dengan diantarkan seorang perawat pria dari belakang.


Thomas segera menjauh dari ruangan tersebut dengan berpura-pura membaca sebuah pengumuman yang menempel di dinding sambil menutupi separuh wajahnya dengan telapak tangan.


Setelah Dirwan dan Anita sudah menjauh, Thomas kembali membuntuti mereka diam-diam. Hingga akhirnya, Thomas berhenti tepat di lobi saat Dirwan dan Anita akan memasuki mobil bersama dengan Riza.


Saat perawat yang mengantarkan Riza berbalik, Thomas segera menghampiri perawat tersebut kemudian menanyakan ini dan itu tentang Riza dan sepasang paruh baya tadi.


Akan tetapi, Perawat tampak enggan memberitahu informasi pribadi yang diminta oleh Thomas sebab hal itu melanggar peraturan di rumah sakit tersebut. Mendengar hal itu, Thomas pun menyodorkan beberapa lembar Euro pada perawat itu hingga akhirnya perawat itu pun bersedia membocorkan apa yang ia ketahui tentang Riza.


Thomas tampak melongo saat perawat memberitahukan pasal Riza dan kedua orangtuanya. Ternyata Thomas baru mengetahui bahwa Dirwan dan Anita merupakan orang tua Riza.


"Jadi, pria yang tadi itu sakit jiwa dan dirawat di sini?" tanya Thomas kembali.


"Iya. Begitulah kira-kira," jawab perawat itu singkat.


"Bagaimana bisa?"


"Entahlah. Aku rasa mungkin dia punya pengalaman buruk. Zaman sekarang banyak sekali orang gila yang bahkan tidak menyadari kalau dia itu gila. Salah satunya, ya pria itu," jelas perawat itu lagi.


Thomas terdiam. Perawat itu pun segera beranjak pergi meninggalkan Thomas yang masih mematung tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


Beralih ke tempat lain. Setelah beberapa waktu, mobil pun akhirnya tiba di kediaman mami dan papi. Mami mendorong kursi roda yang diduduki oleh Riza menuju ke sebuah ruangan.


Ruangan besar yang hanya berisikan sebuah ranjang berukuran king size didalamnya. Papi memapah dan menidurkan Riza di ranjang tersebut dengan perlahan.


Mami memang sengaja mengosongkan ruangan tersebut untuk mengantisipasi kalau-kalau Riza kembali mengamuk seperti tempo hari.


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana hampir setiap malam Riza berteriak histeris dan menangis bahkan ia tidak tidur semalaman.


Riza bahkan tak segan-segan menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain yang berusaha mendekat padanya. Semua barang-barang yang ada di ruangan tersebut pun tak luput dari amukan dan amarah Riza yang tiba-tiba muncul.


Setiap kali mami mendekat untuk memberikan makanan dan minuman kepada puteranya, Riza selalu ketakutan seolah-olah mami akan melakukan hal buruk padanya. Harapan memboyong Riza ke Belanda agar segera sembuh tampaknya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.


Seperti saat ini, pengaruh obat penenang yang diberi oleh dokter sepertinya masih tersisa di tubuh lemahnya.


"Sayang, kamu tidur dulu, ya. Mami dan papi mau siapin makanan kesukaan kamu dulu. Nanti kamu makan, ya!" ucap mami pelan sambil mengusap lembut wajah puteranya setelah sebelumnya menarik selimut untuk menutupi tubuh puteranya.


Seperti biasa, Riza tidak menjawab. Ia hanya diam membisu dengan pandangan kosong.


"Mi, papi rasa kita harus menyuruh Dilla ke Belanda."


"Maksud papi?"


"Seperti kata dokter Rey, Riza tiba-tiba menyebut nama Dilla. Nama yang pertama kali ia ingat, Mi. Siapa tau dengan kita menyuruh Dilla kesini, Riza akan membaik."


Mami diam, "Tidak, Pi. Mami tidak setuju. Belum tentu kalau gadis itu ada disini, Riza akan sembuh. Mami tidak mau kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya. Papi tidak ingat apa yang sudah dilakukan gadis itu pada putera kita?"


"Tapi, Mi tidak ada salahnya kan kita berusaha. Lagipula Dilla itu istrinya, papi rasa sudah sewajarnya kalau dia ada disamping suaminya."


Papi menggenggam tangan mami. Berusaha membujuk istrinya itu.


"Baik, mami setuju. Dengan satu syarat."


Papi menatap mami lekat, menunggu ucapan mami selanjutnya.


"Setelah Riza sembuh, gadis itu harus setuju untuk bercerai dengan Riza baru mami akan membiarkan dia untuk tinggal bersama kita di sini. Bagaimana, Pi?"


Mata papi membulat, "Papi tidak setuju. Mami tidak lihat seperti apa tangisan Dilla waktu itu. Kalau kita menyuruh dia bercerai dari Riza, itu sama saja kita membunuhnya pelan-pelan, Mi. Dilla sangat mencintai Riza. Membawa Riza ke sini saja sudah sangat melukai hati gadis itu. Bagaimana lagi kalau kita memintanya untuk menceraikan Riza?"


Papi menggeleng tidak percaya melihat sikap istrinya yang berubah menjadi arogan dan egois seperti itu.


"Mami tidak peduli. Pokoknya mami tidak mau gadis itu ada didekat Riza untuk selamanya."


Papi mendesah berat sambil melepaskan genggamannya perlahan saat kembali mendengarkan perkataan istrinya.


"Sekarang semuanya tergantung papi. Yang penting mami tetap pada pendirian mami untuk menjauhkan gadis itu dari Riza."


Mami segera pergi meninggalkan papi yang terlihat bingung harus berbuat apa. Rasa bersalah papi terhadap Riza membuatnya tak berdaya untuk membantah arogansi dan keegoisan istrinya kali ini.


-----


Jakarta


Malam harinya, Dilla duduk di dalam ruang kerja Riza sambil menidurkan kepalanya di atas meja kerja suaminya. Samar-samar bayangan Riza muncul didepannya.


Riza terlihat sibuk dan fokus pada monitor laptop, mengetikkan naskah novel seperti biasanya. Sesekali Riza menoleh dan tersenyum manis kearah Dilla.


Flashback


Dilla merangkul suaminya dari belakang lalu mengecup pipi Riza dengan lembut.


"Mas?!" sapa Dilla kemudian.


"Hemm," jawab Riza lembut.


"Masih lama selesainya?" tanyanya sambil ikut mengarahkan pandangannya ke arah monitor dengan dagu yang kini sudah bersandar di bahu suaminya.


"Sebentar lagi."


"Tidur, yuk. Ngerjain naskahnya disambung besok aja. Soalnya ini kan udah malem," ucap Dilla sesaat setelah mengecup kembali pipi Riza.


Riza tidak menanggapi ajakan Dilla, ia terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya.


"Mas?!"


"Kamu tidur saja duluan, nanti aku menyusul."


Bukannya menjauh, Dilla justru semakin merapatkan tubuhnya lalu berbisik di telinga Riza. Bisikan yang sukses menghentikan gerakan tangan suaminya. Dilla tersenyum dengan disambut senyuman manis di bibir Riza.


Sesaat kemudian, Riza berbalik lalu berdiri menghadap Dilla. Lengan kekarnya perlahan merangkul pinggang ramping istrinya.


"Berhentilah menggoda dan merayuku," ujar Riza semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Dilla.


Dilla mencubit pipi Riza gemas hingga Riza mengaduh kesakitan. Sesaat berikutnya, Dilla mengecup pipi tersebut dengan lembut lalu mengusapnya perlahan.


"Mas."


"Hemm."


"Jangan pernah tinggalkan saya, ya."


"Aku tidak akan pernah melakukan itu," jawab Riza seraya menatap mata Dilla lekat.


"Kalau mas pergi, saya akan kejar mas sampai kemanapun."


"Aku tidak akan pergi," ucapnya sambil mengelus lembut kepala istrinya yang kini sudah bersandar nyaman di dada bidangnya.


"Aku suka kamu memanggilku seperti tadi. Kedengarannya sangat manis. Hmm, coba kamu ulangi lagi?" tagih Riza dengan lembut.


Dilla tersenyum malu-malu, "Sayang," ucapnya lirih sambil mengeratkan pelukannya.


Riza tersenyum lalu mengecup puncak kepala istrinya. Senyuman tak kalah manis juga terukir indah di bibir Dilla.


"I love you, sayang," tambah Riza sebelum melepaskan pelukannya lalu mendaratkan ciuman hangat di bibir istrinya.


Flashback End