My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/28



Untuk melepas rasa lelahnya hari ini, Riza bergegas menuju kamar untuk membersihkan dirinya. Setelah berganti pakaian, Riza mengambil buku yang tergeletak di atas nakas lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.


Sementara itu di ruang tamu, tampak Dilla dan Kiki kembali mengerjakan tugas kuliah mereka.


"Udah dong Dilla. Dosa loh marah-marah sama suami!" nasehat Kiki kepada Dilla yang terlihat masih cemberut.


Dilla mendesah pelan. Ia mulai merasa jenuh. Sepertinya ia butuh sesuatu untuk menyegarkan pikirannya.


Entah mendapat bisikan dari mana, tiba-tiba Dilla teringat dengan voucher paket liburan yang diberikan oleh papi sewaktu di bandara beberapa hari lalu.


Dilla bergegas mengambil voucher dari dalam tasnya.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Rezeki memang tak kemana.


"Syukurlah voucher ini belum kadaluarsa!" batinnya.


Dilla kemudian mengajak Kiki untuk pergi liburan bersama dengannya. Namun, Kiki menolak keras ajakan Dilla karena voucher yang di berikan oleh papi adalah paket liburan pasangan untuk berbulan madu. Kiki pun menyuruh Dilla agar pergi bersama Riza saja.


Namun, karena Dilla gencar mengeluarkan alasan dan bujuk rayuan yang tiada henti akhirnya Kiki pun setuju. Dilla seketika tersenyum gembira.


Tak terasa hari sudah hampir gelap, Kiki kemudian berpamitan pulang pada Dilla.


Setelah kepergian Kiki, Dilla pun bergegas memasak makan malam. Tak lama kegiatan memasak Dilla pun selesai. Dilla kemudian memanggil Riza yang terlihat masih bersantai di kamarnya.


Dilla dan Riza terlihat makan malam bersama tanpa suara.


Awalnya Dilla ingin memberitahu Riza mengenai rencana liburannya dengan Kiki saat itu juga, akan tetapi ia mengurungkan niatnya.


Riza pun menyudahi makan malamnya.


"Aku mau mengerjakan novel ku malam ini. Datanglah ke ruang kerjaku!"


Dilla pun mengangguk mengiyakan.


Setelah membereskan sisa makan malam mereka, Dilla langsung menghampiri Riza di ruang kerjanya.


Dilla mengetuk pintu.


"Masuk!" sahut Riza.


Dilla masuk dan duduk bersebelahan dengan Riza. Tampak Riza telah siap dengan laptop di depannya.


Riza memejamkan mata lalu menggenggam lembut jemari Dilla. Namun, hal aneh terjadi pada Riza. Entah mengapa, Riza merasa sangat gugup saat menggenggam jemari Dilla.


Riza mencoba keras merilekskan pikirannya. Namun, nihil. Ia pun membuka mata dan melepaskan genggaman tangannya perlahan.


Riza mengerutkan dahinya heran. Pasalnya ia tidak pernah merasa gugup sebelumnya setiap kali ia menggenggam jemari Dilla.


"Ada apa denganku?" bisiknya dalam hati


Riza melihat ke arah Dilla. Matanya tak berkedip menatap wajah yang sangat menarik perhatian itu. Membuatnya seketika terpaku dan tersenyum manis. Ia terpesona.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


Lima detik yang berhasil membuat Riza mabuk kepayang. Riza tak henti-hentinya menatap Dilla sambil tersenyum. Membuatnya mulai berkhayal tidak jelas.


"Mas!" suara lembut Dilla seketika membuyarkan khayalan aneh Riza.


"Hah?!" Riza terperanjat.


"Mas kenapa?" tanya Dilla.


Riza terlihat salah tingkah. Ia kemudian berdiri dan berdehem keras.


"Aku lelah. Kita lanjutkan besok saja!" katanya singkat.


"Kenapa, Mas?. Mas sakit?" tanya Dilla penasaran.


Dilla tiba-tiba berdiri dan mendaratkan punggung tangannya ke kening Riza. Memastikan bahwa Riza baik-baik saja.


Jantung Riza melompat, wajahnya bersemu merah seperti kepiting rebus. Melihat wajah Riza yang tiba-tiba memerah membuat Dilla menjadi khawatir.


"Perut mas sakit lagi?" tanyanya.


Dilla menjadi bertambah khawatir. Ia kemudian mengejar Riza sambil berteriak.


Riza pun mempercepat langkahnya menuju kamar. Ia menutup pintu lalu menguncinya dari dalam.


Dilla memutar gagang pintu yang kini telah terkunci. Ia menggedor berkali-kali. Namun, Riza tetap urung membukakan pintu.


"Mas..mas, kenapa?, buka pintunya mas!" teriak Dilla dari balik pintu.


Dilla benar-benar panik. Ia takut Riza kenapa-napa.


Di dalam kamar, terlihat Riza mondar-mandir kesana kemari. Ia duduk di pinggiran ranjang, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


Riza mengabaikan suara pintu yang digedor oleh Dilla.


Setelah tenang, akhirnya Riza pun membuka pintu.


Dilla bergegas menerobos masuk ke dalam.


"Mas baik-baik saja kan?" Dilla menatap Riza khawatir.


"Aku baik-baik saja!. Matikan lampunya, aku mau istirahat!"


Riza berjalan menuju ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sana.


"Syukurlah!" Dilla akhirnya bisa bernafas lega.


Dilla mematikan lampu kamar lalu berjalan menuju sofa.


Dilla melihat sekilas ke arah Riza dengan tatapan iba. Mengingat penyakit maag Riza, membuatnya tidak tega meninggalkan Riza sendirian di rumah. Akhirnya Dilla pun memutuskan membatalkan kepergiannya untuk berlibur dengan Kiki.


---------


Apartemen Andyra.


Andyra terlihat sibuk dengan setumpuk berkas di atas meja. Pertemuannya dengan Riza tadi pagi seketika terbesit di pikirannya. Ia pun menyandarkan tubuhnya di kursi dan tersenyum.


"Dia sama sekali tidak berubah. Setelah sekian lama!"


Pikirannya melayang jauh.


Flashback


Tujuh tahun lalu


Setelah Riza menerima cinta Andyra. Andyra melalui hari-harinya dengan bahagia.


Suatu hari, Andyra mengajak Riza untuk pergi menonton bioskop. Namun, Riza menolak ajakan Andyra, membuat Andyra tampak kecewa.


Meskipun Andyra kecewa tetapi Andyra tidak pernah menunjukkan kekesalannya pada Riza. Ia tidak mau nantinya Riza meminta putus karena hal tersebut. Sebab ia sangat mencintai Riza.


Keesokan harinya, tiba-tiba Riza datang menemui Andyra dengan membawa sebuah boneka beruang berukuran besar. Riza menghadiahkan boneka tersebut pada Andyra.


Riza memang jarang berbicara akan tetapi dibalik sikap pendiamnya, ia merupakan sosok yang sangat perhatian dan penyayang. Riza selalu menunjukkan kasih sayangnya dengan tindakan bukan dengan rayuan ataupun kata-kata gombal. Salah satu hal yang membuat Andyra jatuh cinta padanya berkali-kali.


Andyra menerima boneka tersebut dan melompat bahagia. Sanking bahagianya, refleks Andyra mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Riza akan tetapi Riza tampak menjauh dan menghindar.


Entah mengapa, Riza selalu saja menghindar setiap kali Andyra mencoba memeluk ataupun menciumnya. Bukan cuma sekali tapi sudah berkali-kali Riza bersikap seperti itu.


Hubungan percintaan mereka hanya sebatas berpegangan tangan, tidak lebih. Bahkan Riza tidak pernah mengucapkan sepatah kata cinta pun untuknya.


Tak ayal hal itu membuat keraguan di hati Andyra. Ia pun sempat berpikir kalau Riza itu penyuka sesama jenis. Namun, cepat-cepat Andyra menepis jauh-jauh pikiran menjijikkannya itu.


Selama setahun mereka berpacaran, sudah kesekian kalinya Andyra mencoba berbagai cara untuk membuat Riza terpesona atau sekedar memancing rasa cemburu Riza terhadapnya. Namun, hasilnya selalu nihil.


Membuatnya akhirnya menyadari sesuatu. Sebuah kenyataan bahwa sebenarnya tidak pernah ada cinta di hati Riza untuknya. Riza hanya menganggapnya sebagai sahabat.


Hingga suatu hari, Riza datang melamar dirinya. Lalu ia pun menolak mentah-mentah lamaran Riza. Hingga membuat Riza kecewa.


Sebenarnya Andyra tidak tega tetapi ia harus mengambil keputusan berat itu sebab Andyra tahu alasan sebenarnya Riza melamarnya hanya karena Riza takut kehilangan Andyra sebagai seorang sahabat. Bukan karena Riza mencintainya sebagai seorang wanita.


Selanjutnya, Andyra pergi meninggalkan Riza dengan membawa perasaan kecewa dan sedih yang mendalam. Air matanya tak terbendung. Ia harus melepaskan cintanya saat itu.


Flashback End


Andyra mendesah pelan mengenang kisah cintanya dengan Riza. Hingga ia bertemu dengan Riza tadi pagi, ia tetap tidak melihat adanya cinta yang terpancar untuknya dalam sorot mata Riza. Andyra hanya melihat sorot mata kerinduan Riza padanya sebagai seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


Mengingat hal itu, membuat air mata Andyra kembali membasahi pipinya.


Terlebih lagi, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa saat ini Riza telah menikah. Membuatnya harus menguatkan hati dan mengubur rasa cintanya dalam-dalam.