My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/104



Seperti perkataan dokter pada Thomas beberapa waktu lalu bahwa kondisi Aldrich sudah mulai membaik. Dengan sedikit perawatan lagi, Aldrich akan bisa di bawa pulang.


Thomas masih terdiam di sisi Aldrich saat kembali mengingat perkataan dokter padanya. Thomas memandang wajah Aldrich yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil membaca lembaran koran di depannya.


Aldrich terlihat asyik dengan kegiatan membacanya malam itu.


Meskipun Thomas sudah berulangkali menyarankan Aldrich untuk istirahat, akan tetapi Aldrich tetap saja keras kepala dan selalu membantah tiap perkataan Thomas padanya.


Padahal hal itu dilakukan Thomas demi kesembuhan Aldrich.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?. Kau takut aku bisa mati hanya dengan membaca koran?!"


Thomas membungkuk, "Maafkan saya, Tuan."


"Apa Daddy tahu aku disini?"


Thomas diam.


Aldrich berdehem singkat. Aldrich paham, diamnya Thomas kali ini menandakan kalau pelayan setianya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kerja bagus." Aldrich tertawa sambil menepuk bahu Thomas.


Aldrich terlihat sangat senang sebab ayahnya yang pemarah itu tidak tahu akan sakitnya kali ini.


Kalau saja ayahnya tahu bahwa pencangkokan jantung untuk Aldrich mengalami masalah, sudah pasti ayahnya itu akan mencarikan jantung orang lain lagi hanya untuk sekedar menyelamatkan nyawanya.


Dan entah pria malang mana yang akan menjadi korban ayahnya kali ini jika sampai ayahnya tahu mengenai kondisi Aldrich.


Seperti yang dilakukan ayahnya lima tahun lalu. Memindahkan jantung seorang pria tak berdaya untuk menggantikan jantung milik Aldrich yang sudah tak dapat berfungsi dengan baik.


Sejak Aldrich menginjak usia dua puluh tahun, ia divonis mengidap gagal jantung. Selama tiga tahun, Aldrich hidup dengan bergantung pada obat-obatan dan peralatan medis yang setiap saat terus memantau kondisinya.


Hidupnya saat itu tidak ubahnya seperti mayat hidup. Hingga suatu hari, tiba-tiba Aldrich anfal lalu dinyatakan kritis oleh dokter.


Saat itu, ayahnya terus menerus mencari pendonor jantung yang cocok untuk Aldrich.


Hingga akhirnya jantung seorang pria malang berhasil menjadi bagian organ tubuhnya. Jantung yang kini berdenyut dan berdetak dalam dadanya. Jantung yang berhasil menyambung hidup Aldrich.


Tiba-tiba Aldrich terdengar meringis. Mendengar itu Thomas tampak khawatir.


"Anda baik-baik saja, Tuan?"


"Tenanglah. Aku belum mati." Aldrich memegang dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri. "Aku rasa pemilik jantung ini orang yang hebat. Buktinya aku bisa bertahan hidup selama berbulan-bulan meskipun aku kritis."


Thomas diam mendengarkan.


"Sepertinya aku harus berterima kasih. Bagaimana menurutmu?" tambah Aldrich lagi.


Aldrich menatap Thomas tajam. Dengan cepat Thomas menunduk lalu berkata, "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu dimana makam pendonor jantung Tuan," ucap Thomas seolah dapat membaca pikiran Aldrich.


"Kata-kata itu sudah kau ucapkan lima tahun lalu. Dan sekarang, tidak ada penambahan kata sedikitpun. Dasar payah." Aldrich berdecak.


"Aku tidak mau tahu, kau harus tahu dimana makam pendonor jantungku. Kecuali kalian mencuri jantung orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Dan kau tahu itu disebut apa?" ucap Aldrich terjeda. "Pembunuh."


Thomas bungkam. Bola matanya bergerak-gerak gusar. "Baiklah, Tuan. Saya akan berusaha mencari informasi yang tuan minta," kilahnya untuk meredakan Aldrich yang sepertinya mulai mencurigai sesuatu.


Percakapan mereka terpotong saat ponsel Thomas terdengar berbunyi nyaring.


Thomas segera keluar ruangan untuk menjawab panggilan teleponnya.


Di seberang telepon, terdengar suara Henzhie yang panik karena Dilla yang kembali tidak sadarkan diri. Bahkan Henzhie sempat merutuk dan memaki kakaknya itu sanking kesalnya.


Thomas meminta pada Henzhie agar menjaga Dilla selagi menunggu kepulangan Thomas dari rumah sakit. Henzhie pun mengiyakan.


Setelahnya, Thomas langsung berpamitan pada Aldrich dengan berbagai alasan tidak masuk akal untuk mengelabuhi tuannya. Hingga akhirnya, Aldrich pun mengizinkan setelah sebelumnya habis-habisan memarahi Thomas terlebih dahulu.


Namun, seperti biasa, Thomas hanya diam saja mendengarkan amukan tuannya.


Selanjutnya Thomas pun bergegas kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan Dilla


------


"Tidak, Pi. Mami tidak setuju dengan keputusan papi."


"Setuju atau tidak. Papi tetap pada keputusan papi. Dan mami harus ikut dengan keputusan papi kali ini."


"Keputusan papi sudah final. Besok papi akan membawa Riza ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Titik!"


Suara pertengkaran mami dan papi terdengar hingga ke dalam kamar Riza. Riza tersentak dari tidurnya, kemudian berjalan perlahan mendekati pintu.


Riza menarik gagang pintu. Pintu terbuka, tidak seperti biasanya. Sepertinya kali ini mami lupa mengunci kamar Riza.


Riza pun segera melangkah dan berjalan lurus ke depan dengan pandangan kosong seperti biasanya. Melirik sekilas ke arah mami dan papi yang masih sibuk dengan pertengkaran mereka hingga tidak menyadari kepergian Riza saat itu dari kamarnya.


Riza berjalan menuju pintu utama yang juga tidak terkunci. Udara dingin seketika menerpa wajah tirus yang setengah memucat itu sesaat setelah pintu terbuka lebar.


Pria itu berjalan terus masih dengan pandangan kosongnya tanpa alas kaki yang menutupi kakinya. Dinginnya gundukan salju yang menutupi aspal tempat ia menapak seolah tak dirasakan pria itu sama sekali.


Pria itu terus berjalan meninggalkan rumah besarnya dengan melewati pos keamanan yang tidak ada penjaga.


Kebetulan petugas pos keamanan yang menjaga rumah dinas papi saat itu sedang cuti. Alhasil Riza pun dapat dengan leluasa keluar dari rumah.


Sambil berjalan, Riza tersenyum saat melihat butiran indah salju jatuh dari langit. Ia menengadah. Menikmati tiap butir salju itu menyentuh telapak tangannya.


Perasaannya berubah tenang dan bahagia. Setelah puas menikmati butiran salju yang turun, Riza kembali melanjutkan langkahnya.


Riza terus berjalan. Udara dingin saat ini nyaris membekukan telapak kaki dan tangannya. Terlebih lagi, Riza hanya mengenakan pakaian tipis. Rasa dingin yang luar biasa itu pun mulai ia rasakan di sekujur tubuhnya.


Namun, bukannya kembali ke rumah, Riza justru terus melangkah tanpa arah dan tujuan. Melewati jalanan bersalju didepannya dengan tatapan kosong kemanapun kakinya melangkah.


-------


Thomas tiba dirumahnya tepat saat Henzhie baru saja keluar dari kamar. Henzhie menarik nafas lega ketika melihat kedatangan kakaknya.


"Huufft. Akhirnya kau datang. Kau tahu gadis itu tidak mengerti dengan bahasa yang aku ucapkan. Dia terus mengajakku berbicara bahasa Indonesia. Satu lagi, dia terus berteriak dan berbicara sendiri. Kenapa kau membawa orang gila ke rumah kita?" cecar Henzhie sambil berjalan bersisian dengan Thomas.


"Diamlah," jawab Thomas sambil terus mempercepat langkahnya.


"Dasar menyebalkan," lirih Henzhie di belakang.


Thomas membuka pintu kamar dan ...


Buuk!!!


Sebuah bantal tepat mengenai wajah Thomas sesaat setelah pintu kamar terbuka. Henzhie menganga kaget.


Sementara Dilla sontak melotot saat menyadari siapa orang yang ada didepannya.


"Mas Thomas?" serunya kemudian dengan perasaan bersalah.


"Iya, Nona. Saya Thomas. Pelayan Tuan Aldrich. Nona tidak perlu takut. Nona sedang berada di rumah saya."


Dilla terperangah.


Thomas pun mulai bercerita bagaimana Thomas bisa membawa Dilla ke rumahnya. Thomas menjelaskan panjang lebar dengan diikuti tatapan mata Dilla yang turut mendengarkan tiap perkataan Thomas dengan seksama.


Syukurlah Thomas datang tepat waktu saat itu sehingga si supir taksi belum sempat melakukan niat jahatnya pada Dilla pagi tadi. Mendengar hal itu, Dilla mengucap syukur.


Setelah mendengar penjelasan Thomas, akhirnya ia dapat bernafas lega saat tahu ternyata dirinya tidak ternoda sedikitpun.


Meskipun sebelumnya semua pakaian Dilla sempat dilucuti oleh si supir taksi dan hanya menyisakan pakaian dalam saja seperti penjelasan Thomas barusan, akan tetapi, Dilla tetap bersyukur dan berterima kasih pada Thomas sebab Thomas telah menyelamatkannya.


Dilla berterima kasih dengan wajah yang memerah akibat menahan malu.


Sesaat berikutnya, Dilla menghampiri Thomas kemudian duduk di sofa yang ada di sudut ruangan setelah Thomas mempersilahkan dengan sopan pada Dilla untuk duduk di sana.


Sambil meminum minuman ringan yang telah disediakan oleh Henzhie sebelumnya, Thomas pun memperkenalkan Henzhie pada Dilla.


Dan kali ini, Dilla terlihat ramah seperti Dilla yang biasanya. Dengan tersenyum, Henzhie meraih uluran tangan Dilla.


Beralih ke Riza, tak terasa Riza sudah berjalan cukup jauh meninggalkan rumahnya. Dinginnya udara Belanda, membuatnya mulai menggigil.


Dengan beratapkan beton sebuah terowongan yang bersisian dengan jalan raya, Riza duduk sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan ditemani bayangan istrinya yang tiba-tiba muncul tepat di sebelahnya.


Riza menoleh sambil terus memeluk tubuhnya yang terasa membeku dengan bersandar pada dinding terowongan. Menatap bayangan fana itu dengan seksama.


"Siapa kamu sebenarnya?. Kenapa kamu terus ada di manapun?" tanyanya dengan suara yang mulai melemah.


Bayangan itu mendekat lalu merangkul lengan kekar Riza seraya tersenyum. Mereka saling menatap lama sebelum akhirnya Riza perlahan menutup matanya.