
Sore harinya, terlihat Dilla sedang berjalan kaki seraya menggerutu kesal. Lagi-lagi ojek online yang dinaiki Dilla mogok di tengah jalan. Alhasil, Dilla harus rela berjalan kaki menuju rumah Riza.
Sementara itu, dari arah yang berlawanan terlihat Aldrich sedang berjalan santai seraya memegang ponsel di tangannya. Aldrich yang terlalu serius dengan ponselnya, tidak memperhatikan kemana arah kakinya melangkah. Tanpa disengaja kakinya menginjak sesuatu hingga akhirnya ia terpeleset dan terjatuh menghantam aspal.
Dilla yang kebetulan melewati Aldrich, segera mendekat untuk memberikan bantuan. Meskipun mereka baru pertama kali bertemu tadi pagi, akan tetapi Dilla dapat langsung mengenali Aldrich sebab hanya Aldrich-lah satu-satunya penghuni komplek yang memiliki perawakan bule. Sementara penghuni yang lain, kebanyakan berperawakan Indonesia atau Oriental.
Aldrich terdengar mengaduh kesakitan seraya memegangi tubuh bagian belakangnya.
"Mister, apa Mister baik-baik saja?" tanya Dilla setengah berjongkok.
Aldrich menggeleng, pertanda ia sedang dalam keadaan tidak baik.
Tanpa pikir panjang, Dilla membantu Aldrich perlahan untuk bangkit. Dilla menyampirkan tangan kiri Aldrich ke belakang kepalanya sementara tangan kanan Dilla merangkul pinggang Aldrich. Dilla memapah Aldrich perlahan menuju bangku panjang yang ada diseberang jalan.
Dilla mendudukkan Aldrich disana.
"Apa perlu kita ke rumah sakit, Mister?" tanya Dilla.
"Tidak usah. Aku sudah sedikit membaik. Terima kasih sudah menolongku."
Dilla mengangguk.
Aldrich merintih kesakitan saat menyadari lengannya sedikit tergores. Dilla terkekeh melihat ekspresi lucu Aldrich.
"Tenang saja, Mister. Itu cuma luka kecil."
Sesaat kemudian, Dilla mengeluarkan plester dari dalam tasnya untuk menutupi luka di lengan Aldrich.
"Bagaimana, Mister?. Apa masih sakit?" ujar Dilla tersenyum selepas menempelkan plester di lengan Aldrich.
Aldrich memperhatikan Dilla dari dekat.
"Kamu tinggal dimana?"
"Dirumah, Mister!" jawab Dilla cepat.
"Bukan itu. Maksudku alamat rumah kamu."
"Oh."
Dilla kemudian menyebutkan alamat rumah Riza kepada Aldrich.
"Jangan panggil saya Mister. Panggil saja Aldrich."
Dilla melongo seraya berpikir, "Nama apa itu?. Bagaimana caraku mengucapkannya?"
Setelah berpikir sejenak akhirnya Dilla pun berkata, "Mana boleh Mister. Mister kan jauh lebih tua daripada saya. Masa saya panggil nama. Itu ndak sopan namanya." Dilla beralasan.
Aldrich tertawa kecil.
Mereka pun kembali berbincang dengan diselingi candaan ringan. Aldrich menatap Dilla dalam diam.
"Cara dia berbicara dan tertawa terdengar tidak asing di telingaku. Apa mungkin kami memang pernah bertemu sebelumnya**?" Aldrich membatin seraya memegangi dadanya, jantung Aldrich berdetak dengan cepat.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Suara berat seseorang membuyarkan lamunan Aldrich.
Mereka berdua menoleh.
Terlihat Riza sedang berdiri dihadapan mereka dan menatap tajam ke arah Dilla dengan raut wajah datar.
"Eh, sudah pulang toh, Mas!" sapa Dilla.
Riza diam.
"Ayo pulang!" Riza menarik cepat lengan Dilla.
Riza melirik sekilas ke arah Aldrich sembari mengeratkan genggamannya di lengan Dilla. Dilla melambaikan tangan ke arah Aldrich.
"Cepat!" ucap Riza kembali.
Mereka pun berlalu pergi meninggalkan Aldrich seorang diri. Aldrich hanya diam menatap kepergian Dilla.
"Tuan Aldrich." Suara Thomas menyadarkan lamunan Aldrich.
"Ternyata Tuan disini. Anda baik-baik saja, Tuan?. Kenapa anda keluar?. Bukankah saya sudah memberitahu Tuan agar tetap diam dirumah?" cecar Thomas.
Aldrich menatap tajam ke arah Thomas seolah berkata "Apa urusanmu?". Seketika Thomas menundukkan kepalanya.
"Dasar pelayan menyebalkan!" ketus Aldrich.
---------
Sesampainya di rumah, Riza segera menaiki anak tangga menuju ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Dilla. Dilla menatap Riza bingung.
Di dalam kamar, Riza langsung menghempaskan tasnya ke atas ranjang dan melonggarkan ikatan dasinya penuh amarah. Riza terlihat sangat kesal.
Flashback
Riza sedang menaiki motor memasuki komplek perumahan. Dari kejauhan, ia melihat Dilla sedang merangkul seorang pria asing. Riza segera menghentikan laju motornya.
Jika dilihat dari jauh, tampak keduanya seperti sedang saling merangkul. Riza diam dan terus memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan dengan perasaan kesal alias cemburu.
"Bisa-bisanya dia tertawa seperti itu di depan pria lain!" lirihnya kesal.
Karena sudah tidak tahan menahan kesal, Riza pun berjalan perlahan menghampiri Dilla.
Flashback End
Hingga jam makan malam tiba, Riza tidak kunjung keluar dari kamarnya. Dilla yang heran segera menghampiri Riza di kamar.
Dilla mengetuk pintu kamar Riza berulang kali. Tidak ada sahutan apapun dari dalam. Akhirnya, Dilla memberanikan diri untuk masuk. Ia memutar gagang pintu perlahan.
Terlihat Riza sedang duduk bersandar di ranjang sembari membaca buku. Dilla mendekati Riza dan duduk di sebelahnya.
"Sedang baca apa, Mas?"
Riza diam.
"Mas kenapa?. Sakit?" tanya Dilla.
Riza tidak menjawab. Melihat Riza yang diam saja, membuat Dilla bingung. Untuk mencairkan suasana, Dilla pun membuka cerita.
"Mas, tadi pagi saya itu ketemu sama orang bule. Saya ndak nyangka ada bule di komplek ini. Ternyata orang bule itu ganteng-ganteng ya, putih, tinggi, enak diajak ngobrol terus lucu, Mas. Ha..ha..ha. Terus kan mas.."
Dilla terus saja berbicara panjang lebar dan tertawa renyah menceritakan perihal Aldrich dihadapan Riza, membuat Riza kesal bukan main. Dadanya terasa sesak menahan cemburu di hatinya.
Bukk!!
Riza menutup buku yang dibacanya dengan kasar. Dilla terdiam.
"Pergilah!. Aku mau istirahat," ujar Riza seraya merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Tapi, mas kan belum makan. Ayo mas, makan malam dulu."
"Aku tidak selera makan!" ketus Riza membelakangi Dilla seraya memejamkan matanya perlahan.
Dilla memberanikan diri bertanya kembali, "Mas kena-."
"Keluar!. Jangan ganggu aku!" ujar Riza penuh penekanan.
"Ya sudah."
Dilla yang tersulut emosi segera berjalan cepat meninggalkan Riza.
Braakk!!!
Dilla membanting pintu dengan keras. Membuat Riza sedikit terkejut.
"Apa-apaan dia itu?. Harusnya aku yang marah. Bisa-bisanya dia menceritakan pria lain dihadapanku." Riza menggerutu kesal.
"Aagghhh..!!!" Riza mengacak rambutnya kasar.
----------
"Selamat malam, Tuan." Thomas membungkuk hormat ke arah sebuah mobil hitam mewah didepannya.
Kaca mobil terbuka. Tampaklah seorang pria paruh baya mengenakan sebuah kacamata hitam membingkai kedua matanya.
"Ini dokumen yang anda minta, Tuan." Thomas memberikan sebuah map kepada pria berkacamata hitam yang sedang duduk santai di dalam mobil mewahnya.
"Kerja bagus!. Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan sampai ada yang curiga!" ujar pria tersebut kepada Thomas seraya memeriksa isi map yang diterimanya.
Thomas tersenyum simpul, "Baik, Tuan!"
"Jalan!" perintah pria tersebut pada supirnya.
Thomas membungkuk hormat. Mobil pun melaju kencang meninggalkan Thomas. Selanjutnya, Thomas berbalik dan melangkahkan kakinya menuju rumah Aldrich.
Saat Thomas memasuki rumah, Thomas terperanjat. Tampak Aldrich sedang bersedekap seraya menatap tajam ke arahnya penuh selidik.
Thomas menunduk hormat, "Tuan butuh sesuatu?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
"Apa yang kau lakukan diluar sana malam-malam begini?"
Thomas gelagapan.
"Saya hanya mencari udara segar, Tuan."
"Dia sudah mulai berbohong."
"Udara segar?. Heh!. Baiklah, sering-sering saja pergi mencari udara segar. Aku akan melaporkan kelakuanmu itu pada Daddy agar kau segera dipecat. Kau tunggu saja!" ancam Aldrich.
Thomas terlihat tidak bergeming sedikitpun dengan ancaman Aldrich. Aldrich tersenyum mengejek ke arah Thomas.
"Dia tidak takut sedikitpun."
"Dasar pelayan menyebalkan!!" sinis Aldrich kemudian.
Aldrich melangkah pergi meninggalkan Thomas. Thomas menunduk hormat kemudian menatap kepergian Aldrich dengan tatapan yang sulit diartikan.