Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Terlalu Membebaskan



Permasalahan tentang membawa motor sudah selesai. Setelah didatangi oleh Kila, Irsyad langsung melihat ponselnya. Tak lama kemudian, Irsyad menelpon Kila. Sebab, sebelumnya sudah ada panggilan tak terjawab yang mengartikan ada sesuatu yang ingin Kila bicarakan. Irsyad sempat kesal saat membaca isi pesan dari Kila, tapi untungnya Irsyad mau mengerti setelah Kila menjelaskannya di telpon. Irsyad akhirnya mengizinkan Kila untuk pulang bersama motornya. Irsyad juga tidak harus menjemput Kila ke kampus lagi dan melanjutkan pekerjaannya di rumah lagi.


"Kila..," panggil Irsyad yang sudah duduk di ruang keluarga.


"Iya, Kak?" sahut Kila dan menyusul Irsyad untuk duduk di sebelahnya.


"Ke sini sebentar, saya ingin bicara," ujar Irsyad menunjukkan tempat tepat di sebelahnya. Menandakan Irsyad ingin jarak yang benar-benar dekat untuk bicara dengan Kila.


"Bicara soal apa, Kak?" tanya Kila setelah mendekat sesuai yang Irsyad katakan.


"Soal hubungan kita. Saya pikir, sudah seharusnya kita membahas ini sejak lama," ujar Irsyad. Ia kemudian merangkul Kila dan membawa kepala Kila bersandar di dada bidang miliknya. Kila agak terkejut dengan sikap itu, tapi ia tak melawan dan malah menikmatinya.


"Ada apa dengan hubungan kita, Kak?" tanya Kila meski takut menatap mata Irsyad dengan posisi sedekat ini.


"Saya pikir, jika kamu keberatan dengan hubungan kita diketahui oleh orang-orang kampus, itu tidak apa-apa. Tidak apa-apa jika kamu ingin mengembalikan panggilan lama kamu untuk saya seperti waktu itu jika kita sedang berada di lingkungan kampus. Tidak apa-apa jika memanggil saya dengan sebutan 'Pak' kembali. Saya juga tidak mempermasalahkan kalau kamu ingin memakai kembali kosakata baku kepada saya seperti saat saya menjadi guru kamu di SMA dulu. Saya pikir, itu akan memudahkan kamu untuk berinteraksi dengan saya di lingkungan kampus tanpa harus khawatir kalau orang lain akan mengetahui hubungan kita," jelas Irsyad. Ia mengatakan hal itu seraya mengusap lembut lengan Kila yang sedang ia rangkul.


"Hah? Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" batin Kila heran. Kila juga menganggap aneh sikap pria satu ini. Dalam posisi super dekat seperti ini, Irsyad malah membahas soal hubungan yang harusnya diberi jarak.


"Saya juga tidak memakai cincin untuk mengimbangi kamu yang juga tidak memakai cincin. Sekali lagi saya ingatkan, saya tidak ingin memaksa kamu," sambung Irsyad sambil menunjukkan tangannya yang kosong tanpa cincin.


"Ternyata Kak Irsyad juga melepas cincinnya? Kenapa aku terusik dengan itu? Harusnya aku senang, kan?" ujar Kila dalam hati. Hanya dengan Irsyad menunjukkan jarinya yang kosong saja sudah membuat hati Kila tergores. Entah apa yang ia inginkan. Padahal dirinya sendiri sudah melepas cincin pernikahan mereka untuk menghindari berbagai anggapan orang mengenai dirinya yang sudah menikah dan dianggapnya sedikit mengganggu itu.


"Tapi, kalau dipikir-pikir ternyata lucu juga, ya? Pernikahan kita ini seperti pernikahan rahasia, ya? Ahahahaha," canda Irsyad. Ia tidak tahu bahwa candaannya itu seperti sindiran dan tamparan keras untuk Kila.


"Benar, dan yang memulai untuk merahasiakannya adalah aku. Padahal aku yang pertama menaruh hati kepada Kak Irsyad. Harusnya aku bahagia dengan pernikahan ini, dan harusnya tidak perlu ada yang ditutup-tutupi. Harusnya aku membiarkan dunia tahu bahwa akulah istri Kak Irsyad. Bukan malah ciut jika orang lain mengetahui hubungan halal ini." batin Kila mengakui kesalahannya.


"Umm..., Kak Irsyad benar-benar nggak keberatan? Usia pernikahan kita juga sudah terhitung lama, tapi Kila masih aja belum siap untuk menunjukkan hubungan kita secara terang-terangan ke semua orang. Kila nggak tahu harus sampai kapan begini terus," ujar Kila menanggapi.


"Padahal aku tak mau Kak Irsyad terbebani dengan perilakuku ini...," sambung Kila dalam hati.


"Tidak keberatan, kok. Saya berharap, saat kamu sudah lulus nanti kamu akan lebih mudah untuk membiarkan orang lain tahu hubungan kita," balas Irsyad.


"Egois apanya, Kak? Kakak nggak egois, kok. Malah Kila yang egois, Kila tahu itu," jawab Kila tegas.


"Tidak, Kila. Saya yang egois. Saya sekali lagi membelenggu kamu dalam status guru dan murid ini. Ya, walaupun saya sekarang adalah seorang dosen. Dan, hal wajar seorang dosen menikah dengan mahasiswa sekarang ini. Tapi, bagi kamu mungkin ini adalah sebuah batas dan jarak yang tak boleh dilewati. Benar, kan, Kila? Saya minta maaf untuk itu, ya," ujar Irsyad. Ia mendaratkan kecupan lembut di kening Kila sebagai tambahan dari permintaan maafnya.


"Kak..., kalau Kila pikir-pikir, Kakak kayaknya terlalu membebaskan Kila, deh," ujar Kila seraya melepaskan diri dari rangkulan Irsyad.


"Apanya yang terlalu membebaskan?" tanya Irsyad bingung.


"Normalnya, Kakak harusnya marah dengan sikap kekanak-kanakan Kila ini. Harusnya Kakak juga memaksa atau setidaknya menyuruh Kila pelan-pelan untuk menerima hubungan ini diketahui oleh orang lain. Kak Irsyad terlalu membebaskan Kila dan nggak mau memaksa. Kadang Kila suka kesal dengan sikap Kak Irsyad yang seperti itu," jawab Kila sedikit menaikkan volume suaranya.


"Sudah saya bilang, Kila. Saya tidak ingin memaksa."


"Iya, Kila tahu, Kak. Tapi Kila mau kok kalau Kakak maksa. Itu harusnya merupakan salah satu hak Kakak sebagai seorang suami, kan? Tapi Kakak nggak ngambil hak itu," spontan Kila memotong. Kali ini dengan volume lebih tinggi dari sebelumnya. Sontak membuat Irsyad terkejut dengan sikap Kila barusan. Tidak biasanya Kila meninggikan suaranya seperti ini.


"Kila, kamu kenapa?" tanya Irsyad bingung.


"Setelah seperti ini masih ditanya kenapa?" batin Kila kesal.


"Kila kesal, Kak!!! Kenapa Kila harus berhadapan dengan Kak Irsyad seperti dulu lagi? Saat dimana Kak Irsyad menjadi guru sekaligus wali kelas Kila, dan Kila adalah murid Kak Irsyad. Harus menyapa dengan panggilan 'Pak', harus menggunakan kata baku, dan juga harus menjaga sopan santun. Apalagi saat di tempat yang sama ada seorang murid lain yang menyaksikan. Kalau itu terjadi lagi, nggak ada bedanya, dong, sama waktu SMA dulu. Sama-sama nggak ada status yang mengikat kita. Tapi kita nggak begitu sekarang, kan, Kak?" ucap Kila seraya menghadap ke Irsyad. Lagi, volume suaranya masih bertahan di ketinggian yang sama seperti ucapannya sebelumnya.


"Ya, kamu benar. Sepertinya usulan saya tadi sangat salah di mata kamu. Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?" balas Irsyad dengan nada tinggi pula. Nada bicara dan ekspresi wajahnya sangat kentara sekali menyatakan bahwa ia begitu kesal dengan pernyataan Kila.


"Aa.., si pria dengan temperamen buruk ini muncul lagi," keluh Kila dalam hati.


"Ya udah, seperti biasa aja. Kila bakalan jarang ke kampus karena bakal fokus ngerjain skripsi. Kalau di lingkungan kampus, Kila usahakan nggak ngobrol sama Kak Irsyad selain di dalam mobil biar nggak tahu orang-orang. Nggak perlu ngelakuin hal-hal detil seperti yang Kak Irsyad usulin sebelumnya," jawab Kila. Ia tidak ingin membalas Irsyad dengan volume suara yang lebih tinggi dari yang Irsyad lontarkan. Kini, volume suara Kila ia normalkan untuk mengakhiri perdebatan.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Kalau begitu, itu saja yang ingin saya bahas ke kamu. Saya ingin kembali bekerja ke ruangan kerja saya," ucap Irsyad mengakhiri. Seperti perkataanya, Irsyad langsung meninggalkan ruang keluarga itu menuju ke ruang kerjanya. Suasana hangat di dalam rumah sepertinya mulai mendingin.


...****************...