
Hari ulang tahun Kila sudah terlewati, namun masih sangat ia rasakan kejutan dari Irsyad itu. Setiap sebelum tidur ia selalu terbayang suara Irsyad yang dihasilkan oleh benda kotak yang disebut ponsel itu. Benda yang mempersempit jarak antara dirinya dan Irsyad. Hanya sekedar ucapan selamat ulang tahun, namun Kila begitu sulit untuk menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa saja.
Kila yang melamun saat mendengar kalimat Irsyad itu, dibuat sadar dengan deheman Irsyad.
"Sudah dulu, ya, Kila. Kita tidak boleh berlama-lama bicara seperti ini. Tidak enak jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Assalamu'alaykum."
Begitulah penutupan dari Irsyad. Ia tidak menelepon lama, sekedar mengucapkan selamat ulang tahun lalu menutup teleponnya. Lalu Kila, hanya dengan kalimat irit itu ia semakin jatuh hati pada pria itu.
Tampaknya ia agak terlambat hari ini gara-gara memikirkan hal itu terus-terusan. Kila buru-buru keluar dari kosannya dan segera berlari ke simpang komplek untuk mencari angkot.
"Hai, Kila. Mau telat, ya? Bareng saya aja, searah juga sama kampus saya." Farhan datang di saat Kila masih separuh jalan dari simpang komplek. Ia menawarkan tumpangan juga karena kasihan melihat Kila berlarian buru-buru seperti itu.
"Tidak usah, kak, nanti Kak Farhan ikut telat juga," ucap Kila menolak segan.
"Tidak akan. Saya masuk kelas siang hari ini. Ini juga ke kampus karena mau ngumpul buat ngerjain tugas bareng. Ayo naik, nggak usah sungkan," ucap Farhan meyakinkan.
"I-iya, Kak. Terimakasih banyak atas tumpangannya, Kak," ujar Kila lalu naik perlahan ke motor Farhan.
"Oke, kamu jangan lupa pegangan. Kita bakal ngebut, nih."
"Ini udah pegangan, kok, Kak."
"Ooh, oke. Siapkan jantung kamu, ya."
Farhan sudah dapat mengira, yang akan dipegang Kila bukanlah pinggang atau baju Farhan. Tapi tetap saja ia katakan, karena yang biasa saat berkendara dengan motor, pegangan si penumpang ada di pinggang pengendara, kan? Kila malah memegang ujung besi motor yang ia duduki sebagai pegangan. Ia bahkan masih sempat memberi jarak di saat seperti ini.
"Gimana jadi kelas sebelas, enak nggak?" ujar Farhan sedikit berbasa-basi. Padahal mereka sudah dekat dengan sekolah.
"Alhamdulilah, Kak. Mungkin tidak sesulit kelas IPA," jawab Kila.
"Oke, Kila. Semangat ya belajarnya. Kirim salam sama orang yang kenal saya. Gih, masuk. Sebelum di usir karena terlambat," ucap Farhan saat sudah di halte bus depan sekolah. Kila yang meminta untuk diantarkan sampai sini saja, karena takut akan ada orang yang melihat Kila diantar oleh mantan ketos dan menimbulkan fitnah.
"Oke, kak. Terimakasih banyak. Jazakallahu khair," ujar Kila lalu berlari menuju ke sekolah.
Untung, Farhan seperti penyelamat. Kila tidak tahu kenapa hari ini dirinya bisa hampir terlambat.
...****************...
Belajar dari kesalahan semalam, hari ini Kila tidak akan terlambat. Ia juga tidak tidur sehabis sholat subuh. Ia juga mengurangi begadang karena mempelajari buku pranikah. Hari ini ia pergi cepat menuju sekolah dengan jalan kaki. Lumayan, dengan berjalan kaki ia tidak mengeluarkan uangnya dan terhitung spot pagi juga.
"Hai, Kila. Cepat banget jam segini udah mau ke sekolah. Takut terlambat kayak semalam, ya? hahaha." Suara bariton milik Farhan menyapa Kila yang sedang menikmati perjalanannya menuju ke sekolah.
"E-e, Kak Farhan. Assalamu'alaykum dulu, kak," jawab Kila.
"Wa'alaykumussalam, Kila. Hehehe. Yuk naik, sekalian ke kampus juga. Hari ini saya masuk kelas pagi," balas Farhan sekaligus menawarkan.
"Kak, terimakasih banyak atas bantuannya selama ini. Saya tidak ingin merepotkan lagi. Lagian ini sekaligus olahraga pagi juga," tolak Kila dengan santun.
"Maaf, Kak. Saya tidak ingin ada gosip aneh kalau ada murid yang lihat dan tahu kalau mantan ketos memberi tebengan kepada saya. Jadi, lebih baik tidak usah, Kak," ucap Kila menolak lebih tegas.
Farhan menghela nafas malas. Lalu menatap Kila, sedangkan Kila seketika menunduk menghindari. Kila merasa, mungkin Farhan memang menyukai Kila. Semalam memang Farhan sangat menyelamatkan Kila dari keterlambatan. Tapi cukup untuk semalam saja. Tidak usah berkelanjutan. Ia juga harus menjaga hati untuk Irsyad seorang. Sebab, Farhan memiliki sifat yang sama dengan Irsyad, Kila tidak ingin menganggap Farhan sebagai penggantinya Irsyad.
"Baiklah kalau memang sebegitunya kamu menolak. Padahal saya berniat melakukan kebaikan kepada kamu. Ya udah, saya duluan, ya. Assalamu'alaykum. Hati-hati di jalan, Kila," ucap Farhan undur diri.
Setelah menjawab salam Farhan, Kila melanjutkan perjalanannya. Ia berjalan seraya memikirkan buku yang akan ia baca selanjutnya. Jika benar dirinya akan menikah tepat setelah lulus SMA, maka ia harus memiliki ilmu yang cukup tentang pernikahan.
"Duh, apaan, sih, aku. Sebentar lagi udah mau ujian semester genap. Sebaiknya aku mengurangi dulu membaca buku-buku tentang pranikah itu. Aku harus fokus dengan materi yang akan diujiankan nanti. Harus kuakui bahwa di kelas sebelas ini, materi memang sangat sulit. Aku tidak bisa lengah sedikitpun," ujar Kila pada diri sendiri di dalam hati.
...****************...
Ujian semester genap akhirnya tiba. Ujian terakhir sebelum dikatakan layak menyandang status sebagai kelas dua belas. Minggu-minggu awal memang ujian yang memberatkan, karena pelajaran yang diujikan duluan terbilang cukup sulit. Tapi, Alhamdulillah, Kila melalui dua minggu ujian dengan lancar.
"Kila, bagaimana orang tua kamu? bisa ambil rapor kamu, nggak? Kalau nggak bisa, biar bunda aja yang ambilkan," kata Citra. Kila sedang di rumahnya sekarang. Mengingat, ini Hari Minggu sudah jadi kewajibannya mengunjungi rumah Citra.
"Aman, Bun. Kila udah hubungi. Terus, katanya mama sama papa, ada yang mau diomongin juga sama bunda. Mungkin mau kenal keluarganya Pak Irsyad juga," jawab Kila santai.
"Berarti lengkap, mama dan papa kamu akan datang? Wah, bagus kalau gitu. Kenalan sama calon besan. Hahaha," balas Citra seraya tertawa kecil.
"Apanya yang calon besan, Bun?" Suara Farhan yang datang tiba-tiba menghentikan tawa Citra.
"Farhan? Kamu datang? Tumben," tanya Citra seraya mempersiapkan minum untuk Farhan.
"Ya ampun, Bun. Emang nggak boleh kalau Farhan datang? Wih, baunya enak, nih. Bunda masak kue, ya? Farhan bagi juga dong, Bun. Kan, Kak Irsyad lagi nggak ada. Jadi, Farhan bisa ambil bagiannya Kak Irsyad."
"Iya, iya. Ya udah kamu tunggu di ruang keluarga. Kalau ikut ke dapur nanti dapurnya makin berantakan karena kamu," perintah Citra.
"Iya, iya."
Kila sedikit tertawa menyaksikan Citra dan Farhan. Citra meninggalkan Kila sebentar untuk memberikan minuman untuk Farhan.
"Ini, silahkan diminum. Kamu tunggu sebentar, ya. Bentar lagi kuenya matang."
"Iya, Bun. Oiya, Bun. Farhan nginap di sini ya hari ini. Ayah sama bunda Farhan lagi nggak ada di rumah, menginap di rumah tante. Kalau di sini, kan, bisa sekalian ke masjid bareng Ayah Erwin. Sekalian juga, ada yang mau Farhan tanyain ke bunda."
"Iya, boleh. Emang, kamu mau tanya apa ke bunda?"
"Tanya tentang Kila dan Kak Irsyad. Tapi nanti aja, waktu Kila udah pulang."
Citra mengiyakan permintaan Farhan, lalu kembali ke dapur. Apa kiranya yang akan Farhan tanyakan? Kenapa menyangkut Kila dan Irsyad? Lalu, kenapa harus menunggu Kila pulang untuk menanyakannya?
...****************...