Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Terlalu Baik



Kila menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia cenderung irit bicara saat bersama Irsyad, tapi bersikap normal saat di depan orangtuanya Irsyad agar tidak menimbulkan kecurigaan apapun. Benar, Irsyad merasa Kila yang pendiam itu kembali.


Sampai tak terasa, waktu wisuda kini tiba. Semua orang berdatangan untuk memberikan ucapan selamat pada Kila. Termasuk Ira dan Risa, dua sahabat Kila itu tengah hamil sekarang. Risa sudah hamil tua, sedangkan Ira masih hamil muda. Mereka jauh-jauh ingin datang ke acara wisuda sang sahabat, padahal kondisinya sedang berbadan dua.


Sementara Yuli, ia terlihat tidak buncit lagi. Anak yang ia lahirkan adalah laki-laki, seperti yang ia katakan. Sekarang, anak itu ada bersama baby sitternya di rumah. Membawa bayi di acara ini akan merepotkan, pikir Yuli dan Farhan.


Irsyad, apakah ia akan mengulangi hal yang sama saat wisuda sarjananya dulu? Kila tidak melihat keberadaan Irsyad disaat semua orang sudah berada di sisinya untuk melakukan foto bersama.


"Ma..., Papa nggak datang, ya?" tanya Kila pada Riska. Selain mencari keberadaan Irsyad, ia juga tidak menemukan keberadaan ayahnya.


Semenjak bercerai, Gilang tidak pernah memberikan kabar. Kila juga begitu, tapi masalah wisuda ini, Kila jelas-jelas memberitahukannya kepada Gilang. Ia ingin hari bahagianya ini di hadiri oleh orangtuanya yang lengkap meskipun mereka tidak bersama lagi.


"Dia udah ada keluarga baru sekarang. Dan sifat gila kerjanya, jangan lupakan itu. Mana mungkin dia akan menghadiri acara ini kalau dihadapkan dengan pekerjaannya yang lebih penting."


"Keluarga baru? Mama tahu darimana?"


"Dari teman Mama. Lagian, keluarga baru itu mereka, kok, Kil. Bukan orang lain. Wajar aja sih."


"Mereka? Sejak kapan?"


"Nggak lama setelah kami bercerai. Mama kurang tahu detilnya, sih."


Mendapat kabar seperti itu tidak terlalu mengejutkan Kila. Toh, semuanya masih terlihat baik-baik saja sekarang. Yang ia sangat khawatirkan adalah kehadiran Irsyad.


"Kalau Mas Irsyad, Mama tahu beliau di mana? Ada ketemu nggak tadi?"


"Irsyad kan dosen, Kil. Masa kamu lupa?"


"Astaga..., kenapa sih aku? Astaghfirullah," ucap Kila dalam hati merutuki dirinya sendiri karena menuduh Irsyad tanpa alasan.


"Mungkin masih ada jam mengajar, Kil," sambung Riska.


Selanjutnya, ada banyak sekali mahasiswi yang ikut berfoto dengan Kila. Rata-rata adalah mahasiswa yang pernah Kila ajar sebagai asisten dosen. Kila senang mereka masih menganggap Kila bagian dari mereka, sampai mau mengabadikan momen dengan foto bersama di hari wisuda Kila. Tentu saja mereka masih ingat, setiap berpapasan dengan mereka, Kila selalu ramah. Dan Kila tak melupakan nama mereka satupun, itu yang membuat Kila terkesan di hati mereka.


"Kak Kila ternyata istrinya Pak Irsyad, ya? Hehe," dua mahasiswa yang pernah diajarnya itu tak langsung meninggalkan Kila setelah sesi foto. Dua mahasiswa yang sering kali bertanya saat kelas selesai. Yang karena kehadiran mereka, Irsyad sampai jengkel dan cemburu.


"Sttt..., kamu ini, nanti kalau tahu teman-teman yang lain bisa kacau reputasi Pak Irsyad dan Kak Kila," temennya memperingatkan.


"Iya, benar. Apa cuma kalian berdua aja yang tahu?" jawab Kila membenarkan.


"Iya, Kak. Soalnya, saat kami perhatikan baik-baik, cincin yang ada di jari Kakak dan Pak Irsyad sama. Terus, Pak Irsyad sering banget perhatiin Kakak waktu ngajarin kita, cara merhatiin nya pun beda banget. Kayak dipandangi gitu, terus kadang suka senyum sendiri Pak Irsyadnya waktu mandangin Kakak. Padahal, Pak Irsyad tipe yang selalu menjaga pandangannya ke wanita yang bukan mahram. Jadi, ya..., kesimpulannya cuma itu. Nggak salah ternyata asumsi kita."


"Wah..., saya jadi malu, nih. Jangan diumbar ke teman-teman yang lain, ya."


"Sip, Kak. Kita pamit dulu, ya. Selamat atas wisudanya. Kirim salam sama Pak Irsyad ya, Kak."


Tak lama dua mahasiswa itu pergi, Kila melihat Irsyad datang menghampiri.


"Selamat atas kelulusannya, Sayang," sapa Irsyad seraya memberikan buket bunga untuk Kila.


Kila tak menyangka ini terjadi. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga. Pertama ia mengira bahwa Irsyad akan mengacaukan harinya sama seperti saat itu, lalu ia begitu bersalah karena itu hanya pikirannya saja yang berlebihan. Tak lama, dua mahasiswa memberitahukan kepada Kila bagaimana cara Irsyad memandang Kila saat mengajar. Jika di definisikan seperti itu oleh mereka, jelas-jelas Irsyad begitu mencintai Kila. Di saat sibuk mengajar pun, ia masih sempat memberikan buket bunga yang begitu indah kepada Kila, benar-benar manis sikapnya itu. Sungguh Irsyad, kamu terlalu baik untuk Kila.


"Kila...? Kenapa diam saja? Ooh, itu..., maafkan saya karena terlambat. Saya ada kelas tadi. Kamu nggak marah, kan?" Kila menunjukkan senyum seraya menggeleng.


"Syukurlah kalau kamu tidak marah."


"Kita foto bersama dulu, Mas?" tawar Kila dengan senyuman, senyum yang palsu karena dipaksakan.


"Untuk yang terakhir kalinya," sambung Kila dalam hati. Apa maksudnya itu?


"Baik. Siapa yang akan memotret? Oiya, saya ingin menyimpan beberapa foto di ponsel saya." Irsyad mengeluarkan ponselnya.


"Sini biar Bunda aja yang fotoin, Nak." Citra mengarahkan mereka ke tempat yang agak sepi, sekalian mengajak fotografer yang Kila sewa sebelumnya. Jika ditempat agak sepi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan akan kedekatan pasutri ini oleh orang-orang kampus.


"Apa kamu mau ke studio foto untuk melanjutkan sesi foto kita? Saya ingin lebih dekat dengan kamu, tapi di sini terlalu banyak orang." Irsyad tampaknya ingin menebus momen buruk Kila saat wisuda waktu itu. Membayarnya dengan momen yang indah dan berharga.


"Sekarang, Mas?"


"Iya. Saya tahu kamu pasti sangat lelah berfoto dengan banyak orang. Tidak apa-apa kalau kamu menolak." Irsyad jadi ragu karena Kila terlihat keberatan.


"Maaf, Mas. Sepertinya masih ada orang lain lagi yang ingin menemui Kila. Kalau kita meninggalkan area kampus, takutnya mereka nggak punya kesempatan lagi untuk bertemu Kila," tolak Kila halus.


"Begitu, ya? Ya sudah, di sini saja sudah cukup. Mungkin, mesra sedikit tidak apa-apa."


Sebenarnya Irsyad juga meminta itu karena ingin melindungi Kila. Ia tahu benar kalau Kila belum siap dengan statusnya diketahui orang-orang kampus. Jika mesra seperti pasutri, bagaimana tanggapan orang kampus terhadap Kila. Ya, walaupun sebenarnya Kila telah lulus dari kampus ini. Tapi biarlah, toh ini adalah momen yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Irsyad juga tidak mempedulikan kali jika status pernikahannya akan diketahui oleh orang kampus jika ada yang melihat sesi foto mesra mereka yang malu-malu.


Giliran sang fotografer yang mengambil alih sesi foto pasutri itu. Dilihatnya Irsyad dalam posisi ingin mengecup kening Kila, tampak malu-malu tapi tulus. Kila juga sudah refleks memejamkan matanya.


"Nah, bagus, begitu. Jangan bergerak dulu, ya. 1..2..3..., ok. Nggak usah malu-malu atuh. Lokasi ini sepi, kok. Nggak ada orang lewat yang bakal lihatin kalian berdua selain saya dan Bu Citra yang datang ini."


Sesi foto selanjutnya diatur oleh sang fotografer. Foto yang mesra berhasil di dapatkan. Meskipun keduanya malu-malu, hasil fotonya sangat terlihat bagus.


"Terimakasih banyak, Mas. Sepertinya sampai sini aja dulu. Kita udah ambil banyak foto bersama. Kila mau balik ke tempat tadi. Ira sama Risa kasihan ngamanin tempat Kila di sana."


"Em.., iya, silahkan."


"Bagaimana ini, sudah dua kali wisuda kujalani. Harusnya aku sudah siap untuk itu, kan? Jika beliau masih menolaknya dengan alasan aku yang belum siap, aku pastikan bahwa ini benar-benar terakhir." Kila tenggelam dalam pikirannya.


...****************...