
Hari ini sangat sibuk dan sangat melelahkan, tidak ada waktu untuk Kila memakan nasi. Ia hanya mengganjal perutnya dengan minum air dan sisa camilan yang dibawa oleh mamanya. Setelah masuk ke kosan, Kila tidak bohong sama sekali tentang tugas yang harus ia kerjakan. Kila tidak dapat diganggu sekarang, meskipun asam lambungnya sudah naik. Ia sangat fokus mengerjakan tugas yang diberikan dosennya. Sampai ia tertidur di meja belajarnya. Untung waktu shalat wajibnya sudah ia tunaikan semuanya.
Irsyad memiliki jam rutin menelpon Kila. Biasanya dua jam sebelum jam tidurnya Kila, ia menelepon. Perasaan khawatir kembali menerpa saat sudah beberapa kali Irsyad melakukan panggilan, namun tidak dijawab oleh Kila.
Kila yang tertidur pulas terganggu dengan deringan ponselnya. Akhirnya ia mengangkat panggilan itu dengan posisi yang masih meletakkan wajahnya karena tertidur di meja belajarnya.
Kila membaca sekilas siapa yang meneleponnya. Meski samar dibaca, Kila tahu yang menelpon itu adalah Irsyad. Kila ingin duduk dan menjawab telpon itu dengan baik, tapi ia tidak bisa. Badannya terasa sangat panas, dan Kila juga tidak memiliki tenaga lagi sebenarnya untuk menjawab telpon itu. Tapi ia tetap berusaha bicara karena ia tidak mungkin mengabaikan telpon dari Irsyad, karena Kila juga berpikir pasti Irsyad sudah menelponnya berkali-kali tadi.
"Halo," ucap Kila terdengar tidak fit.
"Halo Kila, Assalamu'alaykum. Kamu nggak apa-apa? Suara kamu kenapa terdengar seperti sedang sakit begitu?" tanya Irsyad dengan nada khawatir.
"Wa'alaykumussalam, Kak. Maaf baru menjawab teleponnya. Kila capek banget sampai tertidur di meja belajar ini. Kepala Kila pusing banget, sih," jawab Kila pelan tak bertenaga.
"Kila, kamu pasti belum ada makan nasi karena terlalu sibuk, iya kan? Saya khawatir kamu sakit demam dan mag. Coba pegang dahi kamu. Terus, perut kamu perih atau tidak?" Irsyad lebih khawatir lagi mendengar jawaban Kila tadi. Ia tidak mendengar jawaban apapun lagi dari Kila karena Kila benar-benar sudah tidak punya tenaga lagi menjawabnya, Irsyad mengerti itu dan membiarkannya.
Irsyad sangat yakin Kila masih bisa mendengarnya, untuk itu ia memikirkan sebuah ide gila untuk meruntuhkan kekhawatirannya itu.
"Kila, besok saya akan ke Indonesia untuk melihat kamu dan mengurus kamu. Saya tidak bisa diam saja di sini saat kamu menderita di sana karena sakit dan sendirian. Saya ingin berperan sebagai suami yang baik dan merawat kamu dengan baik pula. Jadi, tunggu saya, ya," ujar Irsyad. Ia benar-benar nekat untuk merencanakan pulang langsung ke Indonesia demi merawat Kila.
"Sudah, sekarang kamu fokus istirahat dulu. Makan apapun yang bisa kamu makan untuk saat ini. Saya akan menghubungi bunda untuk memberitahu kabar kamu. Nanti bunda yang akan merawat kamu sampai saya datang, ya. Syafakillah, Assalamu'alaykum," tutup Irsyad.
...****************...
Sesuai perkataan Irsyad, ia datang ke Indonesia hari itu juga setelah menyelesaikan tugas penelitiannya dan meminta izin pada profesor yang menjadi pendukung Irsyad melakukan penelitian. Ia tiba di Indonesia keesokan harinya. Ia bergerak sangat cepat dan rela menempuh perjalanan lima belas jam hanya untuk bisa ada di samping Kila untuk merawatnya. Irsyad tiba pagi-pagi sekali, bertepatan dengan adzan subuh. Karena sudah keluar dari bandara, ia memutuskan untuk shalat subuh berjamaah di masjid pinggir jalan saja. Ia bermunajat kepada Allah segala kebaikan dalam doanya untuk Kila.
Citra sudah stand by di samping Kila setelah mendapat telpon penuh kekhawatiran dati Irsyad. Benar yang Irsyad katakan, Kila ternyata demam sangat tinggi dan asam lambungnya juga sempat naik dan membuat perut Kila sangat perih. Mag-nya sudah reda, hanya demamnya saja yang tak kunjung turun. Citra sangat khawatir dengan kondisi Kila saat ini. Untuk itu ia menemani Kila sampai Irsyad sampai.
"Irsyad, kamu sampai juga. Ayo cepat masuk untuk lihat kondisi Kila," ujar Citra yang menjemput Irsyad ke depan. Mereka segera kembali ke kamar kosan Kila dengan langkah terburu-buru.
"Assalamu'alaykum, Kila," ujar Irsyad saat memasuki kamar Kila. Kila yang sebelumnya memejamkan matanya untuk beristirahat perlahan-lahan membuka kelopak matanya karena mengenali suara itu.
Saat keluar bandara tadi, Irsyad memesankan kepada bundanya untuk menutup rambut Kila dengan hijab. Irsyad tahu kalau Kila belum siap dilihat mahkotanya meski dalam keadaan sakit sekalipun. Citra menuruti, dan jadilah Kila tetap berbaring menggunakan hijab saat ada Irsyad, seperti sekarang ini.
Irsyad duduk di samping Kila, untuk memeriksa langsung keadaan Kila. Ia melihat keadaan Kila dengan mata berbinar. Jika bisa, ia akan menumpahkan air yang mulai menggenang di matanya. Tapi Irsyad kuat dan masih bisa menahannya.
"Kila, kamu sangat pucat. Dahi dan seluruh tubuh kamu panas. Saya tidak kuat melihat kamu tidak berdaya seperti ini. Kila, saya datang ke sini untuk menjaga dan merawat kamu. Izinkan saya, ya," ucap Irsyad sendu.
"Bun, Kila sudah makan dan meminum obatnya?" tanya Irsyad.
"Udah, kok," jawab Citra.
"Irsyad khawatir, Bun. Apa tidak lebih baik kalau kita membawa Kila ke rumah sakit?" tanya Irsyad resah.
"Kak, nggak usah. Hari ini Kila ada kelas. Dengan banyak istirahat, Kila yakin nanti pasti sembuh, kok," potong Kila mencegah.
"Syad, dengarkanlah yang Kila ucapkan. Untuk sekarang, kamu aja yang jadi dokternya dengan merawat Kila langsung. Dan terus ada disampingnya Kila. Bunda rasa, dari obat-obatan yang udah di beli ini udah cukup, nggak usah ke dokter juga. Lagian, kita harus sabar untuk menunggu kesembuhan Kila. Nggak mungkin disaat baru meneguk obat langsung sembuh, kan? Kamu yang sabar, jangan terlalu khawatir. Ntar kamu malah ikutan sakit, lagi," ucap Citra. Setelah dipikir-pikir oleh Irsyad, lebih baik ia mengikuti yang bundanya sampaikan.
"Kila, hari ini tidak usah menghadiri kelas, ya. Kamu fokus istirahat saja. Lagian, besok dan Hari Minggu nanti juga libur, kan? Jadi, kamu maksimalkan istirahat kamu kalau kamu mau melanjutkan kelas dengan fit di Hari Senin nanti," tutur Irsyad pada Kila.
Kila menurut dan membiarkan Irsyad yang mencoba merawatnya. Ia juga tidak punya tenaga lagi untuk menyanggah ucapan Irsyad. Kila jadi merasa merepotkan Irsyad karena harus menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk merawat Kila. Untuk itu, lebih baik Kila membiarkan Irsyad menjadi dokter pribadinya saat ini dan optimis untuk segera sembuh. Lalu, Irsyad bisa cepat kembali ke Turki untuk melanjutkan urusan pendidikannya.
...****************...