
Kila dan keluarga pindah ke rumah baru yang lebih besar. Satu komplek dengan rumah orangtuanya Irsyad. Jadi, mereka kalau ingin bertemu dengan cucu-cucunya bisa jalan kaki. Si cucu kalau ingin main dengan nenek kakeknya juga tidak perlu terlalu jauh berjalan atau sampai naik kendaraan.
"Alesya..., nanti kalau mau main dilihatin adiknya, ya."
Kila menitipkan anak-anaknya di rumah orangtuanya Irsyad. Tak ia sangka ia sudah menjadi orang tua yang cukup ideal untuk anak-anaknya. Walaupun masa kecilnya sangat kekurangan kasih sayang orangtuanya sendiri.
Alesya, si sulung yang manis sudah berusia enam tahun. Ia sangat cerdas seperti Mommy dan Ayahnya—Kila dan Irsyad. Sebenarnya terdengar aneh di telinga sebagian orang tentang cara anak mereka memanggilnya. Harusnya Mommy dipasangkan dengan panggilan Daddy atau Papi. Begitu pula dengan Ayah yang harusnya dipasangkan dengan panggilan Bunda. Namun, itu cukup terdengar menggemaskan ditelinga Kila dan Irsyad. Mereka mendapatkan panggilan itu saat Alesya baru pandai mengucapkan bagaimana menyebut seorang ibu dan ayah. Meski juga terdengar agak aneh saat mendengarnya, lama kelamaan panggilan itu sangat menggemaskan bila disebutkan oleh Alesya yang waktu itu cuma bisa mengucapkan dua kata itu saja—Mommy dan Ayah.
Alesya masih duduk di bangku kelas satu SD, tapi pengetahuannya dan keterampilannya sudah mampu menjawab dengan banyak benar jika ditantang untuk mengerjakan soal kelas tiga SD. Itu sangat wajar karena Kila yang mendidik langsung sang anak. Menjadikannya sebenar-benarnya madrasah bagi anaknya.
Si sulung ini sangat perhatian pada setiap orang, termasuk Kila. Setelah dua tahun membesarkan Alesya, Kila memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Alesya yang melihat sang ibu begitu bersemangat belajar jadi termotivasi untuk belajar sebelum diusia sekolahnya. Sangat menggemaskan jika melihat si sulung ini juga sangat menyayangi adiknya—Bara.
"Siap, Mommy. Kakak kan sayang banget sama Dek Bara," jawabnya. Kila mengusap lembut rambut sang anak, membelainya halus sebagai penyaluran kasih sayangnya.
"Syukurlah kalau gitu, Mommy nyusul sama Ayah, boleh, Kak?" tanya Kila. Ia benar-benar pandai memposisikan diri saat bicara dengan anak kecil.
"Iya, boleh."
"Janji jangan nakal, ya. Kakak, kan, putri Mommy yang baik hati." Kila menunjukkan jari kelingkingnya untuk membuat tanda janji dengan sang anak.
"Iya, Mommy. Kakak janji," ucap Alesya seraya menyambut kelingking Kila.
"Ya udah, Mommy pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum, Sayang."
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Mommy," jawab si sulung.
Kila menyunggingkan senyum paling indah karena kelucuan anak-anaknya itu. Sebelum pergi, ia mengecup kening mereka berdua. Memeluknya, lalu membiarkan mereka menciumi pipi kiri dan kanannya bersamaan. Sungguh, anak kecil memang manis dan menggemaskan.
Irsyad yang ingin disusul oleh Kila ternyata sudah menghampiri Kila di depan rumah Citra. Segera ia melajukan kemudi untuk pulang setelah mengajar karena mendapatkan kabar gembira dari istri tercintanya itu. Sebelum pergi, Irsyad juga ikut melakukan hal yang sama dengan yang Kila lakukan pada anak-anak manisnya itu. Barulah mereka pergi menuju tempat yang akan dituju.
"Nggak nyangka, ya, Bara akan dipanggil Abang sekarang, bukan bungsu lagi. Rumah kita akan semakin ramai, nih." Irsyad tampak sumringah saat mengucapkannya. Sejak ia menerima kabar gembira ini dari istrinya melalui telepon, kegembiraannya belum luntur juga.
"Kila juga nggak nyangka, Mas. Alhamdulillah, Allah ngasih kita anak lagi. Tapi, tiga aja udah cukup, ya, Mas. Kila takut nanti anak kita merasa iri kalau kita tanpa sadar pilih kasih sama salah satu anak kita," Kila menanggapi.
"Iya, anak kita yang akan lahir ini akan jadi yang terakhir, benar-benar terakhir. Saya jamin itu." Irsyad mengakhiri dengan mencium tangan sang istri penuh kasih.
Dipertemukan dengan Irsyad secara tak sengaja. Diamanahkan untuk menikah dengannya tiba-tiba. Lalu, perceraian orangtuanya yang disebabkan perselingkuhan yang menyayat hati. Begitu banyak pelajaran hidup yang Kila pelajari sejak saat itu. Jika melihat kembali ke belakang, Kila merasa dirinya sangat kuat sekarang. Dan semua itu berkat dipertemukan dengan guru terbaik seperti Irsyad.
Meski berulang kali merasa tak pantas disandingkan dengan orang baik seperti Kila, akhirnya Kila percaya diri juga dan berhenti merasa seperti itu. Sosok Irsyad yang baik membuat Kila menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kila memang anak yang baik awalnya, itu berkat didikan nenek. Namun, semenjak nenek meninggal, Kila menjadi kurang baik, apalagi pada orangtuanya. Sempat ia menjadi pemicu pertengkaran orangtuanya, bahkan sampai diusir dari rumah.
Kila berhenti menyalahkan dirinya untuk segala hal. Karena memang saat ia merasa kehilangan, ia selalu menyalahkan dirinya. Mulai dari penyebab kematian nenek, sampai perceraian orangtuanya. Ia juga sering menyakiti hati orang-orang yang berhubungan dengan Irsyad, kadang itu membuatnya menyalahkan diri juga. Namun, kehilangan yang kosong itu sudah terisi dengan penggantinya. Semuanya jadi lebih baik dan lebih sehat sekarang. Itu karena ada Irsyad di sisinya.
Saat itu, saat mengingat kembali bagaimana Kila pertama kali bertemu dengan Irsyad, sungguh..., dipertemukan oleh sosok Irsyad adalah penyelamatnya. Saat nenek meninggal, ada Irsyad di sampingnya. Saat ia diusir dari rumah, ada Irsyad juga yang menjadi penyemangatnya untuk sekolah dengan normal. Bisa bertempat tinggal di kosan milik keluarga Irsyad merupakan skenario Allah untuk mendekatkan dua orang ini. Sungguh, Allah adalah sutradara terbaik dalam hidup.
...****************...