
"Kila, saat sampai kamu terus melamun. Kata kamu ada yang mau dibicarakan. Apa itu?" ucap Riska. Sesampainya Kila, memang Kila melamun. Sedangkan Riska diam saja karena masih harus mengerjakan pekerjaannya. Namun, cukup lama Kila melamun dan membuat Riska terganggu.
"Sebelum itu, Papa ke mana, Ma?"
"Dinas di luar kota."
"Mama kenapa nggak ikut dinas sama Papa? Kalian, kan, bekerja di tempat yang sama."
"Mama sedang mengurusi proyek yang lain."
"Papa dan Mama lagi nggak ada masalah, kan?" tanya Kila frontal. Riska seketika bisu tak mampu menjawab. Kila langsung curiga dengan kebisuan Riska.
"Mama makan teratur, kan? Belum makan siang, ya? Kila masakin mau?" Kila bersikap kikuk. Ia ingin berbasa-basi dulu sebelum membahas persoalan itu.
Kila berpikiran untuk memasak nasi goreng. Setidaknya, dengan makan lebih dapat membuat tenang, memperlancar pembicaraan juga kalau membahasnya saat makan. Namun, Kila mengacaukannya. Tiba-tiba saja ia seperti seorang anak TK yang tidak pandai memasak.
Riska melihat ketidaktelatenan Kila dalam memasak. Padahal, ia hanya memasak nasi goreng yang biasanya sangat sempurna di masak. Riska memberi tatapan mata penuh tanya. Kila mengerti tatapan itu, lalu menghentikan aktivitas masaknya. Karena mata itu bertanya, Kila harus menjawabnya. Ia meninggalkan aktivitas masaknya, ia biarkan begitu saja dulu, karena pembicaraan dengan Riska lebih penting.
"Kila ke sini mau bilang sesuatu, tapi takut Mama bakalan marah atau bahkan benci sama Kila. Sama kayak waktu itu, waktu Kila sembarangan ngomong tentang rumah tangga Mama dan Papa, padahal kita tinggal bersama waktu itu. Tapi, kali ini Kila nggak ngomong sembarangan. Kila lihat langsung, Ma," ujar Kila. Ia mengungkapkan secara jujur. Namun, entah kenapa ia tidak sanggup menatap mata Riska.
"Kila kembali tanya, Mama nggak ada curiga sedikitpun tentang Papa?" Riska diam tak bergeming. Menandakan tebakan Kila tepat sasaran.
"Kila melihat langsung kalau Papa bertemu dengan wanita lain. Mereka terlihat bermesraan. Apalagi di ruang publik seperti mall. Mereka sangat dekat untuk dibilang sebagai pertemuan dengan klien doang. Apalagi, wanita itu adalah wanita yang sama yang pernah Kila tanyakan ke Mama dan Papa waktu itu. Kila tebak, mereka sudah berhubungan sejak lama, diam-diam bertemu tanpa sepengetahuan pasangan sah mereka. Tidak hanya sekali, tapi sering. Kila nggak tahu sesering apa mereka diam-diam bertemu."
Suara Kila kian lantang. Bicara dengan menggebu-gebu. "Ma, Mama sering jaga komunikasi sama Papa, kan? Kenapa Papa bisa seperti itu? Berani sekali, padahal udah sempat Kila singgung langsung tingkahnya waktu itu. Bukan jera, Papa malah terang-terangan, di ruang publik lagi."
"Mama harus komunikasikan ke Papa lagi. Bisa jadi, ada yang lebih buruk dari yang Kila pergoki ini. Kalau memang benar, Kila nggak mau Mama merasakan sakit terus-terusan. Melihat tingkah Papa tadi membuat Kila merasa jijik. Kila menyarankan Mama untuk cerai aja dari Papa. Perselingkuhan itu nggak bisa dimaafin."
Tepat saat Kila selesai bicara, satu tamparan mendarat di pipi kanan Kila. Lagi-lagi, Riska berkomunikasi hanya dengan tatapan mata. Namun, kali ini tatapan matanya mengatakan kemarahan, seolah menyuruh Kila untuk pergi. Karena kerasnya tamparan di muka, Kila pergi sesuai apa yang mata itu pintakan. Kila berusaha menahan tangisnya, setidaknya jangan sampai dilihat oleh Riska.
Kila memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Kali ini benar-benar rumahnya. Rumah yang ia beli baru-baru ini, diam-diam ia beli saat tidak ada pekerjaan lain selain menunggu waktu wisuda waktu itu. Rumah itu masih ada di kota yang sama dengan rumah Irsyad, jadi ia kembali ke kota itu meski belum ada satu jam ia menginjakkan kakinya di rumah sang Mama.
Di dalam pesawat, ia masih bisa menahan kepedihan itu. Tamparan di pipinya masih sangat terasa. Kila juga tidak menyangka dapat tamparan seperti itu. Seolah dirinya berperan sebagai karakter jahat saja. Padahal, niatnya baik, menurutnya. Firasatnya yang mengatakan ingin bertemu Riska itu ternyata perihal perilaku Gilang di belakang. Namun sayangnya, setelah menyampaikan sesuatu itu, Kila tidak disambut baik.
Sebenarnya rumah itu apa? Tempat tinggal orangtuanya, ia ke sana dan diusir. Tempat tinggal dirinya dan Irsyad, itu rumah milik Irsyad. Lagian, Kila juga tidak ingin bicara dengan Irsyad dulu. Fakta yang ia ketahui adalah Irsyad juga berusaha untuk menutupi kebenaran. Ia bahkan akrab dengan anak dari selingkuhan Gilang. Irsyad yang diam dan menyembunyikan kebenaran itu membuat Kila merasa terkhianati. Kila tak mau kembali ke rumah Irsyad. Tempat kembali yang masih mau ia datangi satu-satunya adalah rumah yang ia beli diam-diam itu. Setidaknya ia bisa menenangkan diri di sana selama jatah liburannya masih ada. Tepatnya, sampai perkuliahan semester dua dimulai.
"Assalamu'alaykum," ucap Kila saat memasuki rumahnya. Jelas tidak ada siapa-siapa, mengapa Kila tetap mengucap salam?
"Nggak ada yang jawab, ya?" batin Kila bersedih. Selama ini ia sudah terbiasa hidup sendiri, apalagi cukup lama ia tinggal di sebuah kos. Namun, saat pulang seperti ini tidak ada yang menjawab salamnya, ia merasa kesepian. Kalau di rumah Irsyad, ada Irsyad yang menjawab salam, di rumah Citra juga ada Citra dan Erwin, lalu di rumah orangtuanya ada Riska dan Gilang yang menjawab salam. Perkara tak ada yang menyambutnya dan tak ada yang menjawab salamnya saja membuat Kila bersedih seperti ini. Seketika, sekelebat tamparan di pipinya sangat terasa. Kila memegang pipi itu, terasa sakitnya. Tamparan yang ia dapatkan dari orangtuanya sendiri. Baru kali ini Kila mendapatkan tamparan, mengingat kembali ke masa hidupnya bersama nenek, seketika membuat Kila menangis.
"Kila kangen nenek...," ucap Kila lirih seraya terisak. Ia telah duduk di sofa yang sudah ia buka kainnya yang sebelumnya digunakan untuk menghindari debu menempel di sofa.
Hidup bersama neneknya adalah masa yang paling membahagiakan bagi Kila. Kila dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh neneknya, meski ia tak pernah merasakan langsung kasih sayang dari orang tua aslinya. Nenek sangat penyayang, ia menggunakan tangannya untuk mengusap lembut rambut Kila. Saat Kila sedih, nenek menggunakan tangannya untuk mendekap Kila dan mengusap punggungnya. Saat air mata Kila jatuh, nenek siap mengusap air mata itu. Tidak pernah sekalipun nenek menggunakan tangannya untuk menyakiti Kila, seperti menamparnya sangat keras.
Karena teringat dengan nenek, ia memutuskan untuk mengunjungi makam nenek. Sudah lama ia tidak berkunjung, terakhir saat akan tinggal bersama dengan Irsyad, itu juga ia berkunjungnya ditemani oleh Irsyad. Mungkin kejadian belakangan ini juga teguran kalau nenek sedang merindukannya.
Bagi Kila, selama kita masih mengingat orang yang telah tiada, ia akan tetap ada di hati kita. Namun, kejadian sekarang tidak berlaku. Ia ingin fisik nenek berada di samping Kila menenangkan Kila seperti biasanya.
Kila telah sampai di pemakaman tempat nenek dikuburkan. Ia meninggalkan kopernya di rumah dan langsung menuju ke sini memakai taksi. Saat sampai, ia panjatkan doa-doa untuk sang nenek seperti biasanya. Lalu, ia menatap kembali makam itu, dalam-dalam. Berpikir seolah sekarang nenek juga menatapnya balik.
"Nek..., apa Kila aneh bicara sama kuburan nenek?" tanya Kila. Ia memang bukan tipe yang akan bicara dengan orang yang telah meninggal. Nenek memang penting bagi hidupnya, saat semasa nenek hidup, neneklah yang menjadi tempat Kila mengadukan segala hal. Nenek selalu mengerti Kila sebelum Kila bercerita. Namun, ia tidak ingin bicara dengan kuburan. Tempat yang selalu ada untuk Kila berkeluh kesah sudah ada bahkan saat nenek masih hidup, Tuhannya.
"Kuburan ini udah jadi rumah abadi nenek. Gimana rasanya di rumah ini, Nek? Kila mau tahu. Apa lebih baik dari rumah Kila? Rumah Kak Irsyad, Rumah Bunda Citra, Rumah Mama? Mana yang lebih baik?" tanya Kila lagi.
Kila pikir mengunjungi rumah nenek akan membuatnya lebih baik. Namun, ia salah. Kini ia malah makin terisak. Tamparan yang kian terasa sakitnya, rindunya pada sang nenek, dan rasa sakitnya dikhianati bercampur aduk. Ia bahkan tak sanggup menghentikan air matanya.
...****************...