
Lembaran hidup baru kembali di buka. Kila dan Irsyad menjalani rumah tangga itu dengan penuh cinta setelah keduanya menjadi istri dan suami sepenuhnya. Hari-hari terasa lebih bahagia, dan mereka pun kian mesra.
Rumah tangga mereka semakin harmonis. Setengah tahun terlewati sudah. Kila merasa tamu bulanannya datang terlambat sekali dari bulan biasanya. Ketakutan kembali membayangi Kila kalau ia mengandung.
Ia hanya tidak bisa membohongi sifat aslinya yang suka saja terpengaruh oleh keadaan sekitar dan mudah tertekan. Kini ia khawatir kalau ia tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Mengingat, sifat Kila yang kekanakan, dan suka tak menentu kambuhnya.
Kila melihat dua garis merah di tespek. Ia shock karena ia benar-benar hamil sekarang. Langsung ia menuju ke dokter untuk memeriksa kesehatannya. Lalu mempertanyakan apa yang akan ia lakukan saat mengandungnya di kondisinya yang tengah sibuk membangun bisnis baru bersama sang mama. Ia jadi merasa khawatir tidak akan bisa menjaga calon buah hatinya jika dilanda puncak kesibukan seperti saat ini.
Kila tidak langsung memberitahukan kepada Irsyad berita kehamilan ini. Berniat akan memberitahukannya saat Irsyad pulang dari mengajar.
"Hamil? Maaf tidak bisa mengantarkan kamu menemui dokter." Keterkejutan tak dapat terelakkan. Irsyad bahagia mendengar berita itu, tapi tidak dengan Kila. Ia penasaran melihat wajah sang istri murung.
"Jadi, bagaimana?" tanya Irsyad hati-hati.
"Kila nggak percaya diri, Mas," jawab Kila.
"Kila sangat takut. Padahal, dulu Kila pengen cepat-cepat ngasih cucu untuk orang tua kita." Kila diselimuti rasa bersalah.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Kila takut dengan sikap Kila yang seperti ini, anak ini nggak akan bahagia nantinya. Apalagi, sekarang Kila juga sibuk dengan urusan bisnis. Gimana nanti kalau anak ini lahir kurang merasakan kasih sayang orangtuanya yang sibuk dengan urusan pekerjaan?" Kila terlihat ketakutan. Irsyad segera menggenggam tangan sang istri untuk sedikit menenangkan.
"Kamu tidak ingin anak ini akan mengalami hal yang sama seperti yang kamu alami, ya?" Kila mengangguk membenarkan.
"Kila takut, Mas. Mama adalah nenek dari anak ini. Sama seperti Kila, yang waktu itu punya nenek yang merupakan ibunya Mama. Bagaimana kalau nasib anak ini sama seperti Kila? Kila takut nggak bisa ngasih kebahagiaan. Kila takut anak ini nggak akan merasakan kasih sayang." Picik sekali pikiran Kila. Ia memposisikan dengan tidak seimbang kondisi keluarganya dengan keluarga si calon bayi.
"Atau nanti..., bagaimana kalau dia bilang tidak ingin dilahirkan?" Rupanya dengan menggenggam tangan Kila tak cukup menenangkan ketakutan Kila.
"Sttt..., tenang, Sayang. Coba tarik nafas dulu." Irsyad mengusap-usap punggung Kila, kemudian kembali menggenggam tangannya.
"Kenapa harus takut, sayang? Saya sangat senang kamu mengandung, dan kita akan menjadi orang tua."
"Semua orang tua pasti akan mengalami fase yang seperti kamu pikirkan. Namun, itu sudah hal yang wajar. Jangan khawatir. Lagian, kamu tidak sendirian, saya akan ada untuk kamu sebagai ayahnya. Tidak cuma mama saja yang bakal jadi neneknya, kamu lupa kalau ada Ayah dan Bunda? Jadi, jangan khawatirkan nasib anak ini nanti."
Penjelasan Irsyad yang lembut itu perlahan menenangkan Kila. Ia mulai berpikir jernih, ketakutannya menghilangkan sudah. Penjelasan Irsyad sangat mudah untuk dimengerti karena sejak awal memang profesinya menuntut itu.
"Benar, Kila. Kamu tidak sendirian. Guru terbaik ini mengajarkanmu banyak hal. Guru terbaik ini akan menjadi guru sekaligus orang tua terbaik untuk anak yang akan kamu lahirkan. Jadi, tidak ada yang harus kamu khawatirkan. Percaya dirilah!" Malaikat baik dalam hati seolah membisikkan Kila.
"Jangan khawatir kalau kamu akan menjadi orang tua yang buruk karena sikap kamu. Kamu lihat saya? Saya juga suka terbawa emosi dan cenderung bertemperamen buruk. Adanya individu baru yang menjadi tanggungjawab kita nantinya akan membuat pola pikir kita lebih luas. Kita akan mengurangi sifat buruk yang melekat pada diri kita, itu akan secara alami terjadi karena mengingat ada anak kita yang akan melihat sifat orang tuanya," lanjut Irsyad.
"Saya akan sangat senang kalau kamu dan si calon bayi sehat. Lalu, melahirkan dengan selamat," Irsyad mengakhiri. Ia usap rambut sang istri dan mencium keningnya penuh khidmat.
Kila tidak sendirian, ada Irsyad di sampingnya. Irsyad menjalani amanah sang nenek untuk selalu ada di samping Kila dan mendengarkan ceritanya. Kehilangan nenek bukan berarti kehilangan sosok yang sama seperti nenek. Irsyad membuktikannya dengan segala kebaikannya yang ditunjukkan ke Kila meskipun selama berumah tangga mereka sering sekali salah paham. Irsyad selalu melakukan yang terbaik untuk memulihkan keadaan rumah tangganya.
Kila juga merasa sangat beruntung sosok Irsyad hadir dalam hidupnya. Sosok yang sudah berkali-kali menyelamatkan hidupnya secara langsung dan tidak langsung. Kila sendiri juga akan mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Irsyad jika ia berani mengatakannya.
Trimester pertama sudah terlewati. Hari ini pasutri itu melakukan USG sekaligus ingin melihat gender sang bayi. Sudah di bulan keempat, setiap mereka mendatangi dokter, si bayi malu-malu menunjukkan identitasnya. Mereka harap, si bayi tidak malu menyapa.
"Insyaallah baby yang dikandung perempuan." Irsyad mengingatkan kembali kepada Kila tentang yang dokter ucapkan.
Mendengar pernyataan dokter, mereka senang bahwa ternyata bayinya sehat. Persalinan secara normal akan lebih mudah kalau Kila mau berolahraga. Selama ini, ia memang tidak pernah olahraga. Mungkin itu tantangan terbesarnya sebelum menjadi seorang ibu.
"Mau beli perlengkapan untuk baby girl, sayang?" tawar Irsyad. Sebaiknya mereka mempersiapkan kebutuhan sang calon buah hatinya mulai dari sekarang.
Mereka beruntung karena orang tua Irsyad sangat tidak sabar menunggu kelahiran sang cucu. Mereka secara sukarela siap membantu mempersiapkan kebutuhan cucu pertama. Jadi, meskipun Kila dan Irsyad masih bekerja, masih ada mereka yang meringankan bebannya.
"Apa kita perlu rumah yang lebih besar lagi? Nanti, kita buat kamar sendiri untuk kakak sama adik." Irsyad bicara dengan asal. Membuat Kila mengernyitkan dahinya.
"Si kakak? Bayinya aja belum lahir, masa kamu minta aku untuk ngasih adik ke dia, sih, Mas. Ada-ada aja," protes Kila.
"Saya yakin kalau si kakak akan kesepian kalau sendirian. Kita harus punya lebih dari satu, dong, Sayang...., please."
"Lihat Allah aja ngasihnya gimana, Mas."
...****************...