
Kila terus memperhatikan orang yang dikenalinya sebagai papanya. Irsyad juga ikut memperhatikan karena penasaran.
"Kok deket banget, sih, mereka?" tanya Kila seraya terus memperhatikan. Kila bisa berucap begitu karena dilihatnya papanya dan wanita itu bicara dengan begitu lepas melemparkan senyum dan tawa. Cara mereka bicara juga terbilang akrab karena menatap wajah masing-masing saat bicara.
"Memangnya sama mama tidak seperti itu?" tanya Irsyad merespon pertanyaan Kila.
"Kila nggak tahu, Kak. Kak Irsyad tahu sendiri kalau Kila tinggalnya sama nenek. Mereka memang orang tua Kila, tapi Kila nggak pernah sedekat itu dengan orang tua Kila sebelum kita memutuskan untuk tinggal bersama di satu rumah. Itu juga nggak terlalu dekat, mama dan papa jarang di rumah," jawab Kila dengan menatap Irsyad, mengalihkan perhatian sebentar dari dua orang di sana.
"Begitu, ya? Saya mengerti. Maaf karena saya bertanya dan membuat kamu mengingat masa itu, Kila," ucap Irsyad merasa bersalah. Ia menggenggam tangan Kila untuk menebus kesalahannya itu.
"Iya, nggak papa, Kak. Santai aja," balas Kila dengan membalas genggaman tangan dari Irsyad. Lalu ia melepasnya karena ingin fokus memperhatikan dua orang itu kembali.
Mereka melanjutkan memperhatikan dua orang di sana yang sedang memakan makanan masing-masing. Rupanya, papanya Kila tidak menerapkan konsep diam saat sedang makan dengan wanita itu. Padahal, saat satu meja makan dengan Kila, Kila kukuh sekali untuk menyuruh keluarganya agar tidak melakukan percakapan saat makan. Konsep seperti keluarga Irsyad dimana lebih sering mengobrol saat makan itu, tak pernah sekalipun ia beritahukan kepada orangtuanya, yang tahu hal itu hanya nenek. Melihat Gilang yang seperti itu, membuat Kila bertanya-tanya siapa wanita spesial itu yang bisa merubah kebiasaan keluarga Kila.
"Kila..., apa kamu tidak merasa risih melakukan ini? Kita sudah seperti penguntit yang dari tadi terus memperhatikan mereka. Obrolan kita juga berhenti gara-gara sibuk mengurusi mereka," ucap Irsyad yang sudah bosan. Bagaimana tidak bosan? Mereka sudah setengah jam memperhatikan dua orang itu.
"Mereka cukup lama juga di sana, ya, Kak? Padahal makanan dan minuman yang mereka pesan udah habis," respons Kila yang juga sama merasa sudah bosan memperhatikan keakraban dua orang itu.
"Kita pulang, ya?" usul Irsyad.
"Jangan, dong, Kak. Masih ada hal lain lagi yang belum kita lakukan saat mengunjungi mall. Kota cuma melakukan sebagian, belum seluruhnya. Baru ke toko buku, nonton dan makan di restoran," tolak Kila.
"Sudahlah, lain hari saja, ya? Kita akan ketinggalan maghrib kalau mau melakukan semua hal lebih dulu," balas Irsyad. Mereka memang melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar di musholla dalam mall. Lebih tepatnya hanya Irsyad saja, pasalnya tamu bulanan Kila belum selesai bertamu. Kini, Irsyad tidak bisa melaksanakan maghribnya di musholla lagi. Ia ingin ke masjid dekat rumah Kila.
"Ya udah, deh. Urusan papa, nanti kalau udah sampai rumah biar Kila tanya langsung aja ke orangnya," ucap Kila menurut. Ini juga salahnya karena memprioritaskan untuk memperhatikan papanya dibandingkan dengan kencan mereka.
"Alhamdulillah..., ayo kita pulang!" seru Irsyad bersemangat kembali dari kebosanannya.
"Unm," jawab Kila mengangguk.
Mereka akhirnya pulang. Meninggalkan penasarannya dengan Gilang, dan terpaksa menanggalkan rencana lanjutan kegiatan kencan mereka.
...****************...
Tepat saat pulang dari mall, Irsyad langsung melanjutkan perjalanan menuju ke masjid dekat rumah Kila. Padahal, masih ada waktu setengah jam sebelum adzan berkumandang. Irsyad menghabiskan waktu di masjid sampai waktu Isya siap ia tunaikan sholatnya.
Sementara di rumah, hanya ada Kila seorang. Sampai akhirnya Riska pulang bersamaan dengan Gilang sesaat setelah adzan Maghrib berkumandang.
"Wa'alaykumussalam," jawab keduanya.
"Iya, nih. Hari ini mama dan papa lagi ada di kantor cabang yang sama. Jadi, tadi mama ikut papa waktu pulangnya. Mama capek banget kalau harus nyetir mobil. Udah ya, Kila. Mama mau sholat Maghrib dulu, terus lanjutin kerjaan yang belum selesai tadi," balas Riska seraya menepuk bahu Kila dan kembali ke kamar bersama Gilang. Sedangkan Gilang, ia tidak merespon apapun. Ia memang sering irit bicara dengan anaknya sendiri.
"Berarti sejak tadi pagi, mama sudah ikut mobil papa saat berangkat? Terus, apa mama nggak tahu kalau tadi sore papa keluar kantor dan menuju ke mall?" tanya Kila pada dirinya sendiri. Dilihatnya, Riska dan Gilang bersikap biasa saja seperti biasa pula. Tidak ada keanehan yang terjadi antara keduanya.
"Mungkin, yang ditemui papa tadi hanya seorang klien. Lagian, kepada seorang klien memang harus bersikap ramah," ucap Kila seraya berjalan memasuki kamarnya kembali.
"Tapi, kenapa menurutku yang terlihat tadi itu terlalu ramah, ya? Mereka cukup akrab untuk ukuran sebagai seorang rekan bisnis," Kila terus berasumsi saat sudah sampai di kamarnya.
"Nanti kalau sudah bertemu papa, lebih baik aku tanyakan kejelasannya langsung. Jika begini, bisa jadi aku salah duga dan berujung menuduh. Aku juga tidak ingin mengadu domba mama seperti waktu itu," batin Kila.
...****************...
Irsyad pulang dari masjid. Sebelumnya, ia juga sempat membelikan martabak manis yang berjualan dekat masjid. Ia membeli tiga porsi martabak. Satu untuk mertuanya, dan dua untuk Kila tentunya. Irsyad paling-paling hanya memakan satu atau dua potong saja dari jatah Kila. Ia tahu betul kalau Kila akan kekurangan jika hanya memakan satu porsi saja.
Setelah mengucap salam dan memasuki kamar, Irsyad memamerkan martabak yang ia bawa.
"Coba lihat! Apa yang saya bawa?" seru Irsyad.
"Wah..., Kak Irsyad tahu banget kalau Kila lagi lapar," balas Kila antusias.
"Kamu, ya, cepat sekali laparnya. Padahal, saat di restoran tadi makan kamu sangat banyak," ucap Irsyad menggoda karena melihat wajah Kila yang sudah tidak sabar ingin menyantap martabak itu.
"Nggak tahu, nih, perutnya memang suka begini, Kak," balas Kila polos.
"Hahahaha, ada-ada saja kamu, Kila. Ini satu porsi jangan kamu habiskan. Kamu kasih untuk Mama Riska dan Papa Gilang, ya?" ucap Irsyad seraya memberikan satu porsi terlebih dahulu ke Kila untuk diberikan ke Riska atau Gilang.
"Nggak usah repot-repot ngasih, Kak. Mereka biasanya nggak akan makan kalau udah masuk kamar gitu. Lagian, udah ada camilan di kamar mereka. Kalaupun diberi, martabak yang kakak beri tidak akan sempat mereka makan. Jadi, daripada mubazir karena basi nggak dimakan, mendingan buat Kila aja. Ini ada tiga porsi, kan? Satu porsi untuk Kak Irsyad, dan dua porsi untuk Kila," jelas Kila seraya memisah-misahkan porsi martabak.
Kila begitu ceria dan terlihat biasa saja menceritakan kebiasaan orangtuanya. Mendengar itu, Irsyad prihatin terhadap Kila. Kondisi rumah Kila sangat berbanding terbalik dengan rumah Irsyad. Biasanya Irsyad membeli makanan untuk dapat dinikmati bersama, sekaligus menciptakan momen hangat bersama keluarga dengan canda tawa. Tapi, ia tahu kalau itu tidak dapat dilakukan di keluarga Kila. Makanya ia berpikir, biarlah jika tidak bisa menikmatinya bersama dengan berkumpul, tapi setidaknya dapat menikmati makanan yang sama di atap yang sama. Nyatanya, dari penjelasan Kila hal itu tidak mungkin terjadi. Hal ini memacu Irsyad untuk memberikan kebahagiaan yang lebih lagi kepada Kila.
...****************...