
Waktu terus berlalu. Ira dan Risa akhirnya menyusul Kila untuk wisuda. Hal itu membuat Kila semangat untuk melanjutkan S2. Pekerjaan yang menumpuk ia akali dengan menambah admin untuk online shop miliknya agar kegiatan belajarnya tidak terganggu nantinya.
Kehidupan baru pun di mulai. Kehidupan yang ia jalani sebagai mahasiswa strata dua di kampus yang sama dengan suaminya mengajar. Terlalu banyak pilihan perguruan tinggi, tapi Kila memutuskan untuk memilih kampusnya dulu sebagai pilihan. Dorongan tersendiri untuk dekat dengan suami, atau apa?
"Sepertinya, kamu bisa menjadi asisten saya di kampus," ujar Irsyad. Keduanya sudah tiba dari kampus. Hari yang melelahkan untuk keduanya, tapi mereka masih menyempatkan diri untuk mengobrol.
"Asisten dosen maksudnya, Kak?"
"Iya. Kamu mau atau tidak?"
"Mau aja, sih, Kak." Kila ragu menjawabnya.
"Kenapa ragu?"
"Habisnya, Kila ada di satu kampus yang sama dengan Kakak."
"Jadi, kamu takut orang lain tahu tentang status kita?" tebak Irsyad. Kila diam karena tebakan Irsyad benar.
"Kamu bisa saja melepaskan cincin itu. Lagian, sudah ada kalung yang berfungsi sama. Jadi, tidak usah ragu. Lagian, menjadi asisten dosen juga akan memberikan keuntungan untuk kamu, berlatih menjadi akademisi seperti saya. Sangat disayangkan kalau kamu tidak mau mencicipinya dulu," usul Irsyad.
"Maaf, Kak, Kila bukan mau menutupi status ini. Kila cuma belum terbiasa aja. Habisnya, pandangan masyarakat tentang hubungan kita ini, di status yang kita sandang ini masih terbilang tabu. Kila gampang kepikiran tentang omongan orang, makanya Kila masih belum terbiasa," ucap Kila lirih.
"Tidak apa-apa kalau itu yang terbaik untuk kamu. Saya mengerti, kok," balas Irsyad seraya menepuk pundak Kila dua kali untuk memberikan semangat.
"Jadi, kamu mau atau tidak? Sebenarnya, saya sedang sibuk membuat jurnal. Saya akan sangat terbantu kalau kamu mau menjadi asisten saya," ujar Irsyad memastikan.
"Kalau gitu, Kila mau tanpa ragu. Udah dari dulu Kila pengen membantu Kakak untuk meringankan pekerjaan. Karena di pekerjaan yang urus usaha Kakak udah ada orang, Kakak juga nggak ngijinin Kila untuk bantu di bidang itu, kan? Padahal Kila pengen banget bantuin. Jadi, Kila akan sangat senang kalau dengan menjadi asisten dosen dapat membantu Kakak," ucap Kila dengan mata berbinar-binar.
"Terimakasih banyak, ya, Kila," ucap Irsyad tersenyum seraya membelai kepala Kila. Bagian terfavorit Kila adalah menerima sentuhan itu dari Irsyad. Kila menikmatinya seraya tersenyum manis.
...****************...
Mengetahui kelakuan sang mertua seperti itu di belakang, Irsyad berkomitmen untuk lebih membuat Kila bahagia. Mungkin ia akan mencoba mengungguli nenek, karena ia adalah suami Kila. Hari-hari kini lebih sering dihiasi tawa di rumah itu. Apalagi, Kila sudah melanjutkan studi S2 nya.
Mereka sudah dewasa, seperti diucapkan kedua orang tua mereka. Namun, keduanya tidak terburu-buru. Kila melangkah dengan sedikit kemajuan. Kalau dulu ia hanya melepaskan hijabnya saat ingin tidur, kini di dalam rumah saat hanya ada mereka berdua Kila sudah berani melepaskan hijabnya. Mengenai pakaian, Kila masih jalan di tempat. Ia masih menggunakan pakaian yang serba menutup auratnya. Jadi, jika ingin keluar atau ada orang yang datang, ia tinggal memasang hijabnya saja. Irsyad tidak mempermasalahkan langkah lambat Kila. Sebab, keduanya juga sudah mengatakan ingin menikmati proses berpacaran dulu dan menikmati tiap langkahnya.
"Kila, kamu mencuci baju ini tidak dengan pewangi pakaian, ya?" Irsyad berkata. Keduanya sedang duduk mesra di ruang keluarga. Saat Irsyad mengucapkan itu, Kila mengerutkan keningnya karena bingung saat mendengar itu tiba-tiba. Padahal, mereka sedang asyik-asyiknya menonton movie.
"Pakai, kok, Kak. Kenapa?" balas Kila.
"Hmm..., jangan marah, ya. Baju yang saya pakai ini sepertinya masih bau keringat. Padahal saya baru saja mandi dan memakai baju ini yang saya ambil dari lemari."
"Masih bau keringat? Apa Kakak tadi ada nge-gym? Ada lari, ya? Kakak terlalu serius kali nonton movie-nya, makanya sampai berkeringat gitu."
"Tidak, Kila. Sudah saya bilang kalau saya baru mandi dan memakai baju ini, bukan karena movie-nya juga."
"Terus, kenapa bau keringat?"
Kila merasa Irsyad komplain dengan pekerjaannya sebagai istri. Karena Kila tidak merasa berbuat kesalahan dengan pekerjaannya, ia ragu mempercayai ucapan Irsyad.
"Masih bau keringat? Masa sih?" tanya Kila.
Kila mendekat ke badan Irsyad untuk memastikan bau itu. Namun, saat ia mendekat, Irsyad malah melakukan hal di luar ekspektasi Kila.
Cup
Irsyad mengecup kening Kila tepat di tengah. Sontak membuat Kila mendorong badan Irsyad karena merasa tak siap menerima itu. Ia segera menutupi wajahnya yang memerah. Bisa-bisanya sedang serius memastikan, Irsyad malah melakukan itu.
"Ng-nggak bau sama sekali, kok," ucap Kila grogi.
"Ahahah, memang tidak bau. Bahkan, baju ini akan tercium harumnya sebelum kamu menempelkannya ke hidung untuk memastikan," tawa Irsyad mengejek. Raut wajahnya puas, sedangkan Kila terganggu melihat wajah puas Irsyad.
"Saya suka saat melihat kamu kikuk seperti itu," ucap Irsyad dan membuat Kila jengkel.
"Nggak lucu, tahu!" ucap Kila kesal. Ia tidak terima kelakuan Irsyad yang sampai membuat Kila merona dan kikuk. Parahnya, ia kesal Irsyad menertawakan itu. Benar-benar suami jahil.
"Maaf, maaf. Saya hanya ingin menjahili sedikit saja," ucap Irsyad yang mulai meredakan tawanya.
Kila yang merasa kesal memanyunkan bibirnya sebagai tanda kekesalannya.
Irsyad menatap Kila. Melihat Kila yang makin menggemaskan dengan bibir yang manyun dan pipi yang masih merona serta wajah yang terlihat kesal.
Tiba-tiba, ada dorongan Irsyad untuk melangkah maju. Menjalani langkah selanjutnya, mencium bibir Kila. Tanpa suara ia mendaratkan kecupan di bibir Kila. Merasakan begitu lembutnya bibir sang istri, dan menyesal baru dapat merasakannya sekarang.
Irsyad hanya mengecup dan tinggal di sana sebentar. Untuk melanjutkan langkah lagi, ia harus punya persetujuan Kila. Lalu, dengan perlahan ia kembali ke posisi semula, menghentikan kecupan itu.
Kila terdiam bak patung. Lagi-lagi, Irsyad melancarkan serangannya. Perasaan, kupu-kupu yang hinggap di perut terasa lebih banyak dari biasanya. Jantungnya juga berdegup lebih kencang dari biasanya dan mengguncang Kila. Saat kecupan itu terlepas, Kila menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kali ini, pasti wajahnya akan lebih merona dari biasanya.
"Jangan seperti itu! Saya juga sama, deg-degan juga," ujar Irsyad. Seketika Kila membuka kembali wajahnya.
Irsyad memandu Kila untuk ke dada bidang Irsyad mendengarkan langsung suara yang terjadi di dalam sana.
Kila mendengarkan jantung Irsyad yang berdegup kencang, sama seperti yang ia rasakan kini. Ia merasa baru menemui sisi lain dari Irsyad lagi. Wajah Irsyad terlihat biasa saja, tetap menunjukkan ciri khas ceria wajahnya, meskipun ia telah mencium bibir Kila. Namun, tak di sangka, di dalam jantungnya sangat berantakan, suara jantung yang kencang tak beraturan terdengar di sana. Orang seperti Irsyad bisa deg-degan juga ternyata, pikir Kila.
"Kamu bukan satu-satunya yang merasa deg-degan. Jadi, jangan malu untuk mengekspresikan perasaan itu. Kamu tidak sendirian," ujar Irsyad. Saat Irsyad bicara, bersamaan pula telinga Kila masih menempel di dada Irsyad. Membuat Kila merasakan dua hal sekaligus, menikmati bunyi jantung Irsyad dan suara berat Irsyad yang juga menggema di telinga Kila.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri ini. Saat melihat kamu menunjukkan sikap lain dengan memanyunkan bibir saat sedang kesal, saya merasa kamu sudah sangat terbuka dengan saya. Badan saya secara otomatis bergerak untuk melahap itu. Saya juga terkejut dengan apa yang baru saja saya lakukan," jelas Irsyad. Lalu ia mendekap Kila, dilanjutkan dengan mencium rambut Kila.
"Maaf sudah mengejutkan kamu juga."
Irsyad pernah berkhayal tentang hal yang terjadi hari ini. Meski hanya khayalan, sensasi itu seperti nyata. Namun, sensasi saat melakukannya secara nyata lebih mengguncang. Hanya kecupan kecil yang Irsyad daratkan ke bibir Kila, itu juga hanya sebentar, tapi ia begitu ingat betapa lembutnya bibir itu.
...****************...