
Kejadian aneh tadi memenuhi pikiran Kila. Ia jadi merasa segan karena seperti telah memanfaatkan kebaikan Irsyad. Apalagi ia sampai berpikir andaikan Irsyad dapat bersamanya di sabtu malam ini seperti kebanyakan temannya yang lain.
"Maaf, Pak saya tiba-tiba datang ke ruangan Bapak. Ini sudah jam pulang sekolah, tapi saya tidak ingin Bapak merepotkan diri sendiri karena harus mengantar saya terus ke rumah sakit. Apalagi Bapak pasti punya kesibukan pribadi, seperti menghabiskan waktu dengan keluarga di hari libur. Saya rasa, kebaikan Bapak sudah cukup selama ini. Jadi, mulai sekarang dan seterusnya saya bisa sendirian ke rumah sakit. Lagian, rumah sakitnya juga dekat, jadi bukan masalah bagi saya. Tapi saya benar-benar sangat berterimakasih kepada Bapak." Kila mengungkapkan tentang sesuatu yang memenuhi pikirannya. Ia juga sudah banyak mengumpulkan tekad untuk mendatangi ruangan Irsyad dan mengungkapkan itu.
Belum sempat Irsyad menanggapi, Kila sudah meninggalkan ruangan Irsyad. Ia yang sudah membawa serta tasnya dengan cepat menuju ke halte bus depan sekolahnya untuk menghindari berpapasan dengan Irsyad. Kila beruntung, begitu sampai di halte angkot yang ditunggu datang. Ia segera naik kemudian dalam sepuluh menit angkot itu sudah membawanya ke rumah sakit. Lagi-lagi Kila beruntung, jalanan begitu lenggang hari ini. Tidak seperti biasanya, jika menuju rumah sakit dari sekolah memakan waktu sekitar 15 menit.
"Ada apa dengan gadis itu? Padahal sesuatu seperti ini tidak akan merepotkan," ucap Irsyad dalam hati. Perilaku tiba-tiba Kila itu sangat mengejutkan Irsyad.
Irsyad sudah melewati halte bus dan tak melihat sosok Kila. Ia juga menuruti apa yang Kila katakan, ia tidak akan ke rumah sakit, lagi.
Sesampainya di rumah, Irsyad pulang disambut oleh sang bunda yang keheranan. Pasalnya, ia belakangan ini selalu ke rumah sakit untuk. Kronologisnya sudah ia ceritakan dengan kedua orang tuanya itu. Jadi, seharusnya tidak ada masalah jika Irsyad terus menemani Kila meski di hari libur sekalipun.
"Nggak ke rumah sakit, kamu?" tanya Citra.
Irsyad menggeleng kemudian berkata, "Sepertinya ia takut merepotkan Irsyad. Jadi untuk hari ini dan seterusnya, Irsyad tidak akan menemaninya lagi."
Setelah menjawab seperlunya, Irsyad izin pamit menuju kamarnya. Pikirannya menjadi lelah memikirkan kelakuan aneh gadis itu. Padahal ia merasa bahagia bisa menolong gadis itu.
Sementara di rumah sakit, Kila sengaja membeli makan di kantin terlebih dulu agar nenek mengira bahwa Irsyad yang mengantarkan namun tidak sempat mampir. Ia tahu, neneknya begitu senang dengan kehadiran Irsyad. Jadi, ia tidak ingin merusak suasana hati sang nenek dengan mengatakan bahwa dirinya menyuruh Irsyad untuk tidak ke rumah sakit lagi.
...****************...
Senin tiba, Kila pikir dengan tidak mampirnya Irsyad dua hari ini tidak membuat nenek curiga. Pekan depan seluruh sekolah sudah harus melaksanakan ujian semester selama dua pekan. Ia juga memberitahukan alasan ini, dimana para guru akan sibuk mempersiapkan soal ujian termasuk Irsyad. Jadi, nenek tidak perlu mempertanyakan tentang Irsyad lagi.
"Kil, Ra, kayaknya kita harus atur strategi nih," Risa bicara. Saat ini mereka sedang menikmati waktu istirahat pertama bersama.
"Strategi apa?" jawab Kila bingung.
"Senin depan kita udah ujian semester lho. Kata kakak kelas, sistem ujian sekolah ini ngeri, tahu, Kil. Seberapa nilai yang kita dapat, segitulah nanti yang ditulis di rapot. Apalagi kita anak IPS, dikenal nggak pernah serius belajar juga semua anak IPA meremehkan kita, tahu." Risa menjelaskan.
"Buat apa repot atur strategi? Kelas kita jago-jago tahu. Apalagi IPS nggak sesusah IPA. Lagian kita bertiga juga tiap ulangan harian selalu dapat nilai di atas 90, si Akil lagi, sering dapat 100. Kamu juga, Ris, biasanya juga santai," Ira mengutarakan pendapat.
"Iya, sih. Ya udahlah, tenang dan belajar seperti biasa. Soalnya aku nanya sama kakak kelas yang sempat jadi korban juga, makanya aku sedikit overthinking, Ra," ucap Risa lega.
"Pak Irsyad nggak ke rumah sakit lagi ya, Kil? Akhir-akhir ini juga kamu kayak buru-buru gitu kalau jam pulang udah tiba. Kamu menghindar, ya?" Risa mengalihkan topik. Sejujurnya Risa dan Ira juga gemas ingin mengutarakan ini. Akhirnya dengan sikap Risa yang blak-blakan itu kegemasannya bisa diutarakan.
"Iya, nih. Aku nggak mau terus ngerepotin Pak Irsyad. Lagian guru-guru juga pasti bakal sibuk untuk mempersiapkan ujian di Senin depan nanti. Nenek juga ngerti, kok tentang itu. Aku juga bisa mandiri tahu, rumah sakit juga dekat, kok. Kalau terus-terusan mengandalkan Pak Irsyad, aku kayak memanfaatkan kebaikan beliau gitu, aku nggak mau kayak gitu," ucap Kila teguh.
"Beneran, kan? Nggak ada yang ngancam kamu atau apa gitu? Beneran dari diri kamu sendiri, kan, Akil?" giliran Ira mengutarakan kegemasannya.
"Iya, nggak ada yang mengancam, kok. Kalian tenang aja. Tapi, makasih ya udah selalu khawatirkan aku. Kalian memang sahabat terbaik. Yuk, peluk, yuk," ucap Kila berusaha menenangkan. Mereka kemudian berpelukan seperti yang Kila katakan.
Kila harus bersikap biasa saja kali ini. Habisnya, dua sahabatnya itu sangat peka. Salah sedikit saja dengan sikap Kila akan mencurigakan dua sahabat perasa itu.
...****************...
Minggu kembali tiba. Sepertinya nenek sudah terbiasa dengan tidak mampirnya Irsyad untuk menjenguknya. Kila juga sibuk akhir-akhir ini, di rumah sakitpun ia selalu belajar untuk persiapan ujian semester besok. Merasa ditinggal Kila, nenek jadi merasa butuh teman untuk menghilangkan kebosanannya.
"Kila, kamu jangan lupa makan siang. Sana beli dulu, baru kamu lanjutkan lagi belajarnya. Nanti kamu ikut sakit juga kayak nenek, terus nggak bisa ujian gimana?" Nenek memperingatkan.
"Iya, Nek. Yaudah, Kila beli makan dulu kalau gitu, Assalamu'alaykum," Kila menurut. Ia langsung menuju kantin rumah sakit.
Ia sudah membeli makan beserta minumnya. Saat di lorong rumah sakit, ia terkejut melihat sosok laki-laki yang ia kenal berjalan menuju ruangan nenek. Ia pun buru-buru mengikuti pria itu. Ia tak menyangka pria itu akan datang.
"Assalamu'alaykum, saya berkunjung dan membawa sedikit buah, mohon dimakan, Bu. Ibu bagaimana keadaannya sekarang?" ucap si pria. Nenek juga cukup terkejut dengan kedatangan pria itu.
"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab nenek masih dengan keterkejutannya.
Kila berhasil mengikuti langkah panjang pria itu dengan tempo langkah yang cepat pula. Ia membuka pintu dengan kasar karena terburu-buru. Membuat dua orang di dalam ruangan itu keheranan.
"Pak Irsyad? Kenapa datang ke sini?" tanya Kila pertama kali. Dengan napas ngos-ngosan ia memandang si pria yang ternyata adalah Irsyad. Pria yang dimintanya untuk tidak datang lagi ke rumah sakit, hari ini ia datang. Kila bisa salah paham lagi dengan sikap Irsyad kalau begini.
...****************...