Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Orangtua Egois dan Dua Sahabat



Kila kembali ke ruangan nenek setelah melihat Riska pulang. Tampaknya, Riska hanya mampir ke sini sebentar saja untuk melihat nenek kemudian ia pulang ke rumah kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya membawa serta rapor Kila. Entah apa yang ingin dilakukannya dengan rapor Kila itu.


Kila membuka pintu ruangan nenek perlahan karena mengira neneknya sedang tidur. Tapi ternyata ia salah, neneknya malah belum tidur untuk menunggu Kila kembali.


"Kamu dari mana aja, Kila?" tanya nenek khawatir.


"Maafin Kila, Nek. Kila nggak mau berdebat panjang dengan mama, jadi Kila keluar dan tadi cuma ke kantin aja, kok, nggak pergi kemana-mana," jawab Kila.


"Kila, jangan bersikap seperti itu dengan mama kamu. Turuti aja apa yang dia bilang, kamu nggak mau jadi anak durhaka, kan?" Nenek menasehati Kila.


"I-iya, Nek," jawab Kila menurut.


Kila tidak mau melakukan sikap tadi ke mamanya, tapi siapa yang tidak kesal jika diperlakukan seperti itu. Apalagi mereka jarang bertemu, dan mereka sangat sulit mengerti satu sama lain.


"Lho, rapor Kila dimana, Nek?" tanya Kila heran.


"Dibawa sama mama kamu, Kil," jawab nenek.


"Duh, pasti nanti dikasih tahu sama papa. Terus, mereka bakal marahin Kila abis-abisan dan dikaitkan dengan Pak Irsyad. Huh, Kila nggak ngerti lagi jalan pikiran mama, Nek," ucap Kila pasrah.


"Maafin nenek, ya, Kila. Nenek nggak bisa banyak membantu, perkataan nenek udah nggak didengarkan lagi sama mama kamu. Kamu yang akrab ya, dengan mereka. Buat kedekatan kamu dan mereka seperti kedekatan kita, Kil. Kalau nenek udah nggak ada nanti, kamu yang rukun, ya, sama papa mamamu." ungkap nenek sendu.


"Aaa... Kalimat itu lagi. Ada apa dengan nenek?" batin Kila.


"Nek, nenek jangan bicara tentang itu lagi. Nenek udah tahu, kan, kalau Kila nggak suka. Oiya, besok Ira dan Risa mau ke sini menjenguk nenek. Katanya mereka titip salam ke nenek karena belum bisa menjenguk nenek selama ini." Kila menggantikan topik.


"Wah, teman kamu yang sering kamu ceritakan itu, ya? Nenek jadi nggak sabar nunggu besok," jawab nenek dengan ceria. Kila senang nenek mau ceria seperti ini, meski ia tahu kalau neneknya selalu memikirkan untuk meninggalkan Kila selamanya. Kila tahu, nenek tidak pernah bahagia sejak ia mengalami kecelakaan waktu itu.


...****************...


Minggu yang cerah, di siang hari setelah waktu sholat Zuhur terlewati, Ira sudah menunggu Risa di sebuah halte untuk pergi bersama ke rumah sakit. Ira memang sering membawa motor, saat ke sekolah juga begitu. Jadi, dengan menaiki motor Ira perjalanan akan lebih efisien. Mereka singgah ke sebuah supermarket terlebih dahulu untuk memberikan bingkisan.


Sementara itu, Kila ada di rumah untuk mengambil baju gantinya sebagai stok. Sebab, baju yang ada di rumah sakit sudah tinggal baju kotor saja. Nahasnya, ia malah bertemu orang tuanya di ruang keluarga saat hendak keluar karena sudah selesai mempersiapkan baju.


"Bagaimana bisa kamu mendapatkan nilai hanya 92 di pelajaran matematika? Terus, sosiologi kamu kenapa nggak 100 juga? Nanggung banget cuma dapat 98. Kata mama, kamu sedang dekat dengan seorang pria, ya? Apakah itu sebabnya sampai nilai kamu tidak memuaskan seperti ini?" tanya Gilang tegas.


"Pa, jangan salah sangka dulu. Jangan gara-gara mama yang bilang, papa main ambil kesimpulan yang sama dengan mama dan nggak mau dengarkan alasan Kila. Mama sama papa kenapa meributkan nilai sempurna, sih, itu dulu deh. Nilai itu udah cukup bagus Kila dapatkan disaat Kila sedang sedih-sedihnya karena nenek. Terus, kalian juga nggak ada kabar akan kembali dan menjenguk nenek, itu jadi beban pikiran Kila juga, lho. Apalagi, papa, kenapa mama datang sendirian semalam dan bukan sama papa?" Kila dengan tegas pula menjawab Gilang.


"Kila, jangan mengganti topik. Kita sedang bahas nilai kamu. Ada lagi yang belum kamu jelaskan mengenai guru itu." Giliran sang mama menginterupsi.


"Oke, Kila jelasin. Pak Irsyad itu justru orang yang buat nilai Kila seperti itu sampai menjadi peringkat satu di kelas. Tunggu dulu, sepertinya kalian tidak mempedulikan atau mengapresiasi tentang prestasi yang sudah diraih anak kalian ini. Pak Irsyad berbeda, beliau selalu mengapresiasi Kila dan muridnya yang lain. Kila rasa yang lebih cocok jadi orang tua Kila itu Pak Irsyad, bukan kalian." Kila beranjak dari ruang tamu mengambil tasnya kembali untuk bersiap keluar dari rumah.


"Oiya, Kila juga sangat bersyukur karena ada Pak Irsyad. Beliau sudah menolong Kila untuk menjaga nenek disaat Kila harus fokus belajar untuk ujian. Beliau memang hanya datang di saat malam dan hanya untuk pekan pertama ujian aja. Tapi itu cukup membantu mendongkrak nilai Kila sehingga bisa jadi peringkat satu di kelas. Sementara kalian? Harusnya kalian mendukung Kila sebagai anak kalian, harusnya kalian ada waktu itu untuk bergantian menjaga nenek disaat Kila harus belajar. Bahkan kalian orang tua yang tidak mau menjenguk orangtuanya sendiri. Bukannya nenek itu orang tua kalian?" lanjut Kila.


Kemudian Kila benar-benar pergi dari rumah dengan langkah yang cepat. Ia sangat tahu reaksi orangtuanya, karena terdengar suara bantingan kaca yang pecah. Pasti itu ulah papanya. Kila juga mendengar Riska berteriak memanggil namanya, tapi ia tidak peduli dan sudah melaju dengan cepat dengan ojek online yang sudah ia pesan tadi saat sudah mempersiapkan bawaannya. Bapak pengemudi juga terheran dengan kondisi dan situasi rumah Kila, tapi ia tidak mau menanyakannya. Bapak itu juga tidak punya waktu bertanya karena Kila meminta Bapak itu untuk melaju kencang menuju rumah sakit.


...****************...


Kila merenung memikirkan kejadian di rumah tadi. Ia merasa yang dilakukannya itu sungguh berlebihan. Kelakuan Kila yang seperti itu tidak akan sampai ke hati orangtuanya. Malah, akan menambah amarah keduanya. Tapi kila berharap perkataannya tadi bisa membuka hati keduanya meski hanya secercah. Kila juga tidak meminta diperhatikan, ia hanya butuh dimengerti.


Tak lama, Ira dan Risa datang membawakan bingkisan berupa parsel buah. Kila sang aktris hebat itu seketika mengubah ekspresinya menjadi ceria. Sempurna, baik Ira maupun Risa tidak menyadari ada sesuatu yang salah dengan Kila. Mereka menghampiri nenek dengan mencium tangannya dan sekedar menanyakan kabar. Lalu Kila, memberikan kedua sahabatnya itu minuman yang sudah ia beli sebelumnya di kantin rumah sakit.


"Kil, maaf ya baru bisa menjenguk nenek kamu hari ini. Ini kebetulan, karena udah libur sekolah jadi aku bebas pergi kemanapun. Aku nggak bilang mau ke rumah sakit sih, soalnya kalau aku bilang pasti nggak bakal diijinkan." Risa memulai pembicaraan berdua dengan Kila ditemani Ira juga. Mereka duduk di bangku dekat ruangan nenek untuk makan siang bersama.


"Iya, Akil, aku juga nih. Cuma hari libur aja jadwal temu ekskul dilonggarin. Jadinya baru ada waktu sekarang," susul Ira.


"Iya, nggak papa. Yang penting kalian udah mau datang, dengan susah payah lagi. Aku jadi terharu," jawab Kila.


"Iih, Akil berlebihan, deh, lebay tahu," balas Ira apa adanya. Kila terkekeh sendiri karena dikatai lebay oleh sahabat sendiri.


Dibalik kesusahan pasti ada kemudahan, itu sudah janji Allah. Dengan hadirnya kedua sahabatnya itu, Kila jadi lebih mudah melupakan masalah di rumahnya. Kesusahan itu telah di atasi dengan kemudahan yang diberikan lewat hadirnya dua sahabat baik Kila. Kini suasana hatinya sudah kembali normal.


...****************...