
Kila sudah membuat janji dengan dua sahabatnya untuk bertemu di sebuah kafe. Ira yang mengajukan pertemuan karena merasa kangen dengan Kila, dan Risa mau tak mau harus ikut juga.
Sudah lima belas menit Kila berada di tempat pertemuan, tapi dua sahabatnya itu tak kunjung datang. Kila sudah merasa agak bosan menunggu.
Saat ia ingin menghubungi dua sahabatnya itu, seseorang mengajaknya mengobrol. Kila agak kaget dan meletakkan kembali ponselnya. Ia terkejut karena didatangi tiba-tiba seperti ini, apalagi yang mendatanginya adalah Nabila.
"Kila? Kebetulan banget ketemu di sini. Lagi nunggu teman, ya?" sapa Nabila.
"Hehe, iya, Mbak."
"Ooh, kalau gitu, boleh aku duduk di sini sampai teman kamu datang? Aku harusnya juga menunggu seseorang di sini, tapi beliau baru ngabarin nggak bisa datang sekarang. Karena udah terlanjur sampai sini, akhirnya aku masuk aja, deh. Isi perut dulu, hehe. Nggak papa, kan?"
"Iya, nggak papa. Silahkan, Mbak. Saya juga kecepatan datang, oh, ada pesan juga. Ternyata teman saya akan datang terlambat," sambut Kila ramah. Kebetulan macam apa ini? Ira dan Risa mengabari untuk datang terlambat, dan orang yang akan ditemui Nabila juga tidak jadi datang. Memang Irsyad sudah menceritakan tentang Nabila malam itu, tapi bertemu dengannya sekarang tentu membuat canggung.
"Pesan dulu kali, ya?" tawar Nabila. Kila mengangguk dan ikut memesan. Ia hanya membeli minuman sampai dua sahabatnya datang. Ia tidak mau menunjukkan hobi makan milik Kila di depan Nabila, karena dari awal mereka memang tidak terlalu akrab.
Mereka berbasa-basi tentang kesibukan yang masing-masing lakukan. Lalu, berakhir dengan membahas tentang pasangan. Keduanya mulai akrab, mungkin karena sifat humble dan easy going milik Nabila.
"Ngomong-ngomong, kamu udah ada pacar, ya?" Kila berhenti meminum jus yang ia pesan sebelumnya. Nabila terlihat berani menanyakan itu, pasti ia tidak tahu kalau Kila sudah menikah, pikir Kila. Untungnya, Kila tidak menunjukkan reaksi berlebihan seperti tersedak atau sebagainya. Ia ingin menutup rapat-rapat dulu statusnya dengan Irsyad sampai ia tahu betul seperti apa karakter Nabila ini.
Kila bingung menjawabnya, sampai suasana hening sejenak.
"Udah, nggak usah di jawab. Aku tahu, orang kayak kamu pasti nggak mau pacaran." Tebakan yang benar, namun kurang tepat.
"Eh, tapi kamu tahu, nggak? Banyak banget lho yang suka sama kamu diam-diam. Teman seangkatan aku, sampai juniorku suka sama kamu. Terbukti tiap kamu lewat, mata mereka nggak berhenti melihat kamu, meski kamu kadang-kadang terlihat menunduk kalau nggak lagi sama dua sahabat yang biasanya menemani kamu itu," lanjut Nabila antusias.
"Kasihan banget ya teman satu organisasi aku. Dia nggak tahu kalau kamu orang yang nggak mau pacaran, tapi dia pengen dapetin kamu katanya. Katanya juga, dia ngelihat kita foto bersama waktu wisuda. Terus karena kamu kelihatan susah untuk didekati atau sekedar diajak ngobrol, akhirnya dia minta tolong, deh, ke aku. Dia minta aku untuk jadi mak comblang, bantu dia untuk dekat sama kamu. Aku nggak bisa gitu aja ngenalin ke kamu, kan? Kita juga baru dekat sekarang." Nabila mengakhiri dengan senyuman ramah. Membuat jarak antara Kila dan dirinya berkurang. Secara natural, ia berlaku seperti teman yang sudah lama kenal dengan Kila.
"Temennya Mbak yang harusnya berani datang. Jangan mengandalkan orang lain, kalau gitu bukan laki-laki namanya," balas Kila agak bercanda.
"Hahahaha, iya, benar juga kamu. Nanti aku sampein ke temanku, deh," tawa Nabila terlepas.
"Kalau Mbak sendiri, udah punya pasangan, kah?" giliran Kila bertanya.
"Aaa..., aku jadi malu kalau ditanya begitu sama kamu."
"Kalau merasa keberatan untuk menjawab, nggak usah dijawab nggak papa, kok, Mbak. Sebagian orang pasti menganggap perihal pasangan persoalan privasi."
"Bukan, bukan gitu, kok. Aku bersedia jawab. Sebenarnya, memang aku agak sulit menjalani hubungan sejenis pacaran. Udah lihat pengalaman orang tua sendiri soalnya. Tapi, kalau orang yang disukai ada. Sayangnya, orang itu nggak pernah menunjukkan sisi ketertarikannya sama aku. Jadi cinta bertepuk sebelah tangan, deh. Hahahaha." Nabila tersenyum lagi, tapi kali ini seperti melakukannya untuk menutupi perasaan sedihnya.
"Duh..., maaf ya, Mbak. Saya nggak tahu kalau pertanyaan ini jadi bikin Mbak harus ingat sesuatu yang nggak mengenakkan."
Karena Kila menunjukkan tatapan bingung, Nabila tersenyum tipis dan segera memberitahu ke Kila.
"Pak Irsyad. Aku suka sama Pak Irsyad. Kamu jangan merasa jijik, ya."
Betapa terkejut Kila mendengar pengakuan seperti itu dari Nabila. Bagaimana lagi? Dua orang yang berlainan jenis sering bersama-sama dalam satu kegiatan, pasti salah satunya ada yang menyimpan rasa ke yang lainnya. Dan Nabila adalah buktinya. Irsyad dan Nabila sering melakukan pertemuan, meski hanya sekedar untuk urusan pekerjaan, tetap saja karakter Irsyad dapat membuat Nabila jatuh hati padanya.
"Aa..., Pak Irsyad, ya? Nggak apa-apa, sih, Mbak. Lagian rasa suka itu fitrah." Kila berbohong, buktinya ia tidak dapat menatap mata Nabila saat mengatakannya. Ia mengalihkan kekacauan di hatinya dengan melakukannya aktivitas lain, meminum kembali minuman yang telah ia pesan.
"Aku pikir kamu bakalan jijik tadi," ucap Nabila lega.
"Oiya, aku mau kita jadi teman, boleh nggak? Aku juga mau dekat sama keluarganya Pak Irsyad. Tapi bukan karena aku pengen main curang dengan minta kamu untuk membujuk Pak Irsyad supaya suka sama aku juga. Aku cuma suka dengan sifat personal Pak Irsyad, dan keluarganya yang juga baik sifat personalnya. Lagian, kalau nggak bisa buat Pak Irsyad suka balik ke aku, aku masih punya teman yang baik seperti kamu. Aku ingin dekat dengan banyak orang baik," ujar Nabila seraya tersenyum ramah.
"Jadi teman, ya? Boleh aja, sih," Kila menanggapi.
"Wah..., Kalau gitu, aku boleh minta kontak kamu, nggak? Kapan-kapan aku pengen ketemuan lagi sama kamu, pengen ngobrolin banyak hal lagi." Kila mengangguk. Lalu segera memberitahukan Nabila nomor miliknya.
Selesai dengan meminta kontak Kila, Nabila mendapat pesan chat dari ponselnya.
"Kila, aku udah di suruh sama mama pulang, nih. Makasih ya kontaknya. Makasih juga udah mau jadi temanku. Nanti aku hubungi kamu lagi lewat kontak yang kamu kasih lagi, nggak apa-apa, kan?"
"Iya, Mbak."
"Kalau gitu, aku duluan, ya. Dadah!"
Di luar, saat Nabila keluar, ia berpapasan dengan Ira dan Risa. Dua sahabat Kila itu tampak tak mengacuhkan, karena sibuk mengobrol seraya menuju ke Kila.
Sementara Kila, sejak Nabila meninggalkan dirinya, ia seperti memikirkan banyak hal. Tanpa sadar ia sudah menyelam jauh ke dasar pikirannya, melamunkan pernyataan jujur dari orang baik seperti Nabila.
"Kil! Kenapa melamun? Bosan nungguin, ya? Maaf ya, soalnya motornya si Ira bannya bocor tadi. Jadi, kita harus ke bengkel dulu."
"Iya, maaf, ya, Akil."
"Nggak apa-apa. Aku nggak lagi lamunin itu, kok. Ada yang aku lagi pikirin soalnya."
"Apa yang kamu lamunin?" Keduanya khawatir.
"Nggak ada, sih. Kalian nggak usah khawatir, bukan masalah besar, kok."
...****************...