
Hari sudah berganti, sejuknya silir angin fajar menyapa. Kila bangun pagi-pagi sekali kali ini. Berangkat ke sekolah lebih cepat dari biasanya. Ia tak mau terlibat perdebatan yang tadi malam lagi, lebih memilih untuk tidak menemui orang tuanya dulu karena mereka pasti akan membalas masalah tadi malam.
"Hebat, ternyata belum ada sama sekali yang datang," ujar Kila merasa terkesan. Kila duduk di bangku, kemudian membuat posisi duduk senyaman mungkin.
"Di jam seperti ini sangat tenang, ya. Tidak ada siapapun kecuali diriku. Ternyata sendirian itu nyaman juga," batin Kila. Benar, Kila sangat menikmati suasana kesendirian ini. Kemudian pikirannya melanglang buana, memikirkan kejadian tadi malam.
Sebenarnya itu bukan hal yang besar bagi tiap orang, tapi tidak bagi Kila. Pasalnya, Kila dan orang tuanya ini jarang bertemu, jarang berkomunikasi. Sekali bercakap-cakap, jadilah seperti ini. Kejadian ini tidak hanya terjadi di tadi malam saja, tapi di tiap orang tuanya ada di rumah. Kila masih tahan dengan perseteruannya dengan orangtuanya itu karena kehadiran neneknya, neneknya penyemangat nya dan Kila juga selalu sabar karena selalu dinasehati oleh neneknya. Kila selalu ingat kata nenek, biarpun mama dan papanya begitu, Kila harus ingat bahwa mereka adalah orang tuanya. Jangan pikirkan bahwa tiap orang punya kekurangan dan pernah membuat kesalahan, tapi jangan karena kekurangan dan kesalahan itu kita tidak melihat kelebihannya. Itulah sebabnya Kila selalu mencium pipi dan tangan orangtuanya ketika bertemu, bersikap layaknya seorang anak yang berbakti kepada orang tua tapi benar tulus adanya. Dingin atau canggung boleh saja, tapi sopan santun harus tetap dijaga, itu yang kila tanamkan pada dirinya selama ini.
...****************...
Jam pelajaran memasuki akhir, tinggal satu pelajaran lagi yaitu jam pelajaran Bahasa Indonesia dengan tiga les pelajaran. Hari ini Kila tidak fokus belajar dan terus melamun. Untung untuk pelajaran hari ini para guru yang masuk hanya menugaskan membuat catatan, jadi Kila tidak mendapat teguran karena tidak memperhatikan pelajaran hari ini.
"Ah, kepikiran terus. Sebelumnya aku kan yang salah? Aku harusnya diam dan menurut. Aku juga belum ada meminta maaf semalam," ucap Kila pelan hanya dirinya yang dengar. Kila memandangi meja nya. Kila melamun seraya menatap mejanya. Kemudian pikirannya terus saja teringat dengan kejadian semalam.
...****************...
Ira dan Risa tampak sulit mendekati Kila hari ini. Aura Kila terasa sulit untuk di dekati. Sedangkan Ira lupa bilang kepada Kila tentang siapa wali kelas pengganti itu.
"Duh, Kila. Melamun aja sih kerjanya. Ris, kamu deketin, gih," ujar Ira. Risa mencoba melihat ke arah Kila, kemudian ia menggeleng menolak.
"Udah mau masuk nih jamnya Pak Irsyad, Kila nggak boleh nih ketinggalan," seru Ira.
"Eh, Ra, aku takut kalau nanti Kila malah syok pas lihat Pak Irsyad," ucap Risa sambil menepuk-nepuk lengan Ira.
"Ya, mau gimana lagi, Ris? Kamu nggak mau ke tempat Kila, sih," ucap Ira malah menyalahkan Risa.
"Lah, kamu coba, Ra, yang ke tempat Kila. Pasti ciut juga kan, nggak berani juga, kan?"
"Ye, ya nggak berani lah. Liat aja tuh Kila, jangankan kita, Ris, teman sekelas yang lain aja nggak ada yang berani mendekati Kila. Apalagi dengan keadaan Kila yang begitu. Auranya bilang, 'jangan bicara dulu padaku, aku ingin sendiri'. Mana dia duduk sendirian lagi. Lagian ngapain sih si Kila pilih duduk di depan guru, udah pasti banyak yang nggak mau duduk disitu. Makanya dia nggak punya teman semeja." Ira sebal sendiri jadinya.
"Eh, Ra. Udah datang tuh."
"Siapa?"
"Itu lho, wali kelas penggantinya. Pak Irsyad lho, Ra. Mulai duduk dianya, tuh, lihat," Ucap Risa dengan wajah sedikit menunjuk ke arah Irsyad.
"Selamat siang, semuanya. Saya Irsyad Maulana. Saya pikir kalian sudah tahu kalau saya yang akan menjadi wali kelas kalian menggantikan Bu Emi. Sama seperti Bu Emi, saya juga mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Sejauh ini, ada yang masih belum kenal saya?" Irsyad membuka pelajaran dengan perkenalan.
Sebenarnya satu kelas sudah tahu tentang Irsyad. Ia laki-laki tampan dan mapan, ia menyelesaikan pendidikan pascasarjananya di umur dua puluh tiga tahun. Selain menjadi guru Bahasa Indonesia di sekolah ini, ia juga menjadi dosen di salah satu kampus swasta. Sekarang ia berusia dua puluh empat tahun, masih muda untuk diberi panggilan "Pak" oleh murid di sekolah ini. Ia juga sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi S3 nya. Selain itu, perawakannya tegap dan tinggi dan dada bidangnya membuat siapapun terpikat dengan sekali lihat. Tentu saja, sudah banyak murid yang mengidolakannya. Irsyad sangat ideal untuk wanita manapun.
"Belum, Pak. Bapak siapa, ya, kami nggak kenal. Kok ada seorang model ganteng masuk ke kelas ini? Ini bukannya jam pelajaran Bahasa Indonesia, ya? Oh, bapak ini guru yang banyak diidolakan itu, ya? Hehe." Kalimat itu dilontarkan oleh Ira, kemudian disambut tawa oleh semua orang di kelas, kecuali Kila. Kila masih belum sadar akan kehadiran Irsyad dan masih berfokus pada pikirannya sendiri.
"Haha, kamu ada-ada saja. Baiklah, kalau masih ada yang belum kenal dengan saya. Ada yang bilang, 'Tak kenal maka ta'aruf' setuju, nggak?" Irsyad berkata seraya melempar senyum ke semua murid. Benar, Irsyad sosok guru yang hangat.
"Ta'aruf, setelahnya khitbah, terus nikah. Iya, kan, Pak?" ucap Ira menanggapi. Ira memang murid yang aktif, tidak hanya di kelas tapi di lingkup sekolah juga.
"Bukan seperti itu konteksnya. Ta'aruf yang saya maksud itu berkenalan. Jadi saya ingin memperkenalkan diri saya ke kalian. Tidak mungkin juga saya menikahi kalian semua, kan?" ucap Irsyad, disambut gelak tawa oleh beberapa murid.
Irsyad pun menjelaskan biodata dasar seperti nama, alamat, tanggal lahir, umur, nomor telepon, alamat surel dan sebagainya. Irsyad juga sempat menceritakan background pendidikannya, beberapa murid yang belum tahu dan sudah tahu pun masih kagum akan background pendidikan Irsyad.
"Baiklah, ada pertanyaan?" tanya Irsyad di akhir ceritanya.
"Bapak udah nikah belum?" celetuk salah seorang murid perempuan.
"Haha, jangankan menikah. Calonnya saja belum ada," jawab Irsyad sedikit tertawa.
"Kalau gitu, ada nih kesempatan," ucap murid tadi dengan bercanda. Murid yang lain malah menyorakinya.
"Baiklah, segitu dulu perkenalan dari saya. Sekarang giliran saya yang ingin berkenalan dengan kalian. Tulis biodata singkat kalian di selembar kertas. Isi biodata kalian dan orang tua kalian, kumpul ke sekretaris. Sekretaris, nanti jangan pulang dulu untuk menyerahkan ke saya, dan berkas dari Bu Emi yang dititipkan ke kamu." Irsyad berkata ke seluruh murid, dan di bagian Risa, Risa menyahut menuruti karena dia adalah sekretaris kelas.
"Oh, ada satu lagi yang terpenting. Buat deskripsi seseorang yang berharga bagi kamu. Kamu harus berikan penjelasannya, minimal lima paragraf. Tidak ada protes, karena ini berkaitan dengan pelajaran Bahasa Indonesia," titah Irsyad.
"Tapi, selain karena berkaitan dengan pelajaran Bahasa Indonesia untuk apa lagi, Pak. Bukannya tidak terlalu penting?" Risa yang bertanya mewakili teman sekelasnya yang mempertanyakan hal yang sama.
"Bukan karena tidak penting saya memintanya kepada kalian. Saya ingin mengenal murid saya lebih dekat. Sebagai wali kelas yang baik tentunya," ucap Irsyad yang diangguki beberapa murid.
"Jadi, untuk memperkuat hubungan kita sebagai wali kelas dan murid, saya ingin kita berta'aruf."
...****************...