Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
"Kak Irsyad"



Dua hari setelah acara walimah pernikahan. Kila memang masih menginap di rumah keluarga Irsyad, tapi seperti biasa Irsyad yang selalu mengalah untuk Kila dengan tidur di sofa.


Irsyad, di malam setelah walimah membangunkan Kila untuk shalat tahajud. Tapi, saat Kila bangun dan langsung menuju kamar mandi, ia mendapati dirinya yang ternyata baru datang bulan. Al hasil, ia hanya bangun namun belum dapat di imami oleh Irsyad.


Seperti sekarang, ia terbangun menyaksikan Irsyad yang akan pergi ke masjid untuk shalat subuh. Saat tahajud tadi, Irsyad tidak lagi membangunkan Kila karena tidak ingin mengganggu Kila. Irsyad pergi begitu saja tanpa tahu kalau Kila juga terbangun. Mereka masih terasa seperti orang asing, padahal sudah menikah.


Irsyad bertemu Farhan di masjid. Ia akan bicara dengan Farhan setelah selesai melaksanakan sholat.


"Assalamu'alaykum, Farhan," sapa Irsyad.


"Wa'alaykumussalam, Kak," jawab Irsyad.


"Kamu tidak ada datang di acara pernikahan saya, ya? Soalnya, saya tidak ada lihat kamu," tanya Irsyad.


"Datang kok, sama Yuli berdua. Cuman nggak sempat ucapin selamat ke kakak dan Kila, soalnya katanya Yuli buru-buru. Jadi, aku sama Yuli sempatkan makan aja, Kak. Nggak mungkinlah kami nggak datang padahal udah di undang langsung sama Kak Irsyad, hehe," jawab Farhan. Ia berbohong, bermuka dua lagi.


"Baiklah kalau begitu. Yang penting memang kamu datang karena sudah di undang. Oiya, saya dan Kila akan pergi berlibur bersama nanti. Kamu dan Yuli mau dibelikan oleh-oleh apa?" ujar Irsyad. Sekarang mereka berjalan menuju jalan pulang. Agak terlalu ditinggal Erwin karena mereka berjalan sambil bicara.


"Mau bulan madu? Kenapa harus dipamerkan? Kenapa aku harus kesal juga mendengarnya?" batin Farhan.


"Kayaknya nggak usah dikasih oleh-oleh deh, Kak. Nanti malah kaliannya nggak fokus nikmatin liburannya," balas Farhan berusaha bersikap biasa saja menanggapi.


"Kamu tidak seperti biasanya, Han. Tenang saja, pasti akan saya belikan sesuatu sebagai oleh-oleh untuk kamu dan Yuli. Oiya, lain kali ayo berlibur bersama," ajak Irsyad. Farhan harus menahan sakitnya saat Irsyad dengan santai menyuruhnya untuk berlibur bersama nantinya.


"Iya, Kak, hehe," balas Farhan tertawa seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kalau boleh tahu, kakak akan ke sana sampai kapan? Bukannya kakak harus kembali ke Turki, ya?" tanya Farhan basa-basi.


"Ya, sisa waktu saya berada di sini tinggal enam hari. Kami akan menghabiskan waktu berlibur hanya lima hari saja," jawab Irsyad memberitahu.


"Oiya, kamu satu kampus dengan Kila, kan? Jadi seniornya lagi berarti, dong," tanya Irsyad.


"Hehe, iya, Kak."


"Kalau begitu, kakak minta tolong kamu jangan segan ajarkan Kila tentang apapun di perkuliahan, ya. Gadis itu jarang sekali bertanya saat kelas saya, saya jadi khawatir. Soalnya, di SMA dan bangku perkuliahan sistemnya dan segalanya berubah. Jaga Kila juga seperti kamu menjaga Yuli dari belakang," pinta Irsyad.


Farhan merasa mendapat izin dari suaminya langsung, ia merasa dapat berjuang lagi.


...****************...


Kila dan Farhan sudah mengemasi barang-barang bawaannya semalam. Kali ini mereka akan melakukan perjalanan bersama, lagi. Meski bukan yang pertama kali, Kila masih saja merasa gugup. Apalagi, mereka akan berdua saja bahkan mungkin tidur di ranjang yang sama.


"Kamu kelelahan, kan? Kita istirahat saja hari ini menikmati pemandangan pantai." Mereka sudah sampai di sebuah hotel bintang lima dekat pantai. Destinasi mereka memang ke pantai, Kila yang memilih tempatnya.


"Pak, siapa yang akan kelelahan jika sudah melihat pemandangan pantai yang bagus seperti ini? Mungkin bapak saja yang harusnya istirahat. Soalnya bapak, kan, yang dari tadi bawain barang-barang kita. Sayanya nggak di kasih angkat. Ya udah kalau gitu, saya kembalikan perkataan bapak. Bapak kelelahan, kan? Lebih baik istirahat saja hari ini," ujar Kila pada Irsyad. Kila yang cerewet seketika sangat mengejutkan Irsyad, pasalnya Kila tak pernah banyak omong. Justru biasanya Irsyadlah yang banyak bicara.


"Iya, saya juga lelah. Tapi setidaknya kita istirahat dulu. Tidak seharian, satu atau dua jam saja. Kamu juga belum makan. Kalau tergesa-gesa main di pantai, nanti kamu bisa tumbang karena kepanasan," balas Irsyad. Kila ingin menuruti, tapi ia tidak tahu akan istirahatkan dirinya di mana. Kila akhirnya keluar menuju beranda yang menghadap pantai. Menikmati semilir angin dan desir ombak.


Irsyad mengikuti Kila ke beranda, lalu duduk di bangku yang sudah di sediakan. Ia dapat melihat betapa excited nya Kila sekarang, mimik wajah gembiranya tak kunjung luntur. Irsyad serasa tertular dengan suasana yang di buat Kila, ikutan bahagia.


"Kila, ada yang ingin saya bicarakan. Sebentar saja." Irsyad memulai pembicaraan untuk mendekatkan diri kepada Kila.


"Bicara apa, Pak?" tanya Kila.


"Sepertinya, apa yang dipikirkan bunda mengganggu saya. Saat kamu memanggil saya 'bapak', saya seperti tua sekali. Tapi saya tidak terlalu keberatan dengan sebutan 'Pak'. Seperti saya juga menyingkat nama kamu dengan 'Kil' atau Ira yang membuat panggilan tersendiri untuk kamu yaitu 'Akil'," tutur Irsyad. Ia berhenti seketika, tidak mengerti apa yang ia katakan tadi. Padahal dirinya adalah guru bahasa Indonesia. Ia gugup seketika saat Kila berbalik badan menghadap dirinya.


"Terus, Pak? Bapak mau saya panggil dengan sebutan apa?" tanya Kila. Ia juga menunggu momen ini dibahas, dan untungnya Irsyadlah yang memulainya.


"Saya tidak masalah dengan panggilan 'Pak' dari kamu. Saya tahu, kamu belum terbiasa mengganti panggilan itu, saya juga tidak ingin memaksa kamu untuk segera memanggilnya jika kamu belum siap. Tapi, untuk kata 'Bapak' jangan kamu ucapkan. Saya merasa lebih tua, dan tersinggung," jawab Irsyad ragu-ragu. Tawa Kila tak terelakkan. Tingkah suaminya itu ternyata bisa menggemaskan seperti ini.


"Oke, saya mengerti. Langsung praktek saja, ya. Kamu senang dengan panggilan seperti ini, Pak? Atau kamu ingin yang lebih menggambarkan kalau kamu masih muda? Maaf, Pak, saya jadi spontan dan terkesan kasar." Kila awalnya ingin menjahili Irsyad. Tapi di akhir, saat di tatap oleh Irsyad ia langsung mati kutu.


"Tidak apa-apa, itu lebih baik. Tapi saya ingin kamu bersikap santai juga dengan saya seperti kamu bicara dengan bunda atau kedua sahabat kamu. Jangan menggunakan bahasa baku. Kalau saya memang begini kebiasaan bicaranya, karena pengajar bahasa Indonesia biasanya harus menggunakan bahasa baku jadi terbawa terus. Jadi, bisakah kamu bersikap lebih santai saat bicara? Kalau saya boleh meminta lebih, saya ingin kamu bicara dengan saya seperti kamu bicara dengan Farhan. Tapi, saya tidak memaksa jika dikira memberatkan kamu. Saya hanya ingin status kita lebih jelas dengan pergantian penyebutan. Saya sudah bukan guru kamu dan kamu juga sudah bukan murid saya lagi. Saya ingin memperjelas status kita yang sudah sah menjadi suami istri," ujar Irsyad terus terang sudah seperti biasanya. Rona merah di wajah Kila tak bisa ia tutupi. Kejujuran Irsyad tadilah penyebabnya. Seketika ada sensasi seperti kupu-kupu sedang berterbangan di daerah perut Kila. Dan Kila senang dapat merasakan sensasi itu.


"Kalau gitu, Kak Irsyad...? Kila boleh manggil gitu, kan, Kak?" tanya Kila ragu-ragu. Irsyad dengan senyum yang mengembang menanggapi seraya mengangguk. Itulah yang di maksud oleh Irsyad, untungnya Kila cepat paham dan peka.


"Kak Irsyad, Kila mau makan dulu kalau gitu." Kila ingin menenangkan jantungnya sebentar. Hanya mengubah penyebutan, kenapa terasa sangat manis dan romantis?


"Kak Irsyad..." batin Kila. Ia tidak dapat berhenti memikirkan panggilan baru itu.


...****************...