Best Teacher And Me

Best Teacher And Me
Bermuka Dua?



Berita tentang pernikahan Irsyad dan Kila sudah tersebar. kabar itu sudah sampai ke telinga Farhan dan Yuli. Bagaimana tidak, Irsyadlah yang mengundang langsung mereka berdua. Keterkejutan tak terelakkan dari raut wajah merek saat tahu berita itu.


Farhan sudah menyiapkan diri untuk mendengar berita itu, karena cepat atau lambat akan ia dengar juga. Tapi tetap saja, saat diucapkan langsung oleh Irsyad segala persiapan agar tidak terlalu kaget tidak berlaku. Yuli tidak kalah kagetnya, ia yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba mendapatkan kabar tentang Irsyad yang akan menikah, terlebih dengan Kila gadis yang tidak disukai Yuli. Ia harus menanyakan detilnya nanti pada Farhan, pasti Farhan lebih tahu daripada dirinya.


"Jadi, jangan lupa datang, ya. Kewajiban seorang muslim salah satunya adalah datang memenuhi undangan," ucap Irsyad setelah menjelaskan pernikahannya.


"Jadi, ini yang kakak maksud ada urusan penting yang harus dilakukan? Kenapa main rahasia begitu?" tanya Yuli cepat. Itu merupakan sisa reaksi kagetnya tadi.


"Tidak ada rahasia lagi, kan? Sudah saya beritahu barusan," jawab Irsyad santai.


Selesai Irsyad memberitahukan kabar itu, Yuli langsung menuju Farhan dan ekspresinya menggambarkan seseorang yang ingin meminta penjelasan tentang apa yang baru saja terjadi.


Farhan sudah tidak dapat melawan jika Yuli menatapnya seperti itu. Ia memberitahu semua yang ia tahu kepada Yuli. Tapi perihal perasaan yang ia simpan, sengaja tidak ia beritahukan. Farhan tahu kalau Yuli akan berbuat yang tidak baik semisal mengajaknya untuk bekerjasama memisahkan Irsyad dan Kila selamanya jika Farhan beritahukan perasaannya.


"Duuh, Farhan. Aku tadi shock banget waktu Kak Irsyad bilang gitu. Kamu sih, nggak ada ngasih tahu aku," respons Yuli setelah Farhan menjelaskan semuanya.


"Ya tadi udah di kasih tahu," balas Farhan.


"Harusnya kamu kasih tahu saat kamu baru tahu juga, dong. Ini sih udah kelamaan ngasih tahunya," ucap Yuli kesal.


"Kila itu, berani sekali dia masih dekat-dekat dengan Kak Irsyad padahal sudah aku peringatkan waktu itu. Wanita kecentilan memang." pikir Yuli.


...****************...


Yuli dan Farhan datang memenuhi undangan. Tapi mereka hanya datang, tidak memberikan kado ataupun mendatangi pengantin untuk mengucapkan selamat.


"Han, aku malas nemuin si Kila itu. Kita makan aja di sini. Yang penting kita udah datang memenuhi undangan dari Kak Irsyad. Kamu juga ya!"


"Iya aku ngikut kamu. Kalau kemauan kamu nggak diturutin nanti aku yang repot," ucap Farhan menurut.


Farhan juga tidak kuat melihat Kila yang sudah berbalut baju pengantin. Untung saja Yuli mengajaknya untuk tidak menemui Kila, jadi Farhan dapat membuat alasan dari situ. Datang ke pernikahannya saja sudah sangat memberatkan, apalagi menemui Kila. Jika menghadiri sebuah undangan bukan salah satu kewajiban seorang muslim, Farhan tidak akan sanggup hadir. Nasib baik ia tidak sendirian, ia datang bersama Yuli. Kalau harus sendirian, tamat sudah.


"Han, kayaknya aku bakal ambil beasiswa ke Turki itu." Yuli berucap saat Farhan sudah mengantarkannya sampai depan rumahnya.


"Kamu yakin? Untuk apa?" tanya Farhan heran.


"Aku juga bingung, Han. Kayaknya aku pengen ambil kesempatan di saat si Kila nggak bisa dekat sama Kak Irsyad. Selama ini, aku selalu kagum dengan Kak Irsyad. Aku masih nggak bisa terima Kak Irsyad tiba-tiba menikahi Kila," jawab Yuli dengan nada sendu.


"Aku harus move on ya?" tanya Yuli.


Farhan jadi bingung menanggapi seperti apa. Ia dituntut untuk bermuka dua disini. Ia menyatakan keputusan Yuli itu tidak baik, sedangkan dirinya sendiri lebih hina karena belum bisa menerima kenyataan dan masih memperjuangkan istri orang.


"Han, kenapa nggak dijawab?" tanya Yuli. Farhan memang diam cukup lama karena memikirkan jawaban apa yang tepat untuk menanggapi pertanyaan Yuli.


"Yuli, lebih baik mungkin seperti itu. Tapi kalau kamu ingin ke Turki, beasiswa itu ada buka untuk belajar bahasa Turki. Rentang waktunya lebih singkat. Mungkin kalau kamu sudah di sana sebentar, kamu akan benar-benar move on karena Kak Irsyad itu faktanya akan terus menjaga hatinya untuk Kila meski ada kamu. Ya kalau kamu mau berusaha, silahkan. Dosa nanggung sendiri," ucap Farhan setelah lama diam.


"Ih, apaan, sih, kamu? Abis diam kayak gitu malah ledekin. Udah ah, aku masuk dulu. Bye," ujar Yuli kesal. Ia meninggalkan Farhan untuk masuk ke rumahnya.


"Benar-benar bermuka dua, tak tahu malu diriku," batin Farhan.


...****************...


Kila kali ini merasakan suasana makan layaknya sebuah keluarga setelah lama tak merasakannya. Di meja makan sudah ada dirinya, Irsyad, Citra dan juga Erwin. Kila jadi tahu apa yang Irsyad maksudkan waktu itu tentang kebiasaan keluarga Irsyad yang selalu bicara saat makan karena ia sudah membuktikannya sekarang. Ia sadar karena hanya di meja makan saja anggota keluarga dapat berkumpul maka harus dijadikan quality time.


"Oiya, Bun. Kayaknya Irsyad mau pindah ke kamar kosan Kila aja selama Irsyad di sini. Soalnya, Kila kan udah jadi istri Irsyad," ucap Irsyad mengajukan topik pembicaraan baru. Kila merona saat Irsyad dengan mudah mengakui kalau Kila sudah menjadi istrinya.


"Irsyad, kamu lupa? Kosan itu kan, kita bangun khusus untuk kosan putri. Mana bisa kamu seenaknya di sana. Lagian, harusnya, tuh, selama kamu dan Kila sama-sama masih libur, lebih baik manfaatkan waktu untuk liburan bersama," balas Citra.


"Iya, Irsyad. Kamu tinggal seminggu lagi di sini, kan? Ya udah, manfaatin. Lagian lebih bagus juga, kalian bisa mengenal satu sama lain selama berlibur berduaan aja," ucap Erwin menimpali.


"Bulan madu maksudnya? Tapi Irsyad sudah berjanji dengan orang tua Kila. Kila lebih baik ditunda dulu untuk hamil, supaya bisa fokus sama kuliahnya," balas Irsyad. Kila agak tersedak mendengar ucapan vulgar itu dari Irsyad. Dengan cepat Kila meneguk minumnya.


"Pak, tidak ada yang bilang tentang bulan madu, kok. Saya juga setuju dengan usulan bunda dan ayah. Kita manfaatkan saja momen itu untuk lebih mengenal satu sama lain. Masih banyak hal yang belum saya ketahui tentang Bapak," ujar Kila ikut menimbrung.


"Nah, dengerin itu kata istri kamu, Irsyad," ucap Erwin meledak, diselingi sedikit tawa.


"Kila, kamu lebih baik mengganti panggilan itu. Lagian kalian udah bukan guru dan murid lagi. Bicara kamu ke Irsyad juga masih baku gitu kayaknya," ujar Citra.


"Tidak usah dipaksakan, Bun. Biar saja panggilan itu diucapkan senyamannya Kila," jawab Irsyad membela.


Sebenarnya Kila memang ingin mengganti panggilan "Pak" itu, tapi ia malu. Apalagi harus merubah panggilan itu di depan orangtuanya Irsyad. Ia kadang iri dengan Farhan dan Yuli yang dengan gampang memanggil Irsyad dengan panggilan "Kak" saat di luar sekolah.


...****************...